Bolehkah Aku Mencintaimu?

Bolehkah Aku Mencintaimu?
Aira


__ADS_3

Tau ciumannya tak di balas, Gama pun melepaskan leher Datiyah. Datiyah yang marah lalu menampar Gama.


Plaakkkk


"Apa apaan Kamu? Apa aku terlihat begitu bodoh sampai kamu mempermainkan aku? Kadang kamu dekat, kadang jauh, sekali menciumku, sekali cuek padaku."


Datiyah lalu menunjuk dada Gama dengan sedikit mendorongnya.


"Jika kamu sama sekali tak mencintaiku, jangan pernah ulangi hal ini lagi. Jangan pernah menciumku ataupun menyentuhku lagi." Mata Datiyah berkaca-kaca.


"Jika tidak, aku akan selalu berharap sama kamu. Berharap bahwa suatu hari kamu akan cinta padaku." Bathin Datiyah.


Datiyah pergi meninggalkan Gama dan mengajak Hendrik keluar dari rumah.


"Cari hotel." ucap Datiyah mengusap air matanya. Ia sedang tak ingin bertemu ataupun bicara pada Gama.


Merasa penat dalam kamar, akhirnya Datiyah memutuskan untuk berjalan-jalan. Tanpa ia sadari, ia memasuki kawasan VVIP.


Malam ini, sedang ada pesta besar, yang mana tamunya adalah orang-orang kaya dan ternama.


"Maaf Nyonya, apakah anda memiliki akses ke dalam pesta?" ucap seorang pengawal.


Datiyah hanya menggeleng, awalnya ia hanya ingin melihat sebentar, karena tak memiliki akses dan ia juga tak tertarik. Iapun memutuskan kembali ke kamarnya.


"Aira, ayolah.. Malam ini kamu adalah milikku." ucap seornag laki-laki yang sudah mabuk.


Mendengar nama Aira, Datiyah pun berbalik dan melihat Aira yang berjalan keluar dari kawasan vVIP sedang diraba dan dicium oleh laki-laki itu.


Mata Datiyah terbelalak, bibirnya kaku tak dapat berkata-kata.


"Aaahhh, tunggu.. Jangan disini. Tentu saja aku akan menemani Tuan malam ini. Tuan, tid....." Belum selesei bicara, Aira melihat ke arah Datiyah dan mendorong laki-laki dihadapannya dan tak sengaja terjatuh.


"Heiyyy,, wanita s*alan. Berani sekali kamu mendorongku." Laki-laki itu bangun dengan emosi lalu menampar wajah Aira bolak balik.


"Maafkan saya, saya hanya terkejut." ucap Aira menunduk dan meminta maaf, ketika ia melihat ke arah Datiyah. Ia sudah tidak ada di tempat ia berdiri.


Pengawal yang melihatnya langsung menyelamatkan Aira dari kemarahan laki-laki itu.


Aira yang masih khawatir karena dilihat oleh Datiyah, tak berhenti menghentakkan kakinya dan menggigit kukunya.


"Dia gak akan langsung kasi tau Gama kan? Dia gak akan membocorkan hal ini ke publik kan?" batin Aira khawatir.


"Kak Aira, ini jadi lebam dan merah." ucap asistennya sambil mengompres wajah Aira.

__ADS_1


"Bukan itu yang penting sekarang, cari tau kenapa Tiyah bisa ada di hotel ini dan ada di lantai ini." Aira menjadi gelisah dan kesal.


"Saya sudah menyuruh beberapa orang mencari tahu dan bahkan meminta bantuan Tuan Ben."


Tiba-tiba ponselnya berdering.


"Dia masih di hotel dan menginap di kamar 192, aku tak tahu ada perlu apa kamu dengannya. Jangan buat masalah dengan putri Anton Sugesti." ucap Tuan Ben.


"Saya janji tidak akan membuat masalah apapun. Terimakasih Tuan."


Mereka pun mengakhiri pembicaraan, dan segera ia menuju lantai 19, yang kebetulan kamar Aira berada di lantai 20 sehingga ia tak perlu waktu lama.


