
"Aku rasa kamu harus pergi, maka aku akan merasa lega dan tak perlu merasa bersalah pada Datiyah. Hal yang harusnya sejak awal kulakukan setiap aku punya kesempatan."
"Dddduuuuaaarrrr .. Duaarrrr... Duarrrrrr..... "
Semua orang yang berada di lantai itu terkejut, mendengar suara itu.
Polisi langsung berlari memeriksa kamar.
Datiyah, yang masih di sekitar lobi pun berlari ke arah kamar.
Anton langsung kehilangan nyawanya di tempat. 3 peluru melubangi dadanya.
Tangan Jihan bergetar hebat, memegang erat pistol di tangannya. Darah sudah memercik ke arahnya.
Polisi langsung menangkap Jihan dan mengamankan senjata di tangannya.
Dia hanya diam dan pasrah. Datiyah melihat semua yang ada di hadapannya.
"Mamaa..... " panggil Datiyah, air matanya mengalir dia menggeleng tak percaya.
Jihan menangis dan tersenyum, "Sekarang, kamu gak perlu khawatirkan apapun lagi."Sembari polisi menyeretnya pergi.
Datiyah menggeleng, " Bukan, bukan begini yang Tiyah mau mah. Mamaaaa.... " Datiyah berteriak memanggil Jihan yang di bawa polisi.
"Apa yang terjadi? Tante?" Gama menghalangi polisi yang membawa Jihan.
"Maaf, pak. Biarkan kami lewat." Polisi itu mendorong Gama dan melewatinya.
Gama berlari ke arah Datiyah yang bersandar lemah di pintu kamar Anton.
Beberapa polisi sudah menutup pintu kamar untuk melindungi TKP.
"Tiyah..... "
"Gama.... Bukan ini yang aku mau. " Datiyah menangis.
"Ayo, kita kembali ke kamar." Gama menggendong Datiyah dan meletakkannya di kursi roda.
Setelah meletakkan Datiyah di tempat tidur, Gama mengambilkan minum agar membuat Datiyah lebih tenang.
"Kenapa mama dibawa polisi? Apa yang terjadi di sana? "
Datiyah melamun, tak menjawab Gama.
"Aku tidak menginginkan hal ini. Aku tau kematian Anton akan membawa kedamaian untuk semuanya. Tapi tidak dengan membuat mama jadi pembunuh." Batin Datiyah.
"Tiyah? " panggil Gama karena tak di respon.
"Anton sudah mati, dan mama yang menembaknya."
"Apaaa?" Gama terkejut.
"Aku perlu menelpon seseorang"
Datiyah menelpon Pak Fadil dan meminta bantuannya menyelesaikan semuanya.
"Apa kamu gak perlu ke kantor? Atau Menemui seseorang?" tanya Datiyah
"Aku ambil cuti 1 minggu, buat nemenin kamu. Bagaimana kemajuan Hendrik?"
"Dia sudah di pindahkan ke ruangan rawat biasa. Dan Sudah mulai merespon. Jadi kata dokter gak lama lagi dia bakalan siuman."
__ADS_1
"Syukurlah, apa badanmu udah gak sakit lagi?"
"udah nggak."
Gama mendekat ingin melihat luka Datiyah.
"Mau apa kamu? " Datiyah marah karena tau ke mana tujuan Gama.
"Aku cuma ingin periksa lukamu."
"Gaaak... Jangan, gak usah. kamu juga gak ngerti apapun tentang mengobati luka kayak gini. " Ucap Datiyah sambil memegang bajunya dengan erat.
".... Mmmm... jujurnya, aku sudah melihatnya. " Gama ragu apakah harus memberi tahu Datiyah tentang bekas luka yang dilihatnya.
"Apa? Apa Yang sudah kamu lihat?"
"Hal yang selama ini kamu sembunyikan. Sampai-sampai malam pertama kita kamu menyembunyikannya."
"Kenapa? Kamu menyesal melakukannya dengan wanita rusak sepertiku? "
"Bu.. Bu...bukan... Bukan Itu maksudku. Bagaimana bisa kamu menyebut dirimu wanita rusak?" Gama terbata karena terkejut dengan ucapan Datiyah, padahal dia sama sekali tak bermaksud untuk membuat Datiyah tersinggung ataupun merasa jijik dengan tubuh Datiyah.
"Sudahlah, lebih baik kamu pergi mengurus perusahaanmu. Aku akan mengurus punyaku bersama pak Fadil."
"Aku akan jaga kamu sampai kapanpun. Dan om Fadil. Kenapa dia bisa bantu kamu. Sejak kapan kalian berhubungan?"
Datiyah tak ingin menjawabnya. Karena Gama memang sama sekali tak tahu tentang ayahnya yang berkhianat pada orang tua Datiyah, dan juga pada Mutia.
Alasan Fadil membantunya karena permintaan Harry padanya.
"aku gak perlu menjawab semua pertanyaanmu kan?" jawab Datiyah.
"Gama," panggil Datiyah pelan.
"Semua kejadian ini, terlalu banyak untukku. Kematian mamanya kak Hendrik, Hendrik yang masih belum sadar, Anton yang meninggal di tambah mama yang sekarang di tangkap polisi. Aku, benar-benar serius waktu aku bilang aku sudah gak butuh kamu lagi. " ucap Tiyah berkaca-kaca,
Meskipun tak menunjukannya. Dia sangat senang Gama di sisinya beberapa hari ini.
Karena dia benar-benar tak mempunyai siapapun untuk menemaninya atau menjaganya saat ini.
