Bolehkah Aku Mencintaimu?

Bolehkah Aku Mencintaimu?
Bayangan


__ADS_3

8 Tahun sudah berlalu, sejak Hendrik meninggalkan rumah Sugesti.


Dia sangat merindukan ibunya.


Tentu saja dia juga merindukan Tiyah.


Ketiba tiba di depan rumah ia melihat tidak banyak yang berubah dari rumah Sugesti.


Meski ia pergi, tapi akhirnya ia harus kembali ke rumah itu lagi.


Ia segera masuk ke dapur, di mana ibunya berada. Ibunya sedang sibuk mengatur para pelayan ketika Hendrik muncul di belakangnya.


Para pelayan yang mengenalnya melihatnya dengan kaget, Narti pun berbalik, kaget. Tapi langsung mengenali putranya.


Air matanya mengalir jatuh, rindu yang tak tertahankan , dia memeluk putranya sangat erat. Untung saja tubuh Hendrik sudah bertambah kekar, dan kekuatan ibunya sudah tak sekuat dulu.


"Ya Tuhan, akhirnya anakku kembali." Dia menangis menatap dan mengusap wajah putranya.


"Ibu bersyukur kamu baik-baik saja."


"Iya bu, Hendrik juga kangen sama Ibu."


Agak lama mereka melepas rindu. Dan Hendrik harus melapor pada Anton sebelum makan malam.


Dia mengetuk ruang kerja Anton dan Jun membukakan pintunya. Jun agak kaget melihat wajah keponakannya itu. Tapi cepat dia mengalihkan pandangannya.


"Tuan, Hendrik sudah ada di sini."


"Duduklah." ucap Anton yang masih sibuk dengan urusan kerjaannya.


Hendrik pun duduk di salah satu sofa.


Agak lama menunggu, akhirnya Anton bangun dan duduk di depan Hendrik. Kaget melihat wajah Hendrik yang sangat mirip dengannya.


"Hahahahha, selama ini aku hanya melihat fotomu. Tapi aku benar-benar tidak menyangka kalau kamu juga akan mendapat gen yang sama dengan tua bangka itu. Jun bagaimana pendapatmu?" ucap Anton sambil tertawa. dan Jun hanya membungkuk tak menjawab.


"Jika aku bisa menguras dan mencuci seluruh darahku agar kita tidak berhubungan darah akan kulakukan." batin Hendrik.


"Tuan, apa yang akan menjadi tugas saya?"


"Kenapa buru-buru, santai saja. Apa kamu tidak ingin mengetahui alasan aku mengirimmu ke jauh?" Anton menatap Hendrik. Tapi Hendrik hanya memasang wajah datar.


"Aku tahu kamu menyukai Tiyah. Karena itu aku mengirimmu ke jauh. Dan aku tidak menyukai ide kamu terlalu akrab dengannya. Karena biar bagaimanapun, kamu itu hanya anak pembantu."


Wajah Hendrik berkedut menahan marah.

__ADS_1


"Tuan, apa tugas saya?"


"Jadi bodyguard Tiyah, jadi bayangannya dan laporkan semua kegiatannya padaku."


Hendrik kaget, "Bukannya tuan bilang tadi?"


"Aku tidak perlu khawatir, karena sekarang aku jadi yakin. Setelah melihat wajahmu. Dia tidak akan bisa jatuh cinta atau menyukaimu. Dan dia sekarang sedang fokus cari cara untuk menghancurkanku.


Jun, Panggil Tiyah ke sini!"


Jun langsung memanggil Tiyah, tak lama kemudian Tiyah mengetuk pintu dan masuk.


"Ada apa? Dan jangan bilang masalah perjodohan lagi. Kan Aku sudah bilang. Mereka tidak ada yang mau menerima perempuan dengan tubuh menjijikan."


Mendengar suara Tiyah jantung Hendrik berdegup. Tapi ia hanya duduk diam belum berani menatap Tiyah.


"Aku akan bicarakan itu nanti, sekarang aku mau kamu bertemu dengan pengawal dan asisten pribadimu!"


"Apa yang baru? kenapa tidak sekalian menyebutnya baysitter?"


Hendrik agak heran mendengar percakapan mereka, mereka terdengar akrab. Tapi, tidak akrab.


"Perkenalkan dirimu!" Hendrik pun berdiri lalu membungkuk pada Tiyah.


"Selamat sore Nona."


Agak lama Tiyah memperhatikan wajah Hendrik, matanya membelalak.


"Kak Hendrriiiikkk. Kapan kakak kembali?" Dia langsung ke hadapan Hendrik lalu memeluknya.


