Bolehkah Aku Mencintaimu?

Bolehkah Aku Mencintaimu?
Merasa Terganggu


__ADS_3

"Rendra, apa harus dia menunggu Tiyah di depan ruang ganti?" ucap Gama yang duduk agak jauh, setelah mengukur tubuhnya dan melihat ke arah Hendrik.


"Saya rasa mungkin mereka biasa melakukannya Tuan."


"Tapi kamu ngerasa aura aneh gak dari laki-laki itu? Dia menatapku seakan benci sekali padaku. Apalagi ingat hari pertama bertemu Tiyah."


"Tentu saja Tuan, dia kan penjaga sekaligus asistennya."


Gama menggeleng sambil berdecak pelan, "Entah kenapa ada aura tak nyaman dari laki-laki itu."


"Kenapa dia masuk ke dalam ruang ganti?" Gama duduk tegak penasaran.


"Tuan, saya rasa lebih baik kita pulang lebih dulu. Saya akan menyelesaikan sisanya."


"Apa? Kenapa? Tiyah belum selesei. Aku sudah memilihkan dia gaun yang indah. Dia pasti senang."


Tapi begitu Tiyah keluar tidak dengan gaun yang ia pilihkan, Gama merasa kecewa.


Dan setelah itupun mereka pulang.


Gama yang baru pulang fitting pakaian pernikahannya menghempaskan tubuhnya ke atas sofa dan menghela nafasnya dengan keras di ruang keluarga. Teringat ucapan Tiyah, "Bagaimana nanti kalau aku jatuh cinta karena kamu terlalu perhatian?"


"perhatian apanya? memilihkan gaun kan bukan sesuatu yang istimewa atau sulit." bergumam pada dirinya sendiri.


Gina yang baru saja dari dapur akan kembali ke kamarnya, berjalan mundur ke arah kakaknya. Tumben melihat kakaknya terlihat lelah dan mengoceh sendiri.


"Apa kak Gama gak berlebihan?" tanya Gina.


"Apanya?"


"Bukannya pernikahan ini cuma sekedar untuk menghindari perjodohan? Kakak cukup minta Om Rendra kan, semuanya selesei dan beres. Gak perlu turun tangan sendiri."


"Mana bisa mengukur baju pernikahan tanpa badanku?"


"Mereka kan simpan ukuran kakak. Kak Gama bahkan bisa menyuruh mereka pergi di manapun kak Gama berada."


"Yah, kakak gak enak aja. Kan kakak yang nawarin Tiyah menikah. Nanti kalau dia kerepotan sendiri bagaimana?"


"Dari yang aku lihat, justru Kak Tiyah lebih santai daripada Kak Gama."


Gama langsung duduk tegak, dan menepuk sofa menyuruh Gina duduk di sampingnya.


"Menurutmu, kenapa perempuan tidak mau menggunakan gaun pernikahan yang indah?"


Gina mengerutkan dahinya, tak mengerti ucapan Gama.


"Begini, gaun ini lebih indah dan mahal. Semua wanita yang melihatnyanya pun pasti akan nemilih gaun ini. Tapi, dia memilih gaun yang sederhana dan simpel untuk pernikahannya." Gama menunjukkan gaun yang ia pilih dan yang di pilih Tiyah.


"Hemmmm? mungkin karena ini bukan pernikahannya yang sesungguhnya? dan dia mau menggunakan yang spesial untuk oernikahan yang sebenarnya. Emang Kak Tiyah bilang apa?" tanya Gina.

__ADS_1


"Yah, dia bilang dia lebih suka yang simpel. Tapi dia udah coba gaun yang kakak pilih, tapi gak nunjukkin ke Kakak, tapi malah ke asistennya."


"Yah, karena mungkin dia cuma percaya sama asistennya. Lagian apa perlunya nunjukkin ke Kak Gama. Kan cuma suami pura-puranya. Udah ah, tapi beneran Kak Tiyah gak punya ponsel?


Padahal aku mau hubungin dia mau ku ajak spa, sebagai hadiah pernikahan."


"Walaupun pura-pura. Tapi kan, kakak tetap bakalan ngucapin ijab/sumpah pernikahan. Dan juga surat-sur...."


Gama berhenti di tengah kalimat.


"Yah, pernikahan tanpa perasaan cinta pun, tetaplah pernikahan Kak. Yang semangat, meyakinkan mama biar cepat cerai juga.


Tapi belum nikah aja, kakak sudah terganggu dengan asistennya kak Tiyah." Gina beranjak sambil geleng-geleng.


"Terganggu apanya?" batin Gama.


"Aku akan menghubungi asistennya. Kirim waktu dan lokasinya." teriak Gama.


Sementara itu, Tiyah masih membaca data-data dan informasi rekan-rekan kakeknya.


