Bolehkah Aku Mencintaimu?

Bolehkah Aku Mencintaimu?
Pria Misterius


__ADS_3

Hendrik yang kesal menarik kerah baju Gama.


"Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Nona Tiyah, aku janji akan menghabisi mu. Aku tak perduli jika Nona Tiyah mencintaimu."


Rendra yang melihat dari jauh apa yang dilakukan Hendrik segera berlari dan melepaskan tangan Hendrik dari leher Gama.


"Apa yang kamu lakukan? Apa kamu sudah gila. Pertama kali, aku membiarkannya karena permintaan Tuan Gama. Tapi sekarang kamu sudah keterlaluan." ucap Rendra yang mencengkram tangan Hendrik dengan keras.


Hendrik yang khawatir dan kesal, memukul wajah Rendra.


"Tuan mudamu pantas diberi pelajaran. Membuat Nona Tiyah menderita karena kebodohannya. Dan sekarang dia menghilang setelah pergi dari kamarnya." jawab Hendrik yang kemudian pergi.


"Saya akan mencari Nona Tiyah, dan menemukannya." Rendra kemudian pergi.


Gama masih termenung setelah mendengar ucapan Hendrik, tentang Datiyah yang mencintainya.


Iya, Datiyah bahkan sudah mengungkapkan perasaannya pada Gama.


Akan tetapi, Gama adalah laki-laki yang masih terjebak dengan khayalan tentang cinta pertamanya.


Sementara itu, Datiyah tengah duduk di atas mobil bersama seorang laki-laki.


"Saya mendengar tentang desas-desus anda mencari saya. Begitu juga dengan Anton."


Datiyah masih terkejut. Dia sampai bisa berada di atas mobil ini, karena seorang gadis kecil menangis meminta tolong untuk menolong kakeknya yang pingsan di atas mobil.


"Kalau begitu, apa perlu saya menjelaskan alasan saya mencari anda? Untuk seseorang yang di cari-cari dan anda memanggil saya dengan cara ini." Jawab Datiyah, meskipun merasa kurang percaya. Tapi ia hanya akan mengikuti alur untuk saat ini.


"Jika anda berkata seperti itu. Saya akan menjelaskan satu hal. Saya ada, untuk membantu anda mendapatkan semua milik anda kembali. Tapi, anda tidak boleh percaya pada siapapun."


"Siapapun? Memangnya anda siapa, aku harus mempercayai semua kata-kata anda. Bukankah anda juga termasuk kategori " siapapun"? Maka aku tidak wajib mempercayai anda."


"Ya, anda benar. Saya termasuk kategori " siapapun" begitu juga asisten anda."


"Kak Hendrik? Aku Bisa percaya padanya."


"Bukankah anda tahu jika tugasnya adalah memata-matai anda?"


"Aku tau sejak awal. Dia sendiri yang mengatakannya. Dia adalah satu-satunya orang yang bisa kupercaya, dan juga Gam... " Datiyah menggeleng.


"Anda tidak mempercayai Tuan Gama?"


"Entahlah. Tapi, jika anda memang mengetahui segalanya. Maka anda juga akan tahu apa hubunganku dan Gama yang sebenarnya."


"Ya, saya mengetahuinya. Meskipun hal itu awalnya tidak ada dalam rencana saya. Tapi dengan pernikahan anda. Bukankah lebih mudah buat anda?"

__ADS_1


Datiyah berfikir sejenak. kemudian mengangguk.


"Ya, mungkin anda benar. Tapi atas dasar apa aku harus percaya pada anda? Dan kenapa baru sekarang? Bukankah Anda katakan, bahwa anda ada untuk membantuku?"


Laki-laki itu pun, menegakkan tubuhnya.


"Anda sendiri tau, bagaimana susahnya menghindari pantauan Anton dan antek-anteknya."


"Baiklah, anggap saja sekarang aku percaya pada anda. Terus apa? Apa yang anda butuhkan dariku?"


"Saya tidak membutuhkan apa-apa. Anggap saja saya seseorang yang membayar hutang pada anda."


"Ini semua sangat tiba-tiba dan membingungkan. Berikan aku waktu untuk berfikir. Dan sepertinya aku sudah pergi terlalu lama." Datiyah kemudian melihat jam di ponselnya dan mengernyitkan dahinya melihat ponselnya yang tak memiliki sinyal.


Dia kemudian mnegarahkan ponselnya ke atas dan memukul-mukulnya.


