Bolehkah Aku Mencintaimu?

Bolehkah Aku Mencintaimu?
Pertemuan


__ADS_3

Mereka bilang cinta pertama adalah cinta yang tidak dapat kamu lupakan.


Dan di sini seorang laki-laki berumur 25 tahun yang ditinggalkan kekasih hatinya tanpa kabar dan berita.


Masih menunggu dengan sabar.


Sudah 2 tahun berlalu semenjak Gama melihat poster Aira.


Awalnya ia sempat ingin pergi menemui Aira.


Tapi entah kenapa, setelah melihat Aira baik-baik saja bahkan sudah terkenal menjadi artis papan atas membuatnya terluka dan marah. Merasa di khianati.


Bagaimana bisa seseorang yang dia sayangi, yang dia anggap teman, sahabat, dan kekasih itu, bisa meninggalkannya tanpa kabar dan berita selama hampir 10 tahun.


Rasa terluka dan marah semakin membara dalam hatinya melihat Aira yang begitu bahagia di layar televisi, dan tak sekalipun mengabarkan Gama.


Hanya sekedar mengatakan kalau ia masih hidup dan baik-baik saja.


Sehingga Gama memutuskan lagi, bahwa ia dan Aira memang mungkin bukan untuk satu sama lain. Ia hanya fokus pada pekerjaannya.


Hingga suatu hari, takdir mempertemukan mereka.


Gama yang saat itu baru saja bertemu dengan seorang klient di sebuah restoran hotel, yang kebetulan juga adalah tempat Aira menginap.


Gama yang akan pergi dan Aira yang baru saja masuk dalam restoran yang membuat beberapa keributan karena fansnya.


Jantung Gama berdegup kencang setelah melihat Aira yang tak jauh dari tempatnya.


Sekarang Aira terlihat lebih dewasa, lebih cantik dan sangat cantik jauh dari yang ia bayangkan.


Tapi Gama tanpa sadar menahan nafasnya, ketika mereka berjalan berpapasan, Gama mengabaikan Aira.


Tapi langkahnya terhenti ketika suara Aira memanggilnya.


"Gama?"


Aira kemudian berbalik, memegang lengan Gama.


Tubuh Gama gemetar tapi terasa lemas, orang yang meninggalkannya, orang yang masih dicintainya ini, sekarang ada di hadapannya. Dia menahan nafasnya, menahan diri dari rasa ingin memeluk wanita yang ada di hadapannya.


Dan, egonya mengalahkan perasaannya. Dia memundurkan tubuhnya agar terlepas dari tangan Aira.


"Wah, senang sekali. Ada artis tenar menyapaku. Tapi sayang sekali. Sekarang aku sedang sibuk. Permisi." Gama lalu pergi meninggalkan Aira yang berdiri menahan air matanya karena banyak fans nya yang melihat.


Di dalam mobil. Gama mengacak rambut dan mengusap wajahnya berkali-kali.


"Aaaaarrrhhh, sial, sial. Kenapa aku melakukannya? Hentikan mobilnya!"


Mobil berhenti dan ia pun berlari kembali ke dalam restoran di mana terakhir ia melihat Aira.

__ADS_1


Ia menengok ke seluruh restoran, dan pandangannya berhenti di kerumunan orang.


Di sana ia melihat Aira yang sedang mengobrol dengan beberapa fansnya dan membagi tanda tangannya. Gama berjalan ke arah Aira dan langsung menarik tangannya.


"Gama?!" panggil Aira kaget. Gama tidak mengucapkan apapun menarik Aira ke arah tangga darurat.


"Gama, kamu tahu apa yang kamu lakukan sekarang? Aku bisa terlibat skandal."


Gama membuka pintu dan mendorong Aira bersandar di tembok. Gama menahan Aira menekan bahunya agar tak bergerak. Menatap mata wanita yang ada di hadapannya.


"Itu yang pertama kali kamu khawatirkan? skandal??" ucap Gama agak berteriak.


"Gama, lepasin aku dulu." pinta Aira. Tapi Gama malah memeluk Aira dengan erat.


"Gama, leepaasin. Aku gak bisa bernafas." Gama melepaskan pelukannya, dan tanpa sadar air matanya mengalir.


"Gama? maafin aku. Aku.."


