Bolehkah Aku Mencintaimu?

Bolehkah Aku Mencintaimu?
Maaf......


__ADS_3

Ketika Anton hendak memukulnya ketiga kali, tiba-tiba polisi menyerbu masuk dan menghentikan Anton.


Datiyah melihat ke arah Anton,


"Siapa mereka? Polisi?" batin Datiyah.


Beberapa orang berjalan ke arah Ibunya Hendrik, ke arah Hendrik dan Datiyah.


"Telpon ambulan, ada 3 orang terluka."


Datiyah hanya mendengar suara Anton berteriak suruh melepaskannya. Setelah itu dia tak sadarkan diri.


Samar dia mendengar suara Gama.


Setelah tiba di rumah sakit, mereka bertiga langsung di rawat di IGD, tapi Hendrik di bawa ke ruang operasi karena luka yang parah dan beberapa tulang yang retak dan patah.


Sementara ibunya Hendrik tak terselamatkan dan wafat dalam perjalanan ke rumah sakit.


Gama terus menemani Datiyah, meski hanya bisa melihat dari jauh.


Ketika para perawat merobek baju Datiyah untuk memeriksa luka cambuknya di punggungnya. Mereka semua sempat terkejut dan diam melihat bekas luka Datiyah.


Gama melihat reaksi perawat dan mendekat. Dia pun melihat tubuh Datiyah yang selama ini selalu di tutupi. Gama terdiam, matanya berkaca-kaca. Marah, kecewa dan sedih semuanya bercampur menjadi satu.


"Sejak kapan?!? Bagaimana aku bisa tidak tahu, dia memiliki bekas luka sebanyak itu?" batin Gama.


"Maaf Pak, sebaiknya anda mundur dulu" pinta salah satu perawat, agar mereka lebih leluasa memberikan perawatan.


Gama mundur perlahan. Dan duduk di kursi tunggu.


Dan merenungi semua yang terjadi hari ini.


"Tuan, ibu dari Hendrik tidak dapat tertolong lagi. Beliau meninggal di perjalanan tadi. Dan Hendrik masih di operasi. Bagaimana dengan Nona Tiyah?" Ucap Rendra.


Gama masih termenung, dan mengangguk juga menggeleng mendengar ucapan Rendra, sibuk dalam pikirannya sendiri.


"Sebenarnya apa yang terjadi di rumah itu? Kenapa dan bagaimana bisa Tiyah menjadi seperti itu?"


Mengingat kembali pertemuan awal mereka setelah dewasa, Datiyah memang tak seceria dulu. Tapi, Gama pikir itu adalah hal yang wajar, mengingat dia juga berubah sepeninggal ayahnya.


Mengingat ketika mereka mengambil foto, dan Datiyah tak mau mengenakan pakaian terbuka, Datiyah yang ketakutan ketika di sentuh orang yang tak dia kenal.


"Kenapa selama ini aku tidak melihat dan menyadari semua yang terjadi di hadapanku." ucap Gama pelan dan mengusap wajahnya.


"Tuan, ini sama sekali bukan salah Tuan."


"Keluarga Ibu Datiyah?"panggil seorang perawat.


Gama dan Rendra lalu maju.

__ADS_1


"Keadaan Nona Datiyah baik-baik saja, dan lukanya sudah diobati dan beri jahitan. Sekarang kami akan memindahkannya ke ruangan."


Gama terus berjalan mengikuti Datiyah sampai ke dalam ruangan VIP. Dan duduk di samping Datiyah tanpa meninggalkannya sedikitpun.


Mutia dan Gina datang pun, dia tetap duduk di samping Datiyah tanpa berpindah dan bahkan tak ke toilet sekalipun.


"Kakak, tau? Tadi pagi Kak Tiyah berteriak histeris dan memecahkan barang-barang. Dan dia sudah mengemas pakaiannya."ucap Gina memberitahu Gama.


"Gina, kami tidak perlu memberitahunya sekarang, jangan menambah beban pikiran kakakmu. "


Mutia lalu mengajak Gina pergi dengan paksa.


"Jadi, kamu memintaku pulang, karena orang rumah memberitahumu?" tanya Gama pada Rendra yang masih ada dalam ruangan.


"Tuan, masalah itu bisa anda pikirkan lain waktu. Sekarang, anda lebih baik makan dulu. Biar anda punya tenaga untuk. Menjaga Nona", bujuk Rendra.


Gama sama sekali tidak lapar, dan hanya memikirkan kondisi Datiyah saat ini.


Tak beberapa lama kemudian...


" Gama? " panggil Datiyah pelan.


