Bolehkah Aku Mencintaimu?

Bolehkah Aku Mencintaimu?
Perjodohan dan Perjodohan


__ADS_3

"Aaarrrggg" ucap Tiyah kesal mengacak rambutnya.


"Semua baju sudah ku coba. Tapi tidak ada yang cocok untuk membuatnya jijik." gumam Tiyah pelan.


Sementara pegawai toko yang melayaninya kaget dengan bekas luka di tubuhnya yang mengerikan.


"Mbak Ester mana? Bukannya dia yang harusnya melayaniku?" tanya Tiyah pada pelayan di depannya. Sambil memilah baju-baju seksi di hadapannya


"Dia sedang ada tamu VIP hari ini."


Ester adalah satu-satunya pegawai yang melihat lukanya karena sudah terikat perjanjian dengan keluarga Sugesti.


"Kak Hendrik, apa benar informasi yang kakak dapatkan?" Tiyah mengintip dari balik ruang ganti.


"Iya Nona, rumor mengatakan dia suka melihat seseorang tak berdaya dan agak gila. 3 Mantan istrinya semuanya sering masuk rumah sakit dan 2 orang meninggal dunia."


Berdiri bulu kuduk Tiyah mendengarnya.


"Itu sama saja artinya aku akan masuk ke sarang harimau. Dia akan mencabikku sebelum memakanku. Dan aku belum mau mati sebelum aku menghancurkan hidupnya Ayah Anton." batinnya.


"Bagaimana dengan ini?" Tiyah keluar dengan baju seksi yang menunjukkan bekas luka yang ada di sekujur tubuhnya.



Tiyah berputar menunjukkan pada Hendrik.


Tentu saja bagi hendrik tubuh Tiyah sama sekali tidak menjijikkan seperti yang di harapkan.


Hendrik hanya menunduk tak mau melihatnya, karena itu membuatnya berfikir yang tidak-tidak.


"Apa seburuk itu? hahahhaha." tanya Tiyah sambil tertawa agak minder. Kaget Hendrik mendengarnya.


"Nona, itu sama sekali tidak buruk hanya terlalu seksi."


"Okay, kalau begiti fix yang ini." Untuk luarannya ia memakai blazer panjang untuk menutupi tubuhnya kalau ia berada di luar. Ia hanya akan membuka blazernya dalam ruang temu VIP.


Di setiap kali Tiyah akan dijodohkan oleh Anton, ia akan berusaha menggunakan pakaian yang memperlihatkan seluruh luka di tubuhnya. Meskipun ia tidak nyaman, karena baju yang biasanya dia pakai adalah pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya.


Karena di perjodohan-perjodohan sebelumnya dia selalu berhasil.


Dia hanya berharap caranya akan berhasil pada orang gila, calon yang akan dia temui hari ini.


Sementara itu, Gama yang sedang patah hati karena belum juga mendaptkan restu dari ibunya untuk Aira.


Dia sangat merindukan Aira. Setelah pertemuan mereka hari itu, ia dan Aira tak pernah bertemu.


Aira selalu beralasan sibuk dan ia juga mendapat ultinatum dari ibunya untuk tidak menemui Aira.


Mereka hanya berhubungan melalui telepon.

__ADS_1


Dan ia tahu, ibunya tidak akan berhenti sampai dia menikah dan melupakan Aira.


Tapi ia tahu pasti kalau ia tidak bisa melupakan Aira.


10 tahun, bukan waktu yang singkat, dia hanya menyimpan hatinya untuk satu wanita.


"Mama akan menunggu kamu di sana. Jangan sampai gak datang." Ucap Mutia.


"Iya, aku akan datang. Mama gak usah khawatir."


Gama sudah berjanji siapapun yang jadi calonnya hari ini, ia akan menikahinya saja. Tak perduli apapun. ia hanya akan berusaha meyakinkan mamanya bahwa cintanya tidak bisa dipaksakan.


Bahwa secantik, sepintar apapun istrinya ia takkan bisa memalingkan hatinya dari Aira.


karena Aira juga cantik dan pintar di tambah kebaikan hatinya.


Karena dia tak pernah tertarik dengan wanita lain seperti dia tertarik pada Aira.


