
Mereka bilang, Cinta pertama adalah yang termanis.
Tapi juga yang memberikan luka pertama paling dalam.
Mutia yang pingsan sejak malam, sampai pagi hari belum juga sadarkan diri.
Harry menjaganya, duduk di samping tempat tidur.
Dia memberanikan diri menggenggam tangan Mutia.
Mutia yang mulai sadar, membuka matanya perlahan. Ia melihat sekelilingnya, tapi ketika ia merasakan genggaman di tangannya ia langsung menariknya dan duduk. Kepalanya seketika berdenyut kencang, rasanya seperti mau pecah.
Dia melihat sekeliling kamar, mencari handphone nya.
"Apa yang kamu cari?" tanya Harry lembut.
"Bukan urusanmu.!" Dia pun bangun dari tempat tidur dan menuju meja rias mengambil handphonenya.
Begitu dia berdiri, mual, pusing, menyerang seluruh tubuhnya. Tapi jantungnya terasa lebih aneh, membuat ia merasakan semuanya. Tanpa ia sadari air matanya sudah membanjiri wajahnya, ia sendiri tidak sadar.
Dia berjalan ke arah meja rias tanpa suara dan duduk di depannya.
Harry berusaha menjaganya dengan mengikutinya agak dekat.
"Mu....." ucapan Harry terhenti ketika melihat bayangan istrinya dari cermin, tatapan kosong Mutia dan air mata yang membanjiri wajahnya Mutia membuat Ia menangis. Ia sadar akan kesalahan apa yang sudah dia lakukan terhadap istrinya.
Diapun jatuh berlutut di belakang Mutia, dan menangis.
"Mut..." Dia ingin mengatakan sesuatu.
Mutia berbalik menghadap suaminya. Melihat ke arah suaminya.
"Kamu membuat luka yang lebih dalam dari apa yang ayah tiriku lakukan. Aku fikir aku tidak akan bisa lebih hancur dari sebelumnya. Tapi ternyata ada luka yang lebih dalam dari apa yang dia lakukan."
Semakin deras air mata Harry mengalir. "Aahhku " Dia ingin meminta pengampunan pada Mutia, ucapannya terhenti karena ia menangis sesegukan, meremas telapak tangannya sendiri.
Mutia lalu mengambil hanphonenya,
"Monica, periksa ke mana Harry mengirim Amira. Dan pastikan ia tidak mendapatkan bantuan siapapun di manapun ia berada.
Apa Amira masih ada di rumah ini?" tanya Mutia pada Harry
Harry menggeleng cepat. Mutia kembali menatap cermin, menghapus air matanya tanpa ekspresi. Dia berdiri.
"Aku lapar. Apa kamu gak sarapan?" Mutia mengabaikan Harry dan langsung pergi ke meja makan.
Mutia makan, dan terus makan. Semua makanan yang ia makan rasanya hambar.
Gama mengajak Aira untuk sarapan bersama.
__ADS_1
"Ma, Aira sendirian. Dia gak tau tante Amira kemana."
Mutia melihat ke arah Aira, sesak nafasnya. Dia pun menutup matanya. Beranjak dari meja.
"Sarapanlah. Mama sudah selesai." pergi meninggalkan meja dan kembali ke kamarnya.
Dan Harry masih berlutut di tempat sama. Dia duduk di atas tempat tidur.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Mutia pada Harry.
"Aku akan melakukan apapun untuk meminta pengampunanmu!" ucap Harry yang berjalan dengan lututnya mendekati Mutia.
"Seberapa jauh hubunganmu dengan Amira?"
Harry menggeleng cepat. "Tidak, aku dan Amira tidak mempunyai hubungan apa-apa. Itu sebuah kesalahan. Aku... aku... sama sekali tidak pernah menyukai Amira sama sekali."
"Kamu tahu aku tidak akan pernah mencintai laki-laki lain selain kamu kan?"
Harry menjawabnya dengan mengangguk.
Mutia menutup matanya, mencoba mencari kenangan antara dia dan Harry, tapi yang muncul adalah bayangan Harry menyentuh Amira sebagaimana Harry menyentuhnya, mencium Amira sebagaimana Harry menciumnya. Air matanya mengalir semakin deras.
Semua kenangan buruk masa lalunya muncul kembali, bagaimana orang-orang menatapnya dengan kotor, menghinanya. Mutia tak lagi menemukan suaminya.
"Kamu hilang Har, kamu pergi. Kamu gak ada di sana lagi." Mutia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, dadanya terasa sesak, menangis dengan kencang sampai sesegukan.
Dia memikirkan tentang apa yang membuat Harry bisa menyentuh wanita lain.
Bagaimana sulitnya dulu ia membiarkan Harry menyentuhnya, karena dia jijik pada dirinya sendiri.
Harry bangun memeluk istrinya. Tapi ia meronta.
"Jangan, jangan peluk aku! haaaaaaaaa...pergi, pergi kamu!"
