Bolehkah Aku Mencintaimu?

Bolehkah Aku Mencintaimu?
Bingung


__ADS_3

Tak mengetahui hatimu, lebih baik daripada mengetahuinya, tapi kamu tak bisa melakukan apa-apa untuk mengubahnya.


------------------


Gama yang sejak tadi menjaga Aira, mencari alasan ke kamar kecil untuk menelpon Rendra. Dia ingin tau, apakah dia berhasil bertemu dengan Datiyah atau tidak.


"Apa kamu sudah ketemu dengan Tiyah?"


"Tuan, saya baru saja meninggalkan rumah, dan jarak antara rumah dan bioskop itu lumayan jauh." Jawab Rendra yang baru saja mendapat perintah 10 menit yang lalu untuk menjemput Datiyah.


"kalau kamu sudah ketemu dengan dia kabari aku." ucap Gama berbisik.


"Baik Tuan."


Sekitar 1 jam kemudian, Rendra mengirimkan pesan bahwa dia sudah mengantarkan Datiyah ke rumah dan sudah kembali ke kamarnya.


"Aku ke kamar kecil dulu yah?" ucap Gama, mengelus tangan Aira yang sejak tadi berpegangan.


"Kamu baik-baik aja? kenapa dari tadi kamu kelihatannya sangat tidak tenang?" tanya Aira yang melihat Gama yang memang khawatir.


"nggak, aku cuma kebelet aja." ucap Gama yang langsung ke kamar mandi, yang masih satu ruangan dengan kamar.


Gama langsung menelpon Rendra.


"Apa Tiyah marah?" Gama berbisik.


"Tidak Tuan, tapi terlihat sangat kecewa dan tidak bicara apa-apa selama perjalanan. Dan hanya menghabiskan makanan yang dibeli di bioskop tadi."


Gama menghela nafasnya, bukan karena lega. Tapi merasa bersalah karena meninggalkan Datiyah begitu saja.


"Baiklah kalau begitu. Pagi-pagi sekali bawakan pakaianku ke sini."


"Baik Tuan." Dan Gama pun menutup panggilannya dan keluar dari kamar mandi.


"Kamu yakin, kamu baik-baik aja?" ucap Aira yang menyadarkan Gama dari lamunannya sambil berjalan keluar kamar mandi.


"hah? emm.. aku baik-baik aja. Bagaimana keadaan kamu? apa sudah baikan?"


"iya, aku udah baikan. Kamu tau gak? Aku kangen banget sama kamu. Ucap Aira yang memeluk pinggang Gama yang sudah berdiri dekat tempat tidur.

__ADS_1


"Aira, nanti asisten mu masuk. Dan baiknya. Kita jangan melakukan hal-hal yang tidak-tidak di tempat umum." ucap Gama melepaskan pelukan Aira dari pinggangnya dan menggenggam tangannya.


Aira merajuk dengan memajukan mulutnya.


"Kenapa sih, kamu gak mau dipeluk? kan cuma sekedar pelukan saja."


"Aku masih belum terbiasa dengan memeluk. Untuk sekarang. Ku harap kamu puas dengan kita bergandengan tangan saja." ucap Gama sambil mengelus tangan Aira dan membujuknya.


Terpaksa Aira menerimanya. Meskipun ia merasakan jarak antara mereka.


Ketika Gama akan tidur di tempat tidur ektsra yang disediakan. Aira memanggilnya.


"Gama?"


"iya?" jawab Gama agak mengantuk.


"kamu dan Tiyah, gak pernah ngapa-ngapain kan?"


Gama menghela nafasnya kembali duduk dan melihat ke arah Aira.


"Berapa kali aku harus bilang. Aku sama Tiyah gak punya perasaan apa-apa. Kita cuma teman. Kalo yang kamu maksud ngapa-ngapain itu melakukan hubungan suami-istri. Gak. Dia bahkan gak pernah berusaha menggodaku ataupun yang aneh-aneh. Jadi lebih baik kamu istirahat, karena aku juga butuh istirahat." Ucap Gama yang bangun dari tempat tidur dan memperbaiki selimut Aira.


Gama mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Ya Tuhan, pertanyaan macam apa lagi ini?" batinnya.


"Apa aku harus jawab? aku ngantuk. Dan besok aku harus kembali kerja." Gama lalu kembali ke tempat tidur dan menyelimuti dirinya.


