Bolehkah Aku Mencintaimu?

Bolehkah Aku Mencintaimu?
Tidak Ada Yang Namanya Rahasia


__ADS_3

"Rendra! Apa yang kamu ketahui tentang hubungan Ayah, mama, tante Amira dan Aira?"


Rendra yang kaget, tiba-tiba menghentikan mobilnya.


"Berarti kamu juga mengetahuinya!? Pergi ke hotel Aira."


"Tuan?!"


"Cepat berangkat ke hotel Aira!!" Gama berteriak. Wajahnya sudah berkedut kesal.


Rendra hanya mengikuti kemauan Tuan mudanya.


Gama berfikir sendiri dan menghubungkan semua peristiwa yang ada di sekitarnya.


"Jadi, alasan mama menolak Aira karena Tante Amira? Dan bagaimana bisa Ayah mengkhianati Mama. Ini semua gak mungkin.


Dan apakah Aira mengetahui semuanya?"


Gama stress hanya memikirkan kemungkinannya. Menutup matanya.


"Tuan, apa yang sebenarnya ingin Tuan ketahui?" Rendra bertanya dan Gama membuka matanya menatap Rendra.


"Semuanya! Apa yang terjadi? bagaimana semuanya bisa terjadi? kenapa Aira terseret salam masalah orang dewasa? Aku, ayah tidak mungkin melakukan hal itu pada Mama.


Kamu lihat sendiri bagaimana Ayah menatap Mama. Bahkan semua orang mengetahuinya.


Bagaimana bisa, ayah dengan tante Amira?"


Gama menggeleng lagi, belum percaya dengan hipotesis yang ada di dalam otaknya.


"Lalu, apa yang akan anda lakukan kalau anda.mengetahui semuanya." Rendra kembali bertanya.


Dia sendiri tak tahu, apa gunanya mengetahui semuanya. Mamanya sudah terlanjur terluka, Aira sudah terlanjur dibenci, Ayahnya sudah tidak ada lagi di dunia ini.


Lantas apa gunanaya ia mengetahuinya. Ia beryanaya oada dirinya sendiri.


Sementara semua orang di sekitarnya mengetahui apa yang menyebabkan semuanya terjadi. Di sini ia berjalan seperti orang bodoh yang tak tahu apapun.


"Jika anda menemui Aira sekarang. Gosip akan semakin meluas dan tidak terkendali. Anda tahu Nyonya tidak segan-segan dengan kata-katanya." imbuh Rendra lagi.


"Apa aku terlihat seperti orang yang tidak tahu akibat perbuatanku? Bukankah itu tujuan orang-orang seperti kalian diperkerjakan untuk membersihkan semua kekacauan yang kita buat?" Gama menghina Rendra.


"Aku tidak belajar dengan giat, dan bekerja keras hanya untuk dibodohi bawahan seperti kalian yang seolah-olah kalianlah yang mengatur segalanya. Turuti saja perintahku, bersihkan kekacauan yang kubuat." Gama sudah tidak memperdulikan ucapannya lagi.


Dia menutup matanya menciba menenangkan fikirannya.


Rendra tidak mengatakan apapun pada Gama.


Mobil berhenti di depan hotel tempat Aira menginap.

__ADS_1


Gama menghela nafasnya pelan.


"Maafkan aku. Aku hanya merasa kalian semua menyembunyikan sesuatu yang sangat penting bagiku. Seolah aku hanya anak kecil dihadapan kalian.


Apa kerja kerasku masih kurang?


Aku tahu, kamu bekerja dan setia pada ayah karena ayah sudah menyelamatkan hidupmu dan kakakmu.


Tapi, apa aku benar-benar belum layak untuk kamu ikuti dan percaya?" Gama turun dari mobil.


Selama ini, ia selalu percaya diri. Bahwa ia sudah berusaha sangay keras untuk menjadi pemimpin perusahaan, bahkan menjadi penjaga untuk keluarganya.


Tapi, setelah mengetahui rahasia besar ini. Ia berfikir bahwa ia sama sekali tidak berubah dari Gama anak bocah yang hobinya hanya bermain-main.


Mereka tidak mempercayai, kalau dia mampu menghadapi skandal besar dalam keluarganya.


Rwndra merasa bersalah setelah mendengar ucapan Tuan mudanya itu. Iya, karena memang pada kenyataannya, mereka menyembunyikannya sari Gama dan keluarga lainnya tidak ingin mereka terluka, dan.menjadikannya rahasia.


Tapi pada akhirnya, tidak ada rahasia yang benar-benar menjadi rahasia.


Gama tiba dideoan kamar Aira dan mengetuknya.


