
"Stop!! aku tau aku tak boleh jatuh cinta sama kamu. Tapi kamu juga harusnya melakukan hal yang sama. Aku gak tau pasti. Bagaimana perasaanmu. Tapi yang aku tau pasti. Kamu juga mulai menyukaiku. Jika tidak, kamu tidak akan menciumku." Datiyah kemudian pergi meninggalkan Gama berdiri di koridor.
Mendengar ucapan Datiyah, Gama hanya bisa berdiri dan terdiam. Tak lama, ia memutuskan untuk kembali ke tempat Aira.
"Ada apa dengan Tiyah? kenapa kamu tiba-tiba mengejarnya?" tanya Aira yang begitu melihat Gama masuk.
"Bukan apa-apa. Aku cuma mau berterima kasih."
Aira sudah merasa, bahwa Gama memang berubah.
Gama bukan anak remaja yang dulu ia tinggalkan. Memang benar ia masih bisa merasakan keperdulian Gama padanya. Tapi, untuk rasa cinta ia sendiri tak tahu.
Ia kembali pada Gama, karena sangat merindukannya. Karena ia masih mencintainya. Tapi begitu banyak waktu antara mereka yang tak terisi. Akhirnya ia memberanikan diri bertanya pada Gama.
"Gama, sebenarnya kita ini apa? kamu siapaku dan aku siapamu?"
"kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?" tanya Gama.
"jawab saja, aku tidak tau siapa aku dalam hidupmu. Kamu menikah dengan Tiyah, tapi menemuiku sebagai kekasihmu."
"kamu tentu saja wanita yang aku cintai. Apa aku bukan lelaki yang kamu cintai? Dan maslah aku dan Tiyah, bukankah kamu sudah tau apa alsan aku menikahinya." Ucap Gama mendekat pada Aira.
"Kamu tau, di saat-saat tersulitku, aku selalu ingat kembali padamu. Bahwa apapun yang terjadi padaku. Kamu akan tetap mencintaiku. Tapi, melihat matamu yang menatap Tiyah, melihat Tiyah yang terlihat marah dan kamu yang mengejarnya. Aku...."
"Bukankah sudah aku katakan, kalau aku mencintaimu?" tanya Gama sambil memeluk Aira.
Aira menggeleng pelan, melepaskan pelukan Gama lalu menyentuh pipi Gama.
"Aku, bukan Aira yang kamu kenal. Kita jarang bahkan hampir tak pernah menghabiskan waktu bersama. Mengenal diri kita yang dewasa. Yang sudah banyak berubah."
"Kalau begitu, kenapa kita gak mulai dari sekarang? aku akan mendengarkan semua ceritamu. Dari awal kamu pergi dr rumah. Atau alasan kenapa kamu pergi tanpa berkata apa-apa." Gama lalu menarik kursi dan duduk di samping tempat tidur.
Aira lalu menggeleng. "Tidak, aku tidak mau. Aku hanya ingin kamu di sini. Lagipula tidak penting apa yang sidah kulalui. Aku cuma ingin kamu untuk tetap cinta sama aku."
Deg, entah kenapa Gama merasa bersalah.
"Emmmm, Aira. Kalau aku kasi tau kamu hal ini. Aku pengen kamu janji sama aku untuk tidak marah?"
Aira mengernyitkan dahinya.
"Jangan bilang ini tentang Tiyah."
__ADS_1
"emmm, aku dan Tiyah akan pergi bulan madu dan kencan untuk.. "
"apaaaaaaa?" Aira berteriak.
"Bukan betulan, hanya untuk publikasi saja. Aku dan Tiyah sudah menikah beberapa bulan. Dan tidak ada yang terjadi kan? Aku tau, ini bukan waktu yang tepat untuk kasi tau kamu hal ini."
"kecuali ciuman itu" batin Gama.
"entahlah, aku, aku gak tau harus bilang apa. Bagaimana bisa aku ijinkan hal itu. Laki-laki yang kucintai pergi berbulan madu dan kencan dengan wanita lain."
"Aira, kamu tau apa yang aku lakukan ini, untuk menjaga nama baik keluargaku dan juga nama baikmu."
"iya, aku tau.. Sangat tau. Aku cuma mengatakan isi hatiku." Aira langsung berbaring dan menutup dirinya dengan selimut.
"Aira, aku mohon lihat aku dan dengarkan apa yang harus aku katakan." ucap Gama menyentuh bahu Aira.
