Bolehkah Aku Mencintaimu?

Bolehkah Aku Mencintaimu?
Membujuk


__ADS_3

Keluar dari perpustakaan membawa buku-buku masa kecilnya dari perpustakaan ke dalam kamarnya.


Mereka berdua berjalan dengan cepat agar tidak ada yang melihat.


Tiyah cekikikan pelan.


"kenapa?" tanya Gama berbisik dan berhenti melihat Tiyah cekikikan memeluk buku-buku itu.


"Gak, lucu aja. Kita jadi kayak anak kecil yang lagi nyembunyiin sesuatu dan takut ketahuan." bisik Tiyah kembali.


Gama menggeleng ikut terkekeh dan melanjutkan perjalannya dan Tiyah mengikutinya dari belakang.


Akhirnya mereka sampai di kamarnya dan meletakkan buku-buku itu di atas sofa dalam kamar.


"Hoaaaaam, begitu sampai kamar aku langsung ngantuk. Padahal tadi sama sekali gak ngantuk," ucap Tiyah berjalan ke arah tempat tidur.


"Ya udah, kamu tidur aja. Aku mau siap-siap ke kantor dulu." Gama berlalu ke kamar mandi.


"Kamu gak istirahat dulu?"


"Nanti, di kantor aja. Aku punya waktu istirahat."


"Ooh, Oke deh. Jaga kesehatan yah!"


Tiyah menguap dan langsung tidur meringkuk seperti biasanya di tempat tidur paling pinggir.


Gama yang keluar dari kamar mandi lalu berganti pakaian. Melihat ke arah Tiyah, dia jadi memperhatikan gaya tidur Tiyah yang selalu meringkuk.


Dia jadi teringat, tak pernah sekalipun ia melihat Tiyah tidur seperti orang normal.


"Tiyah yang anak-anak si kutu buku dan cerewet. Tiyah remaja masih misteri. Tiyah dewasa, hemmm. Masih penuh misteri. Aku harap kita bisa saling kenal lagi seperti dulu. Tiyah si kutu buku dan cerewet." Batin Gama. Dan akhirnya Gama menuju ruang makan.


Di ruang makan, Hendrik menunggu Tiyah yang belum juga keluar dari kamarnya. Dia melihat Gama.


"Tuan, apakah Nona Tiyah baik-baik saja?"


"Dia baik-baik saja. Dia sedang tidur. Mungkin dia kelelahan karena semalam tidak bisa tidur."


Hendrik hanya diam dan mengerti kalau Tiyah tidak bisa tidur karena itu hal yang biasa untuk Tiyah. Tetapi, Tiyah akan tetap bisa bangun pagi.


Setelah sarapan semua orang sudah pada pekerjaannya masing-masing. Hendrik menunggu Tiyah di perpustakaan sambil mencari informasi tentang pemegang saham terbesar di perusahaan kakeknya.


Dan semua orang, sama sekali tidak tau siapa orang itu.

__ADS_1


Karena itu, Tiyah dan Hendrik sedang mencari tahu.


Dengan koneksi yang minim dan orang-orang yang takut dengan Anton membuat mereka enggan memberi informasi atau hanya sekedar berbagi rumor.


Sekitar beberapa jaman menunggu, Tiyah akhirnya muncul di perpustakaan.


"Nona baik-baik saja?"


"Iya, kenapa Kak?"


"Tidak. Biasanya, meskipun anda kurang tidur anda akan tetap bangun pagi karena tak mau ketinggalan sarapan."


"Aaaa, mungkin karena aku mulai terbiasa di sini. Heemm." Tiyah menghela nafas pelan.


"Kenapa nona?"


"Entahlah, aku tahu aku tak boleh terlalu merasa terbiasa di sini. Aku tau kalau suatu hari aku akan harus meninggalkan rumah ini. Entah urusanku yang selesei lebih dulu, atau Gama yang akan melepaskan lebih dulu karena urusannya sudah selesei.


Tapi, aku sangat suka di sini.


Gina yang ceria, mengingatkanku pada masa di mana aku harusnya bisa hidup seceria itu.


Gama, membawaku kembali pada kenangan saat ayah masih hidup.


Hendrik hanya bisa diam dan melanjutkan pekerjaannya. Sementara Tiyah lanjut mengamati pergerakan perusahaan keluarga Gunawan.


