Bolehkah Aku Mencintaimu?

Bolehkah Aku Mencintaimu?
Gaun Pengantin


__ADS_3

Gama yang baru tiba di rumahnya di sambut tatapan mematikan dari Mutia di ruang keluarga.


Gama menghisap nafas dalam-dalam dan membuangnya.


"Ma!?" sapa Gama.


"Apa maksud kamu akan menikahi Datiyah?" tanya Mutia.


"Kenapa lagi? Apa sekarang juga Mama membenci Datiyah?"


"Bukan Mutia tapi Anton."


"Mama gak usah khawatir masalah Anton. Dia tidak akan turut campur dalam bisnis apapun. Aku hanya membagikan sedikit keuntungan untuknya tanpa perlu terikat."


"Apa? Apa kamu gila?"


"Iya, aku gila. Karena mama yang tidak mau merestuiku dan aku harus bertemu wanita yang berbeda setiap minggu. Daripada seperti itu, aku lebih memilih Datiyah. Dan dia akan mengerti meski aku tidak mencintainya."


"Apa? jadi kamu menikahinya agar kamu tidak mama jodohkan lagi? dan dia juga setuju?"


"Iya, karena dia juga capek di jodohkan dengan orang gak benar oleh Anton.


Setidaknya, Dia tahu aku tak mencintainya dan pernikahan ini hanya untuk sementara. Sampai mama bisa terima Aira. Besok beritanya akan di muat.


Aku harap mama bisa membantu."


"Maka kamu akan selamanya terikat pernikahan denga Tiyah. Sampai mama mati." ucap Mutia meninggalkan Gama.


Keesokan harinya.


"PERNIKAHAN ANTARA KENCANA DAN SUGESTI. BISNIS ATAU CINTA?"


"KENCANA AKHIRNYA MENEMUKAN TAMBATAN HATINYA"


"DEWI KEBAIKAN MENAKLUKKAN KENCANA"


Judul berita tentang pernikahan mereka.


Jihan yang melihat berita pagi itu sangat terkejut.


"Apa maksudnya ini? putriku menikah dan aku sama sekali tak tahu?" ucap Jihan yang menghampiri Anton sedang berganti pakaian.


"Ssstttt, jangan berisik pagi-pagi. Lagipula calonnya itu anak sahabatmu. Jadi kamu tidak perlu khawatir." Jihan hanya bisa menggertakan giginya.


"Sampai kapan aku harus hidup berdampingan tapi tak mampu menyapa putriku sendiri?" ucap Jihan sedih.


"Bukankah keadaan sudah berubah? Aku sudah menerimamu, dan melahirkan anak kita. Tapi kenapa?" menatap Anton dengan sedih.


"Apa kamu tahu apa yang dilakukan Tiyah dibelakangku? Dia sedang berencana untuk menjatuhkanku. Dia menyuruhku untuk siaga dan tidak lengah. Benar-benar keras kepala." Anton menyeringai.


"Tapi ini adalah pernikahannya. Aku sebagai ibu harus mendampinginya."


Anton menutup mata , menarik nafas.

__ADS_1


"Maafkan aku, aku tidak bisa memberimu izin." Anton tidak pernah membiarkan Tiyah atau Jihan keluar dari rumah dalam waktu bersamaan. Tapi tidak ada yang menyadarinya bahwa itu adalah cara Anton mencegah mereka untuk kabur.


Melarang mereka bicara agar mereka tidak bisa merencanakan apapun. Meski Anton sudah berubah lebih lembut karena kehadiran Raka, tapi tak serta merta membuatnya menurunkan pengamanannya.


Sementara itu, Aira yang sangat gusar menelepon Gama.


"Serius, kamu memilih Datiyah? Dan tanpa memberitahuku dulu?" ucap Aira kesal.


"Aira, tenang dulu. Tiyah itu sahabatku. Dan dia tahu tentang kita. Akan lebih mudah kan? Dia tidak mengharapkan apapun dariku begitu juga sebaliknya."


"Tapi, bagaimana dengan hala-hal selanjutnya? Dia itu Dewi di mata orang-orang. Kalau suatu hari kamu bercerai darinya dan menikahi aku. Orang akan menghujatku."


"Kenapa kamu selalu memikirkan hal itu? Kita akan seleseikan masalah itu nanti. Lagipula aku yakin Tiyah akan membantu kita."


Setelah lama berusaha menenangkan Aira akhirnya Gama menelepon Tiyah membuat janji temu.


Akhirnya mereka memutuskan untuk makan malam bersama tanpa Jihan ataupun Anton.


Begitu masuk ruangan,


"Datiyah." ucap Mutia yang senang meskipun alasan pernikahan anaknya masih belum bisa ia terima.


"Tante, sudah kama gak ketemu." mereka kemudian cipika-cipiki.


"Ini pasti Gina, sudah lama gak ketemu ternyata sudah jadi wanita cantik sekarang."


"Iya, tapi beberapa orang nasih saja anggap aku anak kecil." ucap Gina tapi matanya terarah ke Rendra.


"Hay," sapa Gama santai. Tiyah hanya memutar bola matanya.


Hendrik menunduk menyapa semuanya.


Hendrik, dan Rendra duduk di kursi paling ujung di meja."


