Bolehkah Aku Mencintaimu?

Bolehkah Aku Mencintaimu?
Perasaan yang berubah?


__ADS_3

Ketakutan dan kemarahan membuat kita melakukan hal-hal yang tak seharusnya kita lakukan.


_______________


"Iya, aku baik-baik saja. Dan Gak usah ikut campur!! Gak usah pura-pura perduli. Urus saja masalahmu sendiri. Bukannya itu alasan kita menikah. Hah?? Jadi jangan ikut campur." teriak Tiyah.


Gama hanya bisa kaget melihat Tiyah bersikap seperti itu.


Setelah kata-kata itu terucap, Tiyah ingin kangsung meminta maaf pada Gama.


Tapi jiwanya sangat lelah dia menutup mata, dan meremas pelan tangan Hendrik memintanya membantu berjalan.


Gama yang tadi kaget, baru mengeluarkan suara.


"Hah, oke. Aku gak akan ikut campur. Maafkan aku karena perduli dengan temanku sendiri.


Aku fikir aku menikah dengan teman baikku akan mempermudah hidupku." Gama mencibir Tiyah dan berlalu ke ruang ganti.


"Maafin aku," batin Tiyah, lalu dia minta Hendrik mengantarnya ke perpustakaan.


"Kakak kembali saja ke kamar. Aku sedang ingin sendiri sekarang."ucap Tiyah yang berjalan lemas ke arah salah satu sofa di perpustakaan itu.


"Tidak, Saya akan menemani Nona."


"Aku mohon. emm?"


Akhirnya Hendrik keluar, tidak, dia berpura-pura keluar.


Setelah Tiyah mengira Hendrik sudah keluar, dia berjalan ke arah ujung perpustakaan.


Di sana dia duduk dan menangis. Suara isak tangisnya yang pelan dan tertahan. Membuat Hendrik yang tak jauh dari tempat Tiyah, ikut meneteskan air mata.


"Papa, papa gak bohong sama Tiyah kan? Papa bilang semuanya akan baik-baik saja. Tapi, sampai kapan Tiyah harus menunggu?"


Batin Tiyah menangis.


Tiyah menggeleng.


"Aku bukan gadis lemah. Tiyah sadar. Di mana ada kemauan di situ ada jalan. Selama kamu hidup, tidak perduli apa rintangannya kamu akan baik-baik saja dan bisa melewatinya." Tiyah berusaha menegarkan hatinya, menghapus airmatanya yang tak mau berhenti mengalir.


"Hhahahaha, aku fikir air mataku sudah habis untuk hal seremeh ini." Tiyah menertawakan kesedihannya.


Dan setelah merasa lega setelah menangis, Tiyah kembali ke sofa dan meringkuk seperti biasanya dan lalu tertidur. Hendrik memilih duduk bersandar di rak buku dan ikut memejamkan matanya.


Sementara itu, Gama yang masih kesal sudah mengganti pakaiannya dan pergi ke hotel tempat Aira menginap.


"Tuan, apa anda fikir ini ide yang baik. Aira adalah artis terkenal. Dan jika sampai terkena skandal. Bukan hanya nama Aira, tapi Tuan dan Nona Tiyah akan ikut terseret." Gama tidak memperdulikan ucapan Rendra, karena masih kesal atas perilaku Tiyah.


Setelah tiba didepan kamar hotel Aira, Gama mengerutkan dahinya. Karena ia bisa mendengar keributan dari dalam kamarnya, meskipun hanya samar-samar.


Dia mengetuk pintu berkali-kali, agak lama pintunya baru terbuka.

__ADS_1


"Gamaaaaa!!!" Teriak Aira dan lalu memeluk Gama. Suara musik yang tadi samar-samar semakin memekakkan telinga Gama.


Di dalam ia melihat beberapa teman Aira. Gama sama sekali tidak menegenal mereka.


"Kalian sekarang percaya kan padaku. Gama itu kekasihku." Mengeratkan pelukannya pada salah satu lengan Gama.


Gama menggelengkan kepalanya ke arah Rendra menyuruhnya mematikan musiknya, dan mengurus orang-orang itu.


"Maafkan saya, silahkan anda semua mengikuti saya." Rendra langsung menelepon pihak hotel dan meminta menyiapkan kamar dan membawa tamu Aira ke sana.


Lalu menelepon pengacara Gama.


Gama yang tadi sudah kesal, semakin kesal melihat keadaan kamar Aira.


Aira hanya melihat semua kejadian di depannya dan mengangkat bahu ketika teman-temannya menatapnya dengan tanda tanya.


Gama menarik nafas dalam-dalam.


"Bukannya kamu bilang ingin mengajakku makan malam? Ada dengan ini semua?"


"Iya, tadinya. Kufikir kamu gak jadi datang karena istrimu. Kufikir kamu akan semudah itu mengubah perasaanmu terhadapku." ucap Aira yang langsung duduk di atas sofa kamarnya.


"Aira, Kamu tau kalau hal ini. Hubungan kita tidak boleh sampai teresebar ke publik kan?" Gama menghela nafasnya.


