Bolehkah Aku Mencintaimu?

Bolehkah Aku Mencintaimu?
Berita Skandal


__ADS_3

Tiyah pun melihat Hendrik dan langsung menarik bagian depan baju Hendrik dan meremasnya. Dan menyandarkan keningnya di dada Hendrik dan Hendrik hanya diam pada posisinya membiarkan Tiyah.


Sementara Gama hanya diam mematung, tak tahu apa yang bisa ia lakukan.


"Tiyah?" Gama memanggil Tiyah pelan, dengan sedikit memar di pelipisnya.


Tiyah langsung melihat ke arah Gama.


Tiyah tak bicara apa-apa. Hanya menarik nafas dalam-dalam dan tersenyum.


"Kakak kembali saja. Aku juga akan kembali ke kamar Gama." ucap Tiyah pada Hendrik sambil berdiri, meskipun agak lemas, berkat bantuan tubuh Hendrik ia terlihat kuat.


Tiyah berlalu meninggalkan Gama dan Hendrik.


Ketika Hendrik akan berjalan keluar, Gama memegang bahunya.


"Apa yang barusan terjadi? Tiyah kenapa?"


"Maafkan saya Tuan, saya tidak akan bicara apa-apa tentang nona Tiyah." ucap Hendrik menunduk dan pamit dari hadapan Gama.


Dan Gama duduk termenung di sofa perpustakaan memikirkan semua kejadian-kejadian yang terjadi pada Tiyah semenjak di rumahnya.


Sementara itu, Tiyah yang membersihkan diri dan sudah berganti pakaian bersiap-siap untuk tidur.


Tetapi Tiyah pun termenung.


Semenjak Anton sudah tidak lagi menghukumnya dengan pukulan, dia sering mengalami serangan panik ketika seseorang menyentuhnya tiba-tiba, atau dia kaget.


Tentu saja dia tidak bisa memeriksakan kondisi kesehatan mentalnya. Karena ia tahu Anton akan memanfaatkan kondisi kejiwaan Tiyah.


Ia sendiri tak tahu sejak kapan ia memiliki penyakit itu. Ia merasa bahwa dirinya adalah gadis yang tegar dan kuat.


Tapi, kadang apa yang kita fikirkan tak sesuai dengan apa yang terjadi pada diri kita.


Ketika Tiyah mendengar Gama membuka pintu kamar, dengan cepat ia menutup matanya dan berpura-pura tidur.


Gama langsung melangkah ke hadapan Tiyah.


Termenung Gama melihat Tiyah.


"Apa yang terjadi padamu? Kenapa ketakutan dan kesedihan di matamu selalu terngiang di kepalaku?" Batin Gama dalam hati sambil memandang wajah Tiyah.


Gama pun berganti pakaian dan tidur menghadap punggung Tiyah yang memebelakanginya sambil meringkuk.


Keesokan paginya, ketika bangun. Gama melihat Tiyah asik mengobrol bersama Gina dan Mamanya, seolah tak terjadi apa-apa.


"Hari ini, apa kegiatanmu?" tanya Gama pada Tiyah.

__ADS_1


"Ada acara amal di Panti Sinar Harapan. Aku bakalan ke sana dan nemenin Ayah Anton. Kenapa?"


"Gak, aku pikir kamu bakalan di perpustakaan lagi." Gama ingin bicara lebih dan menanyakan Tiyah tentang kondisinya. Tapi ia tak mau terlihat ikut campur.


"Wajah Kak Gama kenapa?" Gina bangun melihat wajah Gama dari dekat, karena kebetulan dia adalah mahasiswi kedokteran.


"Oh, ini? gak sengaja kena pukul katena terlalu ikut campur urusan orang." ucap Gama sedikit menyindir Tiyah.


"Biasanya juga kakak masa bodoh sama urusan orang, tumben ikut campur?" Gina melirik Tiyah. Lalu pergi mengambilkan obat untuk wajah kakaknya.


Tiyah menghela nafas pelan, ketika Gama menyindirnya.


"Iya, ini adalah masalahku. Dan aku gak mau kamu ikut campur dan berurusan dengan ayah Anton. Aku bukan tidak percaya dengan kemampuanmu. Aku cuma gak mau kamu repot ataupun mengasihani aku." Batin Tiyah.


Gama, Tiyah, Hendrik dan Rendra hanya diam. Tapi, Tiyah berkali-kali membuka mulutnya dan menutupnya lagi ingin meminta maaf pada Gama. Tapi dia kembali mengurungkan ketika melihat Gina kembali.


Setelah Gina mengobati pelipis Gama, mereka melankutkan sarapan. Ada nuansa tegang, tapi tak ada yang berbicara satu sama lain.


