Bolehkah Aku Mencintaimu?

Bolehkah Aku Mencintaimu?
Khawatir


__ADS_3

"Kembali ke sini sekarang juga. Atau aku akan buat hidup perempuan itu menderita. Dan berharap kalau dia harusnya gak pernah ketemu sama kamu lagi." Teriak Mutia melalui telpon memanggil Gama.


"Ma, aku akan mengurus hal ini. Aira sedang sakit. Dan aku akan segera ke situ." balas Gama yang menutup telponnya.


"Aira, aku harus ketemu mama dulu." Ucap Gama yang pamit pada Aira.


Gama kemudian menelpon Rendra dan langsung menyuruhnya bertemu di galeri.


Begitu tiba di galeri, Mutia sudah menunggu dengan kesal dan murka.


"Nyonya, tenangkan diri anda." ucap Monica sambil menyuguhkan teh di hadapan Mutia.


Dia menarik nafas dalam-dalam, ketika itu Gama masuk dan duduk di sofa dalam ruang kerja Mutia di galeri.


"Sebenarnya apa yang kamu fikirkan? Kenapa kamu tidak bisa melihat situasinya?" Mutia meninggikan suaranya.


"Aira sakit. Apa yang harus aku fikirkan? Aku hanya ingin menemaninya dan merawatnya."


"Lalu bagaimana dengan Tiyah? Apa kamu tau dia sangat sedih dan kecewa. Hari ini aku mengajaknya ke sini untuk menjernihkan fikirannya dan menghiburnya. Tapi kami malah di sambut pertanyaan gila dari wartawan."


Gama mengusap wajah dan rambutnya, kelihatan stress.


"Dan apa kamu sudah tau, harga saham kita jatuh karena perbuatanmu? Dan apa kamu juga tau, bahwa perhatian kamu terhadap Aira sekarang malah akan membuatnya terlihat buruk. Yah, meskipun akhirnya aku tak perlu melakukan apapun untuk membuatnya menderita. Tapi, apa kamu lihat Tiyah? Dia sangat sedih."


"iya, aku tau. Harusnya aku tidak meninggalkan dia begitu saja tadi malam." ucap Gama yang kecewa pada dirinya sendiri.


"di mana Tiyah sekarang? "


"dia mungkin diluar bersama Gina. Dan hal yang penting sekarang adalah, perbaiki semua ini. Apa kamu tau? para petinggi sudah marah karena kamu menjalin hubungan dengan Sugesti melalui Tiyah, dan sekarang kamu membuat masalah seperti ini lagi membuat harga saham semakin anjlok."


Tak lama kemudiam, Rendra tiba.


"Apa sudah kamu siapkan semuanya? "


"ya Tuan Muda, nanti sore semuanya akan siap. "


"apa rencana kamu?" ucap Mutia khawatir dan juga penasaran.


"Aku hanya harus mengatakan yang sebenarnya. Tidak ada yang perlu kami sembunyikan. " jawab Gama.


"Apa kamu gila? Lalu bagaimana dengan Tiyah? apa kamu mau membuat dia jadi wanita yang menyedihkan? Hanya demi keuntungan ayah tirinya dia rela menikah dengan kamu. Itulah apa yang akan difikirkan orang-orang tentangnya." Mutia mulai emosi lagi

__ADS_1


"Lalu mama mau aku bagaimana? Aku gak mungkin biarkan Aira di anggap sebagai perusak rumah tangga orang, sementara aku aku dan Tiyah tidak saling mencintai, dan rumah tangga kami hanyalah sebuah kesepakatan."


Mutia lalu tertawa. "Hahahaha, tapi kamu tau? aku tidak akan pernah menerima Aira sebagai menantuku, dan kamu sudah tau apa alasannya, meskipun belum sepenuhnya."


"Apa yang Papa dan Tante Amira lakukan, bukanlah kesalahan Aira. Jadi mama gak berhak menyalahkan Aira." Ucap Gama meninggi dan meninggalkan ruangan mamanya.


ketika akan membuka pintu.


"Fikirkan baik-baik. Kamu mungkin akan menyelamatkan Aira, tapi Tiyah yang akan menderita. Dan orang yang membawanya dalam kerumitan ini adalah kamu." ucap Mutia, membuat Gama mengehentikan langkahnya.


Setelah mendengar ucapan Mutia, Gama lalu pergi meninggalkan galeri menuju mobilnya.


Di dalam mobil dia mengusap kedua wajah dan rambutnya, dan mengoceh.


"Apa yang harus aku lakukan? Aku gak mungkin membuat Aira jadi wanita pelakor, dan aku juga tak ingin membuat Tiyah terlihat menyedihkan."


