Bolehkah Aku Mencintaimu?

Bolehkah Aku Mencintaimu?
Tak Ada Rahasia


__ADS_3

Datiyah sudah lelah, marah dan sangat ingin beristirahat dari masalah hati yang begitu rumit.


"tentang apa? tentang kamu jadi wanita simpanan? tentang kamu digilir beberapa pria? tentang kamu yang masih menyuguhkan tubuhmu pada laki-laki lain bahkan setelah kamu kembali pada Gama?" ucap Datiyah marah.


"Nonaaaaaa?!" ucap Hendrik berusaha menangkannya dan memegang bahunya.


"apa maksud kamu?" tanya Gama seperti salah mendengar.


"plukkk" Aira jatuh terduduk di lantai.....


Semua terdiam setelah pertanyaan Gama.


Gama melihat seluruh orang yang ada dalam ruangan itu. Terdiam.


"Kenapa tidak ada yang menjawabku?" tanya Gama lagi.


Ada penyesalan dari Datiyah karena ucapannya. Datiyah menutup matanya berusaha menenangkan diri.


"Aku tidak mau lagi ada di antara urusan kalian. Kalian selesaikan sendiri." Datiyah langsung keluar dari kamar itu. Ia hanya terus berjalan meski tak tahu kemana.


Sementara itu di dalam kamar.


Gama hanya diam melihat kepergian Datiyah.


Aira pun belum mengucapkan satu kata pun hanya terdengar suara isak tangisnya.


Rendra yang juga tak tahu harus berkata apa hanya bisa diam tanpa kata. Rendra tentunya tahu tentang semuanya. Tapi, dia tak menyangka bahwa akan terkuak begitu saja.


"Aira.......!" panggil Gama pelan.


Tangisnya semakin keras.


"Apa yang sudah terjadi padamu selama ini?" Batin Gama.


Apa yang didengar Gama tidak membuatnya marah, tapi justru sedih.


"wanita simpanan? menyuguhkan tubuhnya?" batin Gama.


Sebagai laki-laki yang pernah mencintai Aira, tapi ia sama sekali tak tahu dan tak pernah menanyakan apa saja yang sudah terjadi pada Aira.


Ia pernah, dan sampai saat ini pun ia masih menyayangi Aira.


Tapi ia sadar akan perasaannya ketika Aira menampar Datiyah, sangat ingin ia memeluk dan membelai pipi Datiyah yang memerah padahal Aira terjatuh karena Hendrik.


Di fikirannya, Ia sangat ingin meremukkan tangan Hendrik yang menyentuh tubuh dan pipi Datiyah untuk menenangkannya.


Tapi, ia juga sangat terkejut dengan hal tentang Aira.


Gama berusaha menenangkan dirinya dan duduk di sofa.


"Aira....... !" Panggil Gama.


Rendra membantu Aira berdiri dan duduk di sofa. Suara isak tangisnya masih terdengar.

__ADS_1


Gama menunggu sampai Aira berhenti menangis.


"Ga..ma... Aku.... tidak tau, harus darimana menceritakannya."


"Aku akan menunggu sampai kamu siap." Gama langsung berdiri.


"T..Ttttungguu.." ucap Aira tiba-tiba.


"Aku akan menceritakannya sekarang. Karena aku gak tau kalau dilain waktu aku akan punya kesempatan ini."


Gama kembali duduk. Dan Aira pun menceritakan semua kejadian sejak ia meninggalkan kediaman Kencana.


Gama merasa sangat kecewa pada Mamanya, kecewa pada dirinya yang tak bisa berbuat apa-apa untuk mencari Aira lebih cepat atau bahkan menyelamatkan Aira.


Malam itu, ia memeluk dan menemani Aira di atas sofa dan tertidur. Rendra juga ikut tertidur.


Sementara itu, malam yang semakin larut tak membuat Datiyah berhenti melangkah.


"Apa aku sangat egois? Lagipula dia berniat menceritakannya pada Gama. Aku hanya mempermudah dia" batin Datiyah.


"Menurut kakak, seandainya Mama gak menyerah dan terus berjuang dan merelakan aku. Apa yang akan terjadi?" tanya Datiyah berhenti berjalan.


"Saya tidak begitu tau, tapi yang saya tau. Saya tidak akan bertemu dengan Nona."


Datiyah tersenyum getir.


Dia tahu, bahwa pertemuannya dengan Hendrik adalah hal yang dia syukuri. Tapi, hal itu tak membuatnya berhenti menghayal tentang apa yang akan terjadi seandainya ia dan mamanya berhasil keluar dari rumah Anton saat itu.


