Bolehkah Aku Mencintaimu?

Bolehkah Aku Mencintaimu?
Emosi


__ADS_3

Aira diam tak berkata apa-apa. Dia tahu betul bekas luka yang membekas pada tubuh Datiyah. Karena dia terlalu sering melihatnya.


"Kakak harus pergi, dan kembali ke kamarmu." Datiyah lalu meninggalkan Aira di ruang tengah, dan Datiyah kembali ke tempat tidurnya.


Masih termenung, Aira bingung tentang apa yang harus dia lakukan. Setelah diingat-ingat dia memang tak pernah melihat Datiyah mengenakan pakaian terbuka.


Menggelengkan kepalanya. "Kenapa aku malah sibuk memikirkan dia? Yang harus aku lakukan sekarang, memastikannya agar tidak memberitahu Gama." ucap Aira.


Aira hendak mengetuk pintu kamar Datiyah, tapi enggan dia lakukan.


"Aaahh, sudahlah. Memang mau tidak mau aku pasti dan harus memberitahu Gama."


Aira pun keluar dari kamar, dan melihat Hendrik sudah berdiri di depan kamar.


"Kamu sejak kapan ada di sini?" tanya Aira.


"Saya tidak akan pernah lagi membiarkan Nona Tiyah sendiri." Jawab Hendrik sambil berjalan ke arah pintu.


"Apa kamu pernah cerita ke Tiyah tentang aku?"


"Saya tidak pernah ikut campur urusan klien saya. Dan anda tidak perlu khawatir."


"Baiklah. emm..." Aira ingin melanjutkan bicaranya.


Hendrik masih berdiri di pintu kamar.


"Aku tak sengaja menarik lengan baju Tiyah, dan melihatnya."


Tanpa fikir panjang, Hendrik langsung berjalan masuk ke kamar dan menutup pintu dengan keras.


"Apa-apaan dia? sama sekali tak punya sopan santun" Aira yang kaget, memutuskan kembali ke kamarnya.


Sementara itu, Hendrik hanya berdiri didepan pintu kamar dalam khusus Datiyah.


Datiyah segera mengganti pakaiannya. Setelah berganti pakaian ia langsung memanggil Hendrik.


"Kakak, bisa masuk," Datiyah sangat tahu Hendrik akan selalu didekatnya.


"Apa Nona, benar baik-baik saja?"


"Aku pernah mengalami hal yang lebih buruk, ini bukan apa-apa." Ucap Datiyah berjalan ke ruang tengah.


"Tiba-tiba aku jadi lapar, apa kakak gak lapar?"


Tanpa basa-basi Hendrik langsung menelpon pihak hotel untuk mengantar makanan.


Setelah makan, Datiyah memeriksa ponselnya.


sudah banyak pesan masuk dan panggilan tak terjawab dari Gama.


Ingin rasanya dia kembali ke pelukan Gama, dia membenci Gama yang tidak memberikan hatinya, tapi dia juga merindukan Gama, sahabatnya yang memperlihatkannya kembali, bahwa dia masih bisa bahagia dengan semua kesedihannya.


Dengan tanpa sadar, iapun memanggil nomor telepon Gama.


"Kenapa, kamu telpon dan sms aku?" tanya Datiyah judes.


"Aku, aku ingin minta maaf."


"Minta maaf kenapa?"


"Karena memperlakukanmu seperti itu, kadang baik, kadang jauh, aku minta maaf."


Mendengar ucapan Gama, yang tau apa salahnya membuat Datiyah sangat senang dan tanpa sadar tersenyum.

__ADS_1


"Padahal aku sudah janji akan jadi sahabatmu." hancur lagi perasaannya mendengar kata sahabat antara mereka.


Datiyah mematikan ponselnya.


berdiri dan menangis tanpa suara. Hanya air matanya yang mengalir.


"Nonaa..." ucap Hendrik pelan. Hendrik pun ikut sedih melihat tangisan wanita yang dicintainya.


"Apa aku begitu sulit untuk dicintai. Setelah ayah dan Mama, tidak ada ada yg mencintaiku." mendengar itu Hendrik sedih karena perasaannya tak diakui. Karena memang dia juga tak pernah mengakuinya.


"selain kakak juga" batin Datiyah.


Ia tahu kalau Hendrik menyukainya lebih dari seorang majikan dan asisten. Tapi, dia tak bisa menyukai Hendrik meski ia menginginkannya.


Baginya Hendrik adalah kakak, dan juga seseorang yang akan selalu ada dipihaknya.


"Kalau begitu saya akan kembali ke ruangan saya." ucap Hendrik menuju ruangannya.


"Kak?" Hendrik berhenti sejenak.


"Saya tau Nona Tiyah tau perasaan saya. Nona tidak perlu menjelaskannya. Saat ini, Nona sedang jatuh cinta dengan Tuan Gama dan saya tidak mungkin masuk ke dalamnya." jawab Hendrik datar dan masuk kedalam ruangannya.


"cinta cinta cinta, sehebat apa hal itu, membuat semuanya jadi kacau. Bahkan rencana yang aku buat tidak pernah maju sedikitpun." Gerutu Datiyah sendiri.


Sementara itu, Gama yang ditutup teleponnya oleh Datiyah merasa galau.


"Rendra, cari tau lokasi Tiyah sekarang," ucap Gama marah keluar dari kamarnya.


Meski tau dirinya bersalah, ia juga tidak mengerti kenapa dia marah.


"Nona Tiyah berada di hotel X."


"Cari tau kamar nomor berapa."


Baru akan membuka berkas yang sudah dia simpan karena teralihkan urusan Gama. Bel kamar Datiyah berbunyi.


Hendrik dan Datiyah bersamaan keluar dari ruangannya.


