Bolehkah Aku Mencintaimu?

Bolehkah Aku Mencintaimu?
Terlambat


__ADS_3

Sejak saat itu, Rendra sudah memutuskan untuk melindungi Gama dan Gina. Dan seluruh keluarga Kencana. Meskipun saat itu, ia hanya berusia 25 tahun. Ia sudah dilatih dan terbiasa dengan tugas-tugas yang biasa dilakukan oleh asisten sebelumnya.


Dan sekarang, ia menyimpan perasaan pada Nona Mudanya.


Gama dan Mutia sendiri tidak pernah mengomentari apapun yang dilakukan atau diucapkan Gina pada Rendra. Baik itu memberikan hadiah atau sekedar mengucapkan kata rindu pada Rendra dihadapan keluarga lainnya.


Entah karena mereka mempercayai Rendra atau memang menyetujui perasaan Gina.


Tidak seperti biasanya Gama dan Datiyah terlambat bangun. Semua orang sudah menunggu di meja makan.


Rendra pun memutuskan pergi ke kamar Gama. Ketika Hendrik hendak bangun, Rendra melarangnya.


"Biar aku saja. Membangunkan 2 orang dalam satu kamar tidak perlu banyak orang." ucap Rendra yang langsung menuju kamar Gama.


Hendrik hanya bisa pasrah dan kembali duduk di kursinya.


Gina menggeleng dan menghela nafas, "Heeehh, memang sulit menyimpan perasaan pada orang yang tidak bisa dimiliki."


Hendrik melihat ke arah Gina, tak ingin menanggapi. Ia memilih melihat piring dihadapannya.


Rendra mengetuk pintu kamar Gama. Tapi tidak ada jawaban.


Ketika Rendra hendak membuka pintu kamar dia jadi ragu-ragu.


"Mereka tidak akan melakukan apa-apa kan? Seandainya mereka melakukannya. Tidak ada masalah. Toh mereka adalah suami istri. Tapi bagaimana kalau aku masuk dan mereka...." cepat dia menggeleng.


Dia memutuskan untuk mengetuk lebih kencang. Tiba-tiba ponselnya masuk pesan.


"Masuklah, jangan berisik!" isi pesan Gama pada Rendra. Rendra pun masuk dengan perlahan dan sedikit berjinjit seperti maling.


Di dalam kamar, ia melihat Gama sedang duduk di atas karpet dan bersandar di kursi, setelah dia melangkah lagi, dia melihat kepala Datiyah di atas paha Gama dan meringkuk.


Gama langsung meletakkan telunjuk dibibirnya menyuruh Rendra agar jangan berisik.


"Ambilkan bantal." ucap Gama sambil berbisik dengan gerakan bibir yang jelas.


Setelah Rendra mengambilkan bantal, Gama mengangkat kepala Tiyah dengan perlahan.


Dia tersenyum setelah melihat Tiyah tidur dengan nyaman. Dia pun bangun dengan perlahan.

__ADS_1


Setelah mandi dan berganti pakaian dia keluar dari kamar dan sudah di tunggu Rendra.


"Apa tuan tidak perlu memindahkan Nona ke atas tempat tidur?"


Gama menggeleng." Tidak, sepertinya dia lebih nyaman tidur seperti itu. Biarkan dia tidur lebih lama. Karena semalaman dia tidak tidur." Gama tidak ingin melihat Datiyah histeris seperti waktu itu.


Gama langsung menuju meja makan.


Hendrik berdiri ketika tidak melihat Datiyah berjalan menuju meja makan.


"Nona sedang tidur. Jadi kamu tunggu aaja sampai Nona bangun." ucap Rendra yang berjalan ke meja yang berhadapan dengan Hendrik.


"Apa Nona sedang sakit? Nona Tiyah tidak pernah tidur hingga pagi hari." tanya Hendrik khawatir karena Datiyah selalu bangun tepat waktu , tidak perduli jika ia tidak tidur sekalipun.


"Dia baik-baik saja. Kamu tidak usah khawatir." Gama mulai gusar melihat tingkah khawatir Hendrik yang berlebihan terhadap Datiyah.


Mutia masih tidak makan di meja makan yang menandakan bahwa dia belum siap membicarakan masalah Harry dengan putranya. Entah kenapa, Gama merasa sedikit lega, karena dia sekarang sedang menikmati waktunya.


Setelah semua orang sudah berangkat kerja. Hendrik berdiri di depan kamar Gama menunggu Datiyah bangun. Berselang 1 jam lebih, pintu kamar terbuka.


