Bolehkah Aku Mencintaimu?

Bolehkah Aku Mencintaimu?
Amarah


__ADS_3

"Harusnya kamu tidak kembali. Dan harusnya kamu tahu resiko apa yang akan mengancammu." ucap Rendra pada Aira, yang lalu mengikuti langkah Gama


Mendengar ucapan Rendra, Aira langsung menutup pintu kamarnya dengan keras.


"Resiko? hah. Kalian fikir aku datang ke sini tanpa persiapan?" Aira menatap foto ibunya yang ada di atas meja.


Meski ditinggalkan begitu saja oleh ibunya, ia masih merindukan dan mencari ibunya.


Sementara itu, di kediaman Kencana.


"Nyonya, saya baru saja mendapatkan kabar. Bahwa Tuan Muda bertemu dengan Aira di restoran. Dan Tuan Muda yang menarik tangan Aira menjadi trending topik di media sosial." Lapor Monica, asisten Mutia.


"Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan. Jangan sampai membawa efek negatif buat perusahaan dan nama Gama. Dan jangan lupa sampaikan salam pada Gadis itu." Ucap Mutia yang sibuk dengan urusan galerinya.


Ketika Monica akan keluar, "Ah, sampaikan pada Rendra agar mengajak Gama pulang secepatnya."


Gama sedang berada di ruang meeting,


"Tuan muda, Nyonya Mutia meminta anda segera pulang setelah menyelesaikan jadwal hari ini." bisik Rendra.


"Apa kamu sudah menambahkan jadwal bertemuku dengan Aira?"


"Tidak tuan, dan jadwal anda sudah saya sampaikan pada nyonya."


"Apa? harusnya kamu langsung menambahkannya." ucap Gama agak keras dan membuatnya dilihat oleh pegawai-pegawainya.


"Lanjutkan!" mereka pun melanjutkan meeting.


Meski resiko dia di marahi oleh Mamanya karena terlambat dari jadwalnya. Mamanya sudah jauh berubah setelah ayahnya meninggal.


Tidak, mamanya sudah berubah sebelum ayahnya meninggal. Saat itu ia masih remaja dan sibuk dengan dunia remaja dan dunia asmaranya. Sehingga ia pun tidak terlalu memperdulikannya. Dan saat itu ia juga berduka atas kepergian ayahnya.


Dan saat ini satu-satunya yang dipikirkannya adalah bertemu Aira.


Ketika tiba di depan pintu kamar Aira, dia langsung mengetuknya, dan langsung di buka oleh Aira.


"Gama!!" langsung memeluk Gama.


"Aira, bukannya aku sudah bilang. Kita harus meminimalisir sentuhan fisik." Ucap Gama gugup.


Aira mengangkat alisnya sambil tersenyum.


"Kamu gak serius kan? Kamu belum pernah di peluk cewek? Kamu laki-laki gama."


"Waw. aku sudah menjaga kesucianku. Menutup hatiku untuk wanita lain. Apa kamu tau berapa banyak wanita yang mama jodohkan untukku?"


Mereka langsung masuk ke dalam kamar Aira.


Gama menceritakan hari-harinya yang hanya dipenuhi dengan pekerjaan.


Bagaimana mamanya selama 3 tahun belakangan selalu berusaha menjodohkannya.


Ponselnya tidak berhenti bergetar.


"Apa?" menjawab dengan kesal.


"Tuan, Nyonya sudah menunggu anda sejak tadi. Beliau juga mengatakan sudah beberapa kali menelepon anda."


"Arrrhhg, Baiklah. Aku akan turun sebentar lagi."

__ADS_1


"Kamu sudah mau pergi?" tanya Aira agak kecewa.


"Aku akan datang lagi besok."


"Hemmm. besok aku ada jadwal syuting. Bagaimana kalau lusa?"


"Oke, aku akan datang lusa. Hp mu mana?"


Aira memberikan ponselnya pada Gama, dan Gama lalu menuliskan nomornya di handphone Aira.


Ketika sudah di depan pintu.


"Gama?"


"emm? kenapa?" Gama berbalik menatap Aira.


"Apapun yang terjadi kamu gak akan menyerah sama cinta kita kan?"


"Memangnya kenapa aku harus menyerah?"


"Janji sama aku, kalau kamu akan memperjuangkan aku."


"Aku sudah nunggu kamu, selama 10 tahun. Bagaimana bisa aku tiba-tiba menyerah. Jangan konyol."


Aira hanya tersenyum Meski dalam hatinya takut kalau Gama akan meninggalkannya. Mereka mengalami banyak hal selama berpisah. 10 Tahun, bukanlah waktu yang singkat.


