
Bisakah rahasia menjadi suatu rahasia ketika ada banyak orang yang mengetahuinya.
Hal-hal yang tak ingin kau sampaikan pada orang-orang tertentu.
Hal-hal yang akan membuatnya mengubah cara pandangnya terhadapmu begitu mengetahuinya.
Pagi sekali, pukul 5 pagi. Aira mendengar pintu kamar hotelnya di ketuk.
"Siapa sih pagi-pagi begini?" Dia bangun dan mengintip dari peephole pintu kamarnya.
"Tante Monica?" Dia pun membuka pintunya.
Monika masuk tanpa dipersilahkan, dan lansung duduk di sofa kamar yang mewah itu.
"Wah, apa semua asisten keluarga Kencana itu kurang ajar? masuk tanpa dipersilahkan." ucap Aira memutar bola matanya dan menyilangkan kedua tangan di dadanya.
"Duduklah. Ini bingkisan dari Nyonya." Monica menyodorkan kotak kecil berisi gambar, yang sama sekali dan seharusnya tak boleh diketahui oleh siapapun.
Aira duduk dan membuka kotaknya. Mata Aira membelalak, nafasnya terhenti.
"Nyonya bilang. Jangan pernah bertemu Tuan Gama lagi. Jika kamu masih menemuinya. Aku yakin kamu tahu apa yang akan terjadi."
Akhirnya air matanya keluar.
"Kenapa kalian tega sama aku. Kenapa?"
"Tega? Aira, apa kamu lupa apa yang nyonya lakukan untukmu sebelum kamu pergi? Nyonya tidak membencimu, kamu harusnya berterima kasih pada Nyonya."
"Berterima kasih? setelah dia mengusirku? Hah, kalian semua sangat lucu."
10 tahun yang lalu, malam hari sebelum hari kelulusan Aira. Mutia memintanya bertemu di cafe yang dekat dengan komplek rumah mereka.
Aira masuk dengan tersenyum. Karena sejak 2 tahun sebelumnya. Mutia mulai bersikap dingin padanya.
"Tante ada apa minta aku ke sini?"
Mutia menutup matanya dan menghisap nafas dalam-dalam.
"Aku minta kamu segera pergi dari rumahku. Aku sudah cukup lama bertahan.
Aku harap kamu mengerti."
"Tante, tapi aku cinta sama Gama. Aku peng....."
"Stop Aira. Berhenti bicara tentang cinta. Itu bikin aku muak. Aku sudah bertahan dengan kamu selama 2 tahun di rumah itu. Aku sudah menunggu hari kelulusanmu. Di mana kamu bisa meninggalkan rumah kami setelah tamat sekolah." Mutia berusaha menahan emosinya, sedangkan kepalanya sudah mulai berdenyut.
Mutia lalu mengeluarkan buku tabungan di depan Aira.
"Aku membukakanmu buku tabungan dan memberikanmu cukup banyak. Kamu akan bisa kuliah dengan uang segitu. Kamu bahkan bisa beli rumah dengan uang itu. Bukalah."
__ADS_1
"Tante, aku gak mau ini. Aku cuma mau bareng sama Gama. Aku cinta sama Gama." ucap Aira mendorong buku tabungannya dan ingin meraih tangan Mutia. Tapi cepat Mutia menarik tangannya.
"Aku minta kamu pergi besok. Monic susah mengemas pakaian kamu. Kamu tinggal membawanya. Aku gak perduli kamu pergi ke mana. Satu yang pasti, jangan pernah lagi menginjakkan kakimu di rumah keluarga ku."
"Apa sebegitu bencinya tante sama aku?"
"Aku bilang, Aku gak benci sama kamu. Hanya saja berada satu atap dengan kamu rasanya menyesakkan. Darahku rasanya mendidih setiap hari. Semua bayangan masa itu kembali ke hadapanku setiap aku melihat wajahmu." Mutia langsung beranjak pergi.
Aira menangis sesegukan di dalam kafe lumayan lama. Dia melihat buku tabungan yang ada di hadapannya.
Ketika dia membuka dan melihat isinya. Dia sudah jadi jutawan.
Meskipun begitu, ia memegang dadanya yang rasanya sesak. Karena dia tahu dia sangat mencintai Gama dan tidak bisa bertemu dengannya lagi.
Mungkin orang-orang akan menganggap cinta mereka hanyalah cinta monyet. Tapi tidak.
Aira yang sedih setelah perceraian orang tuanya, Ibunya yang menghilang, dihibur oleh kehadiran Gama.
Dan Gama yang sedih setelah kematian Ayahnya, di hibur oleh kehadiran Aira.
