
Setelah makan malam, mereka semua kembali ke kamar masing-masing.
Tiyah yang biasanya langsung ke perpustakaan pun kembali ke kamarnya bersama Gama.
Sebelum kembali bersama Gama, ia sudah memberitahu Hendrik kalau hari ini mereka akan istirahat.
Dengan berat hati Hendrik melihat kepergian Tiyah dan Gama bersama-sama. "Mereka tidak akan melakukan apa-apa kan? Meskipun mereka suami istri tapi." cepat Hendrik menggeleng menghapus fikiran yang tidak-tidak di kepalanya, dan dia tahu dengan baik bahwa Tiyah tidak bisa dan tidak mau disentuh.
"Apa yang kamu fikirkan?" tanya Rendra yang tiba-tiba berdiri di belakang Hendrik.
"Tidak, tidak ada apa-apa."
"Aku yakin kamu sadar, bahwa Tuan Gama tertarik dengan Nona Tiyah, dan ia hanya tidak menyadarinya. Jadi jangan berfikiran macam-macam tentang majikanmu."
"Ha ha. Memangnya kamu siapa? Lagipula sebagaimanapun Tuan gama tertarik pada nona Tiyah, bukannya dia sudah punya kekasih dan akan kembali padanya begitu mendapatkan restu Nyonya Mutia kan? Dan pernikahan ini, hanyalah pernikahan palsu. Dan saya yakin, Nona Tiyah tidak punya waktu untuk itu. Kalau begitu saya permisi." ucap Hendrik agak kesal, yang kemudian kembali ke kamarnya meninggalkan Rendra.
Padahal ia biasanya hampir tidak pernah menunjukkan ekspresi kesalnya.
"Wah..wahh.. hebat sekali bisa mengartikan dan melihat ketertarikan Kak Gama untuk Kak Tiyah. Sementara aku, yang bahkan sudah mengungkapkan cintaku malah di abaikan. Padahal aku juga tahu baik. Kalau laki-laki itu menyukaiku." ucap Gina tiba-tiba sambil bertepuk tangan melihat Rendra.
Rendra, berjalan kembali ke kamarnya mengabaikan Gina. Tapi langkahnya dihalangi oleh Gina yang berlari dan menghalanginya.
"Nona, anda sebaiknya tidak melakukan hal ini." ucap Rendra mencoba mencari jalan lain.
"kenapa? Kenapa Om abaikan perasaanku? Apa karena aku masih kecil? atau karena aku gak cantik? atau karena aku anaknya mama sama ayah?" Langkah Rendra terhenti.
"Nona, jika anda melakukan ini. saya yakin kekasih Nona tidak akan menyukainya. Dan apa yang nona rasakan hanyalah cinta monyet."
"Aaarrrgghhh.. kamu tahu dengan baik. kalau mereka semua itu gak berarti apa-apa. Aku hanya ingin buat kamu cemburu. Dan jangan berani-berani kamu mengartikan perasaanku.
Aku tau hatiku, dan ini bukan cinta monyet." ucap Gina yang mulai jengah dengan sikap Rendra yang mengabaikan perasaannya.
"Permisi nona." Rendra meninggalkan gadis itu sendirian. Mata Gina mulai berkaca-kaca.
Gina kemudiam kembali ke kamarnya menahan tangis karena sudah berkali-kali di tolak oleh Rendra. Usia yang terpaut 15 tahun, tidak menyurutkan perasaannya untuk Rendra.
Dia sudah menyukai Rendra sejak dia berusia 14 tahun.
Saat itu, mamanya yang selalu melarikan diri dan menguncibdiri di galeri dan Gama yang sibuk belajar dengan keadaan perusahaan. Sehingga ia di tinggalkan sendirian.
__ADS_1
Selain para pelayan, ia tak punya teman lain jika sudah berada di rumahnya. Sikapnya yang ceria membuatnya disukai dan juga dibenci banyak orang.
Menurut orang-orang yang membencinya dia hanyalah gadis kaya yang munafik dan sok baik.
Dan ia tahu, orang-orang membicarakannya. Karena itu, ia bersikap observatif terhadap segala sesuatu disekitarnya.
Tidak mudah mempercayai orang, tapi tidak juga serta merta tidak mempercayai orang.
Suatu hari, Gina pergi membeli snack dan keluar dari rumah tanpa memberi tahu siapapun. Karena di kamarnya, stok snacknya sudah habis.
Saat itu sudah pukul 9 malam. Gama dan Rendra belum pulang dari perusahaan, begitu juga dengan mamanya.