"Tiyah, kamu sudah bangun?" ucap Gama mendekatkan wajahnya pada Datiyah.


"Kak Hendrik? Bibi? " tanya Datiyah lemah.


"Kamu, baik-baik saja. Tidak ada yang sakit kan?"


"Anton?? Dia dimana?" Datiyah mulai menggerakkan tubuhnya untuk bangun.


"Dia sudah di tangkap."


Datiyah mengertakkan giginya, air matanya mengalir. "Dia, tidak akan lama di sana. Kamu tidak tau. Apa yang bisa dia lakukan."


"Tenang, Tiyah. Aku akan buat dia membusuk dipenjara selamanya."


"Tidak... Tidak akan semudah itu. Kamu tahu dia punya banyak koneksi di sana. Dia, pasti bisa keluar dengan mudah." Datiyah masih berusaha bangun dari tempat tidurnya.


Tapi Gama memeluknya dan menahan tubuh Datiyah. "Sssstttthhhh.... Ssssshhhh.. " Gama berusaha menenangkan Datiyah yang menangis dan melemah di pelukannya.


Setelah agak lama menangis, Datiyah akhirnya tertidur karena masih lemah.


"Tuan, saya sudah membawa baju ganti anda. Baiknya Tuan menyegarkan diri dan makan."


Setelah melihat Datiyah terbangun, Gama sedikit lega. Akhirnya dia bisa mandi dan makan.


Tengah malam, ponselnya berdering,


"Tuan Gama, saya Mala. Kak Aira mencari Tuan."

__ADS_1


Gama yang baru bangun dari tidurnya, melihat Datiyah masih tertidur pulas. Dan Gama berjalan perlahan keluar kamar.


"Aku tidak bisa Menjenguknya malam ini." menghela nafasnya, merasa bersalah pada Aira, tapi dia juga tak ingin meninggalkan Datiyah.


Gama langsung mematikan panggilan.


Setelah masuk dalam kamar, dia melihat Datiyah terbangun.


"Siapa yang menelpon?" tanyanya penasaran.


"Hanya beberapa orang yang menanyakan tentang kejadian ini."


"jam segini?" tanya Datiyah curiga.


"Jika kamu ingin menjenguknya, kamu boleh pergi. Aku tidak butuh kamu di sini."


"Tiyah..." Panggil Gama pelan dan mendekat ke tempat tidur Datiyah.


"Maafkan aku, yang selama ini tidak tegas tentang perasaanku. Tapi, aku hanya benar-benar khawatir sebagai seorang teman." Gama meraih tangan Datiyah, tapi Datiyah kembali menarik tangannya.


"Aku, sudah memutuskan untuk meninggalkan rumahmu. Karena apa yang aku butuhkan sudah tercapai. Waktu yang kamu tunggu-tunggu akan tiba. Dan kalau kamu menjelaskan keadaan Aira yang sebenarnya, aku yakin Mama Mutia akan mengerti dan membiarkan kalian bersama. " Datiyah masih sakit hati dengan apa yang dilakukan Gama pagi itu.


"Kamu tau, sekarang kamu adalah pilihanku."


"Tidak Gama, selama masih ada kak Aira, dan kalian tidak benar-benar selesai. Aku tak mau sekedar menjadi pilihan buatmu. Aku Yang lebih dulu menyukaimu, makan aku yang akan mengakhiri perasaan ini."


"Meski aku tak tau bagaimana caranya." batin Datiyah.


"Lebih baik, kamu istirahat. Kita bisa membahas ini kalau kamu sudah sehat."


"Tidak, aku tak ingin membahas hal ini lagi."


Gama menarik nafas dalam, Dia yang harus bersabar sekarang. Karena sebagian besar memang dia yang bersalah.


"Baiklah... Jika memang itu kemauanmu. " Gama juga tak ingin berdebat dengan kondisi Datiyah saat ini.


Dia ingin menyelesaikan masalah Anton dan masalah Aira lebih dulu. Seperti kata Datiyah, selama masih ada Aira, dia tahu kalau Datiyah tidak akan mempercayainya.


Datiyah memejamkan matanya, tapi tak tertidur.


Ketika subuh tiba, Gama mendekati Datiyah yang berpura-pura tertidur.


"Ada yang harus aku urus hari ini, Semoga kamu cepat pulih. Aku mencintaimu. " Bisik Gama lalu mengecup pipi dan kening Datiyah.


"Tante Jihan? " ucap Gama terkejut ketika membuka pintu.


Datiyah juga ikut terkejut, langsung duduk dan melihat ke arah pintu.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2