Bolehkah Aku Mencintaimu?

Bolehkah Aku Mencintaimu?
Kebiasaan Baru


__ADS_3

Gama melirik ke arah Datiyah, dan melihat gadis disampingnya. Merasa bisa mempercayai Datiyah.


"Ayah selingkuh dengan tante Amira" ucap Gama datar.


"Apaaaaaa?" ucap Datiyah agak berteriak.


Dengan cepat Gama menutup mulut Datiyah.


"ssssttt, bisa gak jangan berteriak?" Datiyah mengangguk dan Gama melepaskan tangannya dari mulut Datiyah.


"Maaf, aku cuma kaget. Aku...." Datiyah tidak tau harus bicara apa.


"Aku juga tidak menyangkanya. Tidak mempercayainya. Semua orang tau bagaimana mama dan ayah. Semua orang iri dengan kisah cinta mereka. Bagaimana bisa, ayah yang selalu memuja mama, tiba-tiba selingkuh dengan wanita lain.


Aku, gak habis fikir." ucap Gama mangusap wajahnya dengan kedua tangannya.


"Jadi, karena itu tante gak mau nerima Kak Aira? Keadaan tante gimana?"


"Mama bilang, sebenarnya dia gak benci sama Aira, tapi....."


Datiyah menggenggam tangan Gama, tak bicara, menunggu Gama selesei bicara.


"sampai saat ini, Mama belum mau bicarakan hal itu denganku. Sekarang pun aku sedang menunggu Mama siap. Karena itu, sampai aku dapat kejelasan aku belum mau hubungi Aira dan memberinya harapan palsu.


Aku gak boleh ketemu Aira, kalau gak aku gak boleh lagi ketemu mama, Gina dan keluarga lain.


Tapi, entah kenapa, aku juga sedikit lega karena mama belum mau membicarakannya denganku. Karena aku juga belum siap menerima kenyataan kalau Ayah melakukan hal itu." Suara gama yang sedih membuat Datiyah, melakukan hal yang sudah lama tidak dia lakukan.


Dia memeluk Gama dan menepuk punggungnya. Entah kenapa dia juga merasa lega ketika Gama memeluknya. "Semuanya akan indah pada waktunya. Spero spera."


Gama lalu melepaskan pelukannya dari Datiyah. "Apa artinya itu?" Dia mengingat ketika Datiyah histeris di perpustakaan, Hendrik mengucapkan kata-kata itu.


"Selama kita masih hidup, selalu ada harapan. intinya, kita gak boleh nyerah." Tiyah tersenyum.


Gama lalu balik memeluk Datiyah duluan. Datiyah sangat terkejut dan berdiri secara mendadak. Gama yang melihat tingkah Datiyah jadi bingung.


"bukankah baru saja dia memelukku?" tanya Gama dalam hati.


"Apa aku memeluk Gama? Kenapa rasanya sangat nyaman." ucap Datiyah dalam hati, Cepat dia menggeleng.


"Mungkin, karena sudah lama aku tidak dipeluk." Datiyah sibuk dengan fikirannya sendiri.


"Kenapa kamu tiba-tiba begitu?"


"Eemmm? kenapa?" respon Datiyah yang masih melamun.


"Yah, aku cuma mau peluk kamu balik sebagai sahabat. Tapi reaksi kamu sampai kayak gitu."

__ADS_1


"Aku cuma kaget."


"kamu gak mikir kalau pulanku macam-macam kan?"


"Haddeeehh." Datiyah memutar bola matanya.


"Hahhahaha..aku bercanda. Hendrik pernah bilang, kalau siapapun gak boleh nyentuh kamu secara tiba-tiba. Ingat waktu kamu histeris di perpustakaan. Aku gak tau, kalau kamu kagetan."


"Iya, cuma gak biasa aja. Udah, ayo kita balik ke kamar." ucap Datiyah yang berjalan didepan Gama.


Sebenarnya Gama sangat oenasaran kenaoa Datiyah bisa kagetan seperti itu.


Gama mengejar langkah Datiyah dan mereja berjalan berdampingan.


"Sepertinya semua makanan tadi sudah turun." ucap Datiyah mengusap perutnya.


"Hahahahha, kamu yakin? kamu makan 6 porsi dan sudah turun. Sekarang kamu mau apa lagi?" tanya Gama yang sangat senang melihat nafsu makan Datiyah, karena memang menurutnya Datiyah sepertinya jadi kurus dan lemas ketika pertana bertemu, bukan dia masalah dengan tubuh kurus. Hanya saja terlihat berbeda dengan waktu kecil dengan pipi yang agak chubby.


"emmm..mungkin buah aja. Gama, game yang kamu download kemaren itu seru-seru. Tadi aku udah raih score baru lagi. hehehehehhe." Datiyah melapor dengan bahagia.


Gama hanya tersenyum dan menggeleng tak percaya, bagaimana bahagianya Datiyah dengan game yang score yang tak seberapa dibanding orang yang sudah lama memainkannya.