Mereka terus berjalan, sampai akhirnya mereka tiba disebuah taman. Datiyah langsung duduk dikursi taman. Sementara Hendrik berdiri di dekatnya.


"Kakak bisa duduk disini." sambil menepuk bangku didekatnya.


"Tidak perlu Nona." tolak Hendrik halus.


"Aku butuh pundak kakak sebentar." Dan tanpa ragu, Hendrik langsung duduk disamping Datiyah.


Datiyah langsung menyandarkan kepalanya dilengan Hendrik.


"Apa kakak tahu? aku sangat bersyukur dengan kehadiran kakak lagi."


Hendrik tak menjawab hanya tersenyum.


"Kakak tempat aku curhat, kakak yang diam-diam selalu melindungiku. Kakak yang selalu ada disisiku.


Aku tidak pernah terlintas untuk memanfaatkan kakak. Hanya karena rasa suka kakak padaku."


"Saya tahu, Nona tidak memanfaatkan saya."


"Aku, tak ingin kakak berpaling dariku. Aku ingin jadi seseorang yang lebih penting dari sekedar wanita yang kakak sukai."


Datiyah mengangkat kepalanya, dan melihat wajah Hendrik.


"Maafkan aku yang tidak bisa mencintai kakak sebagai laki-laki."..

__ADS_1


Meski merasa terluka Hendrik tersenyum


"Saya, adalah bayangan Nona. Tugasku mengikuti Nona. Ketika Nona sedih, aku akan ikut sedih."


Datiyah menggeleng. "Tidak, aku tak ingin kakak jadi bayanganku. Kakak adalah manusia yang punya perasaan. Jika suatu saat kakak meninggalkan ku. Aku akan mengerti."


Datiyah sangat takut, ketika ia mulai menyadari perasaan Hendrik untuknya. Dia sering mendengar bahwa cinta bisa membuat orang gila atau bahkan meninggalkanmu.


Karena itu, ketika dia sadar menyukai Gama. Ia menjadi takut. Tapi disisi lain ia juga tau, bahwa sejak awal Gama adalah seseorang yang harus lepas dan pergi.


Cinta bisa membuat orang merasakan keindahan yang luar biasa, atau terjebak dalam siksaan cinta yang tidak ada akhir.


Dan dia sangat takut, Hendrik meninggalkannya karena penderitaannya.


"Nona, sebanyak apapun saya berusaha. Saya tidak bisa menghapus darah Sugesti dari tubuh saya. Meskipun saya sering tak mengakuinya, tapi saya sadar kalau hidup Nona jadi begini karena keluarga Sugesti, dan saya memiliki darah Sugesti."


Datiyah menyentuh wajah Hendrik.


"Kakak adalah kakak, dia bukan Sugesti, tapi dia adalah Anton. Kakak adalah kakak, gak ada hubungannya dengan Anton."


Hendrik kemudian menyentuh tangan Datiyah yang menyentuh pipinya.


"Aku janji, akan selalu disisimu sampai akhir. Aku akan membantumu mengambil semua milikmu. Dan membantumu lepas dari genggaman Anton."


Entah karena dingin dan sunyi malam, membuat Hendrik memajukan wajahnya ke arah wajah Datiyah. Awalnya Datiyah hanya diam, tapi begitu ia merasakan hangat wajah Hendrik ia pun dengan segera menarik dirinya.


"Sepertinya kita harus kembali." Datiyah berdiri dengan cepat dan Hendrik dengan cepat menelpon taksi untuk kembali ke hotel.


"Aku harap mereka sudah meninggalkan kamarku. atau apa aku perlu mencari hotel lain?" batin Datiyah.


Melihat ekspresi Datiyah.


"Apa kita perlu pindah ke hotel lain?" tanya Hendrik.


Datiyah menggeleng. "Gak usah, palingan mereka juga sudah pulang kan?" jawab Datiyah dengan nada bertanya.


"Saya akan mengeceknya."


"Gak usah. Aku capek juga kalau harus beli baju lagi. Karena pakaian yang baru aku beli belum sempat aku pakai."


Tak lama kemudian mereka pun tiba di hotel dan kembali menuju kamarnya.


Apa yang dia harapkan jauh terbalik dengan apa yang ia lihat.


Gama dan Aira yang tertidur satu sofa dan berpelukan. Membuat Datiyah menggertakan giginya dan matanya berkaca-kaca dan segera ke kamarnya.


Hendrik hanya bisa ikut sedih dan iba pada Datiyah.


Keesokan paginya, Gama yang bangun terlebih dulu, mencoba memeriksa kamar Datiyah yang ternyata terbuka.


"Tiyah? kamu sudah kembali?"


*bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2