Bolehkah Aku Mencintaimu?

Bolehkah Aku Mencintaimu?
Pulangnya Hendrik


__ADS_3

Setelah pamit pada Datiyah. Hendrik pun langsung kembali ke rumah Sugesti.


"Tuan Anton sudah menunggumu di ruangannya." ucap Narti yang bahagia sekaligus khawatir melihat putranya yang tiba-tiba di panggil Anton untuk kembali ke rumah.


Hendrik mengetuk pintu dan di perintah masuk oleh Anton dan Jun membukakan pintunya.


"Kamu sudah sampai!" Anton kemudian menatap Jun.


"Apa Raka sudah keluar dari rumah?"


"Ya Tuan, tuan muda sudah keluar bersama salah satu pelayan."


" Jihan di mana?"


"Nyonya sedang merangkai bunga di taman belakang." Mendengar hal itu Anton lalu berdiri dan mendekat pada Hendrik.


Meski tak tahu kesalahannya, Hendrik memasang wajah tak bergeming. Dan dia tahu apa yang akan Anton lakukan.


Tangan Anton memukul perut Hendrik.


"Apa yang kuperintahkan padamu?"


"Untuk menjadi bay...." belum selesei bicara Anton memukul perut Hendrik kembali. Meski sakit Hendrik berusaha menahannya.


"Salah." Dia memukul wajah Hendrik hingga Hendrik goyah dan mundur beberapa langkah.


"Katakan padaku, apa tugasmu?" Teriak Anton kembali memukul wajah Hendrik.


"Mengawasi Nona Datiyah." Anton menunggu Hendrik melanjutkan ucapannya. Tapi Hendrik tak mengucapkan apa-apa lagi, sehingga ia lanjut memukul Hendrik.


"Katakan dengan jelas apa tugasmu?" Sambil memukul Hendrik berkali-kali hingga ia jatuh ke lantai.


"Katakan dengan jelas!!" Teriak Anton yang akhirnya menendang Hendrik karena sudah terjatuh.


"Melaporkan semua yang dilakukan Nona Datiyah setiap hari." ucap Hendrik terbatuk-batuk dan sesak nafas menahan rasa sakit.


"Lalu kenapa kamu tak melaporkan kegiatannya beberapa minggu ini? Hah?" Kembali menendang Hendrik.


Hendrik tak menjawabnya. Karena apapun jawabannya Anton tidak akan berhenti memukulnya.


"Berdiri!" Teriak Anton.


Hendrik berusaha berdiri dengan susah payah karena wajah yang babak belur dan tubuh yang sudah memar di mana-mana.


Meski sudah tak sekuat dulu, pukulan Anton masih bisa diperhitungkan.

__ADS_1


"Apa kamu sudah ingat tugasmu? Meskipun Tiyah hanya minum air, kau harus melaporkannya padaku.!" ucap Anton sambil menampar pelan wajah Hendrik yang sudah babak belur.


"Baik tuan" ucap Hendrik mengangguk sambil menahan rasa sakit.


"Kamu boleh kembali pada Tiyah."


"Tuan, bisakah saya kembali setelah wajah saya lebih baik? Saya takut nona Tiyah akan marah dan saya akan mengawasinya dari jauh saja."


"hahahahha, aku lupa kalau anak itu akan sangat marah ketika melihat wajahmu. Lakukan yang menu..." belum selesei bicara pintu ruang kerja terbuka dengan keras.


"Apa yang sudah kamu lakukan? Apa kamu lupa janjimu?" ucap Jihan yang sudah terlihat sangat marah.


"Tenang, aku tidak menyakiti Tiyah."


"kamu janji, setelah Raka lahir. Kamu tidak akan memukul atau menghukum siapapun. Bahkan saat kamu memukul Tiyah karena kesalahan kecil, aku tidak bisa mengatakan apapun karena tak mau kamu semakin menghukumnya. Tapi.. tapi ini?" Jihan mendekat pada Hendrik dan melihat wajahnya.


"kalian berdua boleh keluar." ucap Anton menyuruh Jun dan Hendrik keluar.


Setelah dua orang itu keluar. Anton memeluk Jihan dari belakang untuk menenangkannya.


Tidak seperti dulu, tubuh Jihan yang menolaknya mulai terbiasa oleh pelukan Anton lagi.


"Aku hanya menghajarnya agar dia tidak melupakan tugasnya." ucap Anton meletakkan wajahnya dibahu Jihan.


