Bolehkah Aku Mencintaimu?

Bolehkah Aku Mencintaimu?
Kecewa dan Amarah


__ADS_3

" Apa yang membuatmu begitu bangga? dan bisa menyiksa orang lain sesukamu. Aku yakin kau pasti berhasil menurunkanmu besok. Dan aku akan mengambil semua milikku kembali."


Mendengar ucapan Datiyah, Anton berjalan ke arah Datiyah tetapi dihalangi oleh Hendrik yang masih berdarah.


Tiba-tiba di lain arah sebuah tamparan mendarat di pipi Datiyah.


"Plllaaak"....


" Dia itu ayahmu, kamu harus menghormatinya." ucap Jihan yang tiba-tiba masuk dan langsung menamparnya.


Semuanya terdiam. Datiyah yang baru saja tertampar, entah kenapa pipinya tak sakit sama sekali. Tapi hatinya seperti tertusuk. Membuat dadanya terasa sesak..


Air mata yang dia fikir sudah kering tanpa sadari mengalir dengan deras.


Tak ada yang menduganya, Jihan yang selama ini hanya diam, tiba-tiba datang menampar putrinya sendiri.


Datiyah menatap Jihan dengan air mata berlinang. Tak ada yang lebih sakit dari tamparan ibunya sendiri.


"Tiyah....." panggil Jihan lirih..


"Mama mohon, hentikan semua ini, mama gak mau kamu semakin terluka, Mama cukup hidup begini, tak perlu menambah luka Tiyah. Selama kamu tidak terluka, itu sudah cukup bagi mama." batin Jihan berharap putrinya mengerti arti tamparannya.


Karena memang baginya tidak ada yang lebih penting dari anak-anaknya. Anton sudah tidak pernah menyakiti putrinya. Itu sudah cukup baginya.


Tapi Jihan merasa terluka setelah menampar putrinya.


Wanita yang selama ini tak bicara ataupun menyapa putrinya agar tak terluka karena ancaman Anton. Tiba-tiba bicara hal yang sama sekali tidak masuk akal bagi putrinya. Tapi mungkin Jihan tak sadar telah melukai putrinya lebih dalam dari apa yang sudah dilakukan Anton pada putrinya.


"Nyonya". panggil Hendrik pelan.


" Kepalamu?" Jihan tak memperhatikan Hendrik yang berdiri terluka di sampingnya.


"Jika tidak ada yang ingin dibicarakan. Aku akan kembali ke rumah suamiku." ucap Datiyah berusaha menegarkan suaranya.


"Tiyah, tunggu... Mama cuma..."


"Sayang, kamu bisa tinggalkan ruangan ini dan biarkan aku bicara dengan putri kita?" ucap Anton pada Jihan yang berusaha menenagkan putrinya.


"Tapi....."


"tolonglah sayang.".... ucap Anton lembut.


Melihat adegan dihadapannya tubuh Datiyah merasa merinding dan jijik. Setelah beberapa tahun pun dia masih belum terbiasa dan tidak akan pernah terbiasa melihat ibunya bersama laki-laki yang bukan ayah kandungnya.


Jihan keluar dengan wajah memelas sambil menatap Datiyah, tapi Datiyah membuang wajah berbalik tidak ingin melihat ibunya.

__ADS_1


"Aku mohon izinkan aku bicara dengan Tiyah setelah ini." Jihan memohon pada Anton.


"Aku mengerti." ucap Anton seraya tersenyum pada Jihan.


Jihan pun keluar dari ruang kerja dan kembali ke kamarnya.


"Kenapa kamu tak mengikuti saran ibumu?" ucap Anton tersenyum menghina, merasa dirinya menang karena Jihan sudah menampar Datiyah.


Datiyah lalu menghapus air matanya.


"Menghormatimu?" tanya Datiyah kesal.


Datiyah kemudian tersenyum.


"Kita akan lihat besok, apakah aku masih perlu menghormatimu. Karena setelah besok, aku akan buat kamu dan Mama gak akan pernah bersama kembali."


Anton maju melangkah dengan cepat ke arah Datiyah menekan dan mendorong wajah Datiyah dengan satu tangannya.


"kamu tau, Sampai kapanpun. Ibumu akan tetap menjadi istriku. Dia tidak akan melepaskan putranya yang juga adikmu."


"ayah Anton salah. Raka adalah bagian dari rencanaku."


Ketika Hendrik akan maju untuk melepaskan tangan Anton dari wajah Datiyah, Datiyah melarangnya.