Benarkah cinta mereka tidak berubah? Meskipun begitu, tak seharipun mereka lalui tanpa memikirkan satu sama lain.


Sesampainya di rumah, Gama langsung mengetuk pintu ruang kerja mamanya. Dan dibuka oleh Monica. Dia pun langsung duduk di sofa.


Mamanya sudah kesal menunggu sejak tadi.


Gama mengambil foto-foto itu. "Kenapa? Apa masalahnya dengan gambar ini? Mama tahu aku sudah menunggu dia selama ini."


"Dia tidak boleh lagi menginjakkan kakinya di rumahku. Dan aku tidak akan pernah menerima dia di rumah ini. Sekarang kamu boleh pergi."


"Ma, maksud Mama apa? Kenapa mama tiba-tiba ngomong kayak gitu?"


Mutia langsung memegang kepalanya. Monica yang melihat hal ini langsung meminta Gama meninggalkan ruangan.


"Tuan Muda, saya mohon kembalilah ke kamar Tuan Muda." Monica langsung berlari mengambil air minum di meja kerja Mutia dan obatnya.


"Obat apa yang mama minum?"


"Kembali ke kamarmu."


"Ma, aku bukan anak kecil lagi."


"Kamu yakin mama perlu bicara sekarang?" Mutia menatap putranya yang kelihatan khawatir melihatw kondisinya.


Gama menatap mamanya.


Sudah lama dia tidak menatap mamanya. Mamanya yang dulu dipenuhi canda dan tawa sama sepertinya tanpa ia sadari juga menghilang.


Wajah yang dulu berisi, kini lebih terlihat pucat apabila ia tak menggunakan make up.


Ia fikir hanya ia yang berubah. Tapi ternyata semua orang di sekitarnya berubah.


Gama mendekati mamanya, ingin membantunya.

__ADS_1


"Ma, mama baik-baik aja kan?"


Mutia menarik diri dari putranya.


"Asal kamu tahu, meski bumi terbelah dua, bahkan sampai kiamat. Mama gak akan pernah menerima Aira."


"Mama, kenapa mama tiba-tiba membenci Aira?"


"Mama gak benci sama dia. Mama hanya gak mau dia ada di sekitar Mama. Kecuali kamu mau membuang Mama demi Aira."


"Ma!"


"Keluar, kembalilah ke kamarmu. Mama gak mau dengar apapun lagi. Begitu kamu menemui dia lagi. Mama janji, kamu gak akan lihat mama atau adik kamu lagi."


Ketika akan bicara. "Tuan Muda, saya mohon. Nyonya perlu istirahat." Ucap Monica memohon pada Gama.


Gama mengangguk dan menghela nafasnya.


"kita akan bicarakan ini lagi." Pergi meninggalkan ruangan mamanya.


Di dalam kamarnya.


"Mama kenapa? aaarrhggg. ada apa tiba-tiba membenci Aira?"


Dia bangun, menuju ke kamar seseorang yang tahu jelas bagaimana mamanya. Dia mengetuk pintu kamarnya.


"Na, Gina?"


"kak Gama? Kenapa?" Tanya Gina yang tumben melihat kakaknya malam hari.


Gina dan Gama jarang bertemu, paling ketika sarapan. Dan hanya bertukar sapa. Biar begitu, ia selalu update tentang keadaan adiknya. Berbeda dengan mamanya yang sibuk.


Dan juga mamanya sudah memperingatkan Rendra dan Gama tidak usah menjaga atau ikut campur urusannya.


"Emm... Kamu tahu Mama sakit?"


"sakit? sakit apa?"


"Aku lihat Mama minum obat, dia megang kepalanya."


"Ahh, mungkin itu antidepresan mama."


"Antidepresant? sudah berapa lama mama minum?"


"Seingatku sudah lama sih. Tapi aku lupa pastinya kapan. Asalkan jangan ada yang pancing emosi atau stressnya Mama aja.


Kak Gama bikin masalah?"


"Gak ada. Udah balik tidur sana. Ah, pacar kamu yang sekarang, catatannya lebih bersih dari yang terakhir kali."


"Kak Gama! Dasar stalker. Bilang sama Om Rendra gak usah urusin pacar aku. Kalau dia mau daftar bilang ke sini."


"Dasar gila. Mana mau Rendra sama anak ingusan kayak kamu."


"Ciih. Aku akan buat dia jatuh cinta sama aku."


Gama hanya menggeleng dan kembali ke kamarnya.


*bersambung......

__ADS_1


__ADS_2