Bolehkah Aku Mencintaimu?

Bolehkah Aku Mencintaimu?
Pamit


__ADS_3

Semua orang terkejut, melihat mereka berdua yang pulang lebih awal dari yang mereka rencanakan.


Setelah mereka turun dari mobil, sebuah mobil di belakang mereka berhenti. Dan Aira keluar dari mobil itu.


"Aira? " ucap Gama dan Datiyah bersamaan dan saling melihat.


Datiyah melihat Gama dan mengerutkan dahinya.


Gama membuka mulut dan mengangkat bahunya.


"Apa kalian tak akan mempersilahkan aku masuk? " Ucap Aira memecah keheningan.


"Masuklah, silakan masuk." Gama gugup, dan terus menatap Datiyah. Karena dia benar-benar tidak tahu alasan Aira datang.


Datiyah hanya tersenyum heran pada Aira.


Aira langsung duduk di ruang tamu.


"Sebenarnya aku gak tau kalau kalian di sini." melihat Gama dan Datiyah.


Karena memang mereka lebih sering di kediaman Sugesti karena Raka lebih nyaman di sana.


"Iya, memang kami lebih sering di sana.


Ada keperluan apa kak Aira ke sini. " Tanya Datiyah penasaran.


"Ahh... Aku hampir lupa. Aku sebenarnya mau pamit sama tante Mutia."


"Pamit? " tanya Gama.


Datiyah langsung melihat Ke arah Gama. Gama menelan liurnya dan tersenyum pada Datiyah.


Aira tersenyum.

__ADS_1


"Ternyata kamu pencemburu juga yah.? " Aira berusaha mencairkan suasana.


"ehhhmmm..... Apa iya? hehehehhe.. " Datiyah tertawa canggung


"Aku akan kembali ke luar negeri lagi. Aku merasa, kehidupan di sini gak cocok buat aku."


"Kembali? Ke tempat kamu di jual? " tanya Datiyah keceplosan.


"bukan.. Bukan... Di antara mereka bertiga, ada satu yang sangat baik padaku, sejak awal bertemu sampai saat ini.. Dan mungkin Gama benar, apa yang aku rasakan bukan lagi cinta."


"Apa kak Aira yakin akan kembali dengan laki-laki itu? " Datiyah terlihat khawatir.


"Sejujurnya, aku gak tau. Tinggal bareng mama selama 2 bulan, semuanya terasa canggung. Dan semua orang sepertinya terlihat sudah move on dan sibuk dengan hidup mereka masing-masing." Aira tersenyum getir.


"Aira, apakah kamu sudah memikirkannya matang-matang?" Gama. Menanyakan hal yang sama.


"Iya Gama, Datiyah, gak usah khawatir. ngomong-ngomong Tante Mutia mana?"


"Nyonya sedang mengunjungi galerinya, dan kemungkinan tidak akan kembali sampai malam nanti." Arvina menjawab.


"Emmm... Kalau begitu aku akan langsung pergi. Maaf menganggu kalian. Dan semoga kalian bisa langgeng sampai tua. Gama, jangan bimbang lagi sama perasaanmu."


Gama mengangguk.


Datiyah lalu memeluk Aira.


"Terimakasih dan maaf. Kalau kak Aira ada masalah, kakak bisa hubungi aku. Jangan hubungi Gama langsung." Datiyah melepaskan pelukannya sambil tertawa. Dan Aira membalas tawanya.


Sejujurnya, Datiyah agak merasa bersalah.


Seandainya jika Gama dan Datiyah tidak memutuskan untuk menikah, apakah ada kemungkinan Aira bisa kembali ke pelukan Gama? Ataukah mereka akan berakhir begitu saja karena rasa cinta yang sudah berubah?


Aira lalu pergi meninggalkan mereka.

__ADS_1


Gama langsung mengajak Datiyah ke kamar.


"Siapa yang harus kita kabarkan lebih dulu? Mama? Tapi masih lama mama pulang, atau tante Jihan. Tapi kasi tau lewat telepon, seperti ada rasa yang kurang. Atau... "


"ssssstt.. Gama..Gama.. Pelan-pelan, kita bisa kasi tau keluarga nanti malam. Semuanya sekaligus. Dan kita akan mengunjungi mama Jihan besok.


Setelah makan malam, mereka memberitahu semua orang, bahwa Datiyah hamil dan mereka akan menjadi orang tua.


Semua orang merasa bahagia dan gembira untuk mereka.


Datiyah, masih memiliki ketakutan dalam hatinya.


Mencintai Gama sepenuh hatinya, apakah Gama akan berubah? Bagaimana kalau Gama berubah?


Tapi dia juga sadar, mengkhawatirkan hal seperti itu hanya akan membuat hatinya selalu meragukan Gama.


Ketika tiba saat itu, dia hanya berharap hatinya akan kuat.


Mutia, sudah mulai memaafkan Harry dan mulai menjenguk makamnya bersama anak-anaknya. Dia Sadar, bahwa tak ada gunanya membenci seseorang yang sudah tiada.


Kehidupan memang akan selalu dipenuhi dengan kejutan, rasa sakit, bahagia.


Datiyah juga memutuskan melepaskan masa lalu kelamnya. Dan memutuskan untuk menghilangkan bekas luka pada tubuhnya. Dia menjual rumah Sugesti.


Datiyah dan Gama memilih membeli rumah baru. Dan membawa Raka tinggal bersama mereka.


Sementara itu, Gina masih mengejar cinta Rendra.


Gama dan Datiyah di anugerahi seorang Putri yang sangat sehat.


Ketika Gama melihat Putrinya dan istrinya tertawa bersama. Dia berharap mereka akan selalu sehat dan bahagia seperti saat ini.


Dia sendiri juga berharap, semoga cinta Datiyah untuknya juga untuk selamanya. Dan berharap mereka berdua akan tetap saling mencintai apapun yang terjadi.

__ADS_1


__ADS_2