"Kamu gak jawab pertanyaan ku." ucap Aira yang duduk, ingin mendapatkan jawaban atas pertanyannya.


"Kalau kamu tanya seluruh orang di dunia pun, pasti mereka akan jawab Tiyah itu cantik. Aku gak buta, dan aku tau Tiyah itu cantik. Apa itu yang pengen kamu dengar?" ucap Gama yang sudah mulai kesal, belum hilang rasa bersalahnya pada Datiyah, kini di tambah ia sudah berbohong pada Aira.


"Bukan, bukan itu yang mau aku dengar. Aku mau kamu bilang, kalau aku lebih cantik dari siapapun" batin Aira dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Aku pergi cari kopi dulu." Gama lalu bangun dari tempat tidur, dan memanggil asisten Aira untuk menjaga Aira.


Di kantin, ia bertemu dengan salah satu temannya.


"Piket malam?"


"Seperti yang kamu lihat." ucap temannya yang berjalan ke salah satu meja sambil membawa kopi.

__ADS_1


"Aku tidak tau, kalau kamu punya hobi selingkuh. padahal ayahmu sangat setia pada ibumu." lanjut temannya yang menyambut Gama duduk di hadapannya.


Tiba-tiba dadanya terasa sesak.


"Selingkuh? Apa yang aku lakukan ini selingkuh. Aku memang benar sudah menikah dengan Tiyah. Tapi aku dan dia hanya teman. Tidak lebih." batin gama membela diri.


"Aku tidak selingkuh. Kamu ingat, cinta pertama yang pernah kuceritakan yang tiba-tiba menghilang? Orang itu adalah Aira."


"Apa??" tanyanya kaget.


Aldi dan Gama berteman semenjak SD, mereka sering bertemu di acara pesta karena Aldi anak salah satu pejabat di perusahaan.


Semenjak kepergian Aira, mereka hanya bertemu beberapa kali, Gama menolak dikenalkan pada wanita oleh Aldi, alasannya karena cinta pertamanya yang tidak lain adalah Aira.


"sssttt" ucap Gama.


"Tapi, meskipun begitu, bukannya pernikahanmu dengan Tiyah baik-baik saja? meskipun dia cinta pertamamu. Tapi kini kamu sudah menikah. Kamu mengikrarkan sumpah pernikahan dengan Tiyah."


"Ada hal yang tak perlu kamu tau." ucap Gama menegang dan semakin merasa bersalah. Ia sendiri bingung, kenapa ia merasa bersalah. Bahkan untuk memeluk Aira, ia tak tega. Berbeda rasanya ketika ia memeluk Datiyah.


"Jika, hubunganmu dan Tiyah tidak berhasil. Apa bisa kamu pertemukan aku dengan dia? Kamu tau sendiri kan. Kalau aku naksir dengan dia dari SD dulu. Karena itu, aku sama sekali tidak menyangka pernikahan kalian. Aku tak pernah mendengarnya dekat dengan laki-laki. Dan juga, sebenarnya, aku berniat melamarnya." ucap Aldi dengan serius.


Hati Gama semakin panas dan tegang mendengar ucapan temannya itu.


"Apa kamu sadar atas ucapanmu? Dia itu istriku. Sudahlah." Gama langsung berdiri akan meninggalkan meja.


"Dan satu lagi, aku tidak berselingkuh dengan Aira. Aku sekarang menemani kawan lamaku." suara Gama agak keras.


Aldi yang kaget, hanya menatap Gama yang berlalu.


"Kenapa aku harus marah? aku tau Aldi laki-laki yang baik. Harusnya aku senang, jika besok aku dan Tiyah berakhir masih ada laki-laki yang mau menikahinya karena statusnya yang berubah." batin Gama sambil berjalan ke kamar Aira.


Sesampainya di kamar, Aira sudah tertidur dan diapun tidur.


Pagi-pagi sekali, asisten Aira masuk dengan berisik. Dan membangunkan Aira.


"Kak Aira, gawat. Artikel kalau kakak jadi pelakor keluar. Dan itu membuta para investor marah." teriaknya sambil membangunkan Aira dan membuat Gama ikut terbangun.


Setelah ia sarapan, Gama mendapat telepon dari mamanya yang sangat murka. Dan ia terpaksa pergi ke galeri mamanya. Karena Mutia sudah berada di sana sejak pagi.

__ADS_1


*bersambung......


__ADS_2