Bolehkah Aku Mencintaimu?

Bolehkah Aku Mencintaimu?
Konferensi Pers


__ADS_3

"Aku pengen adain konferensi pers, dan ku harap kamu bisa bantu aku."


Datiyah berbalik terkejut.


"apa waktuku sudah habis? apa aku akan kembali lagi ke rumah Sugesti? Aku bahkan belum bisa melakukan apapun." Batin Datiyah.


"Maksud kamu apa? ka kamu mau kita ngapain?"


Meskipun tau waktunya akan habis, tapi dia sama sekali tak menyangka kalau akan secepat ini.


"Aku akan kirim draftnya, kalau kamu setuju kamu bisa telpon aku atau Rendra. Aku gak bisa biarin orang-orang menganggap Aira perusak rumah tangga orang lain. Sementara di antara kita tidak ada rumah tangga yang dibangun." ucap Gama dengan nada yang serius..


Deg, jantung Datiyah berdegup kencang sedih dan kecewa.


"oke." jawab Datiyah singkat masih berusaha menyembunyikan kesedihannya. Ketika akan keluar.


"Kamu disini aja, biar aku yang ke ruang kerja." ucap Gama sambil berjalan ke arah pintu kamar dan keluar menuju ruang kerja yang sudah berminggu-minggu tak ia masuki.


Datiyah tak menjawab dan langsung berjalan kembali dan terduduk di tempat tidur.


Sementara Gama langsung duduk menghela nafasnya dengan keras dan menyandarkan kepalanya di kursi kerjanya.


"hhhhaaaahh... apa yang sudah aku lakuin?" Sambil mengusap wajahnya. Dia menghabiskan malamnya di dalam ruang kerja.


Sementara itu, Datiyah yang masih terguncang dengan pertemuannya dengan Toto Sugesti, malah di tambah waktunya yang akan habis.


"apa aku harus bekerja sama dengan Toto? " Datiyah menggeleng.


"Melihatnya saja sudah membuat orang merinding sekaligus kesal. Aaahhhh... aku gak tau apa yang harus lakukan." Datiyah kemudian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur kemudian menutup matanya dengan lengannya.


Tanpa sadar iapun meringkuk dan tertidur.


Keesokan paginya ketika Datiyah bangun, ia melihat Gama sudah siap-siap pergi kerja.


"kamu pergi sepagi ini?" tanya Datiyah yang kemudian duduk.


"Iya, banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan, di tambah masalah skandal. Dan aku juga harus menjenguk Aira." Gama menekankan pada kalimat bahwa ia harus menjenguk Aira.


Meski kecewa, ia tak mau Gama melihat wajah kecewanya.


"Ia, aku tahu. Pasti kamu juga sangat mengkhawatirkan Kak Aira. Semoga Semuanya baik-baik saja." ucap Datiyah sambil memperbaiki pakaian Gama yang agak miring dengan ekspresi yang biasa ia gunakan.

__ADS_1


"kamu gak perlu menghindari aku, hanya karena yang terjadi semalam. Aku tetap temanmu dan kamu tetap temanku. Dan kamu tau, apapun yang terjadi aku akan selalu mendukung kamu dan Kak Aira. Jadi Gak usah khawatir." Datiyah lalu menepuk bahu Gama, yang membuat Gama semakin merasa bersalah.


"Emmm... makasih. Aku berangkat." jawab Gama canggung.


Gama pun berangkat, dan meninggalkan Datiyah. Alasannya untuk menjaga jarak dengan Datiyah, karena ia tak ingin menduakan Aira, dan ia tak ingin membuat Datiyah semakin bingung dengan perasaannya.


Dia tau pasti, bahwa dia menyayangi Aira, tapi ia juga tau. Bahwa apa yang ia rasakan terhadap Datiyah pun bukanlah perasaan yang biasa.


Setelah Gama berangkat, Datiyah kembali duduk di atas tempat tidur dan menghela nafasnya.


"Kamu tau, dari awal dia bukanlah laki-lakimu. Dan kamu juga tau kalau kamu tidak boleh jatuh cinta padanya. Hidupmu terlalu melelahkan untuk jatuh cinta." Batin Datiyah pada dirinya sendiri.


Tak berselang lama, sebuah ponsel berbunyi. Ternyata itu ponselnya yang sudah diletakkan Gama di meja riasnya.