"Nona, adik Tuan Gama mengajak anda ke spa besok."


"apa??" mendengar kata spa di mana tubuhnya harus diperlihatkan ke orang-orang yang ada di sana, membuat bulu badannya berdiri.


Dia menggeliat karena merinding.


Baginya, bekas luka yang ada di tubuhnya, adalah pengingat.


Untuk mengingat apa yang dilakukan Anton padanya.


"ada apa Nona?" Tiyah menggeleng terbangun dari lamunannya.


"Apa saya tolak saja?" Tiyah mengangguk tak berselang lama, ponsel Hendrik berdering.


"Nomor Tuan Gama." Tiyah lalu mengangkatnya.


"Kak Tiyah, sibuk apa? Kan beberapa hari lagi menikah. Kenapa nggak istirahat? Besok ke spa biar badannya segar dan rileks." ucap Gina yang memelas.


"Kakak, gak suka badan kakak di pegang orang. Jadi kakak lewat aja deh dulu."


"Kalau makan siang?" Tiyah mendengar suara berisik di belakang Gina.


"Kenapa berisik?"


Sementara di seberang sana Gama mengaduh kesakitan karena perutnya di siku Gina menganggu ibrolannya dengan Tiyah.


"Oke deh, makan siang. Nanti kirim saja alamatnya."


Akhirnya mereka setuju untuk makan siang.

__ADS_1


"Kenapa gak minta langsung. Ngapain suruh aku yang ngomong?" ucap Gina kesal.


"Yah, kan kamu yang udah terlanjur di telepon."


"By the way, ada 3 miscall dari Aira tanda jantung. Apa kaka Gama yakin cinta mati sama Kak Aira?"


"Hah, anak kecil tau apa?"


"Aku memang lebih muda dari Kak Gama. Cinta kakak itu hanya sisa masa lalu yang belum tuntas.


Kalau nggak, Kakak gak mungkin maksa aku ngajak Kak Tiyah ketemuan besok. Dan merasa senang. Laki-laki memang bodoh." Gina pergi meninggalkan Gama.


"Terutama Rendra. Andaikan aku bisa akan ku hajar dia. Aku tahu dia menyukaiku, tapi selalu menghindariku." batin Gina yang berjalan ke kamarnya tiba-tiba kehilangan semangat mengingat Rendra.


Gama pun langsung menelepon Aira dan mengabaikan ucapan Gina. Seperti biasa mereka membicarakan kegiatan masing-masing, mengucapkan kata-kata sayang, kata-kata rindu, dan mengucapkan selamat malam sebelum tidur.


Keesokan harinya, mendekati jam makan siang. Gama menjadi galau dan bimbang. Mengingat ucapan Gina.


"eeii.. Aku hanya senang bertemu dengan teman lamaku. Aku dan Tiyah kan sahabat. Buktinya, aku teleponan dengan Aira baik-baik saja. Aku bahagia mendengar suaranya dan tawanya."


Akhirnya dia memutuskan untuk pergi setelah lama memantapkan hatinya bahwa ia dan Tiyah hanya teman yang saling membantu.


Gama akhirnya tiba, dan mereka mulai memesan dan makan setelah Gama menjelaskan alasan Gina tidak bisa datang. Mereka asyik mengobrol.


"Gama, apa aku boleh memakai perpustakaan di rumahmu?"


"Untuk apa?"


"untuk kerja, belajar dan baca? memang ada fungsi lain?


"Tidur?"


"Itu sih kerjaan kamu! hehehhe." Gama pun ikut tertawa kecil.


Sementara Rendra memperhatikan Hendrik yang wajahnya berkedut menahan nafasnya, tapi tersenyum melihat Tiyah tersenyum.


"Harusnya kamu menjaga wajahmu lebih datar." ucap Rendra menyadarkan Hendrik.


Hendrik hanya berdehem pelan memperbaiki duduknya.


"Ya, boleh lah. Lagian di sana hampir tidak ada yang menggunakannya."


"ah, dan Kak Hendrik juga bakalan ikut aku ke rumahmu kalau kita sudah menikah. Karena dia satu-satunya orang kepercayaanku. Ku harap kamu bisa memfasilitasi kami berdua."


"Ya. ya, tentu saja. Tapi Tiyah, kamu punya hubungan apa sama dia?" Gama berbisik pada Tiyah.


"Hubungannya, dia asissten ku yang sudah ku anggap sebagai kakak dan sahabat. Dan dia orang yang paling kupercaya di dunia ini." Tiyah tersenyum.


Dengan begitu, secara tidak langsung Tiyah pindah ke rumah Gama. Anton tidak mengatakan apa-apa tentang itu.

__ADS_1


Karena Tiyah selalu beralasan sibuk dengan urusan pernikahan.


*bersambung......


__ADS_2