"Bagaimana, kalau untuk saat ini, hanya akui kalau Aira adalah teman masa kecil dan Nona Tiyah juga mengenalnya. Dan saya yakin Nona Tiyah akan bersedia mengkonfirmasi hal itu untuk Tuan Muda." Gama berfikir sejenak dan tiba-tiba ponselnya berdering.


"Kak Gama, Kak Tiyah pingsan. " ucap Gina dari balik telepon.


"Apa dia baik-baik saja? Kalian dimana sekarang? apa kamu sudah bawa dia ke rumah sakit? " tanya Gama dengan cepat.


Lalu Gama pun menyuruh Rendra cepat menuju rumah sakit tempat Datiyah berada.


Mereka pun langsung melaju ke arah panti jompo tempat Ajeng bekerja.


"Apa Tiyah baik-baik saja? Padahal dia tidak ditemani oleh Hendrik." batin Gama.


"lebih cepat" ucap Gama pada supirnya.


"Aku harap kamu baik-baik saja." Gama semakin khawatir pada Datiyah. Mengingat Datiyah histeris, ia tak ingin Datiyah kenapa-kenapa dalam pengawasannya sementara Hendrik sedang tidak bisa menjaganya.


Begitu tiba di panti, belum mobil berhenti dengan benar, Gama sudah berlari turun dan menanyakan letak ruangan pada resepsionis. Karena Gina sempat mengirimkan nama dan nomor ruangannya.


Tapi ia sangat terkejut Dengan apa yang dilihatnya. Hendrik dengan wajahnya yang biru dan lebam sedang menarik kerah baju kakek-kakek.


...Hendrik menarik Toto dengan kasar, dan membawanya keluar dari ruangan itu....


"Tuan, apa yang anda lakukan?" tanya Ajeng dan Gina yang baru kembali.


Ajeng lalu berusaha melepaskan tangan Hendrik dari baju Toto yang ditarik Hendrik.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan? bagaimana keadaan Tiyah?" Tanya Gama yang baru tiba.


"Tuan, tolong jaga Nona Tiyah. Saya akan mengurus laki-laki tua bangka ini." ucap Hendrik yabg masih tidak melepaskan gengamannya dan membawa Toto pergi entah kemana. Sementara semua orang hanya bisa bengong dan kaget melihatnya.


Gama pun segera berlari ke dalam ruangan. Karena baginya kondisi Datiyah adalah hal yang paling penting saat ini.


"Tiyah kamu baik-baik aja kan?" Gama lalu menggenggam tangan Datiyah dengan lembut.


"Nona Tiyah baik-baik saja. Dia terkena serangan panik, sehingga kami terpaksa membiusnya, tapi siapa laki-laki tadi? " jawab Ajeng yang juga penasaran dengan sosok Hendrik.


Gama menghela nafasnya setelah mengetahui Datiyah hanya dibius, meskipun dia masih khawatir.


Gama memandang ke arah Rendra memintanya menjawab pertanyaan Ajeng.


" Dia adalah asisten pribadi Nona Tiyah." Jawab Rendra.


"Coba kamu cari tau, siapa laki-laki yang dibawa oleh Hendrik." Ucap Gama yang masih belum melepaskan tangan dan pandangannya dari wajah Datiyah yang pucat.


"Sugesti, Toto Sugesti, dengan kata lain dia adalah kakek Kak Tiyah" Jawab Gina.


Gama yang sedikit tau, semakin khawatir.


"Aku tidak tau pasti, apa yang sudah kamu alami di rumah Sugesti. Tapi aku mohon kamu harus kuat." batin Gama menggenggam tangan Datiyah lebih erat.


Dan Datiyah, yang sempat tersadar dan melihat Hendrik berusaha membuka matanya.


Dia merasakan tangannya di genggam oleh seseorang, meskipun dia tak tau siapa.


"Kak Hendrik? " ucap Datiyah yang masih menutup matanya.


Entah kenapa mendengar Datiyah memanggil nama laki-laki lain lebih dulu membuat Gama kecewa dan berusaha melepaskan tangannya.


Datiyah yang merasakan Gama menarik tangannya, dia semakin menggenggam tangan Gama.


" Kak Hendrik, jangan tinggalin aku sendirian lagi." Datiyah mengeratkan genggamannya.


"Tiyah, aku akan mencari Hendrik dulu." Gama lalu melepaskan tangannya dari Datiyah dan beranjak keluar.


"Tolong jaga Tiyah." ucap Gama yang langsung mencari Hendrik dan Toto Sugesti.


*bersambung......

__ADS_1


__ADS_2