
"Kamu lebih kuat dari yang aku bayangkan. Lagipula dia memang anak laki-laki yang lemah dan tak bisa apa-apa." Ucap kakek itu tersenyum.
Datiyah mengedipkan matanya berkali-kali, merasa kebingungan. "Maksud kakek apa? Apa kakek mengenal saya?"
Datiyah memperhatikan wajah kakek yang ada di hadapannya. Tak butuh waktu lama melihat kakek itu.
Matanya, mengingatkannya pada seseorang.
Anton Sugesti.
Datiyah langsung berdiri dari tempat duduknya dan menjauh dari Kakek itu.
Kakek itu hanya tersenyum sinis, sementara seluruh tubuh Datiyah mulai gemetar. Meskipun tak mengenal Toto Sugesti, melihatnya dengan seksama, matanya jauh lebih jahat dan menyeramkan dari mata Anton.
"A.a. a apa yang anda inginkan dariku?" tanya Datiyah gugup.
"Hahahahahahhaha, tenang saja. Aku tidak menginginkan apa-apa darimu. Kamulah yang datang ke tempat ini. Ini mungkin saja takdir."
Masih dalam keadaan kaget, takut dan kebingungan Datiyah tidak berkata apa-apa.
"Duduklah" ucap kakek itu.
Dengan perlahan ia pun kembali duduk, dengan jarak yang agak jauh.
"Kamu ternyata lebih kuat dari dugaanku." Datiyah tak mengatakan apa-apa sehingga Toto melanjutkan bicaranya.
"Aku fikir kamu dan ibumu akan menyerah dan mengakhiri hidup kalian masing-masing. Seperti yang dilakukan oleh ibunya Anton."
Datiyah kaget mendengar ucapan Toto, dan kepalanya menoleh ke arah lelaki tua itu.
"Hahahhahahaa, wanita adalah makhluk paling rapuh yang pernah aku temui. Begitu juga dengan Anton, dia bersikap seperti wanita. Bagaimana bisa dia membiarkan wanitanya menikah dengan laki-laki lain. Harusnya dia bisa mengendalikan wanitanya dengan baik dan tak membiarkannya berpaling darinya." Lelaki tua itu menggeleng, seolah apa yang ada di fikirannya adalah yang paling benar.
"Aku berhasil membuat wanitaku lebih memilih mati daripada harus lari dariku. Hahahhaha." Dia tertawa dengan nada yang mengerikan.
"Dasar orang tua gila." Itu adalah kata pertama yang berani Datiyah ucapkan.
"Kalian, benar-benar gila." Datiyah memberanikan diri bicara lagi dan berdiri dari tempat duduknya.
"Bantu aku keluar dari sini. Maka aku akan membantu kamu dan ibumu pergi dari sisi Anton." Datiyah berbalik, dan melihat kakek tua itu sambil mengernyitkan dahinya.
Datiyah mendengus. "Hah, mengeluarkan diri sendiri dari rumah sakit jompo ini saja, anda tidak mampu. Bagaimana bisa anda berjanji membebaskan aku dan ibuku." Entah keberanian darimana, meski tubuhnya gemetar tapi ia sangat membenci Toto Sugesti meskipun tak mengenalnya dengan baik.
Begitu mudahnya dia membicarakan istrinya yang memilih bunuh diri demi lolos darinya. Begitu mudahnya dia mengatakan wanita adalah makhluk rapuh.
"mungkin karena kakek sangat jahat, sehingga kakek akan ditinggalkan membusuk di sini." ucap Datiyah menyumpahi Toto lalu pergi.
__ADS_1
"Kau lihat, aku hanya bicara padamu beberapa menit. Tapi Dewi Kebaikan yang terkenal lembut berkata kasar padaku. Hahahahhaha." Suara tawanya terdengar dari jauh, karena Datiyah meninggalkan Toto di tempat duduk itu dan memilih mencari Gina.
Karena gemetar, ia memutuskan masuk ke kamar mandi untuk menenangkan diri.
Menarik nafas dalam-dalam. Dan membasuh wajahnya.
"Apa yang barusan aku lakukan? Kenapa bisa aku membenci kakek itu. Mengenalnya saja, tidak." Datiyah menggeleng berkali-kali, fikirannya kalut. Memikirkan tawaran Toto.
"Apa benar dia bisa membantuku dan mama menjauh dan kabur dari Ayah Anton?" Cepat ia menggelengkan kepalanya. Memikirkan harus bekerja sama dengan Toto membuatnya merasa ngeri dan bulu badannya berdiri.
Selang beberapa jam yang serasa beberapa menit, ia akhirnya keluar dan mencari Gina.
"Kak Tiyah! Darimana saja. Aku sudah cari kakak dari tadi."
"Apa?" Datiyah bingung, karena awalnya dia yang berniat mencari Gina.
"kakak tuh udah ngilang sejaman." ucap Gina memperlihatkan jam di tangannya.
