Bolehkah Aku Mencintaimu?

Bolehkah Aku Mencintaimu?
Bergerak


__ADS_3

Sementara itu, Datiyah sedang menunggu Hendrik mengambil mobil. Tiba-tiba sebuah mobil mewah lain berhenti tepat di depannya.


Pria didalam mobil mengulurkan tangannya dan Datiyah pun menerimanya dengan senang hati.


Begitu masuk dalam mobil.


"Tunggu sebentar, biarkan aku mengirim pesan pada asistenku. Agar dia tak khawatir."


Laki-laki itu pun mengerti.


"Kak, aku akan jalan-jalan sendiri. Temui aku di Cafe Tulip 3 jam lagi."


Meskipun sudah mengirimkan pesan, tetap saja Hendrik masih khawatir. Hendrik terus berusaha mencari tahu.


Dia meminta pihak hotel untuk menunjukkan rekaman cctv untuk melihat siapa yang membawa Nona mudanya. Tetapi ia sama sekali tak menemukan informasi.


Dia minta tolong pada salah satu rekannya agar mencari tahu siapa pemilik mobil mewah itu, yang ternyata mobil sewaan milik hotel.


Berjam-jam berusaha mencari Datiyah, iapun akhirnya memutuskan untuk menunggu Datiyah di Cafe Tulip.


Sementara itu, Datiyah dibawa ke sebuah bangunan sederhana, jauh dari kata mewah tetapi dengan halaman luas dipenuhi bunga dan tanaman-tanaman sayur.


Tapi memperlihatkan bahwa rumah ini rumah yang dihuni penuh kehangatan.


Dia pun turun dan mengikuti laki-laki yang mengajaknya.


Pintu rumah dibuka dan mereka disambut oleh wanita yang seusia dengan laki-laki itu. Yang tak lain adalah istrinya.


Mereka pun tiba disebuah taman belakang yang tak kalah indah.


"Tempat ini terasa sangat menyegarkan." ucap Datiyah ramah.


Laki-laki itu tersenyum. "Iya, istri saya sangat menyukai tanaman. Buah, sayur, bunga. Semua dia pelihara."


Mereka duduk dengan santai.


"Saya rasa anda akan sangat penasaran dengan identitas saya."


"Tentu saja, tapi saya jadi ingat pepatah yang mengatakan. Rasa penasaran membunuh kucing." Datiyah tersenyum.


"Dan saya selalu sabar untuk mengetahui semuanya. Yah, meskipun kita tahu. Rasa penasaran itu tak berhenti begitu saja."


"Saya akan memberikan seluruh saham saya kepada anda, dan dalam rapat direksi berikutnya. Kita akan membuat anda menjadi pimpinan perusahaan."


ucap laki-laki itu sambil menyeruput tehnya.


"aaaa..pa? Tunggu dulu." Datiyah terkejut mendengarkan ucapan lelaki itu.

__ADS_1


"Kenapa anda melakukan hal ini? Saya sama sekali tak mengenal anda."


"Bisakah kita mulai dari awal lagi? Saya akan memperkenalkan diri saya. Nama saya Fadil Anggara."


"Saya belum pernah mendengar nama itu. Meskipun saya rasa wajah anda tidak terlalu asing."


Laki-laki itu tersenyum. "Saya dulu adalah asisten Tuan Harry Kencana."


"Harry? Harry ayah Gama? Asistennya?" Datiyah terlihat berfikir sejenak.


"aaaa.... saya ingat sekarang. Saya pernah melihat anda."


"Ya benar. Seperti yang anda tahu. Hubungan Nyonya Mutia dan Ibu anda merenggang semenjak hari itu. Jika anda mengingatnya. Saat anda dan Nyonya Jihan."


Datiyah menarik nafas dalam.


"Ya, saya mengingatnya."


"Saya yakin saat itu, tuan Harry hanya ingin menyelamatkan keluarganya."


Datiyah hanya bisa tersenyum getir.


"Tuan Harry meninggal karena kanker yang dideritanya. Mengkhianati sahabatnya membuat dia mulai sakit. Pukulan terbesarnya adalah ketika dia mengkhianati Nyonya Mutia. Sisanya, saya rasa anda tahu apa yang terjadi."


"Tidak ada gunanya mengungkit masa lalu. Dan itu semua tak bisa mengembalikan semuanya seperti semula." Mengingat masa lalu, kembali mengingatkan Datiyah tentang awal pertemuannya dengan Anton. Matanya mulai berkaca-kaca.


"Maksudnya?"


Akhirnya Fadil mulai menjelaskan tentang asal muasal saham yang selalu dibeli Harry, sedikit demi sedikit.


