Bolehkah Aku Mencintaimu?

Bolehkah Aku Mencintaimu?
Luka Aira


__ADS_3

"Laki-laki mana yang bisa mengerti bahwa wanitanya seorang perempuan murahan?" Teriak Aira memotong ucapan Datiyah.


"Apa kamu pernah merasakan diculik, dijual dan diperlakukan seperti barang murahan?"


Datiyah kaget mendengar ucapan Aira, matanya hanya bisa terbuka lebar, lehernya tercekat, tak tau apa yang harus dia katakan.


"Kenapa? kamu heran? Iya, hidupku tidak mudah. Kamu fikir aku dengan mudah mendapatkan ini semua? Dan sekarang, hal yang aku inginkan adalah cinta Gama untukku. Karena itu, aku harap kamu menjauh dari Gama. Jangan goyah kan perasaannya."


"kAk Aira, aku benar-benar tak tahu bagaimana bisa Kakak hidup seperti ini. Aku juga tak menduganya. Karena yang aku dengan dari Tante Mutia, kakak diberikan uang yang cukup dan juga sekolah di luar negeri."


"Iya, pasti dia merasa sangat berjasa, meski suaminya dan ibuku menghianatinya, tapi ia masih memberikanku uang yang banyak."


Datiyah, benar-benar tak tahu apa yang harus dia katakan. Ia hanya bisa bersimpati.


"Aku... turut sedih kak Aira mengalami hal itu."


"Iya, hanya itu yang bisa kamu katakan. Karena kamu gak akan tahu penderitaan apa yang aku lalui."


Aira membenamkan wajahnya ke telapak tangannya. Menangis, dan ia pun mulai menceritakan lukanya.


Setelah beberapa hari setelah meninggalkan kediaman Kencana dan meninggalkan cintanya, Aira berniat mencari ibunya. Karena tidak mungkin Ibunya akan tega meninggalkan Aira sendirian. Dan ia tahu pasti bahwa Mutia sudah mengirimnya ke suatu tempat.


Ia menyewa beberapa orang yang bisa mencari orang hilang. Tapi tak ada hasil. Uang yang tadinya akan ia gunakan untuk melanjutkan sekolahnya, malah hampir habis untuk mencari ibunya.


Beberapa kali, ia memulai usaha, tapi selalu gagal. Uang simpanannya sudah menipis. Karena ia termasuk wanita yang boros. Bahkan seringkali ia mencoba menghubungi Gama, ketika akan menyerah. Tapi ia ingin menunjukkan pada Mutia bahwa ia bisa sukses.


Dia pun memutuskan untuk sementara bekerja di sebuah klub malam sebagai pelayan, karena gaji yang lumayan, dan dia tak harus bekerja sepanjang hari.


Beberapa bulan, semuanya berjalan lancar. Hingga suatu hari, ada beberapa orang yang ternyata penjahat yang menjual wanita ke luar negeri.


Mereka sudah lumayan lama memantau Aira. Mengetahui Aira tinggal sendiri di kamar kost. Mereka pun memulai aksinya membius Aira dalam perjalanan pulang.


Begitu ia tersadar, ia berada dalam sebuah kontainer dengan beberapa wanita lainnya. Ia merasa mual, karena bau yang keringat, makanan basi di dalamnya.


Aira yang masih tak percaya, menutup matanya kembali, dan menghirup udara sekitarnya. Tapi yang ia rasakan, aroma tak sedap disekitarnya semakin jelas dan membuat kepalanya pusing.


Dia membuka matanya perlahan, air matanya mulai mengalir.


"Hidupku gak mungkin akan sehancur ini kan?Aku gak sedang syuting film kan? Ini seperti adegan yang ku tonton dalam film." Batin Aira yang masih tersenyum sambil menangis tak percaya,


Seorang gadis, yang masih belia. 3 tahun lebih muda darinya melirik dan berusaha mendekatinya, tapi takut membuat gerakan.


Agak lama akhirnya anak gadis itu pun mendekatinya.


"Peeermisi?" ucap gadis itu pelan.


Aira pun melihat ke arah gadis itu, yang sedang berdiri menunduk dihadapannya.


Tapi Aira tak mengucapkan apa-apa. Dia hanya melihat gadis itu. Gadis itupun hanya berdiri diam. Sejak sadar, ia mencoba bicara dengan orang lain, tapi tidak ada yang mengerti ucapannya. Karena itu ia ragu menyapa Aira.


"Duduk saja. Kenapa berdiri sejak tadi."

__ADS_1


Gadis itu langsung mengangkat wajahnya dan sedikit merasa lega. Dengan cepat duduk disamping Aira.


"eemmm..." suara gadis itu ingin bicara.


"Bicara saja". ucap Aira datar.


" Kita mau dibawa ke mana?"


"Kamu gak pernah nonton TV? atau film?"


anak gadis itu menggeleng. "Di rumah gak ada TV,"


"hemmm.... aku bingung mau jelasinnya."


Diapun mengalihkan pembicaraan.


