
Anton sangat membenci ruangan itu. Iya, dia membencinya.
Jika kita membenci sesuatu, normalnya kita akan melupakan, membuang atau bahkan memusnahkannya.
Ruangan yang diciptakan jauh sebelum Anton lahir. Ruangan yang menjadi tempat hukuman untuk orang-orang yang tidak mematuhi dan menghianati, keluarga Sugesti.
"Untuk membuat mereka mematuhimu, kamu tidak perlu berbuat baik pada mereka. Kau hanya perlu membuat mereka takut padamu." Itu adalah kata-kata yang selalu diucapkan Ayah Anton padanya.
Dan disinilah laki-laki itu. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia tahu, ia sadar bahwa ia sangat membenci ayahnya.
Tapi entah kenapa, ia malah berubah menjadi monster seperti ayahnya.
"Ayah!!! keluarkan aku. Aku....." Anton yang berusia 9 tahun saat itu memohon agar ayahnya mengeluarkannya dari ruang hukuman itu.
Ia tak diberi makan 2 hari, sementara aroma makanan dari dapur, menusuk hidungnya dan membuat perutnya semakin perih dan menggila.
Ia dihukum karena tidak balas memukul temannya yang saat itu sedang bertengkar.
Hanya karena ia menunjukkan kelemahannya. Maka ayahnya akan langsung menghukumnya.
Karena menurut ayahnya, itu hanya perbuatan laki-laki lemah. Begitulah kehidupannya dalam keluarganya.
Ia bahkan bersumpah pada dirinya sendiri bahwa ia takkan pernah menjadi laki-laki seperti ayahnya yang memanfaatkan kelemahan orang lain.
Jihan dan Anton sudah saling mengenal sejak mereka masih kecil. Meski jarang bertemu, mereka tetap menganggap satu sama lain sebagai teman baik.
Menginjak usia remaja, Jihan dan Anton memiliki ketertarikan satu sama lain.
Meskipun Jihan tahu, seperti apa Ayah Anton.
"Anton, kamu adalah kamu. Ayahmu adalah ayahmu. Aku percaya, kamu gak akan jadi seperti ayahmu." Ucap Jihan pada Anton. Yang membuat dirinya yakin bahwa ia takkan berubah seperti ayahnya.
Mereka pun mulai menjalin kasih di usia 15 tahun.
Anton tidak pernah melakukan sesuatu yang buruk. Hubungannya dengan Jihan pun selalu berjalan baik.
Anton lebih banyak terseyum dan kesehatan ibunya membaik. Yang sebelumnya selalu stress karena ayahnya yang tidak berhenti selingkuh.
Tidak, bukan hanya selingkuh tapi juga melecehkan perempuan demi kepuasannya.
Hingga suatu hari ketika mereka berusia 17 tahun, seorang gadis yang menyukai Anton, menyatakan perasaannya pada Anton.
Awalnya Anton sudah menolaknya. Tapi gadis itu memaksa agar Anton menerima cintanya.
Mereka selalu duduk di halaman belakang sekolah. Dan tidak ada yang berani menganggu lokasi itu.
Karena Anton terkenal karena ayahnya. Meskipum dia sendiri tidak pernah melakukan sesuatu yang merugikan orang lain.
"Memang apa yang bisa kamu berikan kepadaku kalau aku menerima cintamu?" tanya Anton.
Teman-teman Anton yang tahu dia sangat mencintai Jihan, kaget mendengar ucapan Anton.
"Nton? kamu serius?" Dia hanya membalasnya dengan senyuman licik.
__ADS_1
"Aku akan memberikan apa yang Kak Anton mau?" jawab gadis itu dengan nada bertanya.
"Hahhahahaa... kalau begitu bukalah seluruh pakaianmu di sini. Di depanku dan teman-temanku!"
Tidak ada yang tahu apa yang membuat Anton berubah jadi gila seperti itu. Dia sendiri tidak mengerti kenapa ia sangat ingin melecehkan perempuan yang tak tahu malu di hadapannya itu.
Ia sudah menolaknya tapi masih menawarkan dirinya.
"Anton, kamu apa-apaan? Aku cabut. Ini benar-benar menggelikan." Salah satu temannya beranjak pergi.
Tapi Anton tidak memperdulikannya. Dan hanya melihat gadis di depannya. Beberapa teman lainnya juga ikut pergi.
Hanya dua orang temannya yang tersisa.
"Kenapa? Kamu tidak mau?" tanya Anton, gadis itu mulai meraih kancing bajunya.
Salah satu teman Anton yang pergi tadi, memanggil Jihan.
"Han, kamu lagi ada masalah sama Anton? Kalian sudah putus?" Jihan melihatnya keheranan.
"Emm? apa maksud kamu. Aku sama Anton baik-baik aja. Aku cuma sibuk karena OSIS."
