Bolehkah Aku Mencintaimu?

Bolehkah Aku Mencintaimu?
Kesedihan


__ADS_3

Kehilangan orang yang kamu cintai dan kagumi pastilah sangat menyakitkan. Orang yang kamu kira akan bisa terus menemanimu akhirnya pergi.


Kematian adalah sesuatu yang pasti, kamu hanya tak tahu kapan ia akan mendatangimu.


Gama yang sudah tumbuh menjadi remaja dan berusia 15 tahun, yang biasanya ceria dan selalu dipenuhi canda tawa hari menangis tersedu-sedu.


Rumah Kencana, menjadi rumah duka karena kepergian kepala keluarganya. Harry Kencana.


Tidak ada yang tahu penyebab kematiannya.


Kabar meninggalnya Harry terjadi begitu saja.


Rumor mengatakan karena jantung, sakit keras atau karena lawan bisnis.


Dan hanyalah beberapa orang yang mengetahui kebenarannya.


Karena semenjak setahun yang lalu, Harry sudah jarang menampakkan diri.


"Muti, aku turut berduka cita." ucap Jihan memeluk Mutia. Meski tak seakrab dulu. Kesedihan sahabatnya juga pernah ia rasakan, kehilangan suaminya.


Mutia tidak meneteskan air mata sedikitpun, dan hanya mangangguk setiap orang menyampaikan bela sungkawanya. Ia hanya duduk melihat jenazah suaminya. Semua orang mengira Jihan hanya berusaha tegar di hadapan anak-anaknya.


Gina menangis tersedu-sedu, adik Gama yang berusia 10 tahun itu duduk di samping ibunya.


Sementara itu, Aira memeluk Gama yang sudah menangis.


Tiyah hanya duduk di samping mereka. Matanya berkaca-kaca, Ia mengingat kepergian ayah dan kakeknya.


Pemakaman hari itu membuat Gama kehilangan keceriaannya.


Karena ia juga akan mulai mengemban tanggung hawab yang besar.


"Tuan muda, sudah saatnya kita kembali." Ucap Rendra pada Gama.


Rendra adalah asisten Harry yang masih berumur 25 tahun. Dia menegenal Harry 15 tahun yang lalu dan mulai bekerja 5 tahun yang lalu.


Dan asisten terdahulunya Harry nengundurkan diri 2 tahun yang lalu.


Gama masih melihat makam ayahnya, bersama Aira yang tidak melepas genggamannya dari tangan Gama memberinya semangat.


Sementara Mutia dan Gina sudah pulang terlebih dahulu.


Jihan dan Tiyah sudah pulang, bahkan tak sempat mengantar sampai pemakaman.


Gama yang tidak biasa belajar terlalu keras kini menanggung beban besar karena harus menjadi penerus perusahaan Ayahnya.


Dia belajar dengan sangat keras, dia merasa sangat lelah, tapi karena ada Aira yang selalu menyemangatinya sehingga ia bisa melewati hari duka dan hari-hari sulitnya.


Mereka pun mulai menjalin hubungan. Meskipun menurut Rendra, Aira merupakan seseorang yang akan menganggu fokus Gama pada hal penting.


Setiap malam, setelah pulang dari perusahaan untuk belajar, ia selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi Aira di rumah belakang, hanya untuk sekesar ngobrol atau nonton.


Rumah yang disediakan Mutia untuk Amira dan Aira, tapi 2 tahun yang lalu Amira menghilang entah ke mana, sehingga Aira hanya tinggal bersama beberapa pelayan di sana.

__ADS_1


Setahun kemudian setelah kepergian Harry, Gama ingin memberikan Aira hadiah kelulusanya. Aira menamatkan SMA nya.


Dengan bahagia ia berjalan ke arah rumah Aira.


"Aira!! Airaaa!" Gama berjalan mengetuk kamar Aira. Tapi tidak ada jawaban dan ia pun masuk ke dalam kamarnya.


Kosong dan gelap. Jantungnya mulai berdegup kencang, meskipun ia tak tahu apa yang membuatnya gelisah.


"Tuan, apa ada yang diperlukan?" Tanya seorang pelayan.


"Aira di mana?"


"Saya tidak tahu Tuan. Tapi tadi katanya ada yang lihat dia pergi bawa koper Tuan." Gama lalu berlari ke kamar Aira memeriksa lemarinya.


Kosong.


Dia menutup pintu lemarinya dan menutup matanya bernafas dalam-dalam.


Dan membuka pintu lemarinya lagi dan berharap lemari itu tidak kosong.


Fikirannya lalu kosong. Gadis yang ia cintai sudah pergi tanpa jejak. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Meski baru berusia 16 tahun, ia sudah sangat menyukai Aira.


Sejak Aira datang ke rumahnya 8 tahun lalu, ia tak pernah menyukai gadis lain. Aira adalah satu-satunya wanita untuknya. Cinta pertamanya.


Keesokan paginya,


"Gama mana? kenapa ia tidak turun sarapan?" tanya Mutia yang bersiap-siap ke perusahaan untuk sementara menggantikan Harry.


