Bolehkah Aku Mencintaimu?

Bolehkah Aku Mencintaimu?
Kesedihan di Matanya


__ADS_3

Mata adalah jendela Hati by William Shakespeare


Mata memberitahumu sesuatu, lebih dari yang dapat diungkapkan kata-kata.


Semuanya ada pada matanya,


senyuman yang tidak tulus, kecuali kalau matanya juga tersenyum.


kata-kata tak berarti kecuali kalau matanya menyatakannya juga.


_____________________________


Gama terbangun sekitar pukul 2 malam dan tidak melihat kehadiran Mutia di tempat tidurnya.


"Kemana dia? Apa dia merasa tidak nyaman ridur di sini?"


Gama bangun dan memeriksa kamar mandi, teras, ruang ganti. Tapi tidak menemukan Tiyah. Diapun mengintip ke perpustakaan.


Di sana dia melihat Tiyah, sedang mondar mandir, memeriksa buku di rak.


Dia mengetuk pintunya pelan, tapi Tiyah teelalu fokus pada buku yang dipeganganya.


"Hay, kamu lagi baca apa jam segini?"


Tiyah yang Sedang asik melihat-lihat, suara tiba-tiba dari Gama membuat ia berteriak.


"aaahhh," dia berbalik dengan cepat dan tak sengaja tubuhnya menghantam rak buku, menyebabkan beberapa buku yang ada di rak atas terjatuh ke atas kepalanya.


Cepat Gama menarik Tiyah dalam pelukannya, menunduk dan melindunginya dari buku-buku itu.


"Tiyah, kamu gak apa-apakan?"


Tiyah yang masih gemetar tidak mengatakan apa-apa. Matanya berkaca-kaca karena kaget, tapi lega karena itu hanya Gama.


Gama memperhatikan Tiyah mengecek keadaannya.


Dia menatap mata Tiyah, untuk pertama kalinya ia melihat Tiyah ketakutan dan gemetar seperti itu. Lama dia menggoyangkan tubuh Tiyah.


"Tiyah!! Tiyaahh!! Tiyah!!!" Mata Tiyah gemetar, berusaha mencari fokusnya. Gama menyentuh kedua pipi Tiyah membantunya untuk fokus.


"Tiyah, Ini aku Gama, lihat ke arahku." Tiyah berusaha meluruskan pandangannya ke arah Gama. Lama mereka saling bertatapan.


Dan untuk pertama kali, Gama menatap mata Tiyah dalam-dalam. Dia melihat ketakutan, kesedihan dalam mata Tiyah. Entah kenapa, dia merasakan jantungnya berdetak lebih kencang, seolah ikut merasakn kesedihan dan ketakutan melalui mata Tiyah. Meski ia tak tahu apa kesedihan itu.


Setelah Tiyah agak tenang, Gama memeluk Tiyah. Tiyah yang terkejut reflek mendorong Gama dengan keras, sampai terjatuh ke belakang.


"Aaaahh, Tiyah, apa-apaan sih kamu?" Tanya Gama yang bangun dan mengelus bokongnya yang sakit.


"Ma...maafin aku. Aku gak sengaja. Aku cuma kaget. Aku akan bereskan ini besok." Tiyah pun kembali ke kamar dengan cepat.


Setelah buru-buru mencuci wajahnya dan minum air. Tiyah merasa lebih lega. Dia pun meringkuk di atas tempat tidur Gama. Dia sangat kaget, karena sudah lama tak merasakan kaget yang seperti itu. Sehingga ketakutannya tak terkendali.

__ADS_1


Gama yang masih diperpustakaan, menyentuh dadanya. "Apa barusan?" cepat dia menggeleng. Menyusul Tiyah ke kamar.


"Kamu baik-baik aja, kan?" Gama berjalan ke depan Tiyah. Tapi Tiyah sudah menutup matanya.


"Tiyah? kamu sudah tidur?"


"Iya, aku sudah tidur. Tidak lihat mataku meram?" batin Tiyah berharap Gama ke tempat tidurnya.


Karena melihat Tiyah yang tidak merespon, Gama pun kembali tidur.


Keesokan harinya, Gama bangun, tapi Tiyah sudah tidak ada di tempat tidur. Ia pun bersiap-siap pergi kerja.


Ketika menuju ruang makan, ia melihat Tiyah yang sedang mengobrol dengan beberapa pelayan dan membantu. Dan Hendrik yang berdiri tak jauh di belakangnya. Gama memutar bola matanya.


"Kak Gama, kenapa gak duduk?" tanya Gina.


Tiyah yang mendengar suara Gina, berjalan ke arah meja makan dan ikut duduk.