Jihan adalah sekretaris OSIS di mana Fuad adalah ketuanya. Saat itu mereka masih kelas 2 SMA.
"Memangnya kenapa?" tanya Jihan, temannya ragu ingin memberitahunya.
"Kupikir kalian sudah putus, soalnya Anton, dia....dia di tembak sama cewek. Tapi dia malah nyuruh tu cewek buka bajunya depan kita semua."
"Apa? maksudmu apa?" Jihan langsung berdiri memukul meja di depannya.
"Di belakang." Jihan pun pergi dengan marah.
Fuad yang tidak sengaja mendengar segera mengikuti Jihan.
Sementara itu,
"Anton, sudah. Berhenti main-main. Dia sudah membuka bajunya. Kamu tidak benar-benar ingin menyruhnya membuka semuanya kan?" ucap teman Anton memegang bahunya.
Anton melihat temannya dengan tatapan marah. "main-main? Kamu pikir aku bercanda dari tadi? Hahahahahha."
Temannya menarik tangannya dari bahu Anton.
Anton kembali melihat ke arah gadis di depannya yang mulai ketakutan.
"Bukannya kalau jadi pacarku kamu bisa dapatkan apapun kan? Kamu mau jadi pacarku , karena uangku kan?" ucap Anton marah mencengkram lengan gadis itu dengan keras.
"Ka Anton!" panggil gadis itu memelas dan ketakutan.
Jihan yang tiba-tiba datang, mendorong tubuh Anton dan menamparnya. Anton yang marah, hampir saja membalas. Tapi kaget setelah melihat ternyata Jihan.
"Han?!"
Jihan yang menahan amarah dan kesedihan matanya berkaca-kaca. Dan pergi meninggalkan Anton.
__ADS_1
"Jihan!!!" Anton mengejar Jihan.
Sementara itu, teman Anton yang lainnya membantu gadis tadi. Dan Fuad pun ikut membantunya.
Setelah itu, cepat Fuad mengikuti Anton yang mengejar Jihan.
"Jihan, tunggu! Tadi itu hanya bercanda."
Jihan berhenti dan berbalik melihat Anton.
"Bercanda kamu bilang? Kamu gak lihat wajahmu tadi. Aku, gak tau siapa kamu tadi."
Jihan lanjut berjalan menuju kelasnya, tapi Anton berhasil meraih pergelangan tangannya dan tanpa sengaja mencengkramnya dengan keras.
"Anton! kamu nyakitin aku." Jihan berusaha menarik tangannya.
"Dengerin aku, Aku cuma lagi stress sama masalah di rumah. Aku benar-benar minta maaf," masih mencengkram tangan Jihan dengan keras. Mata jihan mulai berkaca-kaca.
"Lepasin aku Nton, kamu nyakitin aku sekarang," melihat Jihan yang menangis Anton melepaskan tangannya.
"Maafin aku, aku gak sadar."
"Aku, aku nggak tahu, aku minta kamu kasi aku waktu dulu. Aku... maafin aku Nton." Jihan berjalan meninggalkan Anton. Tangannya meninggalkan bekas merah yang diyakinkan akan membiru.
Fuad hanya melihat adegan itu dari jauh. Karena dia fikir Anton tidak melukai Jihan.
Sesampaimya di rumah, Anton langsung mencari Jun, karena dia adalah anak pelayan yang merawat ibu Anton.
Mereka berdua sangat dekat.
Sebelum Ayahnya Anton meniduri ibunya Jun secara paksa.
Jun yang sangat marah pada Ayanhnya Anton, akhirnya menjauhi Anton dan ikut membencinya.
Anton pun membenci Jun yang membencinya. Sejak itu ia menunjukkan pada Jun bahwa dia adalah bossnya.
Bukan lagi teman.
Ia tahu kalau itu semua adalah salah ayahnya. Ayahnya yang membuat semua yang ada di sekitarnya berantakan.
Yang membuat Ibunya Anton merasa sangat sedih dan bersalah karena tak bisa melindungi orang-orang di sekitarnya.
Dan Anton pun melampiaskannnya pada Jun, karena ia juga tidak mungkin memukul ayahnya.
"Tuan Muda, hentikan saya mohon," ucap ibunya Jun yang melihat putranya sudah babak belur.
"Anton! apa yang sudah kamu lakukan? apa kamu sudah gila?" Ibunya mendorongnya.
Kaget ia melihat ekspresi putranya yang sangat mirip dengan suaminya saat marah, ia lalu berusaha mendekat pelan-pelan dan memeluknya. Anton balas memeluknya.
"Ma, apa aku akan seperti Ayah?"
"Sssshhhhhhhh....... nggak! Kamu dan ayahmu berbeda." ucap ibunya sambil mengelus punggung anaknya.
__ADS_1
*bersambung......