Mutia langsung bangun dan menuju kamar Gama. Dia melihat putranya meneyelimuti seluruh tubuhnya. Dia menarik selimutnya dengan kasar.


"Bangun sekarang juga!" tegas ibunya.


Wajah Gama bengkak karena menangis.


"Ma, aku mau istirahat." Dia menarik selimutnya tapi Mutia menariknya lagi.


"Banguun!!" Mamanya berteriak dengan suaranya yang lebih tegas.


Gama pun bangun dan melihat wajah mamanya yang marah.


"Kamu fikir kamu punya waktu untuk patah hati? Hanya karena seorang perempuan kamu sampai begini. Apa kamu lupa tanggung jawabmu sebagai penerus keluarga Kencana?"


"Ma, aku juga punya hati. Aku sedang patah hati."


"Begitu kamu bertemu wanita lain, kamu akan bisa mencintai lagi. Patah hatimu akan terlupakan."


"Ma, aku gak mungkin mencintai wanita lain seperti aku mencintai Aira."


"Jangan bodoh memandang cinta, pagi-pagi bicara cinta. Cepat siap-siap. Kalau tidak. Mama akan usir kamu dan suruh Gina jadi penggantimu." ucap Mutia keluar dari kamar Gama.


Gama bangun menggerutu, sementara Asistennya sedang menunggu di bawah.


"Kamu tahu apa yang terbaik untuk Tuan Mudamu, Aku tahu kamu begitu setia pada majikanmu. Tapi aku harap kali ini kamu lebih bijak." ucap Mutia pada Rendra. Gama hanya mendengar kalimat itu dari mamanya.

__ADS_1


Setelah sarapan Gama lanjut ke perusahaan. Di sana ia belajar tentang perusahaan dan pelajarannya melalui guru privat, tidak ada yang masuk dalam kepalanya sama sekali.


Semuanya kosong dan hampa. Ia sangat nerindukan Aira.


"Bang, tolong carikan lokasi Aira!"


"Tuan muda, berhentilah memanggil saya Abang. Panggil saya dengan nama." Ucap Rendra mengalihkan pembicaraan untuk mencari Aira.


"Em, kalau Tiyah dengar nanti dia sewot lagi. aku panggil Aira tanpa kakak aja dia selalu sewot. Ah, apa kabar anak itu sekarang?"


Dia malah melamun mengingat temannya.


Rendra merasa lega.


Tapi keesokan pagi ketika mereka sarapan. Gama menyinggung lagi perihal pencarian Aira.


"Jangan lupa lacak lokasi Aira." ucap Gama.


Mamanya langsung bangun memukul meja.


"Bisa tidak kamu fokus pada perusahaan. Cinta itu datang dan pergi. Kalau dia kembali maka akan kembali. Kalau dia pergi maka akan pergi. Cinta, cinta, pagi-pagi sudah bikin nafsu makan hilang.


Gina, kalau kamu sudah selesei sarapan cepat berangkat." Gina yang mendengar mamanya langsung bangun dan mengikuti mamanya.


"Mama kenapa sih? Sekarang jadi lebih menakutkan." batin Gama.


Bermingu-minggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun tidak ada kabar tentang Aira.


Gama anak laki-laki yang ceria dan selalu hangat itu sudah memutuskan akan menunggu Aira kembali. Ia tak pernah membuka hatinya untuk siapapun.


Sehingga ia hanya fokus pada pekerjaannya yang mengubahnya menjadi orang yang gila kerja, jarang tersenyum, stress karena pekerjaan, wajah kaku dan dingin sudah menjadi imej nya di kalangan pengusaha.


7 tahun kemudian. Ketika ia pulang bisnis dari luar negeri selama 6 bulan.


Ia melihat poster Aira, yang menjadi artis. Berdegup kencang jantungnya.


Wajah Aira terpampang di kendaraan umum.


"Bagaimana kamu bisa melewatkan lokasi Aira ketika wajahnya terpampang di mana-mana? Kamu seorang Rendra?" tanya Gun meninggikan nada bicaranya karena emosi terhadap asistennya.


"Saya fikir karena Tuan terlalu sibuk dan sudah tidak pernah menanyakannya lagi."


"Rendra! Rendra! Rendra! biasanya kamu sangat peka dengan apa yang aku inginkan."


Semenjak ia mulai fokus pada pekerjaan ia sudah mulai memanggil Rendra dengan namanya.


Tapi, ia sadar dan tahu. Bahwa memang ia sudah sangat sibuk. Ia merindukan Aira tapi tidak pernah lagi membahasnya.


Ia hanya menatap gambar Aira di dalam dompetnya. Kadang berdiam diri di kamar Aira. Kamar yang sengaja ia biarkan kosong hanya untuk menunggu Aira kembali.


"Tunggulah Aira, aku pasti akan menjemputmu. Dan ada banyak yang ingin kutanyakan." batin Gama.


*bersambung......

__ADS_1


__ADS_2