
"Jadi, kamu akan benar-benar meninggalkan aku dan rumah Kencana?" Gama memeluk Datiyah dan berbisik di telinganya.
Datiyah langsung membeku.
"Apa kamu lupa, kalau kamu sudah menjadi bagian dari keluarga Kencana." Bisikan Gama membuat Datiyah hanyut, dia kembali mengingat malam pertamanya dengan Gama.
"Tiyah, apa yang kamu pikirkan? " batin Datiyah.
Tiba-tiba Gama membalik tubuh Datiyah agar menghadapnya.
Gama menatap Datiyah dengan tajam.
"Aku tau, setelah apa yang dilakukan ayahku, aku sama sekali tidak berhak menanyakan hal ini sama kamu."
Datiyah menunggu dengan gugup, apakah Gama akan memintanya kembali atau membiarkannya pergi?.
"Bolehkah Aku Mencintaimu?"
Mata Datiyah mulai berkaca-kaca.
"Aku tau, aku sudah banyak membuat kamu luka, bermain-main dengan perasaanmu, tapi aku benar-benar gak berniat unt..... "
Datiyah lalu mencium bibir Gama dan tak. Membiarkannya banyak bicara lagi. Gama membalasnya dengan ciuman yang lebih ganas. Tangan kanan Gama turun ke pinggang dan tangan kirinya menahan punggung Datiyah. Dia menarik Tubuh Datiyah agar lebih dekat dengannya.
Beberapa menit, mereka saling melepaskan dan menatap satu sama lain dan tersenyum
"Kamu tau, kamu memang akan selalu plin plan dalam urusan ini. Sejak aku dengar dari Mama Mutia kalau kamu benar-benar berakhir dengan Aira. Aku berharap kamu langsung mengajakku kembali. "
"Apa?" Gama terkejut.
"Dan, jawabanku Iya. Kamu boleh mencintaiku. Bahkan lebih dari aku mencintaimu. Dan sangat boleh." Datiyah memberikan kecupan pada bibir Gama.
"Apa kita bisa kembali malam ini? " tanya Gama.
Mata Datiyah terbelalak.
"Kamu serius? Hahahahha" Datiyah lalu tertawa.
"Gak bisa, aku terlalu sibuk di sini. Setelah ini, masih banyak yang harus aku urus. 2 minggu lagi, aku akan di lantik. Jadi ku harap kamu mengerti, dan bisa menungguku."
Agak kecewa, tapi Gama mengerti.
"Baiklah..... Kalau begitu aku balik ke perusahaan dulu. " Gama menghela nafas panjang dan kecewa.
__ADS_1
Datiyah menggeleng dan tersenyum.
Ketika membuka pintu kamar, Hendrik ada di depan dengan kursi rodanya.
"Kak Hendrik" Datiyah agak terkejut.
"Maaf Nona, saya hendak mengetuk. Apa bisa saya minta tambahan waktu untuk istirahat? "
"Bukannya, aku juga nyuruh kakak, buat istirahat sepenuhnya? Gak usah mikirin hal-hal disini. "
"Bukan, bukan itu. Saya ingin pergi berlibur. Ada tempat yang ingin saya kunjungi."
Permintaan Hendrik membuat Datiyah bingung. Saat ini, dia benar-benar membutuhkan Hendrik. Meskipun begitu, dia tahu Hendrik memang membutuhkan waktu lebih banyak karena kehilangan ibunya.
"Baiklah, kakak bisa kembali kalau kakak sudah siap.Tapi, kakak harus tetap mengabari ku dimanapun kakak berada. Aku akan minta supir ngantar kakak.
"Baik Nona, saya tidak butuh supir. Saya mempunyai teman yang akan menjemput saya."
Datiyah tersenyum dan mengangguk.
Gama melihat kesedihan di raut wajah Datiyah.
"Apa kamu sedih karena Hendrik tak menemanimu lagi?" Gama sedikit menyenggol bahu Datiyah.
"Dia, selalu menjadi bayanganku selama ini. Aku tak pernah ingin menganggapnya begitu. Dia juga manusia yang punya perasaan. Tapi, mungkin tanpa sadar aku selalu mengambil keuntungan darinya, dan kali ini. Aku akan membiarkan dia benar-benar pergi, jika itu yang dia mau."
Gama kembali memeluk Datiyah dari belakang.