Tapi Aira yang kesal, malah menepis tangan Gama. dan menyuruhnya pergi.
"Lebih baik kamu pulang, aku perlu menenangkan diri."
Gama menghela nafas pelan.
Gama kembali ke kantor untuk bekerja dan pulang ke rumah ketika sudah malam dan menemukan kamar tidurnya kosong. Ia tentu berfikir kalau Datiyah sedang di perpustakaan.
Setelah mandi dan berganti pakaian akhirnya ia pergi memeriksa perpustakaan. Tapi, di sana ia tak melihat Datiyah.
Ia menelpon nomor Datiyah berkali-kali tapi tak ada yang menjawabnya.
"Kamu di mana?" Gama mengirim pesan singkat.
"aku sibuk, urus saja Kak Aira. Kamu gak perlu khawatir denganku. Ada Kak Hendrik bersamaku."
Gama merasa sangat kesal, karena Datiyah belum ada di rumah ketika malam. Padahal jam berkunjungnya ke panti pun sudah selesai sore hari.
Dia menulis, kemudian menghapus lagi pesannya. Ia tak mau terlihat terlalu khawatir melebihi seorang teman. Karena itulah yang harusnya ia lakukan. Ia tak ingin menyakiti perasaan Aira ataupun Datiyah karena hatinya yang ragu.
"Baiklah kalau begitu. Hati-hati." isi pesan Gama pada Datiyah.
"OK." jawab Datiyah singkat.
Gama pun masuk ke ruang kerjanya. Setiap 10 menit ia melihat keluar jendela memeriksa apakah Datiyah sudah pulang atau belum.
__ADS_1
Tepat pukul 10 malam. Datiyah pulang dengan tertawa senang bersama Hendrik.
"Makasih yah Kak" ucap Datiyah memegang lengan Hendrik dan kemudian masuk ke dalam rumah.
Gama yang sudah mengetahui Datiyah pulang, buru-buru kembali ke kamarnya dan menunggu Datiyah.
Dtaiyah membuka pintu kamar, melihat Gama yang terbangun karena pura-pura tidur.
"Kamu sudah pulang?" tanya Gama pura-pura menguap.
"Iya, aku sudah pulang. Coba lihat ini." Datiyah menunjukkan mainan dan boneka yang ia peluk sambil tersenyum lebar.
Gama senang melihat Datiyah tersenyum.
"Apa itu?" Tanya Gama sambil bangun dan duduk di atas tempat tidurnya.
"Tadi Kak Hendrik ngajak aku ke tempat game. Dan kita main game di sana. Selama ini aku penasaran banget, dan ternyata memang benar, kalau itu buat kamu ketagihan dan lupa waktu." Datiyah lalu meletakkan semua bonekanya di atas meja riasnya. Dan mengaturnya dengan rapi.
"Aku bisa belikan kamu seisi toko dengan mainan seperti ini." Gama bangun dan mendekati Datiyah dan mengambil salah satu bonekanya.
"Iya, kamu bisa. Sayang, itu bukan untukku?"
"Maksud kamu apa?"
"Sudah jelas, bahwa kamu akan membelikannya untuk Kak Aira kan? Karena dihatimu cuma ada Aira Aira dan Aira. Bahkan kamu rela menikah denganku dan melawan keinginan Mamamu."
"Kenapa kamu malah bahas Aira? Aku lagi bicarakan ini. Boneka ini. Kamu begitu senang mendapatkan mainan murahan seperti ini. Padahal aku pernah membelikan handpone buat kamu."
Datiyah yang marah lalu berdiri dan berhadapan dengan Gama.
"Wahhhh... aku sangat senang mendapatkan handpone dari kamu. Aku sangat berterima kasih. Kamu memang sahabat yang baik." Datiyah hendak melangkah keluar, tapi tangannya ditarik Gama.
"Kamu mau kemana lagi? Apa belum cukup seharian kamu menghabiskan waktu dengan Hendrik? dan pulang dengan senyum yang lebar?"
Gama memang senang melihat Datiyah tersenyum, tapi melihat senyumnya karena laki-laki lain membuat hatinya panas.
Datiyah yang mendengar pertanyaan Gama melihat secercah harapan karena merasakan kecemburuan Gama. Dia kemudian melangkah maju ke arah Gama.
"Kenapa? Apa kamu cemburu?"
*bersambung.......
__ADS_1