
Ketika Gama tiba di rumah Sugesti, Datiyah sedang sibuk mengurus pemakaman untuk ibu Hendrik. Hari yang sama, Hendrik juga di bawa pulang dan melakukan rawat jalan.
Datiyah lalu melihat Gama, yang hanya berdiri di depan pintu rumah melihatnya. Sebenarnya para pelayan sudah melihatnya tapi Gama melarang mereka memberi tahu Datiyah.
"Gama? "
Gama tersenyum setelah Datiyah memanggilnya.
"Apa aku boleh masuk? " tanya Gama agak bercanda.
"Emmm... Karena aku pikir kita masih suami istri, secara hukum rumahku rumahmu juga." Datiyah mengerutkan dahinya.
"Masuklah, kamu gak usah bercanda seperti itu." Datiyah terlihat lebih baik setelah keluar dari rumah sakit, dia tak perlu ketakutan berada di rumah itu lagi. Dan Dia juga harus kuat, karena sekarang ada Raka yang harus dia jaga. Tanggung jawabnya juga bertambah.
Gama lalu masuk dan duduk di sofa, dan Datiyah duduk di sampingnya.
"Tadi, aku dapat telepon dari Mama Mutia."
"Mama cerita apa aja? "
"heemmm.... Kamu mau cerita gak ke aku. Aku lebih memilih mendengarnya dari kamu."
Gama memiringkan tubuhnya menghadap Datiyah.
"Tentang Ayahku... Aku tahu, meskipun aku minta maaf berkali-kali tidak bisa mengembalikan masa lalu. Ataupun menyembuhkan luka yang pernah kamu alami."
Gama kemudian menggenggam tangan Datiyah.
"Bagaimana bisa aku tidak melihatnya, selama ini kamu berada di dekatku. Kamu menunjukkannya padaku. Dan karena hati dan sikapku yang plin plan, aku membuat kamu terluka."
"Gama.... kita tidak mungkin bisa tahu apa yang dipikirkan orang lain. Kita bahkan kadang bingung dengan pikiran sendiri. Aku memutuskan tak ingin kamu terlibat lebih dalam dengan masalahku. Dan masalah om Harry, sekarang aku lebih mengerti perasaannya, ingin melindungi orang-orang yang dia cintai." Datiyah menjawabnya sambil tersenyum.
"Nona Tiyah, ada telepon dari Tuan Fadil."ucap Arvina memberikan telpon ke tangan Datiyah.
" Tunggu sebentar yah" Datiyah lalu pergi dan mengangkat telepon, Dia bicara cukup lama dengan Fadil. Datiyah terlihat sangat sibuk.
"Setelah persiapan ini selesai, aku dan Raka akan menjenguk mama." Datiyah memberi tahu Gama.
Sebenarnya, Datiyah sangat ingin mengajak Gama, tapi dia malu. Karena dia sudah memutuskan untuk pergi dari Gama. Dan Gama masih belum mengajaknya kembali.
Meskipun dia tahu dari Mutia, kalau Gama dan Aira benar-benar sudah berakhir.
"Kamu kelihatan sibuk, kalau begitu aku pulang dulu." Gama berpamitan.
__ADS_1
"Iya, hati-hati." Datiyah memberikan senyuman getir.
Setelah tiba di penjara.
"Mama.... " Raka langsung memeluk Jihan, dan sebaliknya.
"wajahmu terlihat lebih baik." ucap Jihan pada Datiyah.
"Maaf, Tiyah baru bisa datang sekarang. Mengurus pemakaman dan semuanya ternyata gak mudah."
Obrolan mereka memang masih canggung.
Setelah mereka duduk berhadapan mereka hanya diam saling bertatapan.
Jihan menitikkan air matanya. "Anakku, sudah dewasa." tiba-tiba tangis Jihan pecah.
"Mama...?" Datiyah lalu kesamping Jihan dan memeluknya.
"Bagaimana bisa aku baru menyadarinya, kamu tumbuh menjadi anak yang sangat cantik." Jihan lalu memegang kedua pipi Datiyah dengan kedua tangannya.
"Bagaimana bisa, dia tumbuh secantik ini tanpa kasih sayang dari ibunya. Maafkan Mama Tiyah. " Lalu memeluk Datiyah dengan erat.
"Mama..... " Datiyah pun ikut sesegukan, sementara itu Raka cepat dibawa keluar oleh Arvina.