Meskipun Tiyah memiliki uang atas namanya tapi Anton membuatnya kesulitan. Dia sangat ingin membeli ponsel tanpa Anton ketahui.


Sementara itu, Gama kembali sibuk dengan pekerjaan. Di sela-sela pekerjaannya ia hanya sempat tidur 2 jaman jika di gabung seluruh waktu tidurnya.


Istirahat makan siang, ia mendapat telpon dari Aira.


"Gama? apa kamu benar-benar akan mengabaikanku seperti ini? Kamu tau, ini yang kutakutkan kalau kamu tau.


Apa bisa kamu bayangkan kalau kamu tahu waktu kecil?" ucap Aira dari balik telepon.


"Ternyata kalian sama sekali tidak mengenalku. Aku memang anak manja dan nakal. Tapi aku tahu ketika seseorang berbuat salah orang lain tidak berhak menanggung keslahan orang itu.


Aku, tidak membencimu.


Aku bahkan belum bicara pada Mama.


Berikan aku sedikit waktu. Mama adalah orang yang dikhianati di sini. Dia yang paling menderita.

__ADS_1


Dan aku, tidak ingin membuat laki-laki lain dalam hidupnya menjadi sebuah kesedihan lagi."


"Apa maksud ucapanmu? Apa kamu akan menyerah dengan hubungan kita?"


"Tidak, aku tidak mungkin menyerah. Aku sudah pernah bilang ke kamu. Kalau kamu satu-satunya wanita yang aku simpan dalam hatiku.


Aku akan membujuk mama. Tapi tidak sekarang."


Gama benar-benar bingung dengan perasaannya. Mengingat Mamanya yang pernah depresi dan bahkan memutuskan bunuh diri.


Tapi di sisi lain, dia juga tau apa yang dilakukan Amira bukanlah salah Aira. karena itu ia juga merasa bersalah pada Aira.


"sampai kapan? sampai kapan aku harus menunggu mamamu menerimaku? sampai kita kakek nenek? atau sampai kamu dan Tiyah punya anak?"


"Hentikan Aira, aku laki-laki setia. Bagaimana bisa kamu berfikir aku memiliki anak dengan Tiyah? Aku mencintaimu."


"Hah, ayolah Gama. Kamu itu laki-laki. Dan Tiyah adalah gadis yang cantik dengan tubuhnya yang tidak kalah seksi. Setiap malam kamu kembali padanya. Bagaimana aku tidak khawatir. Apa kamu tau bagaimana perasaanku?" Aira sudah mulai kesal dan marah.


"Aku dan Tiyah, kami tidak memiliki hubungan yang seperti itu. Kamu lihat bagaimana dia waktu dulu. Kami hanya sahabat."


"Sahabat? jangan melucu."


"Hentikan Aira. Aku hanya ingin meminta waktu agar aku bisa bicara dengan mama lebih dulu. Apa begitu sulit bagimu untuk mengerti? Kenapa kita malah mebicarakan Tiyah yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan semua ini?"


Aira menangis. "Maafkan aku, aku hanya meminta pengertianmu. Aku tidak ingin kamu menderita lagi. Dan kalau aku bisa bicara dengan mama. Aku yakin kita akan bisa melangkah maju kalau mama juga bisa melepaskan kemarahan masa lalunya."


ucap Gama merayu Aira yang masih menangis.


"Kamu bisa kan mengerti keinginanku?" tanya Gama halus.


"Ba..baiklah. Aku akan menunggumu. Tapi jangan bu.buat aku me menunggu terlalu lama." ucap Aira sesegukan.


Setelah bicara dan membujuk Aira, Gama mejutup teleponnya dengan menghela nafasnya merasa sedikit lega. Waktunya dia harus membujuk mamanya.


"Tante Monica? apa mama sudah sehat?" Gama menelepon Monica.


"Sepertinya Tuan muda harus menunggu sedikit lebih lama."


"Baiklah, aku mengerti." Gama menutup teleponnya dan menyandarkan kepalanya di kursinya.


"Aku masih punya waktu untuk bersantai sejenak." Batin gama mengingat buku-buku komik dan manga yang ia dan Tiyah bawa sari perpustakaan semalam.


Diapun tersenyum tanpa sadar, mengingat dia dan Tiyah benar-benar seperti anak kecil yang sedang menyelundupkan sesuatu dan takut ketahuan semalam.

__ADS_1


*bersambung......


__ADS_2