Kesibukan Gama, dan kelelahan Gama. Aira ingin terus berada di samping Gama. Menyemangatinya sebagaimana Gama menghibur dan menyemangatinya.
Karena itu ia memilih menjadi artis, meskipun dia tidak bisa menghubungi Gama, tapi Gama akan tahu di mana dia berada.
Tapi setelah muncul sebagai artis pun, ia merasa takut menemui Gama, padahal ia juga menunggu Gama datang menemuinya.
Sekarang ia sangat gusar, Monica dan Mutia mengancam kehidupannya.
"Kamu harusnya berterima kasih pada Nyonya tidak langsung membeberkannya tapi hanya menitipkan salam padamu."
"Salam, apa ini yang namanya salam. Ini namanya mengancam."
Monica lalu berdiri. "Well, apapun sebutannya, yang penting kamu mengerti pesannya." Dan meninggalkan kamar Aira.
Begitu Monica keluar, Aira merasa sangat marah, ia merusakkan dan melempar benda-benda yang ada dalam kamarnya.
"Setelah apa yang aku lakukan untuk sampai sini. Aaaahhhh!!" Dia menangis dan berteriak.
Sementara itu, di kediaman Kencana.
Seperti biasa, keluarga Kencana sarapan bersama.
"Ma, aku harap mama akan bisa terima Aira. Karena apapun yang Mama ucapkan, aku gak mau lagi melepas Aira untuk kedua kalinya."
Mutia meletakkan sendok dan garpunya. Kemudian menghela nafasnya.
"Jadi, kamu akan membuang keluargamu demi Aira?"
"Whaaaat?" ucap Gina tiba-tiba muncul di meja makan.
__ADS_1
"Aira? Aira artis itu. Airanya kak Gama?" tanyanya kaget.
Gama tersenyum bangga.
"Iya, dia makin cantik kan?"
"No.. No.. No. Aku gak bakalan setuju dia jadi kakak iparku. Aku dukung Mama."
Muka Gama langsung berubah masam menatap adiknya.
"Gina! kalau kamu gak sarapan, pergi saja ke kampusmu."
Gina mengerti, mamanya menyuruhnya berangkat karena pembicaraan dengan kakaknya.
"Bye Mah." mengecup pipi mamanya.
Gina adalah gadis yang cantik dan ceria. Meski mamanya berubah menjadi lebih dingin Tapi ia tahu, setiap malam sebelum tidur, mamanya akan memperbaiki selimutnya dan mengecup keningnya.
Tak jarang ia juga mendengar mamanya menangis pelan. Entah karena merindukan suaminya atau karena hal lain.
Sebagai gadis yang cerdas, tentu saja ia menyadari perubahan mamanya. Karena itu, tak perduli seberapa pun mamanya bersikap dingin, ia akan membalas dengan sikap cerianya. Karena memang seperti itu lah dia.
"Mama sudah mengatur pertemuanmu dengan anak kenalan Mama dari galeri. Dia sangat cocok buat kamu." Ucap Mutia melanjutkan percakapan.
"Ma, mama tau aku gak akan bisa sama dia. Atau sama siapapun yang mama jodohkan. Aku masih dan sangat mencintai Aira."
"Cinta? itu akan pudar seiring berjalannya waktu. Dan datang di lain waktu"
"Ma!"
"Kalau kamu ingin lihat mama mati, kamu boleh menikah dengan dia. Tapi jangan hadir ke pemakaman mama."
"Ma, kenapa mama harus bicara seperti itu?"
"Mama gak perduli kamu menikah dengan siapa, asalkan jangan dengan dia."
"Aku akan tetap pilih Aira."
"kamu tahu kan, mama juga serius dengan ucapan Mama. Begitu kamu membawanya ke rumah ini. Kamu akan kehilangan keluargamu. Dan kamu bisa hidup dengan cintamu.
Tapi ingat Gama, begitu kamu berpaling dari keluargamu. Itu adalah suatu kesalahan besar.
Mama adalah jenis perempuan yang begitu di khianati tidak bisa memaafkan. Apalagi itu adalah anakku sendiri."
Gama tahu Mutia serius dengan kata-katanya. Dia hanya diam.
Yah, Mutia adalah perempuan yang ceria dan lembut seingat Gama.
Tapi sekarang dia memiliki aura yang sangat berbeda dengan dulu.
__ADS_1
"Aku akan membuat mama bisa menerima Aira. Aku akan membuat kalian berdua berdamai. Meskipun aku gak tau kenapa Mama bisa beraikap begini terhadap Aira." Batin Gama.
*bersambung......