Gina dan Tiyah yang tadi mengobrol pun, ikut diam semenjak kedatangan Gama.


"Mama mana?" tanya Gama berusaha mencari bahan pembicaraan.


"emmm? Mama? ke Galeri." jawab Gina setelah menelan makannya.


"Ya sudah, aku pergi dulu." Gama melangkah pergi meninggalkan ruang makan dan diikuti Rendra di belakangnya.


"Dia benar-benar tak mengikutiku, memberitahuku atau sekedar minta maaf?" batin Gama berbalik kesal melihat ke arah ruang makan.


"Baiklah, aku tidak akan ikut campur, aku tidak akan perduli lagi." batin Gama semakin kesal.


Dan melangkah menuju mobil dan meninggalkan rumah. Padahal rasa penasaran sudah memuncak.


Setelah gama pergi, Tiyah hanya bisa menghela nafasnya.


"Kak Tiyah, baik-baik saja?"


"Emm?? iya, aku baik-baik saja. Kalau begitu, aku juga akan berangkat." Ucap Tiyah, pamit dari meja makan dan pergi ke acara amal bulanan yang biasa ia lakukan.


Sementara itu, Gama yang sedang sibuk bekerja tiba-tiba mendapatkan telpon dari Aira.


"Gaaamaaaaa!!" Aira berteriak dari seberang telepon.


"kenapa? Ada apa?" Gama yang kaget lalu berdiri dari kursinya.


"Apa kamu sudah nonton atau baca berita?" Aira masih dengan suara kesalnya.


Gama memghisap nafasnya. Lalu bertanya.

__ADS_1


"Ada apa sayang? tenangkan dirimu. Hisaaap nafas, buaaang.."


Aira pun mengikuti petunjuk Gama. "oke, sekarang jelaskan. Apa yang terjadi?" ucap Gama.


"nonton televisi dan lihat chanel G, sekarag juga," Gama pun menyalakan televisi dan melihat.


"Artis A, membiarkan laki-laki beristri menginap di hotelnya" sub judul yang muncul di bawah layar televisi yang dilihatnya.


Dia lngsung memanggil Rendra melalui telepon di mejanya.


"Cari tahu siapa yang menyebarkan berita itu." Ucap Gama pada Rendra yang baru saja masuk dan melihat telivisi.


Belum lama setelah perintah Gama, ponsel Rendra berdering yang ternayata pemanggilnya adalah Monica, asisten Mutia.


"Tuan, Nona Monica menelepon." Ucap Rendra.


"Aira, aku akan selseikan masalah ini. Kamu gak usah khawatir. Nanti aku akan meneleponmu kembali." Gama lalu mematikan telepon dan menyuruh Rendra mengangkat teleponnya.


"Kamu tidak perlu mencari tahu siapa yang menyebarkan rumor. Aku hanya menyampaikan fakta. Pesan Nyonya untuk Tuan Muda untuk jangan ikut campur." Monica langsung menutup teleponnya.


Rendra menyampaikan pesan Monica pada Gama, Ia pun menjadi marah.


"Siapkan mobil." perintah Gama pada Rendra.


"Tuan Muda, nyonya berpesan agar anda tidak ikut campur."


"Sebenarnya kamu itu, asistenku atau asisten mama? Hah?" Gama berteriak semakin kesal.


"Baik Tuan, akan saya siapkan." Rendra menyiapkan mobil tanpa menjawab pertanyaan Gama, karena baginya itu adalah pertanyaan sulit.


Rendra sangat setia pada keluarga Kencana. Tapi, tidak semua perintah Gama dapat ia turuti tanpa memikirkan akibatnya. Karena pesan Tuan Besarnya adalah menjaga Gama dan membantunya, bukan hanya sekedar menurutinya.


Gama pun pergi mengunjungi galeri, di tempat ibunya berada dan menghabiskan waktunya.


Dia sendiri sangat membenci galeri itu, galeri yang dijadikan tempat oleh Mamanya untuk melupakan segalanya bahkan dirinya dan Gina.


Gama menarik nafas dalam-dalam, ini adalah pertama kalinya dalam 9 tahun ia mengunjungi galeri ini.


Kemudian Rendra membukakan pintu untuk Gama.


Dia pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung yang sangat ia benci dan dia sangat tak ingin mengulang kenangan terakhirnya di gedung ini.


Monica terkejut ketika melihat Gama datang dan masuk ke dalam galeri Nyonya Mutia.


"Tuan muda, anda datang?" Tanya Monica dengan nada masih terkejut.


"mama mana?" tanpa menunggu jawaban Monica, Gama langsung masuk dan menuju ruangan kerja mamanya.

__ADS_1


*bersambung......


__ADS_2