"Ponsel anda tidak memiliki koneksi sejak anda memasuki mobil ini. Dan pastinya, orang-orang mengkhawatirkan anda."


"Apaaaa?? " Datiyah sangat terkejut.


"Aku harus segera kembali. Pasti mereka mencariku." ucap Datiyah sambil keluar dari mobil.


"Nona, pertemuan ini harus anda rahasiakan. Dan jika anda sudah selesai berfikir. Saya akan menghubungi anda."


Laki-laki itu tersenyum, "kita akan tau begitu tiba waktunya."


"Baiklah kalau begitu." Datiyah langsung turun dari mobil. Dia berjalan melihat sekelilingnya.


Kemudian dia berfikir apa yang harus dia lakukan. Pertemuan yang harus dia rahasiakan.


Akhirnya, perlahan ia memutuskan untuk berjalan pelan ke arah pantai. Disana sudah ramai orang yang mencari Datiyah.


"Nona Datiyah?" tanya seorang petugas.


"Kenapa?"


"Kami sudah mencari anda sejak tadi. Saya akan laporkan pada Tuan Gama."


"Tidak usah, aku akan langsung menemuinya."


Tak menghiraukan ucapan Datiyah, petugas hotelpun mengabarkan ketemunya Datiyah, ke petugas hotel lain dan sampai di telinga Gama.


Datiyah yang berjalan ke arah kamar, tak melihat seseorang lari dari arah belakang memeluknya.


"Maafin aku." ucap Gama membenamkan wajahnya ke arah leher Datiyah, membuat tubuhnya bergetar.

__ADS_1


"G... G.. Ga.. ma?? " Datiyah yang masih sedikit terkejut, hanya bisa menyebut nama Gama terbata-bata.


"Maafin aku." hanya itu yang bisa diucapkan Gama.


Sementara itu, laki-laki lain yang juga sangat khawatir hanya bisa mengepalkan tangannya melihat Gama memeluk Datiyah.


Hendrik berbalik merasa lega, melihat Datiyah baik-baik saja.


"Gama, aku baik-baik aja. Seharusnya aku yang tidak boleh emosi dengan masalah sepele seperti itu." sambil ia melepaskan pelukan Gama dari tubuhnya.


Meskipun jantungnya berdegup kencang karena dipeluk Gama, tapi ia tak mau membiarkan dirinya jatuh lebih dalam lagi untuk Gama.


"Aku mau kasi tau Kak Hendrik dulu. Dia pasti khawatir banget." tanpa ingin mendengar kata-kata Gama, Datiyah pun berjalan agak cepat.


Gama yang melihat Datiyah pergi merasa lega dan cemburu.


"Apa dia fikir cuma Hendrik yang merasa khawatir? Jantungku rasanya mau copot ketika semua orang tak menemukannya." batin Gama sambil menghela nafas.


Sementara itu Datiyah mencari Hendrik di kamarnya. Padahal sejak tadi, Hendrik mengikutinya dari belakang untuk menjaganya.


Hendrik sedikit tersenyum, tau Datiyah melepaskan pelukannya karena ingin mencari Hendrik.


"Apa Nona mencari saya?" tanya Hendrik yang membuat Datiyah kaget.


"Saya tau Nona sudah kembali. Jadi saya ada dibelakang Nona sejak tadi." lanjut Hendrik.


"Kakak pasti khawatir, maafin aku yah. Aku tadi... " Datiyah menghentikan ucapannya, mengingat apa yang dikatakan laki-laki tadi. Dan dia bingung, harus sampai mana dia memberitahu Hendrik.


kArena baginya, Hendrik adalah satu-satunya orang yang bisa ia percaya.


"Aku gak mau bohong sama kak Hendrik. Aku akan kasi tau kalau aku sudah siap." lanjut Datiyah.


Hendrik mengangguk.


"Kalau begitu, silahkan Nona istirahat. Jika ada apa-apa Nona bisa memanggil saya."


Setelah itu, Hendrik mengantar Datiyah sampai depan kamarnya dan kembali ke kamarnya.


"Kenapa lama sekali kamu kembali?" Tanya Gama pada Datiyah yang masih memegang gagang pintu.


Gama berdiri lalu berjalan memeluk Datiyah dengan erat.


Datiyah terbelalak, tak bisa berkata apa-apa. Dan jantungnya berdegup dengan kencang.


bersambung........

__ADS_1


__ADS_2