Sebenarnya, ia bisa meminta salah satu supir untuk mengantarnya, tapi ia ingin jalan-jalan dan sesekali melihat dunia malam di sekitar lingkungan itu.
10 menit berjalan, ia tiba di toserba yang ada di lingkungan tempat tinggalnya. Membeli semua yang ia butuhkan sekitar 30 menitan. Tanpa sadar asyik belanja.
Tapi ketika ia keluar, ada beberapa anak muda yang sedang nongkrong dan tertawa di depan toserba.
Awalnya dia ingin tidak perduli dan hanya akan berjalan ke arah rumahnya. Tapi anak-anak muda itu menganggunya.
Sementara itu, Gama dan Rendra pulang belum lama setelah Gina meninggalkan rumah.
Gama bertanya pada pelayan, dan hanya di jawab dengan tidak tau, dan mungkin jalan ke taman. Gama langsung berjalan ke taman. Sementara Rendra langsung melihat ke ruang CCTV. Dia melihat Gina keluar dari rumah.
Dan tanpa ragu ia berlari ke arah jalanan yang di tuju Gina. Belum 5 menit ia sudah tiba di depan toserba.
Gina menyapa orang-orang itu dengan senyuman.
"Hei, gadis manis. Kenapa keliuran jam segini? Gak takut di culik?" ucap salah satu anak muda itu.
"Hi, kak. Ada yang bisa ku bantu?" jawabnya ramah. Meski sebenarnya ia ketakutan dan memberanikan diri.
"Bagaimana kalau kamu nemanin kita semua disini?" ucap salah satu memegang tangan Gina. Dengan cepat Gina menarik tangannya.
"Maaf kak. Aku harus segera pulang." Gina melangkah jalan, tapi tangannya di tarik. Dia mengaduh kesakitan. Dan air matanya sudah mengalir tanpa disadari karena dia ketakutan.
"Kak, aku mau pulang." tangis Gina.
"Udah, diam disini aja dulu. Habiskan jajananmu di sini."
__ADS_1
"Kalau kakak mau ini, kakak bisa ambil." Dia menyodorkan barang belanjaannya. Tapi anak-anak itu malah mengambil semua barangnya dan masih mengganggu Gina.
"Lepasin aku! Atau Aku bakalan teriak!" ancam Gina yang sudah penuh air mata.
"teriak aja." sambil menarik tangan Gina. Tapi tiba-tiba anak itu jatuh tersungkur.
Rendra menendang anak laki-laki itu. Temannya yang terkejut langsung menyerang Rendra dengan membabi buta.
Tentu saja Rendra dengan mudahnya mengalakan mereka. Dan langsung menghubungi tim pengawal dari lokasinya berada.
Sejak saat itu juga, Rendra memperketat keamanan sekitar keluarga Kencana. Karena tak mau kejadian yang sama terulang.
Sementara Gina sudah menangis dan Rendra memeluknya agar tenang.
Entah kenapa Gina merasakan perasaan yang berbeda.
Selama ini, ia hanya memandang Rendra sebagai pengawal laki-laki ayahnya yang akan melindungi keluarganya.
Tapi setelah diselamatkan Rendra, dia melihat Rendra dengan pandangan yang berbeda.
Laki-laki tampan yang keren, pintar dan juga baik hati. Seperti Rendra, awalnya ia hanya menganggap perasaannya hanyalah sekedar cinta monyet. Anak kecil yang naksir dengan pria yang sudah menyelamatkannya.
Tapi, ia sadar bahwa perasaannya lebih dalam.
Berkali-kali ia mempunyai kekasih dan berusaha menyukai mereka layaknya laki-laki. Tapi, ia tak pernah menganggap mereka lebih dari teman yang hanya perduli satu sama lain.
Ia bahkan pernah berpacaran dengan laki-laki yang lebih tua 5 tahun, tapi ia tetap menyimpan perasaannya pada Rendra.
Berkali-kali juga ia meyakinkan dirinya, bahwa Rendra itu seperti Gama layaknya seorang kakak yang melindungi adiknya.
Tapi, ia tidak bisa menepis perasaannya.
pada usia 17 tahun pertama kali ia menyatakan cintanya pada Rendra.
Karena ia juga melihat gelagat Rendra yang sepertinya juga tertarik padanya. Tapi Rendra langsung menolaknya dan menganggapnya hanya bercanda.
Tapi, Gina tidak menyerah dan terus mendekati Rendra.
Rendra tak bergeming. Dan akhirnya ia menjalin hubungan dengan orang lain untuk nelupakan Rendra, tapi tidak ada yang berhasil.
__ADS_1
*bersambung......