
Apa maksud kamu? " tanya Gama penasaran.
"Mama kamu, menyembunyikan mamaku.? " tangis isak Aira semakin keras.
"Apa maksud kamu? Bukannya tante Amira berada di kota Kelambu bersama suaminya? Tante Amira menikah lagi 7 tahun yang lalu." Gama bingung.
"a... Aa... Apa maksud kamu? " Aira terbata-bata dan terkejut...
Kota Kelambu, adalah kota asal Amira, dia pernah bersumpah tak akan kembali ke kota itu, karena itu, Aira pikir Ibunya tak mungkin kembali ke kota itu.
"Apa alasan kamu pergi dari rumah saat itu?"
"Mama mu mengusirku, dengan bekal yang sangat banyak."
"Apa maksud semua itu? Kamu hanya cerita sejak kamu meninggalkan rumah, kamu bekerja di klub malam dan di culik. Kalau mama memberikan kamu uang yang banyak harusnya kamu menggunakannya untuk kuliah." ucap Gama yang sebenarnya juga bingung. Dia tau, bukan saat yang tepat membahas masalah uang yang diberikan Mutia pada Aira.
Suara pintu kamar Aira terbuka.
Mutia datang menjenguk Aira, karena Mutia tahu bahwa Gama akan berada di kamar Aira, karena baru saja dari kamar Datiyah.
"Mama? "
"Kenapa kehidupanmu bisa jadi seperti ini? Aku pikir kamu akan membuat pilihan yang tepat dengan uang yang aku berikan saat itu."
Mutia langsung duduk di sofa.
"Setelah kamu kembali, aku tahu kamu akan mencari Gama. Karena itu aku mencari tahu tentang masa lalu mu. Apa saja yang sudah kamu lakukan. Dan bagaimana bisa kamu disini saat ini. Jujur saja, awalnya aku lega kamu muncul sebagai seorang aktris." Ucap Mutia melihat Aira.
"Tapi Aira, terlepas dari itu semua. Kamu tidak akan pernah aku terima menjadi keluarga Kencana. Dan sejujurnya aku juga tidak tahu keberadaan ibumu, sampe dia mengundang kami di pernikahannya."
__ADS_1
"Nggak, ini semua rencana kalian kan? Untuk menyingkirkan aku lagi." Aira benar-benar marah.
"Gama... Apa kamu lupa, bagaimana kita dulu. Dan saat aku kembali, kamu terlihat sangat bahagia. Tidak, kamu bahagia kan bersamaku?." Aira berjalan ke arah Gama dan menatapnya.
"Aku memang bahagia. Tapi, perlu waktu lama untuk tau kalau sebenarnya aku benar-benar mencintai Tiyah, dan akhirnya menyakiti kalian berdua. Maafkan aku." Gama menunduk menatap Aira.
"Bullshit Gama, hentikan omong kosong kamu. Dan tante Mutia juga tau apa yang aku alami setelah pergi dari rumah itu. Tapi kalian sama sekali tak merasa bersalah? "
"Kak Aira, cukup Kak." Mala melerai kemarahan Aira.
"Mereka tidak akan mengerti apa yang pernah kita alami. Jadi Jangan berharap lagi pada mereka." Mala mengajak Aira kembali ke tempat tidur.
"Mona, hubungi Amira untuk menjenguk dan menjemput anaknya."
Mutia benar-benar tidak mau perduli lagi dengan Aira ataupun Amira.
Dia mengakui, bahwa mengusir Aira begitu saja bukan hal yang bijak dilakukan. Tapi dia juga tak pernah menyangka, hidup Aira akan berubah seperti itu.
"Dan juga, ketiga laki-laki itu. Tak perlu kamu khawatirkan. Aku sudah mengurus mereka. Dan mereka tidak akan bisa masuk ke negara ini lagi. Dan Gama, kamu harus memikirkan siapa yang harusnya kamu dahulukan." Mutia dan Mona lalu keluar dari kamar Aira.
"Jadi, semua ini salah faham? Hahhahhahhaha... Bertahun-tahun aku kira mamamu .. " Aira tertawa terbahak-bahak.
"Aira.... " ucap Gama pelan.
"maafkan aku."
"Cukup Gama. Jika kamu tak berniat kembali padaku. Jangan sebut-sebut namaku lagi.
Jujur sama aku, kamu merasa jijik kan dengan aku?" Tanya Aira yang belum menerima keputusan Gama untuk meninggalkannya.
__ADS_1
Dia bangun kembali mendekati Gama.
"Gama, jawab aku. Apa sama sekali tak ada di hatu lagi?" Aira menarik pergelangan tangan Gama.
"Tidak Aira, awalnya aku akui. Aku sangat terkejut. Tapi, aku tau itu bukan salahmu. Dan aku juga tak punya masalah dengan itu semua." jawab Gama menatap Aira.
"Dan ketika Tiyah masuk rumah sakit saat itu, aku benar-benar yakin. Aku mencintainya. Aku tak mau kehilangan dia."
"Gama... Kamu tau? Kamu benar, harusnya aku tak kembali. Ketika kembali ke sini, kamu salah satu tujuan aku kembali. Mamaku, yang kupikir hilang ternyata dia hidup dengan bahagia. Jadi selama ini, untuk apa aku hidup? " Aira memukul dada Gama pelan sambil menangis.
"Maafkan aku Aira." Gama membiarkan Aira memukul nya. Sampai Aira merasa lelah, Mala lalu menuntunnya kembali ke kasurnya.
Setelah itu, Gama keluar dari kamar Aira.
"Mungkin Tiyah sudah keluar dari rumah sakit." batin Gama dan memilih kembali ke kantornya.
"Rendra, ke mana Tiyah pulang?"
"Nona Tiyah, pulang ke rumah Sugesti Tuan, karena harus mengadakan pemakaman dan juga karena adiknya akan sendirian di rumah itu."
Gama mengangguk.
"Dan Semua pakaian dan barang Nona Tiyah sudah di bawah kembali ke rumah Sugesti."
"apa maksudmu, semua pakaiannya? "
"Sebenarnya, Nona Tiyah, sudah menyiapkannya sejak rapat pemegang saham hari itu." jawab Rendra.
Gama lalu bangun, dan langsung pergi ke rumah Sugesti dimana Datiyah berada.
__ADS_1
...****************...