"Mutia, maafkan aku. Aku akan menebusnya seumur hidupku." Masih memeluk Mutia dengan erat. Mutia hanya bisa menangis dalam pelukan Harry.
Tapi mengingat apa yang dilakukan kedua orang itu, dadanya kembali sakit, panas, amarah, sedih, kecewa, dikhianati semuanya menjadi satu.
Ia melepaskan pelukan Harry.
"Aku akan memaafkanmu." ucap Mutia sambil berdiri dan Harry masih duduk di tempat tidur.
"Tapi, apa bisa kamu memafkanku, kalau sekarang aku akan pergi mencari Josh dan mencurahkan isi hatiku padanya, menciumnya, menyentuhnya sebagaimana aku menyentuhmu?"
Mata Harry terbelalak mendengar ucapan istrinya.
Josh adalah salah satu sahabat Harry di kantor, mereka mengenal satu sama lain saat kuliah.
"Seperti katamu, itu tak berarti apa-apa. Toh, aku hanya mencintai kamu. Bagaimana?" ucap Mutia datar. Rasa sedih di hatinya sudah bertukar menjadi amarah.
__ADS_1
"Kamu gila Muti, Bagaimana bisa kamu berfikiran seperti itu?" Harry berteriak.
"Itu sama halnya dengan apa yang kamu minta sekarang. Kamu jatuh ke pelukan Amira karena kamu lebih memilih bicara dengannya daripada denganku.
Dan sekarang aku merasa aku perlu bicara dengan orang lain selain kamu." Mutia lalu meninggalkan kamarnya dan akan pergi ke galeri.
Harry menarik Mutia dengan menggenggam pergelangan tangannya. Mutia menatap tangan Harry, dan Harry sadar dengan tatapan Mutia melepaskan tangannya.
"Kamu tahu apa yang aku bayangkan sekarang, setiap kamu menyentuhku. Aku tidak membayangkan diriku. Aku membayangkan kamu menyentuh Amira, mencium Amira. Setiap kamu menyentuhku hanya itu yang aku bayangkan. Karena itu, jangan pernah menyentuhku lagi. Hal itu hanya membuatku semakin marah."
"Kamu tau aku tidak mencintainya. Bagaimana bisa aku menyentuhnya seperti aku menyentuhmu?"
Mutia menggeleng. "Tidak, aku tidak tahu itu. Apa aku perlu memanggil Amira kembali supaya kalian bisa menunjukkannya padaku?"
Dengan begitu Harry tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
Mutia juga tidak tau apa yang dia harapkan dan inginkan lagi.
Jika ia bisa memilih, ia akan memilih luka yang terlihat, setidaknya dia bisa mengobatinya, menjahitnya atau apapun itu.
Tapi luka di hatinya, ia tak tahu bagaimana mengobatinya. Luka yang ia tidak tahu dan sangka akan mengalaminya.
Hari demi hari berlalu.
Mutia tidak ingin tidur di atas tempat tidur, tidak ingin bertemu Harry.
Dia duduk di sofa meringkuk, kepalanya di atas lutunya. Ia tidak menangis.
"Jika aku mencintainya, aku akan menemukan jalan untuk memaafkannya kan? Tapi hatiku belum menerimanya. Kepalaku selalu dipenuhi bayangan. Luka yang tak terlihat ini membuat ku gila." batin Mutia.
Mutia mengusap luka dipergelangan tangannya memikirkan yang tak seharusnya dia pikirkan, tapi seketika tawa anak-anaknya ada dibenaknya. Ia menggelengkan kepalanya. "Apa yang aku pikirkan? Jangan bertindak bodoh Mutia!" ucapnya pada diri sendiri.
Seorang bijak pernah berkata, "Kemarahan adalah menghukum dirimu sendiri atas kesalahan yang tidak kamu lakukan."
Dan mutia memutuskan untuk menyalahkan dirinya atas semuanya, ia mendekap kemarahan dalam hatinya.
"Aku tidak ingin melihatmu lagi. Entah aku yang pergi atau kamu yang pergi aku tidak perduli. Tapi satu yang pasti, anak-anak akan bersamaku. Aku akan membolehkan kamu bertemu mereka." Ucap Mutia tegas kepada Harry.
Lama mereka terdiam.
"Aku yang akan pergi. Tapi aku tidak akan pernah menceraikanmu" Ucap Harry.
"Dan aku tidak tahan ide bahwa kamu akan pergi berusaha mendekati laki-laki lain." batin Harry.
"Apa? kamu menerimanya dengan sangat mudah?" batin Mutia, tapi meski Harry bersujud di kakinya pun Mutia masih bingung.
Hatinya sangat merindukan Harry, tapi kepalanya masih ada bayangan Harry dan Amira.
Sejak saat itu, mereka tinggal terpisah, tidak ada yang mengetahuinya. Mereka beralasan Harry sibuk, sehingga hanya bisa bertemu sekali seminggu. Mereka hidup seperti itu, sampai kabar meninggalnya Harry.
__ADS_1
*bersambung...