Bolehkah Aku Mencintaimu?

Bolehkah Aku Mencintaimu?
Tinggalkan Semuanya


__ADS_3

Datiyah mengeluarkan keringat yang banyak dan suara yang samar-samar.


Tapi tak selang beberapa lama. suara dan gerakan Datiyah berhenti. Dia kembali masuk ke dalam lubang hitam di hatinya.


Sekali lagi, dia mendengar suara yang memanggilnya.


"Tiyah, bangun. Aku mohon. "


Kali ini Datiyah tau itu suara Gama.


Dalam mimpinya, ia melihat Gama tersenyum padanya. Untuk sesaat ia merasa senang. Kemudian sesosok wanita muncul dari belakang Gana dan memeluknya, Gama pun membalik tubuhnya memeluk wanita itu dan kemudian pergi. Dadanya semakin terasa sesak dan ia kembali ke dalam gelap.


Ia sangat berharap ayahnya datang menenangkannya. Tapi sakit hatinya tak mampu membuat ia mengingat kenangan indahnya.


Sementara itu, Gama yg masih memegang erat tangan Datiyah, terus menciumi tangannya dan berharap Datiyah bangun.


"Tuan, ada meeting dengan tamu penting 15 menit lagi." Ucap Rendra mengingatkan Gama.


"Baiklah, aku mengerti. Tiyah, cepat kembali." Gama mencium kening Datiyah dan pergi.


Setelah itu Gama menyuruh Hendrik menjaga Datiyah.


"Jika ada apa-apa, hubungi aku."


"Baik, Tuan." ucap Hendrik agak kesal, karena merasa Gama sangat tidak berhak memerintahnya.


Sebelum kembali ke kamar, Hendrik membersihkan lukanya, dan membersihkan dirinya.


Ketika dia kembali ke kamar, dia melihat Datiyah sudah duduk dengan wajah pucatnya.


"Nonaaa.... " Hendrik agak berlari menuju Datiyah. Ia sangat ingin memeluk Datiyah, tanpa ia sadari matanya berkaca-kaca.


"Aku Lapar", kalimat pertama yg di ucapkan Datiyah.


" Saya akan memanggil dokter terlebih dahulu."


"Nggak, aku mau makan dan pulang ke rumah." ucap Datiyah agak kesal.


"Tapi..... "


"Kamu hanya pengawal, ikuti perintahku." ucap Datiyah marah.


mendengar ucapan Datiyah, hati Hendrik terluka. "Hanya pengawal"


Tapi Datiyah sudah terlalu masa bodoh untuk memperdulikan perasaan Hendrik.


Dia pun turun dari tempat tidur dengan lemas.


"Belikan aku bakso, gado-gado, ayam goreng, burger dan pizza"


Hendrik ingin bertanya, tapi ia tahu kalau Nona Mudanya sekarang agak berbeda.

__ADS_1


"Baiklah Nona, apakah anda akan memakannya di sini."


"Nggak, aku mau makan di rumah Gama. Ngomong-ngomong, Gama di mana?"


"Tuan Gama sedang ada rapat dengan tamu penting."


Datiyah mengangguk pelan. Kemudian mengganti pakaiannya di hadapan Hendrik. Hendrik membalikkan badannya dan pamit pergi membeli pesanan Datiyah.


Setelah mengganti pakaiannya, Datiyah berdiri di dekat jendela dan melihat keluar.


"Orang-orang terlihat sibuk dengan dunianya. Sementara duniaku, sudah berpaling dariku." ucap Datiyah tersenyum getir.


setelah beberapa lama, akhirnya Datiyah pulang ke rumah Gama.


Begitu sampai rumah, ia tak menyapa siapapun langsung masuk ke dalam kamar, dan menyuruh Hendrik membawa semua makanannya ke dalam kamar.


Sudah tidak ada senyuman dan tatapan ramah dari matanya.


Begitu Hendrik meletakkan makanannya dia langsung melahap potongan pizza tanpa bernafas. Seperti orang yg sudah kelaparan berhari-hati.


"Nona, pelan-pelan. Saya ambilkan minum" dengan cepat Hendrik mengambilkan minum, dan menyuruh Datiyah minum, tapi dia malah mendapatkan tatapan marah.


Datiyah terus melahap makanannya satu persatu, remahnya jatuh ke mana-mana, wajahnya sudah di penuhi saus dan remah makanan.


Lantas Hendrik langsung menaham tangan Datiyah dan menggenggam kedua lengannya untuk menghentikan Datiyah.


