Bolehkah Aku Mencintaimu?

Bolehkah Aku Mencintaimu?
Malam Pertama


__ADS_3

Tanpa banyak bicara, Datiyah menunduk kemudian mencium bibir Gama dengan ganas. Gamapun ikut membalasnya.


Datiyah naik ke tas tubuh Gama dan mendorongnya berbaring, tanpa bicara mereka terus berc*uman.


Datiyah berusaha membuka pakaian Gama.


dan membuat Gama tersadar bahwa apa yang mereka lakukan, terlalu tiba-tiba.


Gama menahan tangan Datiyah dan menatapnya.


"Kenapa? kamu gak ingin melakukan ini? " Tanya Datiyah.


"kita ini suami istri. " tambah Datiyah.


"Kamu baru aja keluar dari rumah sakit. Setidaknya biarkan aku tau keadaanmu."


"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja. Dan sekarang aku sedang ingin bercumbu dengan suamiku." Jawab Datiyah mendekatkan wajahnya ke wajah Gama, Tapi, Gama memalingkan wajahnya.


Datiyah dengan marah turun dari tubuh Gama.Dan berdiri dari tempat tidur.


"Semua orang berbohong padaku." ucap Datiyah marah.


"Apa maksud kamu?" tanya Gama heran.


"Hah, kamu bilang perasaanmu ke Aira sudah bukan rasa cinta lagi. Tapi kamu masih menolak ku."


"ini bukan tentang Aira, ini tentang kamu. Kamu baru saja keluar dari Rumah sakit dan aku gak mau.... " belum Gama selesai bicara


"cukup Gama, bahkan sekarang pun kamu masih membela dia. dan masih tidak tau di mana hatimu." Ucap Datiyah dan akan berlalu pergi.


Gama dengan cepat mengikutinya dan memeluk pinggang Datiyah dari belakang.


"Aku cinta sama kamu, apa yang ingin kamu lakukan sekarang. Aku juga sangat ingin melakukannya. Tapi aku tidak tau kalo kamu baik-baik saja." ucap Gama membalik tubuh Datiyah agar mereka berhadapan.


Gama menatap wajah Datiyah yang sudah penuh dengan air mata.


"Bisakah kamu memberitahuku apa yang terjadi? Kamu tau, kita sangat khawatir."


"aku hanya kelelahan", jawab Datiyah datar dan memundurkan tubuhnya menjauh dari Gama.


" gak ada yang perlu kamu khawatirkan."lanjutnya.


Tentu saja Gama tidak dengan mudah percaya ucapan Datiyah.


"Tiyah, tatap mataku, dan katakan apa yang terjadi. Kenapa kamu tiba-tiba pingsan dan tidak sadarkan diri?"


"Aku hanya lelah, dokter pun bilang kalau gak ada apa-apa dengan aku. Jadi gak perlu khawatir."


Gama menghela nafas dalam berusaha sabar menunggu Datiyah memberi tahu yang sebenarmya kepadanya.


"Tiyah, kamu tau aku sangat.... "


Tiba-tiba ponsel Gama berdering.


Dia mengangkat telepon, yang ternyata adalah Aira.


Datiyah melihat nama Aira di layar ponsel Gama.


"maaf, aku sed.... "


Belum selesai bicara, Datiyah merampas ponsel Gama dan membantingnya.


"apa sebegitu pentingnya telpon Aira?"

__ADS_1


"Tiyah.... " panggil Gama agak kesal, karena dia benar-benar tidak mengerti apa yang diinginkan Datiyah.


"Kenapa? Kamu marah? Baru saja kamu menolak ku, tapi begitu ada panggilan dari Aira , tidak sampai satu detik kamu sudah mengangkatnya. "


"alasan aku menolakmu, sama sekali gak ada hubungannya dengan Aira, aku mengkhawatirkan kamu. Kamu yang baru pulang dari rumah sakit, bertingkah aneh seperti ini."


Gama meremas rambut dikepalanya, dan mengusap wajahnya karena bingung dengan Datiyah.


Gama menghela nafas panjang, " Baiklah, kita bicara kalau kamu sudah lebih tenang, lebih baik kamu istirahat. Aku akan ke ruang kerjaku."


Gama berbalik dan hendak pergi, tapi Datiyah memeluknya dari belakang dan menangis.


"Kalau kamu pergi sekarang, aku pikir aku akan gila." suara Datiyah sesegukan.


Gama hanya terdiam, membiarkan Datiyah menangis di punggungnya. Setelah beberapa lama Datiyah mulai mereda, Gama membalik tubuhnya dan memeluk Datiyah.


Mereka berjalan menuju tempat tidur dan duduk.


"Kalau kamu sudah siap, kamu bisa cerita."


Datiyah menggelengkan kepalanya, " aku, cuma butuh kamu di sini sekarang."


"Ya sudah, aku akan di sini, lebih baik kamu baringkan tubuhmu." Ucap Gama, sambil membaringkan tubuh Datiyah.


Datiyah menepuk tempat tidur disebelahnya, agar Gama ikut berbaring.


Gama berbaring di samping Datiyah. Dan menatap wajah Datiyah dengan seksama, dan memikirkan, apa yang terjadi pada Datiyah.


Datiyah yang melihat Gama, kemudian mengecup bibir Gama dan tersenyum.


Gama membalas senyumnya, dan mengecup Datiyah, tak lama kecupan berubah menjadi ci*man panas.


Gama yang sejak tadi menahan diri, tak lagi memperdulikan sekitarnya, karena menganggap Datiyah sudah lebih tenang.