Aira membukanya dengan matanya yang sembab.


"Maafin aku." ucap Gama menarik Aira ke dalam pelukannya.


Gama duduk di sofa dan Aira mengambilkan Gama minuman.


Aira meletakkan sebotol minuman dan gelas dihadapan Gama dan Gama segera meneguknya.


"kamu kenapa?" tanya Aira gugup.


"Apa yang terjadi sebelum tante Amira menghilang?" Gama balik bertanya.


Mata Aira langsung membelalak. Ia sangat tidak mau Gama mengetahui kalau Mamanya sudah menghancurkan rumah tangga orang tua Gama. Aira takut Gama akan membencinya seperti Mutia membencinya.


"Maksud kamu apa?"


Gama tersenyum masam.


"Sebagai seorang actress aktingmu sangat buruk." ucap Gama.


"Berarti kalian semua mengetahuinya. Selain aku. Hahahahahha." Gama berdiri.


"Aku cuma gak mau kamu benci sama aku!" ucap Aira tiba-tiba takut Gama meninggalkannya.


"Aku tidak marah padamu. Hanya kecewa. Bagaimana bisa kamu menyembunyikan hal ini dariku? Bukankah kita lebih dulu jadi sahabat sebelum kita adalah kekasih. Kita selalu membagi kesedihan. Kita membagi kebahagiaan kita satu sama lain."


Gama melangkah ke arah pintu.

__ADS_1


"Ahhhh, Gamaaaa." Aira berjalan mengejar Gama dan memeluknya erat dari belakang.


"Jangan tinggalin aku. aku cuma punya kamu sekarang. Aku gak perlu Mama, aku hanya perlu kamu ada di dekatku dan mencintai aku."


"Aira," panggil Gama, membuat Aira semakin mengeratkan pelukannya.


"Ini yang kutakutkan. Ketika kamu mengetahuinya kamu akan meninggalkanku, dan membenciku." Aira menangis dipunggung Gama.


Gama memegang tangan Aira yang ada diperutnya dan membukanya. Dia lalu berbalik menghadap Aira dan memandangnya.


"Aku tidak membencimu. Aku hanya butuh waktu untuk memproses semuanya.


Aku paati kembali." Gama lalu mencium bagian atas kepala Aira.


Gama lalu pergi dari kamar Aira. Sementara Aira, air matanya berlinang melihat kepergian Gama. Ia jatuh dan terduduk lemas di tempatnya.


Dia benar-benar takut jika Gama tidak mencintainya lagi.


Gama menghubungi Rendra dan memutuskan untuk kembali ke kantor.


Dia tidak mengucapkan sepatah katapun pada Rendra. Dia memfokuskan dirinya pada pekerjaanya. Dan mengikuti setiap jadwalnya dengan baik tanpa ada gangguan.


Dia bekerja sampai larut malam. Bahkan pulang setelah pukul 1 atau 2 malam. Tapi ia sudah tidak.memasuki ruang kerjanya di mana dulu adalah ruang kerja ayahnya. Rasa kecewa dan kesedihannya begitu besar dan ia tak punya tempat untuk berbagi.


Mamanya, Wanita yang di cintainya, Rendra.


Ia hanya memendamnya sendiri.


Berhari-hari ia seperti itu. Sarapan bersama tanpa mengucapkan apapun. Dia tidak tidur di kamar bersama Tiyah.


Tiyah pun merasa khawatir, jika Gama seperti itu karena kekasarannya. Tapi dia yakin Gama juga punya masalahnya sendiri.


Seperti biasa, Tiyah mencoba tidur lebih awal. Tapi ia terbangun dan seperti malam sebelumnya ia tidak mendapati Gama di atas tempat tidur.


Tiyah pun mengunjungi perpustakaan dan ingin mencari buku untuk dia baca sebelum dia tidur.


Ketika dia membuka perpustakaan, ia mendengar suara tawa dari pojok perpustakaan di rak buku paling ujung.


Dia pun berjalan perlahan ke arah rak buku itu, dan terkejut ketika melihat orang yang tertawa itu tak lain adalah Gama. Karena beberaoa hari ini ia selalu murung, tapi di sini dia membaca buku komik dan tertawa.


"Gama?!" panggil Tiyah.


Gama yang terkejut, tak sengaja melepas bukunya. Entah kenapa setelah mengetahui itu adalah Tiyah, dia merasa tidak perlu menyembunyikan komiknya.


Gama membalas sapaan Tiyah dengan senyuman.


"Hai, belum tidur?" sapa Gama.


*bersambung......

__ADS_1


__ADS_2