"Biar aku saja." ucap Datiyah ke arah pintu.


Tanpa ucap banyak dan mendengar ucapan Datiyah, Hendrik langsung menuju pintu dan melihat keluar melalui pintu.


"Nona, didepan ada Tuan Gama."


Datiyah yang panik, tak tahu harus melakukan apa. Di satu sisi, dia belum siap bertemu Gama. Karena masih terluka. Di satu sisi, ia juga masih menyukai Gama dan merindukannya.


"Nona?!" panggil Hendrik.


"emmmmm.... tunggu sebentar"


Datiyah segera bergegas berlari menuju ruangannya dan mencari pakaian yang lebih bagus. Tapi, lagi dan lagi semua pakaiannnya terlihat sama.


Dengan kecewa dan pasrah dia meminta Hendrik untuk membiarkan Gama masuk.


"Kenapa kamu harus begini? pergi tanpa memberikan pesan atau apapun." ucap Gama kesal.


"Kenapa kamu yang kesal? Harusnya kamu gak usah perduli." ucap Datiyah santai.


Gama menarik nafasnya berusaha tenang.


"Bukannya kita sudah berjanji, untuk membantu satu sama lain? Kamu yang pergi dengan marah, apa akan membantu urusanmu?"


"Kamu fikir semua itu salah siapa? Kenapa kamu harus membuat aku nyaman dan senang? Bukannya sejak awal aku bilang kamu tidak perlu ikut campur?"

__ADS_1


"Bagaimana bisa aku tidak ikut campur? Kamu juga selalu ikut campur dan membantu aku."


"Kamu... benar benar tidak mengerti." Nada Datiyah sedih.


"Buat aku mengerti." ucap Gama marah.


"Aku masih bodoh tentang cinta. Aku sama sekali tak mengenal cinta. Yang aku tahu, aku bahagia ketika kamu bahagia.Dan sedih melihatmu bersedih. Tapi, aku masih belum bisa membagi seluruh lukaku padamu. Karena aku tak yakin, apa kamu bisa merasakan luka yang aku rasakan." Batin Datiyah.


"Aku butuh waktu menenangkan diri. Aku hanya ingin fokus dulu. Mengurus percintaan mu dan Kak Aira sangat menyita waktuku. Dan perasaanku terlalu menguras emosi dan fikiranku." jawab Datiyah tenang.


"Jadi kamu cuma butuh waktu?" tanya Gama.


"Iya.... Ketika aku sudah siap jadi temanmu lagi."


"tidak.. aku butuh kamu untuk tenangkan hatiku. Aku butuh kamu dekat denganku. Aku takut berhenti mencintai kamu, tapi aku juga takut mencintai kamu terlalu dalam." batin Datiyah.


"Baiklah, aku akan memberikan semua waktu yang kamu butuhkan."


Tanpa menunggu jawaban Datiyah, Gama langsung keluar dari kamar itu, berkali-kali ia menoleh ke belakang agar Datiyah menghentikannya. Yang membuat dia lebih kecewa, melihat Hendrik sekamar dengannya saat sudah selarut ini. Itu hal biasa, tapi dia tak bisa menerimanya.


Gama yang terlalu fokus dengan fikirannya, tak melihat Aira yang lebih dulu melihatnya. Aira panik.


"Belum berapa lama, kamu sudah memberitahu Gama?"


Aira menjadi sangat marah, dan tanpa sadar memanggil Gama.


"Gama, apa saja yang sudah dia kasi tau ke kamu?" ucap Aira marah, kesal, takut dan sedih. Air matanya sudah mengalir, takut Gama meninggalkannya.


"Aira???" ucap Gama kaget.


Tanpa bisa bertanya lebih panjang, Aira langsung menarik tangan Gama kembali menuju kamar Datiyah.


Gama yang masih kaget, hanya mengikuti langkah Aira.


"Kamu kenapa?" tanya Gama bingung. Sementara itu, Rendra hanya mengikuti dibelakang.


Aira mengetuk pintu kamar Datiyah dengan keras.


"Kamu kenapa?" yang kemudian langsung mendekap Aira. Tapi Aira yang sudah tertutupi emosi bertubi-tubi tak bisa mendengar apapun hanya ingin memastikan sesuatu dengan Datiyah.


Pintu kamarpun terbuka, melihat Gama yang mendekap Aira Datiyah hanya bisa tertawa mendengus. Sedih, kecewa dan marah melihat Gama yg masih bisa menyentuh Aira.


Dia tahu, bahwa apa yang dialami Aira adalah hal sangat menyedihkan untuk dia bayangkan.


Tapi setiap orang memiliki luka, dan setiap orang punya cara berbeda mengobati luka mereka.


"Apa ini yang kamu bilang, memberikan aku kesempatan untuk menjelaskan?" Aira yang marah langsung menampar Datiyah.


Hendrik yang refleks langsung mendorong tubuh Aira hingga terjatuh. "Apa anda sudah gila??" teriak Hendrik.


Gama masih terkejut tak bisa mencerna adegan dihadapannya.


Tapi dengan cepat membantu Aira berdiri.


"A...aaa..pa yang terjadi?"


"Kamu mengingkari ucapanmu." teriak Aira.


Datiyah sudah lelah, marah dan sangat ingin beristirahat dari masalah hati yang begitu rumit.


"tentang apa? tentang kamu jadi wanita simpanan? tentang kamu digilir beberapa pria? tentang kamu yang masih menyuguhkan tubuhmu pada laki-laki lain bahkan setelah kamu kembali pada Gama?" ucap Datiyah marah.


"Nonaaaaaa?!" ucap Hendrik berusaha menangkannya dan memegang bahunya.

__ADS_1


*bersambung.....


__ADS_2