Sambil makan mereka sibuk mengobrol. Tentang kehidupan masing-masing.


Tentu saja Tiyah tidak membicarakan kehidupannya di rumah nelainkan kegiatan amalnya dan bertemu orang-orang.


"Aku hampir lupa, besok kita bakalan fitting pakaian. Dan aku sudah perintahkan mereka menyiapkan pakaian yang terindah dan termahal buat sahabatku."


"Apa aku gak bisa langsung hadir ke pernikahan saja?"


"Hahahaa, walaupun aku yang mengurus semuanay, aku tidak bisa mencoba gaun pengantin untukmu."


"Kalian sadar gak sih, kalian ngomongin pernikahan seperti bukan sesuatu yang oenting." ucap Gina.


"Aku kalau menikah, akan menikahi laki-laki yang aku cintai. Makan malam romantis di pantai dengan lilin-lilin. Dia akan melamarku di pantai dan berlutut, memintaku menikahinya."


"Tapi kalau di pantai anginnya kencang, entar lilinnya gak bisa nyala." ucap Tiyah.


"Dan juga, angin laut tuh menganggu. Gak mungkin kamu bisa makan dengan tenang." sambung Gama.


"Iihh, kalian berdua ganggu khayalan lamaran romantisku." dengan begitu nerke tertawa kecil melihat Gina yang pura-pura merajuk.

__ADS_1


Dan untuk waktu yang lama, Mutia sedikit tersenyum, melihat anak-anaknya tertawa.


Berfikir, seandainya dia menyisakan waktu untuk melihat anak-anaknya, mungkin hatinya akan bisa memaafkan.


Begitu juga dengan Hendrik yang melihat Datiyah tersenyum dengan tulus selain ketika mengerjakan bakti sosial.


Keesokan harinya, Datiyah pergi ke tempat yang mereka janjikan. Tak lama kemudian Gama dan Rendra juga tiba di tempat itu.


"Nona, saya sudah menyiapkan gaun yang cocok untuk anda. Saya sudah melihat style anda, tapi untuk pernikahan anda bagaimana kalau kita lebih menunjukkan sisi seksi tapi tetap anggun?"


"apa? hahahahha, gak perlu seksi. Cukup yang standar saja." Wanita itu memanggil pegawainya untuk membantu Tiyah.


Tiyah membuka pakaiannya, kedua pelayan toko itu menutup mulutnya kaget.


Tiyah semakin merasa minder.


"Nona, apa harus kami melapor polisi?" bertanya dan berbisik dengan nada khawatir.


"ah, apaaaa? hahahhaha. Gak, ini waktu kecil aku jatuh di gunung dan badan aku terkena ranting. Semua lukanya sudah kering. Aku cuma gak mau operasi plastik." bisiknya pelan pada pelayan itu sambil tersenyum. Pelayan itu mengangguk mengerti.



Air mata Tiyah mengalir melihat gaun yang di sarankan sangat indah. Meski dengan luka di tubuhnya tidak mengurangi keindahan gaunnya.


Tapi ia tahu tidak bisa menggunakannya untuk pernikahannya. Meskipun tak pernah terlintas fikirannya untuk menikah sungguhan.


"Kak Hendrik, bisa ambilkan gambar untukku?" tanya Tiyah memanggil Hendrik yang berdiri dekat dengan ruang ganti.


Hendrik mengetuk lalu masuk setelah mendengar izin. Hendrik menganga dan terkejut melihat Tiyah.


Dia terlihat sangat anggun. Luka di tubuh Tiyah sejak dulu tak pernah mengubah pandangannya terhadap Tiyah yang memeng selalu cantik di matanya.


"Kak Hendrik!?" Tiyah memanggil Hendrik yang masih bengong.


"Eeehemmm" Hendrik berdehem dan segera mengambil beberapa gambar Tiyah menggunakan ponselnya. setelah itu hendrik keluar, dan Tiyah meminta oelayan membawakannya gaun yang bisa menutup seluruh tubuhnya.



"Gama, bagaimana menurutmu?"


"Cantik, tapi bukan gaun itu yang aku pilihkan. Apa kamu gak suka yang aku pilih?"


Setelah desainer mengirimkan beberapa pilihan gaun, Gama memilih yang hari ini di coba oleh Tiyah.


"Kamu yang pilih? jujur aku suka banget, tapi bukan seleraku. Aku rasa yang simpel seperti ini lebih nyaman." Ucap Tiyah tersenyum.


Gama hanya mengangguk dan berusaha tersenyum meskipun agak kecewa karena pilihan Tiyah.


"Kamu milih, gak ngebayangin Kak Aira yang pake kan?" tanya Tiyah berbisik dan tertawa.


"Ha ha ha..lucu. Semua orang tau, kamu yang bakalan nikah sama aku. Jadi dia nyaranin gaun yang cocok dengan karaktermu. Dan aku yang milih."


"Hahahha, co cweet sih kamu. Lagian kamu gak usah terlalu serius dengan pernikahan kita.

__ADS_1


Bagaimana nanti kalau aku jatuh cinta karena kamu terlalu perhatian?" bisik Tiyah bercanda.


*bersambung....


__ADS_2