Bolehkah Aku Mencintaimu?

Bolehkah Aku Mencintaimu?
Ini Bukan Cinta


__ADS_3

"Aku yakin dan sangat tau. Kalau aku mencintainya." Jawab Gama.


"Lalu bagaimana perasaan kakak ke Kak Tiyah?"


Deg, Gama tiba-tiba terdiam.


Gina mengangkat alisnya, melihat kakaknya tiba-tiba terdiam.


"Udah cepat masuk." Gina memajukan bibir bawahnya mengejek kakaknya.


Sekali lagi Gama melihat ke arah Datiyah dan melambai. Tapi cepat dia menghentikan tangannya dan masuk ke mobil dan menggeleng.


Gina yang melihatnya, tersenyum.


"Aku sama Tiyah cuma teman. Jadi gak usah berfikiran yang macam-macam. Kenapa semua orang mengira aku dan Tiyah punya sesuatu. Apa kami gak boleh berteman?" ucap Gama menggebu-gebu meyakinkan Gina dan juga dirinya sendiri.


"Setiap lihat Kak Tiyah senyum sendiri, kak Tiyah berduaan dengan Hendrik di perpus jadi kepo dan kesal gak jelas. Kalo itu bukan naksir. Terus apa?" Gina malah jadi kesal dengan kakaknya dan ngedumel dalam hati, sambil melihat Rendra yang bahkan tidak melirik ke kursi belakang.


Tak lama kemudian, mereka tiba di kampus Gina. Gina turun dengan sedih karena tak dilirik oleh Rendra.


Rendra yang melihat punggung gadis itu lesu, ikut merasa lesu. Beberapa minggu lagi, dia akan ada kencan buta dengan gadis yang dikenalkan kakaknya.


Awalnya dia menolak, karena tau kalau dirinya menyukai Gina.


Akhirnya dia menerima tawaran kakaknya. Karena dia juga tidak pernah bertemu dengan wanita lain, selain rekan bisnis dan juga orang-orang di keluarga Kencana.


"Kamu juga tidak berfikiran seperti Gina kan?" ucapan Gama menyadarkan Rendra.


"maksud Tuan, bagaimana?"


"kalau aku suka dengan Tiyah. Maksudku, suka seperti seorang laki-laki menyukai seorang wanita."


"Kenapa Tuan menanyakan masalah ini padaku?Aku sendiri galau karena menyukai adik Tuan.


Iya, aku tau Tuan menyukai Nona Tiyah. semua orang melihatnya dengan jelas." batin Rendra.


"Kalau menurut saya, mungkin tuan sedikit teetarik. Tapi tidak sampai tahap cinta. Hanya tertarik. Nona Tiyah adalah perempuan yang manis dan menarik dan juga terkenal karena kebaikannya. Dan dia memiliki banyak fans laki-laki. Jadi menurut saya, wajar saja kalau Tuan tertarik." Jawab Rendra.


"Iya, kamu benar. Lagipula, aku kan temannya. Jadi tidak salah dong aku lebih akrab dan berinteraksi dengannya." ucap Gama agak lega karena jawaban Rendra.


"tapi tunggu. kamu juga menganggapnya menarik? Fans laki-laki? maksudmu apa?" tanya Gama agak keras.


"jangan bilang sekarang anda mau bertingkah cemburu karena ucapan saya dan fans nona Tiyah." Rendra menghela nafas dalam hati.


"Jika Tuan memperhatikan acara pesta ataupun acara amal yang dihadiri nona. Maka Tuan akan sering mendengar pujian untuk nona Tiyah." jawab Rendra.

__ADS_1


Entah kenapa ada senyuman bangga untuk Datiyah dari Gama.


"Bahkan ada yang sampai menjadikannya bahan pembicaraan yang tidak senonoh. Dan saya harap cerita itu tidak sampai ke telinga Tuan." Lanjut Rendra dalam hatinya.


Begitu tiba di kantor. Bukannya fokus dia malah melihat ponselnya menunggu pesan Datiyah.


"Jadi kamu mau pesan apa?" akhirnya memilih lebih dulu mengirimi Datiyah sms.


"Sekarang masih pagi, belum juga makan siang. Biarkan aku mikir dulu." jawab Datiyah agak lama membalas.


"Iya, masih pagi. Biar aku bisa mengatur jadwalku. Kalau misalnya tempatnya jauh."


Datiyah sedang mengetik.


"kamu suka gak makan seafood


Aku tau tempat seafood yang enak."


Datiyah sedang mengetik.


"Tapi, kamu aja yang mutusin."


Di sisi lain. Datiyah mulai kesal karena dia yang masih belum terlalu lancar berkirin sms, belum sempat membalas. Gama sudah lebih dulu mengirim banyak pesan.