Saat itu Fadil yang sangat marah pada Harry awalnya tak mau membantu Harry karena pengkhianatannya. Tapi akhirnya ia iba melihat Harry yang mengemis, berlutut dan menangis. Tak ingin akhir hidupnya benar-benar sendiri. Meskipun sudah terlambat saat itu.


Dengan begitu Harry dan Fadil berhasil membeli sebagian besar saham Anton.


Semenjak saat itu, Fadil selalu menemani Harry sampai akhir hayatnya.


Tak ada yang mengetahui penyakit Harry kecuali Mutia, Rendra dan Fadil.


Saat itu, Mutia yang sangat terluka tak sudi membiarkan Harry bertemu dengan anak-anaknya. Tak sudi membiarkan Harry pergi dengan senyuman di wajahnya.


Mutia yang saat itu, benar-benar telah dibutakan oleh luka dan amarah yang tak pernah ia bayangkan.


Sehingga, semua kenangannya bersama Harry tenggelam dan hilang perlahan dan hanya ia simpan dalam relung hatinya yamg paling dalam.


Setelah mendengarkan kisah itu. Yang terlintas di kepala Datiyah. "Bagaimana perasaan Gama jika tahu ayahnya meninggal dalam kerinduan terhadap dirinya dan juga Gina?" Tak sadar ia oun menitikkan air mata namun cepat ia hapus.


Setelah pertemuan itu, ia pun dengan gencar belajar dan terus belajar tentang menjalankan perusahaan.

__ADS_1


Ia dan Gama pun jarang bertemu. Dia yang sibuk selalu keluar, Gama yang sibuk kerja, dan Hendrik yang selalu setia menunggu di Cafe Tulip berjam-jam.


Sebulan kemudian, pemegang saham mayoritas mulai meminta agar Pemimpin perusahaan di ganti. Karena pemegang saham terbesar saat ini sudah berbalik.


Anton yang menyadari ada gerakan mencurigakan dari orang-orang yang menentangnya. Dia pun tau, agenda acara penurunannya dari kursi Pimpinan.


Dia pun segera memanggil Datiyah dan Hendrik.


Datiyah sudah sangat menyiapkan dirinya untuk hal ini. Karena dia tau, tidak mungkin rencananya untuk menurunkan Anton tidak diketahui oleh Anton sendiri.


Turun dari mobil, tangan Datiyah mulai gemetaran. Dengan cepat Hendrik melaju ke arah Datiyah setelah turun dari mobil.


"Nona, apapun yang terjadi dan yang akan terjadi. Nona harus tetap melangkah maju dan menyelesaikan semua rencana Nona." Ucap Hendrik yang menarik tangan Datiyah dan meremasnya dengan pelan.


Datiyah maju dengan mantap.


"Datiyah yang lemah sudah pergi. Sekarang kamu harus kembali menjadi Datiyah yang selalu bahagia. Semua pasti akan berlalu. Kamu sudah cukup bersedih saatnya kamu hidup bahagia lagi." ucap Datiyah pada dirinya sendiri.


Perlahan Hendrik membukakan pintu. Datiyah melangkah masuk.


Belum selesai Hendrik menutup pintu kembali Anton berlari dengan marah kearahnya langsung menampar Hendrik dengan keras.


Datiyah terperangah melihat kejadian didepan matanya. Tanpa sadar tubuhnya mulai gemetar lagi.


"Tidak...tidakk... bukan ini yang ingin kutunjukkan." batin Datiyah.


Melihat Datiyah yang gemetar, Anton tersenyum sinis.


Anton langsung duduk di kursi kerjanya, sambil meneguk minuman keras yang sudah ia minum sejak tadi.


"Aku memintamu melaporkan hal-hal yang dilakukan gadis itu. Tapi sampai masalah sebesar ini tidak ada sedikitpun laporan darimu tentang pemecatan ku." teriak Anton pada Hendrik sambil melemparkan gelas sehingga pecah dikepala Hendrik.


"He..he..." suara Datiyah seeprti tercekat.


"Apa kamu ingin mengatakn sesuatu?" tanya Anton dengan nada menghina. "Berbicara denganku saja kamu sudah gemetar sepertii itu. Bagaimana bisa kau menggantikanku?" ucap Anton sambil tertawa.


Datiyah mengumpulkan kekuatannya. "Hentikannnn.!' teriak Datiyah.


" Apa yang membuatmu begitu bangga? dan bisa menyiksa orang lain sesukamu. Aku yakin kau pasti berhasil menurunkanmu besok. Dan aku akan mengambil semua milikku kembali."


Mendengar ucapan Datiyah, Anton berjalan ke arah Datiyah tetapi dihalangi oleh Hendrik yang masih berdarah.


Tiba-tiba di lain arah sebuah tamparan mendarat di pipi Datiyah.


"Plllaaak"....


*bersambung.........

__ADS_1


__ADS_2