Ketika Jihan menjaganya, dia pikir Jihan akan terus menjaganya, tetapi Jihan malah pergi dari sisinya dengan cara yang tak ia duga.
"Kamu bisa pergi, sebentar lagi pak Fadil akan datang bersama perawat pribadi."
"Kalau begitu, aku akan menunggu om fadil dan perawat mu datang." Gama lalu duduk di sofa.
Tak lama kemudian Pak Fadil datang bersama seorang asisten, dan juga perawat pribadi untuk Datiyah.
"Tuan Muda, sudah lama kita tidak bertemu." Fadil bersalaman dengan Gama.
"Om, gak perlu panggil saya Tuan Muda. "
"Tiyah, aku pergi sekarang. Om, aku titip Tiyah. Dan tolong hubungi saya kalau ada apa-apa." Gama lalu memberikan kartu namanya pada perawat pribadi Datiyah.
Gama langsung pergi menuju kamar Aria, yang berada masih satu lantai dengan Datiyah.
"Mama, mau tau tentang om Fadil? Sekarang dia sedang dikamar Tiyah, dan yang membantu Tiyah itu om Fadil." Gama menelepon Mutia dalam perjalanannya ke kamar Aira.
"Mama, gak tau jelasnya seperti apa. Ya udah, nanti mama ke situ." Mutia lalu mematikan telepon.
"Terimakasih sudah membantu saya. Tuan Fadil." ucap Datiyah.
__ADS_1
"Untuk sementara waktu, saya akan mengurus perusahaan untuk anda, anda fokus saja dengan kesehatan anda. Dan asisten anda juga sudah mendapatkan perawat pribadi. Karena ibu anda sedang berada di penjara, Adik anda akan kami titipkan di rumah Tuan Gama, apakah itu tidak apa-apa." ucap Asisten yang di tunjuk untuk membantu Datiyah.
"Raka pasti kaget banget, kalau tak apa. Aku mau Raka di sini saja sama aku. Karena dia pasti ketakutan dengan orang baru."
"Baik Nona."
"Apa ada yang lain perlu aku tau?"
"Sebulan lagi, akan di adakan acara pelantikan untuk Nona. Menilai luka Nona todak cukup serius. Tapi jika memang Nona masih membutuhkan waktu, maka kita bisa menunda acaranya. Karena nona belum di lantik, jadi yang mengurus urusan kontrak dan yang lainnya kami serahkan kepada wakil pimpinan."
Datiyah mengangguk.
"Aku rasa, satu bulan cukup untuk menyiapkan pemakaman dan yang lainnya."
"Dan tentang, Nyonya Jihan. Saya takut, tidak ada yang bisa kita lakukan selain menunggu sidang."
"Baiklah, aku mengerti."
"Kalau begitu , saya akan menuggu di luar jika anda butuhkan." ucap asisten itu pergi.
"Tunggu, namamu?"
Fadil menggeleng.
"bukankah harusnya itu yang harusnya di tanyakan sejak awal? "
Datiyah hanya mengernyir.
"Namanya Arvina, dia sudah bekerja 7 tahun dengan saya. Saya akan meminjamkannya pada anda. Begitu Hendrik sadar, saya akan mengambilnya kembali." ucap Fadil bercanda.
"Hemmm... Apa tidak bisa saya dia menjadi asisten saya. Dia tegas dan lugas. Dan sebenarnya Kak Hendrik adalah pengawal saya, dan saya membutuhkan asisten."
"hahahaha... Tentu saja, kalau dia setuju. Saya akan menyuruhnya melamar di kantor anda."
Tiba-tiba pintu kamar terbuka,
"Mutia...?" ucap Fadil.
"Bagaimana bisa, bang Fadil terlibat dengan hal ini? Dan sejak kapan kalian saling mengenal." tanya Mutia heran dengan turut campur Fadil dalam keluarga Sugesti.
"Duduklah dulu. " ucap Fadil menenangkan Mutia.
"Sebenarnya, ini semua adalah keputusan Harry. Kamu tau, bagaimana dia terserang kanker, dia sangat menyesal karena mengkhianati Fuad, Jihan dan juga kamu. Dia Datang padaku dan memohon agar membantunya mengembalikan semua milik Jihan dan membebaskan mereka."
"Kenapa sekarang?"
"Kamu tau, Anton dan antek-anteknya terlalu licik untuk aku bisa melawan tanpa persiapan yang matang. Dan ini, adalah pesan terakhir Harry untuk anak-anaknya jika kelak kamu bersedia mereka membacanya." Fadil memberikan 3 buah surat, untuk Mutia, Gama dan Gina.
" Tidak, aku tidak butuh surat itu, Dia sudah mengkhianati banyak orang, dan dia ingin pergi dengan tenang." Mutia marah dan membuang suratnya.
"Pertama dia membantu Anton membunuh suami dan Ayah Jihan, setelah itupun dia tak mau membantu Jihan, di tambah pengkhianatan nya padaku."
"Mama mutia..." panggil Datiyah pelan berusaha menenangkan Mutia.
"seandainya dia membantu Jihan saat itu, gadis itu tidak akan menderita seperti itu. Tidak, seandainya dia tidak ikut serta dalam rencana kematian Tuan Gunawan dan Fuad, maka semua ini tidak akan terjadi."
"Mutia, dia tidak pergi dengan tenang, di akhir hayatnya dia menahan rasa sakit sendirian merindukan kamu dan anak-anaknya. Tapi, dia tau tak punya hak untuk meminta anaknya hadir di akhir hayatnya." Fadil ikut emosi.
"Apa maksud semua ini? " Tanya Gama yang membuka pintu.
...****************...
__ADS_1