
Rendra yang melihat wajah Gama yang kecewa, tak mau memperpanjang masalahnya.
Dalam perjalanannya mencari Hendrik, Gama menghentikan langkahnya dan berbalik melihat Rendra
"Apa masuk akal, dia memanggil Hendrik lebih dulu di banding aku?"
Ketika Rendra akan menjawabnya.
"jAngan di jawab" ucap Gama mengangkat tangannya.
"Tentu saja Nona Tiyah akan mencari orang yg membuatnya merasa aman. "batin Rendra.
" Hahahahahahaha, kau persis seperti kakakmu. Begitu emosional terhadap wanita yang dicintainya. " Suara tawa Toto terdengar oleh Gama dan Rendra yang kemudian perlahan mendekati sumber suara.
"Hentikan, aku tidak mencintai nona Tiyah. Dan aku sama sekali tak memiliki hubungan darah dengan Sugesti. Kamu, sudah menodai ibuku. Dan aku adalah hasil perbuatan hinamu. Jadi, aku tak sudi jika harus berhubungan dengan Sugesti. " ucap Hendrik mendorong Toto dengan kasar.
Ketika Rendra melihatnya, ia ingin melerai tapi Gama melarangnya. Dan mereka berdua hanya mendengar percakapan dua laki-laki itu.
"Hah, jalan satu-satunya untuk tak berhubungan dengan Sugesti adalah mati. Karena sampai kapanpun, setiap darah yang mengalir dalam tubuhmu, adalah milikku."
"Aku tak perduli. Menjauh dari Nona Tiyah. Jangan dekati dia ataupun bertatapan dengannya. Jika tidak. Tuan Anton bisa melakukan hal yang lebih buruk. Itu adalah pesan Tuan Anton untukmu. "
"Apa kamu tidak penasaran dengan tawaranku terhadap Datiyah? "
"Apapun itu, aku yakin Nona Tiyah akan memutuskannya sendiri. Dia adalah wanita yang cerdas, dan dia tau apa yang dia lakukan."
"Dia terlihat seperti gadis kecil yang lemah bagiku." ucap Toto memperbaiki posisi berdirinya.
"Kamu fikir, bagaimana bisa gadis kecil itu bertahan sejauh ini? hanya untuk menyerah di tengah jalan? Kamu salah. Dia jauh lebih kuat dari aku, ataupun kamu." Hendrik lalu meninggalkan Toto, ketika akan berbelok dia melihat Gama dan Rendra yang berdiri bersandar di tembok. Dia melihat ke arah Toto yang sudah tak terlihat dari tempatnya berdiri.
"Apa itu semua? Kenapa kamu begitu geram dan kenapa wajahmu?" tanya Gama penasaran.
"Urus saja wanitamu, tak usah ikut campur urusanku dan Nona Tiyah. " Jawab Hendrik judes, karena masih sakit hati Gama meninggalkan Datiyah di bioskop, di tambah berita yang membuat Datiyah sedih.
Ketika akan berjalan melewati Gama, Gama menarik lengannya. Dan dihempaskan dengan kasar oleh Hendrik.
Hendrik yang refleks, langsung mendorong leher Gama membuatnya bersandar di tembok.
Rendra yang melihatnya pun, langsung berusaha membantu majikannya. Tapi, Gama mengangkat tangannya.
__ADS_1
"Sudah kubilang, berhenti ikut campur, jika kamu tidak bisa membantu Nona Tiyah, berhenti bertanya. Bukankah kamu juga sibuk dengan wanita p*lacurmu?" ucap Hendrik yang sudah sangat kesal.
Gama yang mendengar ucapan Hendrik, malah menjadi marah.
"Apa? apa kamu bilang? wanitaku apa? " Gama menggertakan giginya dan mendorong Hendrik.
"Hentikan Hendrik. Dia adalah suami dari Nona Tiyah, bukankah sudah prinsip, menghormati orang-orang yang dekat dengan majikanmu? " Ucap Rendra yang berusha menghadang Hendrik yang berusaha maju mendekat pada Gama.
"Prinsip? Prinsipku hanya satu. Keselamatan Nona Tiyah dan kebahagiaannya. Dan majikanmu adalah salah satu orang yang merusak kebahagiannya." Hendrik lalu pergi meninggalkan kedua orang itu, berusaha menahan amarahnya.