Dia pun melihat konsep konferensi persnya.


Dia pun langsung menyetujuinya tanpa bertanya pada Hendrik.


"Baiklah, kalau begitu aku akan menunggumu di hotel XYZ, di kamar 205." setelah mendapatkan pesan dari Gama, Datiyah pun langsung meminta Hendrik mengantarkannya.


"Nona, ada apa di sana? " tanya Hendrik sambil menyetir.


"Kaaak? Ada apaaaa? " tanya Datiyah kaget.


"Dan Nona setuju? apa Nona sudah mempertimbangkannya matang-matang?"


"Kakak dengar dulu, awalnya aku juga berfikir kalau hal ini akan merugikan ku, dan kita sudah kehabisan waktu. Tapi dia hanya memintaku mengkonfirmasi hubungan Gama dan Kak Aira sejak masih kecil, dan aku mengetahui kalau mereka sering bertemu sebagai sahabat."


Hendrik memegang stir mobil dengan kencang.


"sampai kapan laki-laki itu akan memanfaatkan Nona Tiyah?" batin Hendrik.


"Tapi, bukankah Nona juga sudah membantunya mengehntikan Nyonya Mutia yang terus menjodohkannya. Bukankah hal itu yang dia inginkan? Dan sekarang?" belum selesai bicara.


"Kak? kakak tau kalau kita masih butuh waktu mencari orang itu kan? Dan kita bisa menggunakan hal ini untuk itu. " Hendrik mulai kesal.


"Iya, Nona juga membutuhkan waktu untuk dihabiskan bersama Tuan Gama kan?" kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulut Hendrik.


"Apa itu yang ada di fikiran Kak Hendrik? aoa aku tak bisa menikmati sedikit waktuku untuk bersenang-senang? meskipun sebentar?"


"iya, tapi Nona tidak hanya bersenang-senang, tapi juga menyakiti diri Nona dengan jatuh cinta padanya." Datiyah langsung terdiam. Dan Hendrik pun mulai menyetir.

__ADS_1


Datiyah tau, bahkan sangat tau. Kalau dia sudah mulai menyukai sahabatnya itu dalam tahap yang berbeda.


Begitu masuk ke kamar hotel.


"duduklah, ini yang akan ditanyakan oleh wartawan nanti. Kamu hanya perlu menjawab dengan apa yang tertulis."


"Gama? aku juga sering melakukan hal ini. Jadi kamu gak usah khawatir." jawab Datiyah menerima kertas yang disodorkan Gama.


Sementara itu, Hendrik berdiri di belakang Datiyah.


"Kak, duduk di sini. Aku perlu kakak menanyakan ini untukku." Datiyah menepuk sofa yang dekat dengannya.


Gama menatap kedua orang itu dengan kesal.


Sementara Hendrik pura-pura tak melihat Gama.


Gama yang duduk berhadapan sesekali mengintip dari balik kertas yang berisi konsep pertanyaan yang harus ia jawab.


"Apa menurutmu, mereka tidak duduk terlalu dekat?" bisik Gama pada Rendra.


"Tuan Muda, mereka memang selalu duduk sedekat itu sejak dulu. Apa ada masalah?" Tanpa menjawab Rendra.


"Tiyah, kamu duduk disini dan berlatih wawancara denganku saja."


"Kenapa? bukannya kamu juga perlu menghafal milikmu?" Datiyah mengabaikan Gama dan lanjut bertanya jawab dengan Hendrik.


Dan waktu wawancara pun tiba. Mereka memasuki ruangan yang sudah dipenuhi wartawan.


"Nona Datiyah, apa benar anda mengenal Aira sejak masih kecil?" tanya salah satu wartawan.


"Iya benar, saya, Gama dan Kak Aira sering bertemu dan sudah berteman sejak kecil. Ketika dewasa kami jadi sibuk dan tidak pernah bertemu lagi." jawab Aira.


Dilanjutkan dengan pertanyaan seputar perusahaan dan juga kisah asmara antara Gama dan Datiyah.


"Tuan Gama, apakah anda sangat mencintai istri anda? bagaimana anda bisa jatuh cinta pada Nona Datiyah?"


Mendengar pertanyaan itu, Gama terdiam dan ketika akan diambil alih oleh Rendra. Gama mengehentikannya.


Gama tersenyum, kemudian menjawab.


*bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2