
Kadang dengan meluapkan perasaan dan apa yang kamu simpan dalam hati, perasaanmu akan menjadi lega.
"Aku tau aku akan baik-baik saja, tapi terkadang aku membutuhkan seseorang yang mengetahui dan mengerti semuanya tanpa perlu aku jelaskan." by Miss HF
_______________________
"Kenapa tiba-tiba kamu jadi seperti ini? Bukankah selama ini kamu sudah menahannya?" Kedua wanita itu menangis terisak.
"Aku.....aku..gelisah tante. Kak Hendrik belum kembali semenjak pagi di telepon Ayah Anton.
Tante yang tau segalanya tentang mereka. Kenapa bisa hidupku seperti ini? Apa salahku?" Mutia kemudian melepaskan tangannya dari kerah baju Datiyah dan Datiyah jatuh terduduk di sofa.
Mutia menjatuhkan dirinya ke atas sofa di samping Datiyah.
"Apa Anton pernah memukul kamu?" tanya Mutia pelan.
Datiyah tak menjawab, memperbaiki kerah baju yang ditarik Mutia tadi. Mutia yang melihatnya.
"Maafkan tante. Tante..." Mutia tak melanjutkan ucapannya. Ia tak mau membela dirinya. Meski mengetahui apa yang sudah dilakukan suaminya. Tapi dia tetap tidak berbuat apa-apa untuk membantu Jihan ataupun Datiyah.
Datiyah yang masih menangis terisak disampingnya, dia melihat anak oerempuan dihadaoannya dengan rasa beeaalah di wajahnya.
"Dia benar, apa salahnya sampai harus terseret dalam maslah orang dewasa seperti kami." batin Mutia yang kemudian memeluk Datiyah dengan hangat.
Tangisan Datiyah semakin kencang.
"Sssshhhhh....ssshhhh...kamu kenapa menangis semakin kencang?" ucap Mutia yang berusaha melepas pelukannya tapi Datiyah malah balik memeluknya dengan kencang.
"haaaaa...aaaahhh... aku kangen sama mama. Aku pengen dipeluk mama lagi. Akuuu..." nafas Datiyah tersengal tak dapat bicara. Karena ia benar-benar merindukan pelukan mamanya.
Bertahun-tahun melihat orang yang disayangi ada di hadapannya tanpa berucap, tanpa berkata. Bertahun-tehun menahan pedih hatinya.
Rasa khawatir yang sangat pada Hendrik membuat segala emosinya yang telah lama tersimpan meluap tak terkendali.
"Aku pengen mama senyum sama aku, aku pengen mama peluk aku, aku pengen mama bicara sama aku." disela ucapannya tangisan kerinduan dan kepedihan tak dapat ia bendung.
Mutia sangat penasaran apa maksud Datiyah. Tapi ia hanya memeluk Datiyah dan mengusap punggungnya menenangkan Datiyah dan juga dirinya.
Setelah lumayan lama menangis, akhirnya Datiyah menjadi lebih tenang. Tapi, ia sangat suka berada dalam pelukan Mutia.
Wanita yang sama-sama sedang menderita luka dalam hatinya. Dan sebenarnya Mutia juga membutuhkan seseorang untuk dia berbagi. Sementara Monica hanya berdiri dan menangis diam-diam dipojok ruangan menyaksikan kedua orang itu.
Datiyah melepaskan pelukannya dari Mutia.
__ADS_1
"Maafin Tiyah tante. Aku,,,aku... aku cuma gak tau lagi. Aku harus bagaimana." ucap Datiyah menunduk karena malu.
Mutia lalu mengusap air mata Datiyah.
"Tante yang minta maaf. Meski tante gak tau apa yang sudah kamu alami. Pasti sangat sulit buat kamu yang masih kecil dan muda saat itu."
"Aku harusnya, gak bahas tentang om Harry kayak gitu."
Mutia tersenyun masam. "Gama yang kasi tau kamu?" Datiyah mengangguk.
"Tante belum siap, kalau sampe dia tau apa yang sudah di lakukan ayahnya. Buat Gama, Harry adalah pahlawannya, panutannya."
"Aku yakin, Gama sudah cukup dewasa untuk menerima semua itu. Kadang rasa sakit membuat kita lebih dewasa dan bijak. Kalau dia belum bisa menerimanya, kita bakalan temanin dia. Dia juga bilang, semua orang belum bisa mempercayai kemampuannya. Karena itu semua orang menyembunyikan rahasia dari dia."
Mutia menggeleng. "Bukan, bukan seperti itu. Tante cuma mau ngelindungi dia dari luka yang tidak perlu. Itu dalah kesalahan masa lalu kami."
