
"Kenapa kamu masih di sini? Tidak, aku saja yang pergi menemuinya," ucapnya pada Jun, Anton kemudian berjalan ke arah kamar Tiyah, Jihan mengikutinya dari belakang sambil menangis berusaha meraih tubuh Anton.
"Aku mohon jangan. Hukum aku. Aku yang sudah melakukan kesalahan!" tiba-tiba memeluk tubuh Anton dari belakang.
Anton berhenti sebentar, melihat tetes darah di tangannya. Amarahnya kembali membara.
"Jun, bawakan cambukku." Ngeri Jihan mendengarnya. Makin keras pelukannya terhadap Anton. Tapi Anton sudah tidak perduli lagi. Ia melepaskan tangan Jihan yang melingkar di tubuhnya.
Dan membuka pintu kamar Tiyah dengan keras.
Tiyah yang tengah tertidur pun bangun terkaget. Langsung berdiri turun dari kasurnya.
Kantuknya hilang, ia terbelalak melihat darah di tangan Mamanya dan juga tubuh Anton. Ia mulai ketakutan.
Jun masuk dengan membawa cambuk.
"Anton? Anton? Aku mohon!!" Pinta Jihan memelas dan memeluk kaki Anton.
"Lihatlah, apa yang akan kulakukan! Kenapa begitu susah buatmu menerima semuanya? Hah??" Teriak Anton melangkah mendekati Tiyah.
Tiyah melangkah mundur ketakutan.
"Ayah Anton? bukannya katanya hari ini Ayah tidak akan memukulku?" entah keberanian dari mana Tiyah meminta Anton tidak memukulnya.
Jihan terkejut mendengar Tiyah memanggil Anton dengan sebutan Ayah.
"Kamu lihat, bahkan putrimu sudah menerimaku sebagai ayahnya?! Kenapa begitu sulit bagimu?"
Anton pun mulai mencambuk Tiyah.
"Aaahhhh.....Ampun Ayah!!" Gadis kecil itu berteriak kesakitan, memeluk tubuhnya karena lengannya terkena cambukan.
Jihan berlari melindungi tubuh Tiyah, dia terkena cambukan Anton sekali
"aaarrghhh" Jihan berusaha menggertakan giginya.
Dia yang dewasa saja merasa tak tahan menerima cambukan itu.
"Jun, pegang dia erat-erat! Biarkan dia melihat apa yang terjadi jika terus-terusan membantahku, bahkan berusaha membunuh suaminya sendiri."
Jun pun memegang Jihan, dan menjauhkannya dari jangkauan cambuk Anton.
"Apa kamu lupa? Sejak awal aku katakan. Kalau membela Tiyah sekali maka aku akan menghukumnya berkali-kali lipat!" Dengan cepat Jihan berhenti menangis dan menutup mulutnya. Dadanya sesak, berkali-kali ia pukul dadanya melihat penderitaan putrinya.
Tubuh gadis kecil itu sudah mulai terkulai lemas, hampir tak sadarkan diri.
Tubuhnya sudah berdarah bekas cambukan.
"Jihan, kau tak pantas disebut ibu. Demi menyelamatkan putrimu, harusnya kau menerima takdirmu sejak awal.
Harusnya kau tidak usah memperdulikan yang lainnya.
Ayah dan suami mu sudah tidak ada di dunia ini. Mereka pun akan mengerti.
Jadi tidak akan ada orang yang mencemoohmu karena menyelamatkan putrimu.
__ADS_1
Seandainya ada, masa bodoh dengan mereka." batin Jihan.
"Kurung dia dalam kamar hukuman, jangan beri dia makan atau minum selama 3 hari. Pastikan dia tidak mati. Begitu dia akan mati, hanya berikan dia air." Mendengar perintah Anton, Jihan yang sudah tak mampu akhirnya jatuh pingsan.
Anton menggendongnya kembali ke kamar mereka.
Jun yang sejak tadi berusaha menjaga ekspresi wajahnya selalu datar, setelah melihat kondisi Datiyah, ingin sekali rasanya dia memusnahkan Anton saat itu juga.
Ketika dia akan membawa Datiyah berkaca-kaca matanya. Tak tahu bagaimana dia akan membawa tubuh gadis kecil yang dipenuhi luka tersebut.
Akhirnya, ia memberikan bajunya sebagai pelapis pakaian Tiyah yang sobek akibat cambukan sebelum mengangkatnya.
Gadis itu menangis dan meringis, tapi berusaha tersenyum.
"Spero Spera, manusia tidak akan di beri cobaan lebih dari kemampuannya kan?" meremas liontinnya. Air matanya masih membanjiri wajahnya.
Bi Narti, yang melihat Jun membawa Datiyah dalam keadaan sekarat menangis.
"Jun, apa dia akan baik-baik saja?Apa kita tidak perlu membawanya ke rumah sakit?"
"Kita tak punya waktu untuk memperdulikan orang lain.
Jika Kak Narti merasa sanggup menyelamatkan semua orang.