"Tiyah mencarimu, karena itu kau ke sini. ,"
Hendrik mendengarknnya, tapi pura-pura tak memperdulikannya.
"Tuan Muda, bukankah anda ingin menanyakan tentang Sugesti? "
"Tidak, apa yang di ucapkan Hendrik benar. Aku sekarang harus fokus pada Aira, dan belum bisa membantu Tiyah." Gamapun berjalan kembali menuju ruang Datiyah, ingin melihat apakah ia sudah sadar.
Hendrik yang sudah duduk dalam ruangan di samping tempat tidur Datiyah. Terus memperhatikan wajah Datiyah.
"Maafkan saya Nona, belum bisa melindungi anda" batin Hendrik.
"Kak, apa yang sebenarnya terjadi? "
Tanpa menjawab pertanyaan Gina. "Aku harus kembali, tolong kamu jagain Tiyah. Berita tadi pagi harus terurus sebelum semuanya semakin berantakan."
"Terus, Kak Tiyah gimana? "
"Ada kamu dan juga Hendrik. Aku yakin dia baik-baik saja. "
"Jangan bilang, sekarang Kak Gama bakalan pergi ke tempatnya Aira itu. Apa kakak tau bagaimana kecewanya Kak Tiyah? "
Gama yang sudah berjalan meninggalkan Gina kemudian berbalik menatap adiknya.
"Lantas aku harus bagaimana? Apa kamu fikir aku senang begini? Di sisi lain wanita yang aku cintai, sampai kapanpun, tak akan di terima oleh keluargaku. Disisi lain, Tiyah adalah sahabatku. Dan aku sangat tidak ingin dia terluka. Dan sekarang dua-dunya sedang sakit. Aku merasa kepalaku akan pecah. "
Gama kemudian berjalan meninggalkan Gina.
"Karena aku juga tak suka perasaan khawatir berlebihan untuk Tiyah. Perasaan baru, perasaan sedih karena dia menyebut nama laki-laki lain di alam bawah sadarnya. Dan perasaan sedih itu membuatku kesal dan juga bingung " batin Gama.
__ADS_1
Gama pun pergi mengurus masalah skandal yang membuat ibunya marah tadi pagi.
Sementara itu, Datiyah mulai sadar.
"Kaak Hendrik? "
Hendrik yang sudah kacau dan merasa sangat khawatir pada Datiyah langsung menggenggam tangan Datiyah.
"Apa nona baik-baik saja? " tanya Hendrik melihat seluruh wajah dan tubuh Datiyah, melihat tanda kesakitan dari Datiyah.
Datiyah yang baru saja mebuka matanya, ingin tersemyum, tapi seketika berubah ketika melihat wajah Hendrik.
"aa.pa yang terjadi? "
"aahh, ini. iNi bukan apa apa. saya latihan boxing, dan kalah. Rekanku tak sengaja memukul wajah saya. "
Tapi Datiyah terlalu cerdas untuk dibohongi. Datiyah sangat ingin berdebat dengan Hendrik, tapi ia memilih menunggu waktu yang tepat.
"Kak, ayo kita pulang. Aku tak suka tempat ini. "
ucap Datiyah menggenggam tangan Hendrik.
Hendrik dengan lembut menarik tangannya. "Saya sudah menyiapkan mobil di depan. Dan saya rasa Nona bisa langsung pergi dari sini."
Ketika Hendrik hendak membantu Datiyah bangun Gina masuk ke dalam ruangan.
"kak Tiyah, kakak mau ke mana? "
"kita balik ke rumah aja, kakak gak suka di sini. "
Sebenarnya ada banyak yang ingin ditanyakan Gina. Lagi dan lagi., dia pun harus menunggu waktu yang tepat.
Setelah tiba di rumah Datiyah pun langsung di antar sampai pintu kamarnya dibantu Hendrik.
"Aku bisa kok kak. Jalan sendiri samapi tempat tidur. " ucap Datiyah yang mengingat Gama tak suka ada laki laki lain masuk dalam kamarnya., meskipun tubuhnya masih terasa lemas.
Dalam bathin Datiyah, ia bertanya-tanya kenapa Gama tak menjemputnya atau melihatnya. Meskipun ia tahu jelas jawabannya, tapi tak menutup rasa sedih dan kecewa dalam hatinya.
Dan ia pun tak menyukai perasaan yang membuatnya gelisah dan kecewa itu.
__ADS_1
*bersambung......