"Kamu, memang benar-benar bijak dan cerdas," Gama kemudian mengecup pipinya.
"Stop, Gama. Malu, di liatin orang. Dan Lebih baik kamu kembali ke tempat kerjamu. Kalo tidak, aku bisa melakukan hal-hal buruk padamu." Datiyah membalik badannya dan menggambar bentuk hati di dada Gama menggunakan jarinya.
Gama tentu saja melihatnya sebagai undangan, Gama pura-pura melihat kiri kanan seolah memeriksa orang. Dan memeluk Datiyah.
"Gama, stopp... " Datiyah lalu mendorong Gama dan berjalan ke arah pintu.
"Silahkan anda kembali ke pekerjaan anda. Dan saya butuh kembali ke kerjaan saya." Datiyah mempersilahkan Gama untuk pergi.
Gama mengecup bibir Datiyah sebelum pergi.
"Sampai jumpa. Tunggu, apa aku bisa datang malam ini? "
Datiyah menggeleng,"masih banyak dokumen dan pekerjaan yang aku urus. Maaf.. " Datiyah memajukan bibirnya karena sebenarnya dia juga ingin menghabiskan waktu bersama Gama.
__ADS_1
Keduanya menghela nafas panjang bersamaan, dan berpisah untuk sementara waktu.
Datiyah kembali pada kesibukannya. Arvina sudah menunggunya di ruang kerja Sugesti.
Disana dia sangat sibuk. Sampai-sampai tak sadar, hari sudah malam.
Dia di sadarkan ketukan dari pintu.
"Nona, saya akan pergi sekarang." Hendrik berpamitan dengan Datiyah. Hendrik sadar, bahwa dia sudah tidak perlu lagi menjaga Datiyah. Dan dia juga melihat bahwa hubungan Datiyah dan Gama sepertinya berjalan lancar.
Datiyah mendorong kursi roda Hendrik ke pintu depan. Di sana, teman Hendrik sudah menunggu.
"Kakak tau kan, kakak bisa kembali, kapan saja kakak mau.Rumah ini, rumah kakak juga kan." Datiyah tentu sadar, Hendrik berhak mendapatkan miliknya, karena dia juga termasuk keluarga Sugesti.
Meskipun akhirnya Hendrik tak menerimanya dan memilih memberikannya kepada yang membutuhkan.
"Iya Nona, saya tau. Saya harap Nona akan baik-baik saja. Dan Nona akan bahagia. Kita sudah cukup menderita. Sudah saatnya kita merasakan kebahagiaan. " Hendrik tersenyum.
Datiyah lalu memeluk Hendrik. "Ibuk sudah tenang di sana. Saya juga berharap hal yang sama untuk Kakak. Dan ingat, masih ada aku, kakak ingat kan? Kakak adalah keluargaku. Dan kita bisa melewati ini sama-sama, " Datiyah melepaskan pelukannya dan membiarkan teman Hendrik membatunya ke dalam mobil.
Tanpa sadar, Datiyah menitikkan air mata.
Hendrik adalah partnernya, sahabatnya, kakaknya, penjaganya dan juga keluarganya. Entah kenapa dia sedih sekaligus bahagia, melihat Hendrik pergi tanpa terikat dengannya.
Datiyah melambaikan tangan pada mobil itu sampai tak terlihat.
Tanpa di sangka dan di duga, ternyata proses perpindahan kepemimpinan, jauh lebih sibuk dari yang bisa di bayangkan oleh Datiyah.
Sehingga dia dan Gama, hanya bisa bertemu sebentar.
Tak terasa, hampir 2 bulan berlalu.
Datiyah tetap mendapat kabar tentang Hendrik yang membaik, dan dia sedang menikmati alam di hutan-hutan.
Datiyah, Gama dan Raka selalu menyempatkan diri untuk menjenguk Jihan di penjara setiap 2 minggu sekali.
Kadang mereka menginap di rumah Gama kadang di rumah Sugesti. Tapi, mereka belum bisa romantis, karena Raka akan selalu di sisi Datiyah .
Mereka bertiga tengah asyik menonton TV, ketika melihat berita, seorang laki-laki di tangkap karena membunuh salah satu pasien di panti Jompo.
Meskipun wajah tersangka di blur, tapi Datiyah tau siapa itu..
"Kak Hendrik?? "
__ADS_1
...****************...