Aira malah tegang setelah Gama memanggil namanya. Dan hanya mengangguk menjawab pertanyaan Gama.


"kenapa kamu mencintaiku?" tanya Gama lagi.


"Apa??" tanya Aira sedikit berteriak.


Aku menunggumu kembali padaku.


Aku tidak akan berbohong, jika aku sangat tidak menyukai ketika kamu beradegan mesra dengan laki-laki lain.


pertama kali aku melihatnya aku merasa sangat gusar.


Tapi aku juga ingin mencoba hubungan kita.


Sampai aku bisa membujuk mama, aku harap kamu bisa menunggu."


"Karena sekarang, perasaan gusar saat melihat wanita yang kukenal dengan laki-laki lain kurasakan juga ketika melihat Tiyah dan asistennya." batin Gama.


"Menunggu? hahahhahahaha. kamu fikir sudah berapa lama aku menunggu? Apa 10 tahun belum cukup? atau harus aku menunggu 10 tahun lagi?" Aira lalu berjalan ke arah Gama.


Aira menatap wajah Gama dengan seksama.


"Baru beberapa hari setelah kamu bertemu dengan Tiyah, kamu terlihat berbeda."


"Ini tidak ada hubungannya dengan Tiyah.


Aku fikir aku punya banyak waktu, tapi aku terlalu sibuk, kamu terlalu sibuk.

__ADS_1


Apa menurutmu kita akan berhasil?"


"Kenapa kita tidak akan berhasil? Karena kesibukan? Jika kamu benar-benar mencintaiku. Kamu akan menghabiskan waktumu bersamaku. Kecuali jika perasaanmu mulai berubah." Aira langsung memeluk Gama.


Gama sempat menegang. "Berubah? apa perasaanku berubah?" tanya Gama pada dirinya sendiri. "Tidak, aku laki-laki setia, Hati dan perasaanku sudah kuserahkan pada Aira."


Gama mendorong seluruh perasaannya untuk Tiyah menjauh.


"Aku sebenarnya ingin memperkenalkan kamu pada teman-temanku. Mereka itu sahabat baikku." Aira melepaskan pelukannya dan menatap Gama.


Gama masih termenung dengan perasaannya.


"hhahaha..Tiyah itu hanya temanku, aku tidak pernah memikirkannya seperti itu. Aku mengenalnya sejak aku bayi."


Tapi tatapan Tiyah hari itu mengubah segalanya, dia tidak pernah benar-benar memperhatikan Tiyah, kecuali malam itu.


"Gama? kamu dengar gak sih aku bicara apa?" Aira mulai kesal karena Gama tak menghiraukannya.


"Untuk sementara, teman-temanmu gak perlu tahu tentang kita. Karena akan mudah seperti itu. Apakah kita jadi makan malam? Karena sekarang aku sangat lapar." ucap Gama mengalihkan pembicaraan.


Mereka pun makan malam dengan nikmat. Mengobrol dan tertawa.


Sementara Rendra berurusan dengan sahabat-sahabat Aira agar pertemuan mereka tidak sampai bocor di hadapan publik.


Setelah makan malam, sekitar pukul 12 malam, Gama pun pulang dan saat tiba di kamarnya tak melihat Tiyah.


Ia pun mengecek perpustakaan dan melihat Tiyah meringkuk di atas sofa.


Hendrik langsung terbangun ketika mendengar suara pintu, dan melihat Gama masuk.


Gama mencari posisi agar ia bisa membawa Tiyah kembali ke kamar. Hendrik yang melihatnya langsung cepat memegang tangan Gama.


"Tuan, apapun fikiran tuan saat ini, saya mohon jangan lakukan." bisik Hendrik.


Gama yang sejak tadi kesal melihat Hendrik langsung mendorong Hendrik menjauh darinya.


"Aku hanya menggendongnya, aku tidak akan berbuat macam-macam." sambil Gama memasukkan tangannya diselah leher Tiyah dan antara kakinya.


Hendrik yang ingin mencegahnya terlambat.


Tiyah yang kaget dan langsung meronta, dan berteriak dan tak sengaja memukul wajah Gama.


"aaaahhhh.... lepasiiiin.." Gama yang terkena pukulan tak sengaja menjatuhkan Tiyah.


Tiyah yang jatuh tak memperdulikan punggungnya langsung berbalik dan merangkak berjalan menuju belakang kursi karena kaget dengan nafas terkejutnya.


"Tiyah, kamu ken...?" Gama terdiam melihat Tiyah meringkuk memeluk lututnya, dan ketakutan seperti malam itu.


"Tiyah, spero spera, spero spera, spero spera." ucap Hendrik dan melangkah pelan mendekati Tiyah yang sudah mulai tenang dengan mantranya.


Tiyah pun melihat Hendrik dan langsung menarik bagian depan baju Hendrik dan meremasnya. Dan menyandarkan keningnya di dada Hendrik dan Hendrik hanya diam pada posisinya membiarkan Tiyah.

__ADS_1


Gama hanya diam mematung, tak tahu apa yang ia lakukan.


*bersambung......


__ADS_2