Jihan berbalik menatap Anton.


"Hahahahha...tenang? Bagaimana bisa aku tenang, ketika semua yang dilakukan putrimu adalah mencari cara merebut kamu dan Raka dari sisiku?" Anton agak berteriak.


"kamu tau, aku takut kalau kamu sudah mulai bicara kasar." ucap Jihan pelan dan mundur selangkah dari Anton.


Anton kembali menarik Jihan ke dalam pelukannya.


"Aku gak mau kehilangan kamu untuk kesekian kalinya. Kamu tau aku sangat mencintaimu. Aku bahkan rela melakukan hal buruk hanya untuk mendapatkanmu kembali."


Jihan membenamkan wajahnya ke dada Anton dan menangis. Ada rasa bersalah bersemayam di hatinya.


Menerima Anton kembali, dan memiliki anak bersamanya. Membuatnya merasa bersalah pada Ayahnya, Fuad dan juga Datiyah.


"Berhentilah menangis." ucap Anton membelai kepala Jihan.


Jihan kemudian melepaskan pelukan Anton dari tubuhnya.


"aku fikir aku akan melanjutkan merangkai bunga." ucap Jihan menahan tangisnya.


Dalam perjalanannya ke taman belakang, ia melihat Narti sedang mengobati wajah putranya.

__ADS_1


"Maafkan aku ya bi?"


"nyonya gak salah apa-apa. jangan minta maaf. Mungkin begini juga sudah takdir." Matanya berkaca, sambil kembali membersihkan luka di wajah dan sekujur tubuh putranya.


"Hendrik? bagaimana kabar Tiyah?"


"Nona baik-baik saja. Dia terlihat lebih bisa bersantai sekarang."


"Dia tidak berniat melanjutkan rencananya kan? Aku akan membujuk Anton agar membiarkan Kamu dan Tiyah pergi."


"Nyonya tau sendiri kan? apa yang diinginkan Nona Tiyah, bukan hanya kebebasannya. tapi juga kebebasan seluruh isi rumah ini."


Jihan melemaskan bahunya. Karena tahu apa yang di rencanakan putrinya. Ia tidak ingin lagi Datiyah menderita lebih lama.


Melihat Datiyah keluar dari rumah Sugesti, Jihan merasa sangat lega.


Meskipun ia tahu, Anton juga tidak akan melepaskan Datiyah dengan mudah.


Dia pun memeutuskan kembali merangkai bunga. Untuk melepaskan stress dan juga rasa bersalah dalam hatinya.


Setelah Narti mengobati lukanya, Hendrik kembali ke kamarnya.


Dia ketiduran seharian karena minum obat untuk mengurangi rasa sakit dari tubuhnya.


Malam tiba, dia terbangun oleh Narti yang membawakan makanan untuknya.


Dia melihat ponselnya yang sudah penuh dengan chat dan pesan dari Datiyah.


"Kakak di mana? katanya akan kembali sebelum makan malam?"


Semua pesan di isi dengan ucapan hampir sama menanyakan keberadaan Hendrik.


Dengan cepat dia membalas pesan Datiyah.


"Maaf Nona. Saya tadi sedang membantu Ibu di dapur dan mengecas ponsel saya. Saya akan kembali dua minggu lagi. Saya harap Nona menikmati waktu Nona untuk berlibur."


Hendrik tau, jika dia menjadikan Narti sebagai alasan Datiyah akan sedikit mengerti.


"Maafkan saya Nona, saya tau Nona sangat khawatir. Saya baik-baik saja. Semenjak pulang, selama 3 tahun saya selalu menemani Nona. Saya sedikit tenang meninggalkan Nona di rumah Tuan Gama. Saya ingin menghabiskan waktu bersama Ibu saya."


Tak berselang lama, Datiyah membalas pesannya.


"Kakak yakin baik-baik saja?" balas Datiyah.


"Iya, saya baik-baik saja. Selamat istirahat Nona." pesan terakhir Hendrik untuk Datiyah.

__ADS_1


"Aku tidak bisa kembali dengan wajah yang seperti ini. Nona Tiyah baru baru ini merasa sedikit bersantai. Aku tak ingin dia khawatir dan merasa bersalah." batin Hendrik sambil menghabiskan makan malam yang di bawakan oleh ibunya.


*bersambung......


__ADS_2