Dia menarik Datiyah agar melihatnya.


"Nonaa... Tiyah.. Tiyah... kamu kenapa?."


Kemudian Hendrik memeluknya dengan erat.


"Nona, beritahu saya. Apa yang membuat anda begini." Setelah beberapa saat tak bisa bergerak Datiyah mulai tenang.


Hendrik pun, perlahan melepaskan dekapannya.


"Nona.... " dia kemudian menatap wajah Datiyah yang sudah penuh air mata dan ingus dan juga remah makanan, dam mulut yang masih penuh dengan makanan.


"maaammmmma.... bllllllaang.. mfffdcai aaa nnttoooonn." menangis dengan mulut penuh.


Hendrik mengambilkan air, dan memberikannya pada Datiyah.


"Saya tidak menangkap apa yang Nona bicarakan."


setelah minum, Datiyah mengulangi ucapannya.


"Mama mencintai Anton" seketika setelah mengucapkan hal itu Datiyah berhenti menangis, dan mengusap air matanya.


"Apa itu masuk akal bagimu? Hahahahahhaha.... aku harap itu semua hanya lelucon. Tapi aku mendengarnya sendiri. Mama bilang ke Rama kalo dia mencintai ayah Rama." Sambil marah dan meremas gelas minum yg diberikan Hendrik.


Setelah mengucapkan hal itu, Datiyah bangun dan berdiri menuju kamar mandi.

__ADS_1


"suruh seseorang membereskan semua itu." Datiyah berhenti sejenak di depan cermin dan melihat wajahnya yang berantakan.


"Sepertinya, aku benar-benar akan menjadi gila." Tersenyum dan lanjut ke kamar mandi.


Hendrik pun beranjak pergi dan membawa semua sisa makanannya.


"tidak mungkin Nyonya Jihan." ucap Hendrik sambil menggelengkan kepalanya.


Setelah mandi, Datiyah menggunakan gaun indahnya, dan berdandan sangat cantik.


Hendrik mengetuk pintu dan masuk.


"Apa kamu sudah kasi tau Gama kalau aku sudah pulang?"


"Iya Nona... dan anda mendapat pesan dari Tuan Gama. " sambil mengembalikkan ponsel Datiyah yang ada padanya.


"Aku akan pulang sebentar lagi, masih ada yang harus aku kerjakan. kamu istirahat saja." pesan Gama di layar ponsel Datiyah.


"Aku sudah tidur seharian.... dan sekarang aku pengen bercanda sama kamu. " balas Datiyah.


"Baiklah, aku akan segera pulang." balas Gama.


Sementara itu, Gama yang tengah sibuk menyuruh Rendra agar segera menyelesaikan urusan mereka.


"Maafkan saya, saya harus segera kembali ke rumah. Istri saya sedang sakit. Rapat ini akan kita lanjutkan lain waktu." Tanpa menunggu respon orang-orang yang ada dalam ruangan itu Gama langsung melangkah pergi.


Datiyah tengah sibuk mencoba baju pesta yang cantik-cantik untuk menggoda Gama.


Dia berdandan lebih tebal dari biasanya.


Terdengar suara Gama memanggilnya sambil membuka pintu.


Dengan berlari, Datiyah langsung memeluk Gama dengan erat.


"Kamu gak apa-apa" ucap Gama berusaha melihat wajah Datiyah yang menempel di dadanya.


Datiyah mengangkat wajahnya dan melihat ke atas ke arah wajah Gama dengan masih memeluk Gama dengan erat.


Di pintu yang setengah tertutup, Hendrik melihat adegan itu dan merasa terluka. Datiyah yang melihat Hendrik, melepas pelukannya dari Gama, mengedipkan matanya sebelah sambil tersenyum dan kemudian menutup dan mengunci pintu.


Gama merasa aneh dengan tingkah Datiyah.


Tapi belum sempat berfikir, Datiyah mendorong tubuh Gama perlahan ke atas tempat tidur.


Gama terduduk di pinggir tempat tidur.


"Tiyah, apa yang kamu lakukan?"


Tanpa banyak bicara, Datiyah menunduk kemudian mencium bibir Gama dengan ganas. Gamapun ikut membalasnya.


Datiyah naik ke tas tubuh Gama dan mendorongnya berbaring, tanpa bicara mereka terus berc*uman.

__ADS_1


Datiyah berusaha membuka pakaian Gama.


*bersambung.........


__ADS_2