Bolehkah Aku Mencintaimu?

Bolehkah Aku Mencintaimu?
Pelukan Terakhir Untuk Tiyah


__ADS_3

Mereka berdua menangis dalam pelukan satu sama lain. Jihan ingin mengucapkan kata maaf. Tapi tidak ada kata yang bisa keluar dari bibirnya, mengatakan dan menggambarkan betapa ia meminta maaf pada putrinya.


Mengajaknya masuk ke dalam neraka ini, membiarkan laki-laki itu menyiksanya, bahkan ia sendiri hampir membunuhnya.


Narti yang melihatpun tak kuasa menahan air matanya.


"Nyonya, kita perlu membersihkan luka Non Tiyah," Jihan yang mengingat luka di tubuh putrinya. Lalu melepaskan pelukannya.


Jihan pun membantu Tiyah membersihkan luka-lukanya.


Karena Jihan membujuknya, akhirnya Tiyah mau mandi. Dan Jihan bantu membasuh tubuh putrinya.


Dia ikut meringis, ketika putrinya meringis kesakitan tak sengaja menyentuh luka di tubuh Tiyah. Air matanya tak mau berhenti mengalir.


"Ma...maafin Mama, Tiyah," menangis sesegukan. Ia sangat ingin menahan tangisnya. Tapi ibu mana yang tahan melihat luka di tubuh putrinya yang akan membekas seumur hidupnya.


Tiyah kemudian berbalik menatap ibunya.


"Yang penting sekarang, Mama ada di sini sama Tiyah. Dan kita berdua masih selamat." Semakin tercekat kerongkongannya menahan tangis.


Bagaimana ia mengatakan pada putrinya bahwa hari ini adalah hari terakhir ia bisa bersikap normal pada Tiyah.


Putrinya yang selalu bersikap dewasa, cerdas, ceria. Mengingatkannya pada suaminya, Fuad.


Setelah membersihkan dan mengobati luka Tiyah. Mereka memutuskan untuk tidur.


Entah kenapa Jihan merasa sangat lelah, dan berfikir putrinya akan ada di dekatnya dan bisa memeluknya membuat seluruh fikiran dan tubuhnya nyaman.


Ketika akan terlelap.


"Mah, Tiyah akan tumbuh jadi kuat dan kita akan keluar dari sini."


Jihan membuka matanya, melihat ke arah putrinya yang juga menatapnya sambil mereka berbaring di atas tempat tidur.


"Maksud Tiyah apa?"


"Ingat gak? Papa selalu bilang, Spero Spera. Hidup adalah harapan. Jadi selama Mama dan Tiyah masih hidup kita gak boleh hilang harapan." Tiyah lalau merapatkan pelukannya ke tubuh ibunya.


"Tapi Tiyah, Tiyah tahu kan kalau ini akan jadi hari terakhir kita bisa seperti ini?"


Meski pelukan Tiyah sempat menegang, tapi dia mengendurkan pelukannya lagi, lalu menatap ibunya.


"Tiyah gak akan berhenti berharap. Dan akan terus berusaha. Jadi Mama hanya perlu lakukan apa yang diminta Ayah Anton."


Tiyah tahu, kalau mamanya merasa bersalah jika ketika mamanya melakukan kesalahan sementara Tiyah yang dihukum. Karena itu ia bertekad menjadi kuat dan melindungi Mamanya.


"Benarkah mereka masih bisa berharap? Apakah hidup mereka akan bisa jadi lebih baik?


Apakah mengikuti keinginan Anton adalah pilihan terbaik?


Aku sudah berfikir untuk menerima takdirku bersama Anton.

__ADS_1


Aku tidak tahu kalau Tiyah masih menyimpan harapan untuk keluar dari sini." Batin Jihan yang juga akan menyimpan harapan untuk bisa bebas dari Anton.


Fikiran yang tenang membuat dua orang yang beberapa hari ini menderita tidur pulas. Energi mereka terkuras habis karena Anton.


Berada dalam dekapan satu sama lain. Membuat mereka berdua jatuh tertidur dalam mimpi yang indah.


Mimpi yang mereka harapkan akan segera mereka dapatkan.


Mereka bahkan melewatkan makan siang. Karena rasa lelah mereka sepertinya baru bisa mereka lampiaskan hari ini.


Anton pun pulang kerja.


"Mana Jihan?" tanyanya pada salah satu pelayan.


"Di kamar nona Tiyah, Tuan." Anton melihat jam tangannya. Sudah waktunya makan malam.


Bi Narti langsung berjalan cepat menuju kamar Tiyah.


"Nyonya, Non tiyah. Bangun! Tuan Anton sudah ada di rumah."


