Bolehkah Aku Mencintaimu?

Bolehkah Aku Mencintaimu?
Minta tolong


__ADS_3

"apa Tiyah sudah istirahat dalam kamarnya? " tanya Gama pada Gina melalui WA.


"iya, sepertinya begitu"


"sepertinya begitu? apa maksud kamu? "


"Yah, tadi Hendrik yang nganterin kak Tiyah ke kamar. Aku buru buru mau ke kampus. Lagian kenapa sih, kan mereka udah biasa berduaan."


"iya, tapi kan harusnya kamu lebih perhatiin Tiyah. Gimana kalau dia perlu apa-apa?"


Gina langsung buru buru ke kampus tak mau membalas chat kakaknya yang galay, galau dan alay.


Padahal dia kan juga sudah sibuk dengan Aira.


Sementara itu Gama tanpa sadar meremas ponselnya membayangkan Hendrik berduaan dengan Tiyah.


"Apa kamu tidak bisa lebih serius? " ucap Mutia yang melihat Gama tak fokus pada pembicaraan mengenai konferensi pers yang akan mereka adakan.


Mutia berusaha menangkan dirinya. Kesal melihat anaknya bahkan mempertimbangkan Aira untuk menjadi wanitanya, meskipun ia tahu alasannya membenci Aira.


"Aku akan bicara pada Tiyah, dan memintanya menggelar konferensi pers bersamaku. Kalau begitu aku pulang dulu meminta tolong pada Tiyah."


Belum ada yang menjawab, dia buru-buru pergi beranjak dari tempat duduknya dan pulang ke rumahnya.


"Bagaimana bisa dia membiarkan Hendrik mengantarnya sampai kamar. Padahal aku sudah bilang kalau aku tidak suka ada orang lain masuk dalam kamarku." Gama terus mengoceh tak jelas. Dan Rendra hanya diam mendengarkannya.


Setibanya di rumah, ia melihat Hendrik sedang membersihkan mobil. Hendrik memberinya salam seperti biasa, tapi dia mendengus dan mengabaikannya.


Sementara Rendra hanya menggeleng melihat tingkah Tuan Mudanya yang merajuk, bukan karena Hendrik bersikap kurang ajar padanya, melainkan karena Hendrik mengantar Datiyah sampai kamarnya.


Setibanya di kamar, Gama tak menemukan Datiyah di tempat tidur. Ia mendengar suara air dari kamar mandi. Ia pun duduk menunggu Datiyah selesai mandi.


Agak lama menunggu, Datiyah tak kunjung keluar dari kamar mandi.


"Tiyah? Tiyah?" tapi tak ada jawaban dari dalam kamar mandi. Gama mencoba mengetuk lagi dan memanggil nama Datiyah. Tapi tak di jawab.


Karena tak di jawab dia pun membuka pintu kamar mandi menemukan Datiyah sedang duduk di bawah shower dengan pakaian lengkapnya.


Gama tanpa berfikir panjang duduk dihadapan Datiyah, sementara itu Datiyah tak mendengar apapun, ia hanya ingin menenangkan dirinya sebentar. Tapi, percikan air yang membasahi dan menyejukkan tubuhnya membuatnya tanpa sadar terlalu lama di kamar mandi.

__ADS_1


Gama mengangkat wajah Datiyah memegang dagunya.


"Tiyah, kamu gak apa-apa kan? "


Datiyah tiba-tiba menangis sambil tersenyum melihat sahabatnya itu.


"Kamu sudah pulang? " itu adalah pertanyaan pertama yang keluar dari bibirnya.


Gama mengangguk, dengan wajah yang khawatir.


"Kamu kenapa? "


"aku baik baik aja. Bagaimana dengan perusahaan dan kak Aira? "


Gama menggeleng. "Ayo, kita keluar dulu dari sini. Bisa bisa kamu makin sakit."


Ketika Gama akan menggendong Datiyah yang masih terlihat lemas, Datiyah menepis tangan Gama sambil tersenyum dan kemudian tertawa.


