Bolehkah Aku Mencintaimu?

Bolehkah Aku Mencintaimu?
Menikah


__ADS_3

Hari pernikahan Gama dan Tiyah pun akhirnya tiba. Pernikahan itu digelar cukup mewah.


Di aula yang masih berada dalam lingkungan Rumah Kencana.


Setelah ijab Gama dan Tiyah berjalan ke ruang resepsi dan berjalan berdampingan menuju pelaminan.


Jihan tak tahu bagaimana perasaannya, melihat putrinya menikah tanpa tahu dan menanyakan perasaannya.


Jangankan memeluknya, melihatnya dari dekatpun, tak bisa berbicara atau sekedar mengucapkan kata rindu.


Mereka saling berpandangan. Tiyah memandang mamanya dengan penuh arti.


"Tunggulah sebentar lagi Mah, aku akan membawa mama dan Raka keluar dari rumah itu. Dan membuat Anton merasakan apa yang sudah mama dan aku rasakan." batin Tiyah.


"Semoga kamu bisa bahagia sayang. Itu do'a yang selalu mama panjatkan untukmu." batin Jihan.


Matanya mereka berkaca-kaca menahan tangis.


"Mama, itu Kak Tiyah. Aku mau ke tempatnya Kak Tiyah." ucap Raka menarik tangan mamanya.


"Raka, sebentar lagi kita pulang. Ayah nanti cariin kita." Jihan membawa Raka keluar dari lokasi acara.


Semua orang memberikan selamat.


Mendo'akan kebahagiaan mereka.


Tiyah sangat membenci kebohongan, tapi dia juga bukan orang baik.


Do'a orang-orang untuknya dan Gama seolah hanya ucapan kosong yang dilemparkan begitu saja. Dan Tiyah tak menyukainya. Ditambah mamanya yang sudah pergi. dan dia tak punya alasan berlama-lama di pesta itu.


"Gam? apa acaranya masih lama?" bisik Tiyah pada Gama.


"Sepertinya begitu. Kenapa?"


"Apa aku nggak bisa ninggalin acara lebih dulu? Aku merasa capek, udah gak kuat."


"Ya udah, ayo kita balik bareng."


Tiyah menggeleng, "Kamu di sini aja." Gama mengangguk.


Begitu Tiyah pergi, Hendrik langsung mengikuti di belakangnya.


Tiyah tidak berfikir pernikahan ini akan menelan begitu banyak emosinya , membuat batinnya merasa bersalah dan berteriak. Dia tak ingin menipu orang-orang.


Tapi jika tidak melakukannya, semua rencananya akan hancur berantakan. Dan ia benar-benar membutuhkan waktu bergerak lebih leluasa.


Tiyah berjalan ke kamarnya yang sudah dia tempati sejak beberapa hari lalu, tapi pintunya terkunci. Dan akhirnya dia memutuskan diam di perpustakaan sambil menunggu acara selesai.



Dia menaikkan kakinya di sofa dan meringkuk memeluk lututunya.


"Nona, apa anda baik-baik saja?" tanya Hendrik

__ADS_1


"Menurutmu, apa semua akan baik-baik saja?


Aku berbohong demi rencanaku. Bahkan aku juga berbohong pada Gama. Aku benci apa yang aku lakukan sekarang.


Tapi setiap kali aku mandi dan bercermin aku melihat luka di seluruh tubuhku.


Semua ingatan datang, dan membujukku untuk meneruskan semuanya." Tiyah langsung membenamkan wajahnya ditangan di atas lututnya dan Hendrik duduk di sofa yang berhadapan, menemaninya.


Agak lama mereka menunggu.


"Mungkin pestanya sudah selesai." Ucap Tiyah yang menurunkan kakinya dan berdiri, tapi tidak stabil. Hendrik dengan sigap menangkap kedua tangan Tiyah dan kedua tangan Tiyah bertumpu pada lengan Hendrik.


Setelah sudah berdiri tegap, Tiyah berdiri dihadapan Hendrik dan menyandarkan keningnya di dada Hendrik dan meremas baju depannya.


Tiyah biasa melakukan hal itu, jika dia kesal, sedih atau bimbang. Dan Hendrik tahu dari siapapun untuk tidak memeluk Tiyah.


"Semuanya akan baik-baik saja." ucap Tiyah menghibur diri, masih meremas baju Hendrik.


Sementara itu, Gama yang baru saja kembali dari acara.


"Sial, kenapa aku bisa lupa memberi tahu Tiyah."


Dia langsung mencari Tiyah di tempat yang hanya di sukai Tiyah.