Jihan langsung bangun, mengelus pipi putrinya.


"sayang? Tiyah? Mama harus kembali ke kamar." matanya mulai berkaca lagi, mengingat ini akan jadi terakhir kalinya mereka seperti ini.


Tiyah yang mengantuk, langsung bangun mendengar kata mamanya harus pergi. Tiyah dengan cepat memeluk mamanya. Ingin merasakan dan mengingat kehangatan yang mungkin dan tidak tahu kapan akan ia rasakan lagi.


"Maafin Mama sayang?" Tiyah menggeleng.


Mereka masih berpelukan erat.


Anton yang melihat adegan ini, dia merasakan getaran dihatinya.


Tapi mengingat siapa Tiyah, dan apa yang sudah Jihan lakukan padanya. Bibir yang hampir tersenyum itu langsung berubah.


"Bukannya aku bilang sebelum makan malam?"


Jihan dan Tiyah melepaskan pelukan mereka.


"Aku baru saja akan kembali ke kamar." Ucap Jihan berjalan ke arah Anton.


"Tidak usah!" ucao Anton. Jihan tegang, takut apa yang akan dilakukan Anton pada putrinya hanya karena ia terlambat beberapa menit.


"Bukankah sudah wakyunya makan malam?"


Jihan merasa lega, dan menghela nafasnya "Aah, kamu benar. Kalau begitu ayo kita makan."


Ketika Jihan akan jalan Anton berhenti melihat Tiyah yang tidak bergerak.


Anton melihat ke arah Tiyah, sementara Jihan hanya khawatir.


"Kenapa kamu tidak jalan? Kamu gak kau makan malam?"

__ADS_1


"Iya, Ayah Anton." Tiyah pun mengikuti langkah Jihan dan Anton yang ada di depannya.


Mereka pun duduk di meja makan.


"Makanlah!" ucap Anton


Tiyah langsung melahap makanannya dengan cepat. Jihan kaget melihatnya.


"Tiyah! pelan-pelan makannya."


"Sudah, biarkan saja. Mulai besok ia akan belajar adab makan di meja makan. Terutama di tempat perayaan atau suatu acara. Dan kamu juga akan mulai sekolah lagi minggu depan."


Tiyah yang mendengar bahwa ia bisa bersekolah minggu depan, dia tersenyum bahagia.


Jihan yang melihat putrinya tersenyum pun, ikut tersenyum.


"Ayah Anton serius kan?"


"Iya. Dan juga kita akan mulai melakukan hal-hal yang biasa kamu dan Papamu lakukan. Di panti dan tempat lainnya."


"serius? Asyiiikkk." Tiyah yang polos, sangat merindukan kegiatan itu. Karena setiap seminggu sekali ia akan melakukannya bersama Papanya.


Dia merindukan wajah-wajah bahagia. Wajah-wajah yang penuh dengan harapan, dan do'a.


Jihan melihat Anton dengan banyak pertanyaan terlihat di wajahnya. "apa? Anton bukan tipe orang seperti itu. Apa tujuannya?


Anton menyeringai.


"Karena Tiyah akan Ayah buat menjadi "wajah" untuk perusahaan kita."


Jihan membelalakkan matanya. Anton langsung menatapnya.


"Ayolah sayang, aku tidak ingin terus dikatai orang jahat. Karena sekarang ada kamu, Tiyah dan akan ada penerus Sugesti. Tentu saja aku tidak ingin masa depan anakku menjadi terganggu hanya karena pamor ayahnya."


"Penerus Sugesti? Apa dia serius? Meski sejak awal dia sudah mengatakannya. Bagaimana bisa? Aku? Aku akan mencari cara nanti." batin Jihan.


"Jadi, maksud Ayah kita hanya pura-pura memberi. Tapi nyatanya nggak?" tanya Tiyah.


"Hahahahahhaha.....tentu saja kita beri. Tapi tidak sebanyak yang biasanya Tiyah bagi."


Jihan tidak ingin Anton memanfaatkan putrinya. Dia ingin melarangnya, tapi dia putuskan untuk menutup mata menarik nafas dan membuangnya. Sekarang belum waktunya.


"Jadi Tiyah senang kan?"


"Iya Ayah Anton. Tiyah sangat senang. Tiyah sudah gak sabar." Menjawab Anton dan melanjutkan makannya lagi.


Anton sudah merencanakan menggunakan Tiyah untuk memperbaiki pandangan orang-orang terhadapnya dan perusahaannya.


"Ternyata anak Fuad ada manfaatnya juga." batinnya sambil menyeringai.


*bersambung......

__ADS_1


__ADS_2