Gama memainkan ponselnya karena Datiyah yang lama membalas pesannya.


Datiyah mengangkatnya dengan kesal.


"Apa kamu gak tau aku baru aja nulis balasan kamu udah ngirim pesan lagi. Apa kamu gak bisa nunggu sampe aku balas dulu." ucap Datiyah menggebu-gebu lalu membuang nafasnya.


Gama yang terkejut, diam untuk beberapa saat.


"Kamu dengerin aku gak sih?"


"Iya, aku dengar. Maaf, aku lupa kamu baru mulai belajar nulis sms."


"Ya udah. Nanti aku kabari apa yang aku mau." Datiyah langsung menutup telponnya.


Gama langsung kembali ke pekerjaannya.


Sementara Datiyah diperpustakaan masih sedikit kesal dan sedang berfikir ia mau makan apa.


"Apa yang nona fikirkan?"


"Emm?" jawab Datiyah masih sedikit bengong.

__ADS_1


"Apa nona akan makan malam bersama dalam kamar lagi dengan Tuan Gama?" Sudah beberapa hari Datiyah selalu makan malam hanya berdua dengan Gama dalam kamar.


"Iya, sepertinya begitu. Aku bukannya ngabaikan kakak di rumah ini. Kakak ngerti kan?" ucap Datiyah berusaha membela diri karena tau nada bicara Hendrik yang terlihat kecewa.


"Iya, saya mengerti." Hendrik menjawabnya dengan tersenyum.


Seperti kemarin, hari ini Datiyah dan Hendrik menyelesaikan pertemuan mereka lebih awal, karena kegiatan dan jadwal baru Datiyah bersama Gama.


Dia sudah mengirimi Gama sms dan memesan bakso karena sudah lama ia tidak memakannya.


Setelah makan, kembali mereka duduk bersama. Sekarang mereka duduk berdampingan. Datiyah sibuk dengan ponselnya dan Gama mengajarinya sesekali.


Tiba-tiba Gama menurunkan buku yang di baca.


"Tiyah, kita berdua hanya teman kan?"


Datiyah yang sibuk tidak terlalu memperhatikan ucapan Gama dan sibuk bermain.


"Tiyah?" Gama lalu menarik ponselnya dari wajah Datiyah dan memegang tangannya. Dan Tiyah pun, mau tidak mau langsung menatap Gama.


"Kita hanya teman kan?"


Datiyah tersenyum. "kenapa? apa ada yang ngomong tidak-tidak?Tentu saja kita teman."


Gama yang melihat wajah Datiyah dari dekat malah jadi deg-degan.


"Iya, itu yang aku bilang ke mereka. Mereka gak ada yang percaya. Kamu tau kan, aku sangat mencintai Aira?"


Datiyah mengangguk. "Aku tau, dan juga aku gak punya banyak waktu untuk percintaan." ucap Datiyah sambil menepuk bahu sahabatnya itu.


"Jadi kamu tenang saja. Aku tidak akan jatuh cinta padamu, dan kamu juga gak akan jatuh cinta padaku. Karena kita, memiliki tujuan dan fokus masing-masing." Jawab Datiyah yang teringat ucapan Mutia beberapa hari yang lalu.


"Aku, tidak akan jatuh cinta pada Gama kan? Dia hanya temanku, dan aku merasa nyaman bersama teman lamaku. Hanya itu dan gak lebih." batin Datiyah.


"iya. Kamu gak boleh jatuh cinta sama aku. Karena aku sudah mencintai wanita lain." ucap Gama lanjut membaca bukunya. Datiyah sedikit mendorong tubuh Gama.


"Kamu tuh, yang gak bileh jatuh cinta sama aku. Nanti aku malah jadi selingkuhanmu.


Tunggu, Kak Aira atau aku yang jadi selingkuhan yah? Kan aku istri kamu." ucap Datiyah pura-pura berfikir.


Gama hanya mneggeleng dengan bercandaan sahabatnya itu.


Entah kenapa, meski kedua orang itu, mengucapkan kalimat itu. Mereka merasa ada sesuatu perasaan mengganjal dalam hati mereka.


"Tidak ada yang spesial dalam hubungan kita. Selain persahabatan. Datiyah bahkan tidak pernah menggodaku dengan pakaian yang terbuka. Atau menunjukkan kalau dia tertarik padaku." batin Gama.

__ADS_1


"perasaanku padanya hanya sekedar sahabat dan kami merasa nyaman, satu sama lain. Ini bukan cinta, ini rasa perduli dan sayang pada sahabatku." Kedua orang itu meyakinkan diri mereka dalam hati.


*bersambung......


__ADS_2