Bagi Tiyah, selama 3 tahun bersama, Hendrik adalah sahabat yang tidak dia pinta. Mendengar ceruta, saling bercerita, mengobrol, mereka melakukan semua yang biasa dilakukan sahabat. Karena itu ia sangat sedih ketika kepergian Hendrik.


"Kakak Kembali!" ucapnya senang.


"Tiyaaaah!" Anton berteriak, Tiyah kaget langsung melepas tubuh Hendrik.


"Fikirkan statusmu, kamu tidak pantas merangkul laki-laki yang hanya pengawalmu seperti itu." Dalam batinnya Tiyah memutar bola matanya.


"Sudah selesei kan. Aku ingin bicara dengan pengawalku." Ucap Tiyah menarik tangan Hendrik keluar.


Anton hanya menggertakan giginya menahan amarahnya. Hendrik tidak faham apa yang sudah terjadi. Kenapa Anton hanya diam saja setelah Tiyah mengabaikannya.


Tiyah menarik Hendrik ke arah taman. Disana dia bertemu dengan bocah laki-laki yang tidak lain adalah anak laki-laki dari Anton dan Jihan.


"Aku tahu, Kak Hendrik heran, tapi penyebab Ayah Anton begitu adalah bocah itu. Rakaaa!!" Ucap Tiyah meenggendong adiknya yang masih 3 tahun dan melepaskan tangan Hendrik.

__ADS_1


Hendrik menatap tangannya, tiba-tiba terasa kosong.


"Ahh, jadi akhirnya ia berhasil memiliki anak?!" batin Hendrik. Lalu kembali menatap ke arah Tiyah dan adiknya.


Tiyah sudah melepaskan adiknya, sehari ia hanya dibiarkan menyapa Raka sekali, jika bukan Raka yang menyapa atau memanggilnya.


Tiyah mengajak Hendrik duduk di bangku taman. Awalnya Tiyah hanya menghadap lurus ke depan. Kemudian dia duduk menyamping melihat ke arah Hendrik.


"Aku benar-benar gak percaya, Kak Hendrik kembali lagi."


"Iya, akupun gak percaya. Dan kamu juga sama sekali gak berubah. Meski kamu tersenyum ceria, matamu menyimpan banyak air mata."


"Selain tatapanmu, banyak yang berubah darimu. Semakin cantik dan anggun." batin Hendrik.


"Ha ha ha. Lucu. Tapi, kalau aku kesal dengan Ayah Anton, aku boleh nampar wajah Kak Hendrik kan?" ucap Tiyah bercanda dan mengalihkan pembicaraan.


"Apa sangat mirip?" Tiyah mengangguk menjawabnya.


"Apa kamu tidak membenciku?"


"haaah?? benci? kenapa? wajah boleh mirip, tapi kalian itu jauh berbeda. Kak Hendrik adalah Kak Hendrik dan Ayah Anton adalah ayah Anton. Meskipun sekarang kelihatannya sudah banyak berubah." Tiyah mengamati Hendrik.


Hendrik malah malu.


"Atau apa aku operasi plastik saja?" Tiyah lalu memukul bahu Hendrik.


"Ouch" teriak Tiyah. "Apa itu? kenapa tanganku yang sakit."


"Cuma otot." Mereka tertawa dan lama mengobrol, seperti mereka adalah teman lama yang sudah lama tak bertemu.


Mereka masuk ke rumah sambil tertawa. Sudah lama Tiyah tidak tertawa dan mengobrol dengan seseorang.


Langkah mereka terhenti karena melihat Anton.


"Tuan." sapa Hendrik lalu Anton menamparnya dengan keras.


"ayah Anton!" Tiyah kaget dan berteriak.


"Perlakukan dia seperti layaknya pengawal dan suruhan. Jangan terlalu dekat dengannya. Kembali ke kamarmu!" Tiyah pun kembali ke kamarnya menatap ke arah Hendrik dengan pandangan minta maaf.


"Jangan pernah memanggilnya dengan nama, terlepas dari apa dia memanggilmu. Aku tidak menyuruhmu berteman melainkan menjadi bayangannya dan memata-matainya. Faham?"


"Baik Tuan" Dan akhirnya Anton kembali ke kamarnya.


"Bayangan, baiklah aku akan menjadi bayangan Tiyah. Mungkin kamu lupa apa sifat bayangan. Sifatnya mengikuti pemiliknya. Jika kamu menyuruhku menjadi bayangan Tiyah akan kulakukan dengan senang hati. Selama aku bisa melindunginya." batin Hendrik

__ADS_1


*bersambung...


__ADS_2