Mutia pun ikut sarapan bersama. Mereka sarapan sambil mengobrol. Seperti biasa, asisten ikut duduk makan hanya tak bersuara


Monica juga ikut makan bersama karena Mutia dalam mood yang baik.


Gama terus memperhatikan Tiyah. Melihat Tiyah teesenyum dan tertawa. Tapi dia tidak bisa menghapus perasaan yang semalam yang dia rasakan setelah menatap mata Tiyah.


Hendrik melirik Gama. Karena merasa tak nyaman dengan tatapannya terhadap Tiyah.


Sementara Tiyah, berpura-pura tak terjadi apa-apa. Karena tak mau Hendrik bersikap berlebihan.


"Iya, suami pura-pura." Ucap Hendrik pelan.


Monica hanya memperhatikan. Karena dia yang senior tidak ingin ikut campur kecuali diperlukan.


Setelah selesai sarapan, semua orang bangun.


"Tiyah, kamu bisa antar aku ke depan?"


Tiyah kaget dengan permintaan Gama.


"Jangan-jangan dia mau bahas yang tadi malam." batin Tiyah.


"Jangan bilang, kamu mau kita main rumah-rumahan seperti suami istri?!" Canda Tiyah.


"Kenapa gak?" Tiyah memutar bola matanya lalu berjalan ke arah pintu depan menemani Gama, dan Hendrik mengekor di belakang, sementara Rendra sedang menyiapkan mobil.


"Apa harus aku pura-pura perbaiki dasi juga?" pura-pura meraih dasi Gama.


"Apa kegiatanmu hari ini?"


"Mungkin di rumah saja, lebih tepatnya perpustakaan. Kenapa?"


"Apa aku boleh tau, apa yang kalian kerjakan?"

__ADS_1


"Kenapa kamu pengen tahu? Dengar, Aku gak akan ikut campur tentang kehidupanmu, dan aku minta kamu gak ikut campur dengan urusanku." ucap Tiyah lembut dan memberi pengertian pada Gama agar mengurus hidup masing-masing.


"oke, sorry kalau kamu merasa seperti itu." Dan Gama pun berangkat tanpa pamit.


Tiyah menatap mobil Gama sampai tak terlihat lagi. Dia menghela nafasnya.


"Apa terjadi sesuatu anatara anda dengan Tuan Gama?"


"Hah? ng..ngggak ada."


"nona?"


Tiyah tersenyum pada Hendrik. "Bukan sesuatu yang harus di khawatirkan dan aku baik-baik saja."


Hendrik menghela nafas pelan, mengalah.


"Kamu bahkan tak tahu cara berbohong, bahkan ketika kamu tahu menunjukkan senyum bahagiamu. Aku sangat tahu mata sedihmu. Bahkan ketika kamu di depan Anton beroura-pura berani, matamu.menunjukkan ketakutanmu. Tapi aku akan selalu berdiri di belakangmu dan mendukungmu." batin Hendrik.


Mereka langsung menuju perpustakaan dan membahas rencana mereka.


Sementara itu, Gama masih termenung di dalam ruangannya.


"Tuan, apa anda mendengar saya?" ucap Rendra yang membuyarkan lamunan Gama.


"Apa kamu tau, apa yang sedang dikerjakan Tiyah?"


"Tidak Tuan. Apa oerlu saya mencari tahu?"


Gama menggeleng. "Kau akan mencari tahu sendiri." Tiba-tiba Ponsel Gama bergetar.


"Bagaimana malam pertamamu dengan istrimu?" tanya Aira kesal.


"Aira, aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya lelah karena itu aku langsung tidur."


"Kamu janji.mau telepon aku selesei acara. Bahkan sudah pagi pun. Kamu tidak meneleponku."


"Maafkan aku. Aku benar-benar kelelahan."


"Oke, aku maafin. Asalkan kamu mau makan malam denganku di kamar hotel nanti malam?"


"Baiklah. Aku akan datang."


Gama tak mau lagi ikut campur masalah Datiyah, dia sendiri sudah pusing, bagaimana cara agar Aira bisa mendapat restu dari ibunya.


Ketika pulang, dia sudah ada didepan rumahnya. Baru tersadar ia membuat janji dengan Aira.


Tapi Gama memutuskan masuk dan mengganti pakaiannya lebih dulu sebelum bertemu Aira.


Tapi ketika ia masuk kamarnya. Di sana ada Hendrik yang sedang berdiri melihat Tiyah meringkuk, dan tangan Tiyah yang memegang sudut jas Hendrik.


"Apa yang terjadi di sini?" tanya Gama agak gusar melihat laki-laki lain dalam kamarnya.

__ADS_1


*bersambung......


__ADS_2