"Aku mau diam sama mama." Raka berteriak.
Setelah beberapa lama menangis.
"mama sama sekali gak menyesali keputusan mama." Lalu menggenggam tangan Datiyah. Mereka duduk bersampingan seperti tak ingin terpisah.
Datiyah kembali berkaca-kaca.
"Tapi, aku gak pengen mama dipenjara seperti ini." Datiyah menangis lagi.
"Tiyah, seandainya kamu berhasil membuat Anton di penjara, setiap harinya kita akan di penuhi rasa was-was. Kapan dia akan keluar dan tiba-tiba muncul di hadapan kita lagi. Mama pikir mama bisa merubah Anton, tapi itu hanya Ego mama yang terlalu percaya diri di cintai Anton, dia hanya mencintai dirinya sendiri."
Datiyah mengerti maksud Jihan.
"Kamu sudah dewasa dan bisa menjaga dirimu. Dan mama tahu, kamu pasti mau menjaga Raka. Mama juga sudah lelah, karena jiak dia benar mencintai mama, dia harusnya tak menyakiti orang-orang dan membuat hati mama terluka."
Datiyah mengangguk, "Tentu saja aku akan menjaga Raka. Dia adikku. Aku tau Ma, karena itu Tiyah juga marah besar ketika tau mama mencintai Anton."
"Maafkan mama." Mereka berpelukan lagi, tak lama Raka akhirnya masuk dan memeluk ibunya, karena jam kunjungan akan segera habis.
__ADS_1
Akhirnya mereka pulang dan mengadakan pemakaman untuk Anton sekaligus ibunya Hendrik.
Hendrik menghadirinya menggunakan kursi roda. Banyak yang mempertanyakan, kenapa pemakaman mereka di adakan di ahri yang sama.
Datiyah tak melihat alasan, kenapa tidak. Karena biar bagaimanapun, Anton adalah ayah Raka, meskipun ia sangat membencinya.
Melihat Raka menangisi Anton, dia juga teringat dirinya ketika ayah dan kakeknya meninggal.
Apakah setelah kematian Anton Datiah merasa lega, yah, dia tidak bisa membohongi dirinya. Dia memang merasa lega tapi juga berat hati.
Dia merasa lega, tapi dia juga sedih Raka kehilangan ayahnya dan mamanya di penjara.
Siapa yang akan menduga, bahwa Anton akan berakhir seperti itu. Dibunuh oleh wanita yang di cintainya.
Gama juga menghadiri pemakaman, dan ikut mengantar Datiyah dan Raka ke rumah Sugesti.
Rumah itu menjadi sepi lagi setelah pemakaman. Semua kembali ke rumahnya masing-masing. Raka dan Hendrik sudah tertidur karena terlalu lelah. Hanya tersisa beberapa pelayan yang mondar-mandir membersihkan rumah.
Datiyah mempersilahkan Gama masuk ke dalam kamarnya, karena ruangan lain terlalu kotor dan berisik.
"Jadi begini kamar Datiyah? " Gama melirik kiri dan kanan.
"Kamar ini, jauh lebih baik dari kamar waktu aku kecil. Setidak setelah di kamar ini aku sudah tak pernah di pukuli lagi." Gama lalu membeku.
Melihat itu, Datiyah tertawa. "hahahaha... Itu sudah lama sekali. Jadi kamu gak usah tegang seperti itu." Datiyah memukul Gama pelan di lengannya.
Gama hanya tersenyum getir.
"Jadi, apa rencanamu setelah ini? " Tanya Gama.
"Aku? Bagaimana dengan kamu? "
"Aku bertanya lebih dulu."
"Aku sekarang adalah pemimpin perusahaan Gunawan dan juga Sugesti. Yah, walaupun ada milik Raka. " Ucap Datiyah membersihkan mejanya membelakangi Gama.
"Jadi, kamu akan benar-benar meninggalkan aku dan rumah Kencana?" Gama memeluk Datiyah dan berbisik di telinganya.
Datiyah langsung membeku.
"Apa kamu lupa, kalau kamu sudah menjadi bagian dari keluarga Kencana." Bisikan Gama membuat Datiyah hanyut, dia kembali memngingat malam pertamanya dengan Gama.
"Tiyah, apa yang kamu pikirkan? " batin Datiyah.
__ADS_1
Tiba-tiba Gama membalik tubuh Datiyah agar menghadapnya.
...****************...