Begitu tiba di kamar, mereka bergantian membersihkan tangan dan kakinya di kamar mandi. Datiyah yang sudah terlebih dulu, langsung duduk di atas karpet meluruskan kakinya dan membuka hpnya. Gama yang menyusul dan duduk di samping Datiyah dan mengambil komik lamanya.


"Udah sampai mana?" Gama melirik Datiyah yang sedang asik.


Setelah lama asyik bermain, Datiyah berusaha mencari posisi supaya lebih nyaman. Dan dia meutuskan untuk tidur di atas paha Gama seperti malam sebelumnya. Dan dia merasa sangat nyaman.


"Pinjam pahamu sebentar." ucap Tiyah, Gama hanya meliriknya dari balik buku. Tanpa sadar tangan Gama meraih rambut Datiyah.


"kamu gak apa-apa kan kalau aku pegang rambut kamu?" tanya Gama.


"Iyah, gak apa-apa. Asal jangan kamu tarik aja." ucap Datiyah yang masih fokus main game.


Sambil tangan kirinya memegang buku yang dipeganganya. Tangan kanannya sesekali mengelus kepala dan rambut Datiyah dan memainkannya. Membuat Datiyah mengantuk.


Benar saja, tak lama kemudian. Dia sudah tertidur di atas paha Gama lagi, dan meringkuk Untung saja Gama sempat mengambil bantal, sehingga ia bisa tidur juga di samping Datiyah.


Gama yang matanya terbuka terlebih dahulu, berhadapan dengan Datiyah. Melihat Datiyah mengernyitkan dahinya, dan kadang mengigau pelan. Perlahan ia meletakkan tangannya di atas kepala Datiyah. Wajah Datiyah berubah datar lagi. Setelah Agak lama menatap wajah Datiyah, ia pun memutuskan untuk bangun dan bersiap-siap.


Datiyah yang mendengar suara, akhirnya bangun.


"Maaf, apa aku ngebangunin kamu?" tanya Gama yang bolak balik sejak tadi. Ia mencari penjepit dasi yang dihadiahkan Aira pertama kali ia mulai menggunakan jas ke perusahaan.


"Gak kok. Gak apa-apa. Kamu nyariin apa?" Ucap Datiyah sambil mengambil bantal di kantau san membawanya ke tempat tidur.


"Penjepit dasi, hadiah dari Aira. Seingatku, aku taro di sini deh." Sambil dia mencari di dalam ruang ganti temoat biasa ia meletakkannya.

__ADS_1


"Ya udah, ntar aku bantu cari. Sekarang kamu udah mau telat."


"oke deh. Makasih yah. Kamu siap-siap juga untuk sarapan. Aku tunggu di bawah."


"Udah, sarapan aja duluan. Lagian aku gak perlu buru-buru." Ucap Datiyah yang berlalu untuk mandi. Meski tak berharap di tunggu Gama Datiyah mandi dan berganti baju secepat yang ia bisa.


Setelah berjalan je meja makan, dan benar saja Gama masih menunggunya. Tanpa sadar mereka berdua sama-sama tersenyum.


Hendrik yang melihatnya, merasa ketukan bahagia sekaligus sedih dalam hatinya.


"Maaf, buat kalian nunggu." ucap Datiyah yang langsung duduk.


"Gak apa-apa kok Kak, lagian aku juga baru duduk. hehehhehe."


Mereka pun sarapan dengan tenang. Setelah sarapan Datiyah mengantarkan Gama ke pintu depan.


"Hari ini, kamu mau nitip apa?" Tanya Gama


"Emmm..entar aku sms aja. Kalau aku udah tau aoa yang aku mau." jawab Datiyah.


"Ya udah, aku berangkat dulu." Ucap Gama yang mengelus bagian atas kepala Datiyah.


Tidak seperti sebelumnya ia selalu kaget, sekarang ia mulai familiar dengan sentuhan Gama.


"Kak, aku nebeng!" Teriak Gina yang berjalan mengikuti Gama.


"Kak Tiyah, aku pergi yah!" melambai pada Datiyah.


"Bilang aja, kamu mau lebih lama bareng sama Rendra." Goda Gama pada Gina.


"Emangnya kenapa? Kakak keberatan."


"gak, kakak gak mau ikut campur karena kakak tau bagaimana rasanya cinta tak direstui."


"Tapi, apa kakak yakin, kakak benar-benar mencintai Aira?"


Gama melihat ke arah Gina.


"Yah, maksud aku. Kakak kan sudah lama gak bareng sama dia. Bisa aja kan perasaan kakak hanya sekedar masa lalu yang tertinggal dan ingin di tuntaskan. Dan membutuhkan penyelesaian." jelas Gina.


"Aku yakin dan sangat tau. Kalau aku mencintainya." Jawab Gama.


"Lalu bagaimana perasaan kakak ke Kak Tiyah?"


Deg, Gama tiba-tiba terdiam.


*bersambung......

__ADS_1


__ADS_2