"Bagaiman jika aku memusnahkan mu?" ucap Anton marah.


Dengan seluruh tenaga yang tersisa, Datiyah agak mendorong-dorong tangan Anton.


"Kamu tahu, begitu aku mati, maka kamu juga akan kehilangan segalanya." ucap Datiyah sambil melepaskan tangannya, pasrahkan nyawanya.


Tak lama, Anton melepaskan cekikan nya.


"Kenapa? Apa ayah Anton lupa? aku adalah rantai yang mengikat mama aku dalam hidupmu. Meskipun kamu sangat ingin memusnahkanku." ucap Datiyah dengan nafas terengah-engah.


"Kau, benar-benar membuatku kesal dan marah. Haruskah aku memusnahkan penjagamu lebih dulu, baru kamu sadar akan posisimu?" ucap Anton yang semakin marah.


"Kamu tidak akan berani. Aku bersumpah, kamu akan meyesalinya kalau sampai kamu menyentuh atau melukai Kak Hendrik lebih dari ini." ucap Datiyah yang keluar kemudian menarik Hendrik keluar dari ruang kerja Anton.


Dari kejauhan, semua orang mendengar teriakan dan kemarahan Anton. Meskipun agak takut ucapannya akan membuat orang-orang di rumah ini menderita. Tapi, Datiyah juga tak punya pilihan lain selain melawan Anton.


Jika tidak, dia yakin Anton akan melukai Hendrik sampai nyaris terbunuh.


Setelah tiba di ruang belakang, Datiyah mengobati luka Hendrik. Hendrik hanya bisa terdiam. Yang dia tau pasti. Datiyah sangat terluka atas perlakuan Jihan padanya.


"Kenapa kakak melihatku seperti itu?" tanya Datiyah melihat Hendrik menatapnya sejak awal dia membersihkan lukanya.

__ADS_1


"Apa Nona yakin, bahwa besok semuanya akan berjalan dengan lancar? Dan Nona akan menjadi pemimpin perusahaan'?"


"Kenapa? apa menurut kakak aku bukan orang yang tepat?"


"Bukan... bukan itu maksud saya. Hanya saja, anda tau sendiri bagaimana Tuan Anton. Dia memegang semua rahasia petinggi di sana."


"Aku tau, karena itu aku tidak membutuhkan mereka. Saham yang saat ini aku pegang. Sudah bisa membuatku menjadi pemegang saham tunggal."


"Maksud Nona?"


"Aku akan jelaskan semuanya pada kakak besok."Ucap Datiyah bangun setelah menutup luka Hendrik.


"Nona?" panggil Hendrik pelan.


"Apa Nona benar-benar tidak bisa melepaskan semuanya. Dan menikmati semua ini? Tuan sudah tidak pernah menyakiti Nona dan Nyonya lagi."


Kali ini Datiyah benar-benar marah. Orang lain bisa berkata sesukanya. Setidaknya dia, dan juga Jihan tau kenapa Dia tidak bisa melepaskan semuanya begitu saja.


"Apa kamu fikir aku tidak lelah dengan semua ini. Aku juga ingin berhenti. Tapi apa kamu tau? Setiap aku membersihkan diri dan bercermin semuanya tak terhapus, papaku tidak akan kembali hidup. Lukaku tak bisa hilang begitu saja." Isak Datiyah sambil berteriak.


"Biarkan setidaknya aku melihat dia menderita kehilangan semuanya. Maka aku bisa mati dengan tenang."


Datiyah lalu kembali pergi ke kamar adiknya Raka.


Hanya Raka yang bisa bertingkah normal di hadapannya.


"Kenapa mama nangis?" terdengar suara Raka dari depan kamar membuat langkah Datiyah terhenti.


"Nggak sayang. Mama cuma pengen peluk Raka."jawab Jihan sambil terisak.


"Mama, Raka gak bisa nafas."


"Maafin mama sayang" Jihan langsung melepas pelukannya dari Raka.


Datiyah hanya mengintip dari celah di depan kamar.


Saat ini, Datiyah sedang tak ingin bicara ataupun melihat Mamanya. Karena dia masih merasa sakit hati akan perbuatan mamanya.


Ketika akan beranjak pergi..


"Raka tau kan, Mama sangat sayang Raka sama Ayah?"


Deg..... sekali lagi jantungnya terasa tertusuk. Ucapan Jihan membuat jantungnya terasa terhenti.


*bersambung......

__ADS_1


__ADS_2