Datiyah hanya bisa tersenyum.
"Apa maksud kamu tentang mamamu?" tanya Mutia mengalihkan pembicaraan.
"Aku sama mama sudah gak pernah bicara semenjak mama menikah dengan ayah Anton."
"Apa?? bagaimana bisa. Kalian satu rumah. Bagaimana bisa kalian tidak bicara?" Mutia terkejut mendengarnya.
"Kalau sampai mama bicara sama aku. Aku akan di hukum oleh ayah Anton. Karena itu, mama milih gak bicara sama aku."
Mata Datiyah berkaca-kaca. Tanpa dijawab, mutia sudah tau jawabannya.
"Aku tau kalau Anton memang kejam. Tapi, kalau sampai menyiksa anak kecil. Aku..." Mutia menutup matanya, menggeleng, menahan tangis.
"Sekarang, Tiyah merasa sedikit lega. Selama ini, Tiyah cuma nangis diam-diam."
Mutia mengelus rambut Datiyah dengan kasih sayang. Dan memeluknya lagi.
"Mulai sekarang, Tiyah bisa cerita sama tante. Mungkin, tante juga butuh teman curhat." Ucap Mutia tersenyum, melepaskan pelukannya.
"Tante, emmm...masalah Om Harry." Datiyah ragu untuk melanjutkan bicaranya. Tapi melihat mutia yang tersenyum dia pun melanjutkan.
"Sejak Gama tau hal itu, dia gak pernah masuk ruang kerjanya lagi."
"Tante tau, dia pasti sibuk dengan komiknya lagi. Dan mengahbiskan waktu dengan kamu. Dia selalu seperti iyu kalau yerlalu stress.
Tapi, Tiyah ingat kan kata tante? Jangan sampe jatuh cinta sama Gama."
__ADS_1
"Iya, aku tau Tan. Dia selalu bilang kok. Tentang bagaimana dia cinta sama Kak Aira, dia akan buat tante nerima Kak Aira, dan minta bantuan aku buat meyakinkan tante." ucap Datiyah mengernyitkan hidungnya.
"Dan kamu setuju?"
"iya, tapi. Aku harus tau dulu. Apa yang sebenarnya terjadi."
"Heeeeh." Mutia menghela nafas panjang. Dia melirik ke arah jam.
"Sekarang sudah terlalu malam. Kita akan lanjutin lain kali."
Datiyah pun pasrah karena dia juga sudah lelah. "Tante juga, jangan buat Gama terlalu lama menunggu." ucap Datiyah yang beranjak dari sofa.
"iya, tante tau. Cepat atau lambat dia pasti tau. Tapi tante pengen dia tau dari tante dan bukan orang lain. Jadi, tentang pengkhiantan om Harry. Kamu bisa simpan dulu kan?"
Datiyah mengangguk dan tersenyum. Mutia berdiri dan Datiyah kembali memeluknya.
Pelukan hangat seorang ibu yang sudah lama dia rindukan.
Dia sendiri heran, kenapa begitu mudah memeluk Mutia. Padahal mereka sebelumnya biasa-biasa saja.
Datiyah kemudian kembali ke kamarnya. Merasa jauh lebih lega, seperti sedikit beban terangkat dari pundaknya.
Perlahan dia berjalan ke kamarnya. Dan kembali tidur. Melihat Gama yang sudah tertidur.
Keesokan paginya, Datiyah bangun dengan senyum di wajahnya.
Melihat sebuah pesan.masuk dari Hendrik.
"selamat Pagi Nona. Semoga hari ini, Nona tidak bisan tanpa saya. Dan semoga hari Nona menyenangkan." disertai dengan foto Bi Narti, ibunya Hendrik di taman mengatur bunga.
"Aku juga berharap hari Kakak menyenangkan dan habiskan waktu dengan Bi Narti. Aku masih khawatir. Jadi, kakak harus mengirimkan aku pesan setiap pagi. Supaya aku tau, kalau kakak baik-baik aja."
Dengan begitu, Datiyah benar benar merasa lega.
"Siapa yang buat kamu pagi-pagi begini tersenyum?" tanya Gama yang baru berganti pakaian dengan pakaian santai.
"Kak Hendrik. Dia baik-baik aja. Dan sekarang aku merasa tenang. Tapi, kok kamu gak kerja?"
"Kamu lupa sekarang hari apa?"
"uppss...aku lupa. hehhehe." jawab Datiyah cengengesan.
"Bagaimana kalau hari ini kita jalan-jalan? Kencan?"
__ADS_1
Tanya Gama tiba-tiba. Dia sendiri terkejut dengan ucapannya.
*bersambung......