Perlahan Gama meraba tubuh Datiyah, Datiyah pun merespon dengan ******* kecil.


"Aku malu, aku mau tetap pakai gaunku" ucap Datiyah, dalam desahannya.


Gama hanya merabah tubuh Datiyah, dan menyingkap gaunnya..


Mereka berdua sudah diselimuti dengan nafsu yang memuncak. Dan mereka pun, masuk ke dalam dunia baru yang pertama mereka rasakan.


Keesokan harinya, Gama terbangun melihat wajah Datiyah yang terbaring di sampingnya.


"Harusnya aku membuat malam pertama kita lebih spesial, dia baru saja pulang dari rumah sakit, dan aku sudah melakukan hal ini padanya. "bathin Gama sambil mengelus pipi Datiyah.


Datiyah, terbangun dengan wajah lelahnya.


Melihat Gama, dia tersipu malu dan. Menutup wajahnya dengan selimut.


" Hhahahahaha, kenapa? " tanya Gama memegang tangan Datiyah.


"Aku malu... " ketika Datiyah mencoba bangun untuk membersihkan dirinya., dia merasakan sakit ketika berdiri.


"aaauchh... "


Gama pun cepat berdiri untuk memegangi Datiyah. Dan kemudian mengantarnya ke kamar mandi.


Gama pun, menurunkan Datiyah ketika sudah di kamar mandi.


"Apa perlu kubantu untuk mandi? " bisik Gama dengan nakal.


Deg... Jantung Datiyah seperti berhenti berdetak. Dan Mengeluarkan tawa yang canggung dan juga terlihat sangat gugup.

__ADS_1


"hah... gak perlu aku bisa mandi sendiri, lebih baik kamu keluar. "ucap Datiyah memaksa.


Melihat tingkah Datiyah, Gama pun keluar tanpa perlawanan.


Setelah membuka gaunnya, Datiyah menyirami tubuhnya, dia menyentuh tubuhnya yang di penuhi dengan bekas luka masa lalu itu.


" Kenapa... Kenapa....? aku ngelakuin hal ini.


Apakah Gama akan tetap menerimaku setelah melihat luka di tubuhku. Luka Yang menjijikan ini. "Batinnya.


Perlahan air matanya mulai mengalir lagi..


Datiyah, sebenanrnya sangat takut kehilangan orang-orang yang dia fikir akan selalu dipihaknya.


Mamanya, Gama , Hendrik dan orang-orang yang beru saja berjanji untuk membantunya.


Jihan, orang yang ingin dia perjuangkan agar bebas dari Anton, Hendrik dan keluarganya. Tapi Sekarang dia tak yakin, apa bisa mempercayai Gama dan menceritakan semuanya. Terlebih, dia memang belum tau pasti, apakah Gama benar-benar tak menyukai Aira lagi.


Setelah mandi, Datiyah melihat saran sudah siap di meja tempat tidur. Gama menatap Datiyah,mencium keningnya dan menuju kamar mandi.


"Kamu boleh sarapan dulu, atau kamu bisa nunggu aku buat sarapan bareng, " ucap Gama sambil berjalan ke kamar mandi.


Datiyah mengangguk, "aku bakalan nunggu kamu."


Datiyah melangkah ke ruang ganti dan mengganti pakaiannya, rapat penting yang akan di adakan hari ini, siang nanti.


Dia merasa gugup, dan sedikit bingung. Apakah masih perlu untuk dia melakukan semuanya, setelah apa yang diucapkan mamanya sendiri.


Lamunannya terpecah ketika Gama keluar, dan menghampirinya.


"apa yang sedang kamu pikirin? " berbisik memeluk Datiyah dari belakang yang sejak tadi masih berada diruang ganti.


"Untung kamu cepat bicara, kalo gak, aku bisa teriak dan mukul kamu." ucap Datiyah sambil tertawa kecil dan membalikkan badannya dan menatap Gama.


"Kamu yakin dengan kita? " tanya Datiyah.


"emm?? " Gama mengamgkat alisnya tak mengerti.


"Maksud kamu?" tanya Gama lagi.


"Kita, hubungan kita. Kamu tau. Bahkan sampe berapa hari yang lalu. Kamu masih.... "


Gama lalu menc*um bibir Datiyah dengan ganas. Datiyah membalasnya, tapi tak lama dia mendorong tubuh Gama untuk berbafas.


"waktu kamu gak sadar di rumah sakit, aku tahu.aku tahu dan yakin Kalau aku gak mau kehilangan kamu lagi. Dadaku seperti sesak. Bayangin kamu yang gak bangun-bangun, meskipun hanya beberapa jam."


"Ayo kita sarapan, aku sangat lapar. " Datiyah lalu mengalihkan pembicaraan. Dia tahu, bahwa tidak ada yang bisa di percaya lagi, meski di dalam hatinya, ia masih ingin berharap bahwa Gama bukan salah satu orang yang akan meninggalkannya.


Stelah mereka berganti pakaian, merekapun sarapan.


Di tengah sarapannya,


"Gama... " panggil Datiyah pelan.


"Hemmm" tanya Gama menatap Datiyah.


Dengan lembut Gana menatap Datiyah, berharap Datiyah akan menceritakan apapun itu pada Gama.


Lama terdiam, Datiyah hanya tersenyum getir.


"Akan kuceritakan nanti. "


Gama tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Sementara itu, di rumah Anton sedang membersihkan sebuah pistol di atas mejanya.


*bersambung.....


__ADS_2