Ketika akan membunyikan bel,


"Apa yang anda lakukan disini?" tanya Hendrik yang baru kembali membelikan Datiyah makanan ringan. Itu semua hanyalah alasan Datiyah agar ia bisa sendirian.


"Itu bukan urusanmu, aku perlu bicara dengan Tiyah."


"Jika hal itu berurusan dengan Nona Muda saya, maka itu menjadi urusan saya." Ucap Hendrik berpindah menghalangi pintu.


Aira menggertakan giginya dan menyeringai."Apa dia juga tidur dengan Pengawalnya?"


"Jaga ucapan anda" jawab Hendrik dengan suara ynag keras.


Meski sedikit terkejut, tapi Datiyah berusaha menjaga raut wajahnya.


"Kak Aira? Ada perlu apa kakak di sini? Dan bagaimana bisa ada di sini?"


Aira menyengir melihat akting Datiyah.


"Aku perlu bicara sama kamu." Ucap Aira melihat ke arah Hendrik dan asistennya menyuruh mereka pergi.


"Nona?" Panggil Hendrik, lebih tak mengizinkannya.


"Baiklah, Kakak bisa ke restoran. Aku perlu bicara dengan Kak Aira."


"Tapi Nona." Datiyah menggeleng dan Hendrik bersama asisten Aira pergi meninggalkan kamar Datiyah.


"Silahkan duduk." Datiyah lalu berjalan ke arah pantry.


"Teh, kopi atau yang lainnya?"


"Air putih saja." Jawab Aira.

__ADS_1


Setelah meletakkan gelas di hadapan Aira.


"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Aira cemas.


"Menurut Kak Aira, apa yang harus aku lakukan?"


"Hah??" tanya Aira bingung.


"Apa yang kakak lakukan tadi adalah urusan Kakak, waktu Gama bilang dia mencintai kakak. Bukankah di akan bersedia menerima kekurangan kakak? Hemm, tapi aku juga bingung. Apakah kakak mencintai Gama?"


"Aku masih mencintai Gama."


"Lantas apa yang kakak lakukan dengan laki-laki tadi?"


"Kamu bilang kamu tidak perduli apa yang aku lakukan."


"Iya, aku tak perduli. Meskipun Gama sering menyebalkan. Tapi aku juga tidak mau dia terluka."


"Aku....." Aira menarik nafasnya dalam.


"Apa kamu tau, bagaimana rasanya, ketika kamu ingin mati. Tapi kamu tak bisa melakukannya? Waktu dimana kamu merasa, tidak perduli apa yang kamu lakukan, tapi selalu membawa ke ruang keputusasaan?" Tanya Aira pada Datiyah.


"Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu? Bukankah kita semua punya saat-saat seperti itu?" Jawab Datiyah yang berdiri dan mengambil air minum untuknya.


"Apa kamu tau perjuanganku untuk bisa sampai ke sini? Aku merindukan hidupku yang dulu. Tapi aku malah terjebak ke dalam jurang tidak ada akhir."


Aira mulai menangis.


"Aku, bukan lagi anak gadis yang hidup hanya dengan cinta dari Gama. Hidupku berubah semenjak aku ditendang keluar dari rumah itu. Aku ingin kembali, tapi semua noda yang menempel tak mau lepas." Aira semakin terisak.


"Melihat Gama, aku hanya ingin kembali padanya. Memeluknya. Karena itu, ketika aku melihat Gama dan Kamu terlihat begitu mesra. Aku seperti kehilangan arah."


Datiyah yang iba melihat kesedihan Aira, mengusap punggung Aira.


"Kamu, gak akan kasi tau Gama tentang hal ini kan?"


"Kak? Kalau kakak gak mau Gama tau dari aku, lebih baik kakak secepatnya kasi tau dia. Kare..."


"Laki-laki mana yang bisa mengerti bahwa wanitanya seorang perempuan murahan?" Teriak Aira memotong ucapan Datiyah.


"Apa kamu pernah merasakan diculik, dijual dan diperlakukan seperti barang murahan?"


*bersambung....

__ADS_1


__ADS_2