"Maaf, aku sakit perut. Dan gak lihat waktu." ucap Datiyah membuat alasan.
Mereka akhirnya pergi ke sebuah ruangan istirahat. Dimana semua kakek-kakek dan nenek-nenek duduk bersama dan bersantai.
Beberapa suster dan relawan membantu menyiapkan cemilan dan buahan sesuai dengan menu masing-masing.
"Ambil ini. Jika kamu berubah fikiran." Toto menyodorkan sebuah kertas berisi sebuah kontak. Datiyah menerimanya.
"Jika kamu menghubungi nomor ini dan menyebut namaku. Dia akan mengerti, dan membantumu."
"Kenapa? Kenapa dia harus membantuku? dan apa yang harus aku lakukan untuk bantuan yang aku dapatkan?" Tanya Datiyah menatap kertas di tangannya dan menatap Toto.
"Seperti yang aku katakan. Kamu akan membantu asistenku membuatku keluar dari sini."
Datiyah menggeleng. "Tidak. Aku tidak tertarik. Anda ataupun Ayah Anton adalah orang yang kejam. Untuk apa aku bekerja sama dengan monster demi bebas dengan monster lainnya." ucap Datiyah meremas kertas itu dan.mengembalikannya ke tangan Toto.
Tapi, tiba-tiba Toto menarik tangan Datiyah dan menggenggam pergelangan tangannya sangat erat. Membuat wajah Datiyah pucat. Seolah seluruh darah di tubuhnya mengalir keluar.
"Dengarkan aku, hanya karena aku memintamu dengan lembut, kamu memperlakukanku seperti lelaki tua yang lemah. Tapi aku tetaplah Toto Sugesti." Tangannya masih menggenggam erat pergwlangan tangan Datiyah.
"Dan kamu harus ingat. Begitu aku keluar dari sini tanpa bantuanmu. Anton, dan semua yang berhubungan dengannya akan hancur berkeping-keping. Aku memberikanmu kesempatan membantuku dan aku akan membebaskanmu. Tapi tidak lagi." Akhirnya dia melepaskan tangan Datiyah dan pergi kmebali berkumpul dengan orang-ieang sebayanya.
Kaki Datiyah lemas tak mampu berdiri. Dan diapun jatuh terduduk ditempat ia berdiri.
Gina yang melihatnya segera berlari ke arah Datiyah.
"Kak Tiyah. Kakak baik-baik saja? Ada apa?" tanya Gina khawatir. Tubuh Datiyah gemetaran.
__ADS_1
Gina yang khawatir langsung memanggil suster dan membawa Datiyah ke sebuah kamar untuk istirahat.
Ketika Datiyah sedang beristirahat dan diberi obat tidur karena tubuhnya tak berhwnti gemetar, dan Gina menemaninya.
"Apa dia baik-baik saja?"
"Saya harap begitu." jawab Gina melihat seorang kakek masuk ke dalam ruangan.
"Biar aku saja yang menemaninya, kamu bisa membantu suster kembali."
Gina lalu menggeleng. "Tidak perlu, saya yang akan menemaninya. Terima kasih atas tawarannya." entah kenapa, meski nada bicaranya yang ramah, tapi Gina juga meeasa tidak nyaman dengan laki-laki tua itu.
"Kamu tidak usah khawatir. Jika dia adalah anak Anton, maka dia adalah cucuku."
"Maksud kakek?"
"iya, aku Toto Sugesti. ayahnya Anton."
"Senang berkenalan dengan anda. Tapi, biar aku saja yang merawat Kak Tiyah." Ucap Gina berusaha tersenyum ramah pada Toto.
"Apa aku terlihat begitu mengerikan?" cepat Gina menggeleng.
"Atau kamu percaya pada rumor tentang keluargaku?"
"Tidak, saya hanya merasa bertanggung jawab, karena sudah membawa Kak Tiyah ke sini, dan sekarang dia malah mendapatkan obat bius supaya tenang."
"Tidak usah khawatir, dia pasti baik-baik saja. Aku akan menjaganya." Ucap Toto. Ketika Gina akan menolak.
"Gina, kita bisa bicara sebentar?" tanya Ajeng yang tiba-tiba muncul.
Gina ragu, tapi pembicaraannya dengan Ajeng memang belum selesei.
"Kamu bisa pergi. Aku akan menjaganya, dan aku janji dia akan aman dan baik-baik saja."
Meski ragu, akhirnya Gina meninggalkan Toto "menjaga" Datiyah.
Toto berdiri di sanping tempat tidur Datiyah dan menatapnya. Dia tak.sengaja melihat garis luka dibagian tulang belikat Datiyah.
Ketika akan menyentuhnya.
Pintu kamar terbuka dengan keras. Dia terkejut.
"Jauhkan tangan kotormu dari tubuhnya." Teriak Hendrik dengan nafas memburu, memvuka pintu kamar.
*bersambung......
__ADS_1