"Apa kamu tahu, bagaimana sedihnya dan sakitnya aku waktu kamu pergi? Tapi aku lebih sakit ketika melihatmu baik-baik saja tapi tak mengabariku."


"Gam...."


"Apa aku sama sekali tak berarti buat kamu? Apa aku bukan siapa-siapa bu..."


Aira tiba-tiba mencium bibir Gama, sempat kaget tapi cepat dia mendorong wajah Aira.


"Apa, apa yang kamu lakukan?" tanya Gama kaget.


"Apa yang perlu kamu jelaskan? Kamu meninggalkan aku..."


"Gama! bisa gak kamu biarkan aku bicara. Dan lebih baik kita ke kamarku. Di sini terlalu banyak orang yang melihat." Aira meninggikan suaranya lalu melihat ke atas dan ke bawah tangga.


Begitu sampai di kamarnya. Aira langsung memeluk Gama menangis.


"Gama...hikss.hikss..hiks.. Aku kangen sama kamu. Aku sebenarnya gak pengen ninggalin kamu. Tapi aku harus."


Gama yang mendengar tangis Aira, balik memeluk wanita itu. Mereka berpelukan agak lama melepas rasa rindunya.


Akhirnya mereka sudah merasa lebih tenang.


Ponsel gama sudah bergetar sejak tadi, tapi dia tidak memperdulikannya.


Mereka duduk berdampingan, mengaitkan jari tangan satu sama lain.


"Kenapa? Kenapa kamu pergi tiba-tiba?" tanya Gama.


"Aku cuma pengen kamu fokus karena aku tahu itu sulit bagimu untuk mempunyai tanggung jawab yang besar dan aku juga perlu mengejar cita-citaku."


"Tapi kenapa harus pergi tanpa kabar? kenapa harus pergi diam-diam?"

__ADS_1


"Kalau aku minta izin, kamu bakalan izinin?


kalau aku izin, dan tahu di mana aku, apa kamu gak bakalan ngikutin aku?"


Gama terdiam agak lama.


"Tapi kenapa setelah kamu sukses kamu gak pernah hubungin aku?" tanya Gama lagi.


"Aku fikir kamu bakalan datang nyariin aku. Dan aku juga takut, kamu bakalan nolak aku kayak tadi." Mata Aira mulai berkaca-kaca.


"Maafin aku, aku gak tau kenapa aku sangat marah, padahal aku tahu aku sangat rindu sama kamu." Gama memeluk Aira dan menyandarkan kepalanya di dada Gama.


Rendra yang sudah menelepon dari tadi mulai merasa gusar. Dia pun mencari informasi Aira di meja resepsionis.


Akhirnya mendapat nomor ruangannya. Dia pun menyusul Gama.


Gama dan Aira sedang melepas kerinduan dalam pelukan. Sampai terdengar ketukan di pintu kamar Aira.


Aira membuka pintu, "Ka Rendra?" tanpa dipersilahkan Rendra langsung melangkah masuk.


"Tuan, kita harus segera pergi. Pertemuan selanjutnya setengah jam lagi akan di mulai."


"Suruh mereka menundanya!"


"Kita sudah menunda selama 1 jam Tuan. Saya menelepon anda berkali-kali."


Gama melihat jam tangannya.


"Aahhh! Sial!" Dia bangun dari sofa.


"Maafin aku, aku harus pergi sekarang. Aku akan balik ke sini setelah pekerjaanku hari ini selesai. Okay?" Ucap Gama menggenggam tangan Aira.


"Kamu gak bakalan ngilang lagi kan?" Tanya Gama.


"eemmmm...aku janji. Gak bakalan ngilang lagi." jawab Aira mengangguk dan memeluk Gama.


"kamu pasti kembali kan?"


"Iya, aku pasti kembali. Bagaimana bisa aku gak kembali setelah melihat kamu." Aira lalu hendak mengecup bibir Gama. Tapi Gama menolaknya.


"Kenapa?" tanya Aira.


"Lebih kita tidak melakukan hal-hal yang akan membuat kita melakukan yang tidak-tidak."


Gama tersenyum, dan menepuk tangan Aira.


Gama berjalan lebih dulu.


"Harusnya kamu tidak kembali. Dan harusnya kamu tahu resiko apa yang akan mengancammu." ucap Rendra pada Aira, yang lalu mengikuti langkah Gama.

__ADS_1


*bersambung...


__ADS_2