"kenapa kamu bisa disini?"


"Saya gak begitu ingat. Bapak tiri saya ngajak ketemu sama temannya. Tau-tau saya sudah disini."


Aira tersenyum getir, melihat gadis yang masih polos tak tahu apa-apa yang akan terjadi padanya.


"Siapa nama kamu?"


"Saya Mala. Kalau kakak?"


"Aku Aira."


"Terus, Kak Aira sendiri kenapa bisa sampai disini?"


Mala hanya mengangguk.


Beberapa hari mereka didalam kontainer, sehari meeka hanya diberi makan sekali melalui lubang kecil.


Begitu pintu kontainer terbuka. Detak jantung Aira berdebar kencang. Ia sama sekali tak memikirkan, apa yang harus ia lakukan jika pintu itu terbuka.


Kabur?


Atau terima takdirnya?


Mala yang juga ketakutan tanpa sadar menggenggam tangan Aira dengan erat, begitu juga sebaliknya.


Di balik pintu, sudah banyak laki-laki yang berjaga. Memegang cambuk, kayu, dan juga pistol.


Denyut jantungnya terasa sampai kepalanya. Meskipun sudah beberapa kali mengulang adegan dihadapannya ini dalam otaknya. Jantungnya belum juga mau tenang.


Ketika perempuan-perempuan lain ketakutan dan berjalan pelan, mereka ditarik dengan kasar, begitu juga Aira dan Mala. Mereka memeluk satu sama lain dengan erat.


"Move!!!(bergerak)" teriak salah satu lelaki itu.


Wanita-wanita itu pun dipisahkan berdasarkan usia mereka. Sehingga Mala pun ditarik dari pelukan Aira. Tapi entah apa yang mendorongnya, ia menarik Mala kembali.

__ADS_1


"Nooooo!!!" Teriak Aira.


Laki-laki itu langsung menampar Aira dengan keras hingga dia terjatuh.


"Kak Aira!!!" Mala menangis, ketika akan menghampiri Aira ia ditarik dan dipisahkan.


Aira yang masih merasa pusing, hanya bisa terdiam dan mengalirkan air matanya. Tatapannya kosong.


Iapun dibawa ke sebuah ruangan, disana sudah banyak gadis seumurannya berdiri tanpa busana dan masuk ke dalam ruangan.


"wha.. whaa...what?" ucap Aira yang masih belum bisa menerima apa yang ada dihadapannya.


Ternyata para wanita itu, diperiksa apakah mereka masih perawan atau tidak.


Karena perawan akan dijual dengan harga tinggi.


Ia meronta-ronta. Berusha lari.


Laki-laki yang sejak tadi sudah kesal melihat Aira yang sudah melawan sejak kedatangannya.


Langsung ia mendapat pukulan telak diperutnya. Aira terjatuh dilantai dan meringis kesakitan.


"Noooo" ucapnya lemah. "Let me go" (lepasin aku)",ucap Aira sambil menarik celana laki-laki yang memukulnya, hendak menendangnya lagi.


"So...rrryyy..."


Laki-laki itu tertawa melihat lemahnya Aira. setelah melihat Aira yang lemah laki-laki itu langsung pergi dan yakin bahwa Aira tidak akan berontak lagi.


" aku minta maaf tidak bisa melindungimu Mala. Melindungi diriku saja aku tak mampu." Aira menahan tangisnya.


Setelah diperiksa, akhirnya Aira yang masih perawan dibawa dan dimandikan.


Meskipun merasa bahwa memberontak adalah hal yang percuma, ia tetap melakukannya. Sehingga pukulan pun melayang ketubuh dan wajahnya.


Aira yang babak belur, akhirnya di masukkan ke dalam kamar, dan dibiarkan disana.


Mereka mengirim seseorang untuk mengobati Aira.


"Why they do this? They knew our VIP really hate the girls bruised and hurt (kenapa mereka melakukan ini? Mereka tau orang VIP sangat benci gadis-gadis ini lebam dan luka)" ucap wanita itu sambil mebersihkan luka Aira.


"Please, help me. I dont want to stay here.??(Tolong, bantu aku. Aku tak mau disini)" pinta Aira memelas.


"Do you have any family who looking for you?(Apa kamu punya keluarga yang akan mencarimu?)" tanya wanita itu.


Aira menggeleng lemas.


"That's it. You can't choose. When you choose to kill yourself, they will safe you and make your life worse than hell. Because they just take people who are alone.


(Hanya itu, kamu tak bisa memilih. Ketika kamu mencoba membunuh dirimu. Mereka akan menyelamatkanmu dan membuat hidupmu lebih dari dineraka. Karena mereka hanya mengambil orang-orang yang hidup sendiri.)" ucap wanita itu menunjukkan pergelangan tangannya dan berdiri.


Aira terduduk lemas dan sambil menggeleng..

__ADS_1


"Tidak, hidupku tidak akan berakhir seperti ini." batin dan fikirannya masih tak percaya.


*bersambung.....


__ADS_2