Saat sedang sibuk fokus dengan pekerjaannya. Berharap ia tidak perlu ke perjodohan.


Tapi ia harus pergi dan harus memberi tahu Aira tentang rencananya.


"Aku benar-benar gak tahu, apa alasan Mama tidak bisa menerimamu." ucap Gama yang sedang menelepon Aira.


"emm, sebenarnya aku juga gak ngerti. Tapi apa harus kamu menikah dengannya? Bagaimana nanti seandainya kamu bercerai langsung bersamaku? Pasti aku akan di tuduh perusak rumah tanggamu."


"Kamu gak usah khawatir. Aku yang akan mengatasinya. Ahh, aku sangat merindukanmu. Aku hanya bisa melihat wajahmu di TV dan video call saja."


"Tuan, waktunya sudah tiba." ucap Rendra mengingatkan Gama.


"Aku harus pergi sekarang. Aku sayang kamu." ucap Gama.


"Aku juga sayang kamu. Dah." balas Aira.


Dia pun pergi ke restoran tempat janji temu.


Setelah dia masuk, dia melihat wanita yang mondar mandir menggigit kukunya dengan wajah khawatir. Ekspresi khawatir yang dikeluarkan wanita itu membuatnya memperhatikannya.


"Tunggu, bukannya itu. Tiyah?" ucapnya pelan sambil melotot.


Ia dan Tiyah sudah lama tak bertemu. Ia hanya melihat Tiyah melalui berita dengan judul "Dewi Amal" atau "Dewi Kebaikan." Selain itu, tidak pernah berhubungan secara pribadi.


Saat dia akan berjalan mendekat, seorang laki-laki mendekatinya.


"Nona, spertinya dia sudah tiba."


Tiyah membelalakkan matanya. "aaaaahh, kalau memang dia gila seperti itu. Bagaimana bisa aku menikah dengannya.


Apa ayah Anton menyuruhku bunuh diri dengan menikah dengannya."

__ADS_1


"Aahh, apa dia juga di jodohkan?" batin Gama.


Tiba-tiba di kepalanya seperti muncul sebuah bohlam.


Dia tersenyum.


Daripada menikah dengan orang yang tidak di kenal yang tidak mengetahui hubungannya dengan Aira, bukankah Tiyah pilihan aman.


Langsung di berjalan ke arah Tiyah menggenggam pergelangan tangan Tiyah.


"Kalau begitu, ayo kita menikah berdua."


Hendrik yang sigap, langsung mendorong tubuh Gama dengan keras menghadap tembok. "Siapa Anda berani menyentuh Nona?"


Rendra yang baru masuk pun menyerang lengan Hendrik. "Lepaskan Tuan Muda."


Tiyah yang sempat kaget, baru mengenali Gama.


"Kak Hendrik lepasin, anda juga lepaskan Kak Hendrik." Tiyah memukul bahu Rendra dengan pelan.


"Kak, itu temanku, Gama." Hendrik pun melepaskan tangannya dari Gama, begitu juga Rendra melepaskan tangannya dari Hendrik.


"Wwooow, seumur hidup, baru kali ini aku diperlakukan seperti ini." ucap Gama yang memutar lengannya.


"maafkan saya, anda tiba-tiba menyentuh Nona." ucap Hendrik.


"Ya, itu juga salahku." ucap Gama.


"Tuan, anda baik-baik saja?" tanya Rendra. Gama hanya mengangguk.


"Gama, kamu ngapain di sini?"


"Ayo, ikut aku." Kembali dia menarik tangan Tiyah. Hendrik hampir melarangnya, tapi di hadang oleh Rendra.


Gama menarik Tiyah ke sebuah ruangan, lalu dia membukanya.


Di dalam ada Mamanya dan seorang wanita sedang duduk.


"Ma, aku akan nikah sama Tiyah." ucap Gama mengangkat tangan Tiyah dan tangannya yang dia genggam sejak tadi.


Tiyah dan Mutia sama-sama kaget dan melototi Gama.


Belum sempat Mutia mengucapkan apa-apa Gama sudah menarik Tiyah berjalan keluar restoran mewah itu.


"Kita mau ke mana?" tanya Tiyah.


"Pergi menemui Om Anton."


"Apa??"

__ADS_1


*bersambung......


__ADS_2