Di perpustakaan, ia melihat Tiyah dan Hendrik berdiri berpelukan.


Entah kenapa ada rasa aneh di dalam hatinya yang tidak bisa dia jelaskan.


"Hei Gam, acaranya udah selesai?" Tiyah tersenyum dan melepas genggamannya dari baju Hendrik.


Gama berjalan mendekati Tiyah.


"Iya. Ngomong-ngomng aku lupa kasi tau kamu.


Engg, kalau Mama nyuruh kita satu kamar."


"Kenapa?" tanya Hendrik kaget tak menyadari suaranya sendiri.


Tiyah dan Gama juga kaget mendengar Hendrik. "maafkan saya, Nona"


"Kenapa?" Tiyah bertanya ulang.


"Aku benar-benar gak percaya mama benar-benar melakukan ini. Katanya aku harus mencoba, jika benar aku mencintai Aira, maka harusnya aku akan baik-baik saja meski tidur sekamar dengan wanita lain."


"eemmm..Well, kita berdua tahu kita sama sekali tidak perlu mengkhawatirkan hal itu kan? Lagipula aku tidak banyak tidur. Jadi itu bukan maaalah buatku."


"Nona, apa anda yakin?" Tiyah menjawab oertanyaan Hendrik dengan tersenyum.


"Kalau begitu, ayo ke kamar." Ucap Gama.


"Kamu duluan saja. Aku akan nyusul sebwntar lagi." Setelah Gama keluar, Tiyah langsung menatap ke arah Hendrik.


"Kak Hendrik gak usah khawatir. Aku yakin aku akan baik-baik saja. Dan aku yakin, dia teelalu mencintai Kak Aira untuk berfikir tentang wanita lain.

__ADS_1


Kita tak mengharapkan apa-apa terhadap satu sama lain. kecuali sedikit kebebasan yang aku rasakan sekarang." Tiyah lalu pergi menyusul Gama.


Gama susah berganti pakaian, dan menunggu Tiyah duduk di pinggir tempat tidur.



Tiyah mengetuk pintu dan masuk.


Gama langsung berdiri melihat Tiyah.


"Kalau kamu merasa gak nyaman, aku bisa tidur di sofa saja." ucap Gama.


"Gak usah konyol, tidur aja di tempat tidur. Lagipula tempat tidur itu, terlalu besar untukku. Dan sepertinya semua barang-barangku sudah di atur di sini." Tiyah melihat beberapa perawatan wajahnya berada di meja rias.


"Iya, benda itu baru hari ini berada di sini. Untuk kamu. Kalau begitu, aku tidur duluan. Ke arah situ, lemari pakaian, itu kamar mandi." Gama menunjuk sekitar ruangannya.


Tiyah pun pergi berganti pakaian. Lama dia berdiri depan cermin.


"Semoga semuanya bisa berjalan sesuai rencanaku."


Begitu Tiyah keluar, Gama sudah tertidur karena kelelahan.


Karena belum menagntuk, Tiyah keluar ke mengunjungi kamar Hendrik. Dan mengetuk pintu kamarnya dan Hendrik membukanya.


"Kakak sudah tidur?" tanya Tiyah.


"Kenapa Nona belum tidur?"


"Aku akan mempelajari berkas-berkas itu lagi.


Karena kita gak boleh salah langkah."


Hendrik mengambil berkas-berkas dari dalam kamarnya dan memberikannya pada Tiyah.


Ketika Tiyah berjalan menuju perpustakaan dia berhenti karena melihat Hendrik di belakanganya.


"Mau ke mana?" di melihat ke arah Hendrik.


"Menemani Nona." jawabnya singkat.


"Kembalilah tidur, aku tahu kakak sangat lelah. Disini nggak ada Ayah Anton yang menilai tindakan Kakak. Dan aku tahu kak Hendrik tadi sudah tidur. Kembalilah." Lama Tiyah bergerak menunggu Hendrik kembali ke kamarnya.


Akhirnya Hendrik mengalah dan kembali ke kamarnya.


Tiyah pun sibuk membaca berkas-berkas yang ia punya.


Setelah mempelajari semua berkasnya, dia masih belum mengantuk juga, padahal sudah pukul 2 malam. Dan dia memutuskan untuk mencari bacaan di rak buku.


Sedang asik melihat-lihat, tiba-tiba ada orang dibelakangnya membuat ia berteriak.


"aaahhh," dia berbalik dengan cepat dan tak senagaja tubuhnya menghantam rak buku, menyebabkan beberapa buku yang ada di rak atas terjatuh ke atas kepalanya.


*bersambung......

__ADS_1


__ADS_2