Maka bantulah gadis ini. Tapi jika harus mengorbankan orang lain. Biarkan gadis ini. Dan lakukan sesuai perintah Tuan."
Jun kemudian meletakkan Tiyah di atas tempat tidur dan keluar kembali ke kamarnya.
Bi Narti langsung melihat keadaan Tiyah. Dia cepat mengambilkan salep untuk Tiyah.
"Katanya menjaga agar Tiyah tetap hidup." Sambil menangis dan ikut meringis meletakkan salep di luka Tiyah. Setelah selsei dia pun meninggalkan gadis itu terkulai lemah dan terkunci.
Sementara Tiyah, masih meringkuk kesakitan.
Pintu terbuka, bi Narti memeriksa Jihan apakah ia masih hidup, meletakkan tangannya di hidung Tiyah. Setelah tahu Tiyah masih bernafas, dia menangis bingung.
Tidak tahu perasaannya.
Apakah dia berharap gadis kecil itu meninggal atau berdoa agar gadis itu selamat?
Saat ia akan berjalan keluar, bajunya di tarik oleh Tiyah,
"Bilang sama mama. 'Spero Spera, kita pasti bisa melakuinya'! Tiyah akan baik-baik saja. Jadi mama juga harus kuat." Ucap gadis kecil itu pelan.
Difikiran gadis kecil itu, ia hanya harus bertahan hidup.
Karena selama ia dan mamanya masih hidup. Mereka pasti bisa keluar dan pergi dari tempat ini.
Bi Narti meskipun tak mengerti, ia mengangguk. Matanya masih basah karena air mata yang tak berhenti melihat gadis itu.
Saat makan siang tiba, Bi Narti akan mengantarkan makan siang Jihan yang sudah sadar beberapa jam yang lalu.
Jihan hanya menatap kosong, pada pelayan yang lalu lalang di depannya.
Sampai Bi Narti membisik di telinganya,
__ADS_1
"Nyonya, Spero Spera, kita pasti bisa melakuinya'! Tiyah akan baik-baik saja. Jadi mama juga harus kuat. Itu pesan Non Tiyah."
Menangis Jihan memeluk lututnya dan menutup mulutnya agar tidak menarik perhatian pelayan lain.
"Jadi Nyonya harus kuat. Demi Tiyah."
"Bagaimana, bagaimana aku bisa? sementara anakku tidak diizinkan makan?" Bisiknya pada Narti.
"Nyonya, saya mohon. Tuan Anton juga....."
"Kak, Tuan Anton!" seorang pelayan memperingatkan Narti bahwa Anton akan masuk dalam kamar.
Cepat Jihan menghapus air matanya. Dan Narti berusaha membuat Jihan makan.
Akhirnya dia pun memakan makanan itu. Tapi, ketika mengingat putrinya yang tidak bisa makan, perutnya merasa mual.
"Apa sudah makan?" Anton tiba-tiba bertanya dari depan pintu kamar.
"Sudah Tuan, lebih ba...." Belum Narti selesei bicara.
"Ya sudah kembalilah ke dapur!" Narti pun membawa nampan berisi makanan kembali ke dapur.
Anton lalu duduk di dekat Jihan, di atas kasur.
"Bukankah kamu sangat ingin melindungi Tiyah?" Jihan mengangguk cepat.
"Karena itu, terimalah takdirmu. Aku sekarang adalah suamimu," ucap Anton mengelus pipi Jihan.
Tapi Jihan memandangnya dengan rasa jijik.
Anton pun menyingkirkan tangannya dari wajah Jihan.
"Baiklah, aku akan menunggumu menerimaku. Dan Tiyah pun akan menunggu."
"Apa maksudmu?"
"Sama sepertimu yang tidak bisa menerimaku maka akupun tidak bisa menerima Tiyah sebagai putriku, maka dia akan tetap berada dalam ruangan itu."
Mata Jihan mulai berkaca-kaca. Tapi ia tidak ingin lagi menangis di hadapan laki-laki ini.
Ia tidak mengatakan apa-apa. Anton pun keluar dari kamarnya.
"Berikan dia sehelai roti dan air segelas untuk hari ini." bicara pada Jun.
"Baik Tuan." Jun pergi ke dapur memberitahu Narti perintah Anton. Narti yang mendengarnya pun bahagia. Segera dia memberikan Tiyah roti dan segelas air.
Tiyah pun melahap semuanya dalam sekejap.
Meskipun tubuhnya sakit, sudah lebih mendingan karena sudah diolesi obat.
Ruang hukuman yang tidak jauh dari dapur, membuat pelayan lebih mudah untuk memberikan makan orang-orang yang di hukum dalam ruangan itu.
Tetapi, tidak ada yang tahu. Kalau tujuan sebenarnya ruangan itu di dekat dapur adalah untuk lebih menyiksa orang di dalamnya dengan aroma masakan dari dapur.
Ruangan itu sudah ada sejak Anton masih kecil.
__ADS_1
Kadang digunakan untuk menghukum pelayan, bahkan Anton sendiri pernah masuk dan dihukum di dalamnya.
*bersambung......