"kak Hendrik? Kakak dari tadi di sini?" Tanya Datiyah agak terkejut.


"Maafin aku, aku ketiduran. Kelamaan main game." Dia menunjukkan senyumnya dan sedikit rasa bersalah pada Hendrik yang menunggunya.


"Lebih baik, nona sarapan dulu. Saya akan menunggu di perpustakaan." Hendrik berlalu ke perpustakaan. Dan Tiyah pergi sarapan.


"Tante? Tante baru sarapan?" Tanya Datiyah yang melihat Mutia di meja makan.


"Iya, kamu juga?"


"Iya, saya ketiduran tadi." dengan senyum cengengesan.


Setelah duduk dan mulai menyantap makanannya.


"Gama gak bilang apa-apa ke kamu?"


"Tentang apa Tan?" Datiyah bertanya polos.


Mutia menghela nafasnya.

__ADS_1


"Bukan apa-apa." Mutia lalu berdiri dari kursinya, tapi langkahnya terhenti dan melihat Datiyah.


"Bagaimana perasaanmu? Menikah dengan laki-laki yang tidak mencintaimu? Dan dia hanya menunggu waktu sampai kembali pada kekasihnya?"


Datiyah terkejut dengan pertanyaan Mutia. Dan menjawabnya sambil tersenyum.


"Saya dan Gama hanya teman, kami tau batasan kami. Kami sudah menyepakati semuanya. Lagipula saya tidak mau ikut campur urusan cinta Gama dan Kak Aira.


saya dan Gama gak lebih dari teman, dan aku bantu dia sampe dia berhenti butuh bantuanku. Karena sejujurnya saat ini, dia juga membantuku."


Mutia melihat Datiyah dengan dalam. Dia menggeleng.


"Tapi, apa kamu tau? Cinta juga bisa hadir karena terbiasa. Jika kamu tidak ingin terluka, jangan jatuh cinta sama dia. Karena dia, termasuk orang yang mengikat diri dengan kenangan masa lalu."


"maksud Tante apa?" Mutia tersenyum.


"Tante harap, kamu bisa menjaga hatimu. Karena itu, sejak awal tante gak mau dia bawa orang lain dalam hubungannya meminta restu untuk Aira. Memang tante yang mendorong dia berbuat demikian. Tapi tante gak sangka kalau akan sampai menikah." Mutia menggeleng.


Ia sangat mengenal sifat putranya. Yang sulit untuk melepaskan masa lalu. Karena apa yang diingat putranya adalah masa bahagia bersama Aira, tapi tanpa sadar membawa wanita lain untuk dilukai.


Sifat yang sama yang juga dimiliki Mutia. Ia mengerti dengan keadaan hati Gama yang merindukan Aira dan masih mencintainya. Karena mereka tidak sempat mengakhiri perasaan mereka saat itu.


"Apakah jika aku memutuskan untuk memaafkan Harry, hatiku takkan sesakit ini?" Batin Mutia yang masih dan selalu memikirkan mendiang suaminya.


Sekarang, Gama sudah mengetahui tentang ayahnya dan Amira. Tapi, ia tahu bahwa Gama akan mempertahankan Aira berada di sisinya.


Karena ia juga tahu, kalau Aira tidak terlibat.


Seperti halnya, dia masih ingin mempertahankan Harry, meski tak ingin melihat wajahnya.


"Tante gak usah khawatir, saya dan Gama merasa seperti balik waktu kecil. Bercanda layaknya sahabat. Dan aku sangat tau dan mendukung hubungan mereka. Meskipun aku gak tau, apa alasan pasti tante menolak kak Aira." Datiyah tersenyum, mengingat kegiatan yang membuat ia bahagia tanpa beban bersama Gama.


Dan Mutia melihatnya sebagai alarm bahaya untuk Datiyah. "Hanya, jangan menyukai ataupun jatuh cinta pada Gama. Kamu akhirnya adalah orang yang akan tersakiti."


Datiyah hanya tersenyum, berusaha meyakinkan Mutia kalau dia tidak akan jatuh cinta pada Gama. Karena memang, dia sendiri tidak tahu, jatuh cinta itu seperti apa. Ia hanya tau, bahwa ia akan melindungi orang-orang yang ia perdulikan dan sayangi.


Jihan, Raka, Hendrik, hampur semua pembantu di rumah Sugesti dan sekarang Gama juga menjadi salah satunya.


*bersambung......

__ADS_1


__ADS_2