"haha, kamu ngapain sih? "


"emmm?? aku cuma mau bantuin kamu. " jawab Gama yang juga sudah basah terkena air.


Karena tubuhnya yang masih lemas, Datiyah kehilangan topangan dan Gama memeluk pinggang Datiyah, Datiyah pun mengeratkan genggamannya di bahu Gama.


Datiyah, yang hampir tak pernah dipeluk, merasakan getaran dan tangan Gama yang sekarang ada memeluk pinggangnya tiba-tiba terasa hangat.


Tanpa sengaja mereka saling menatap, air shower yang membasahi tubuh mereka, membuat lekuk tubuh mereka terlihat.


Gama menatap mata Datiyah, yang biasanya penuh kesedihan dan misteri, kali ini terlihat berbeda.


Begitu juga dengan Datiyah. Detak jantung mereka semakin kencang, desiran hangat dari jiwa-jiwa yang memanas, membuat mereka melupakan dinginnya air yang menyiram tubuh mereka.


Gama mendekatkan wajahnya ke wajah Datiyah, sementara Datiyah tanpa sadar menutup matanya.


Tangan kanan Gama masih memeluk tubuh Datiyah, sementara tangan kirinya bergerak menyentuh wajah Datiyah.


Difikiran masing masing mereka berharap mengehntikan yang akan terjadi, tapi gelombang dalam hati dan desiran yang mereka rasakan membuat mereka tak berhenti.


Gama mencium bibir Datiyah dan di balas oleh Datiyah. Tangan Gama mulai meraba tubuh Datiyah, membuat Datiyah tersadar dan membuka matanya.

__ADS_1


"Ma.. maafin aku. A.. aa ku sama sekali gak niat buat nyium kamu." ucap Datiyah terbata bata dan keluar dari kamar mandi dan menuju ruang ganti.


Gama yang juga terkejut dengan apa yang dia lakukan. Apa yang dia lakukan salah, tapi kenapa hatinya berkata lain. Dia merasa bersemangat.


"Mungkin karena ini ciuman pertamaku." Setelah mengucapkan hal itu, dia pun memgusap rambutnya dan menariknya.


"Apa yang sudah aku lakukan? " Dia pun keluar menuju kamar menunggu Datiyah selesai berganti pakaian.


Sementara itu, Datiyah yang berlari dari kamar mandi, bolak balik dalam ruangan, tak tahu apa yang harus dia katakan nanti.


"Be go be go, dia itu pacarnya Kak Aira, kenapa bisa aku melakukan hal yang kayak gitu. apa aku bilang pengaruh obat bius aja yah? "


Dia memegangi dadanya yang masih berdegup kencang itu, kemudian mengelus bibirnya yang baru pertama kali dicium. Dia menggeleng dan Dia langsung berganti pakaian dan berjalan keluar dengan perlahan.


"Gama, kamu gak ganti pakaian? " Berusaha mengalihkan dan menunda pembicaraan mereka.


"oh iya, aku ganti baju dulu. " jawab Gama canggung dan segera berganti pakaian.


Sama dengan Datiyah, Gama juga memegang dadanya yang masih berdegup kencang, apalagi setelah melihat Datiyah dengan rambut basahnya dan pakaian longgarnya yang tidak seksi tapi hari ini terlihat menggoda bagi Gama.


Ketika keluar dari kamar, Gama sudah membulatkan tekatnya tentang ciuman pertama mereka.


"Tiyah, aku gak mau kita jadi canggung. Aku harap kita anggap hal itu tidak pernah terjadi." ucap Gama langsung tanpa membiarkan Datiyah mengungkapkan pendapatnya.


Deg, jantung Datiyah terasa diremas. Dia heran, kenapa rasanya bisa seperih ini, padahal ia pun tahu untuk tak berharap apa-apa pada Gama.


Dengan mata yang mulai berkaca-kaca, ia tertawa canggung. "Haha, iya aku faham. Itu tidak terjadi sama sekali. Kita?? hahahahhaa.... Ya udah, kalau gitu aku ke perpustakaan dulu."


Ketika Datiyah sudah berbalik ke arah pintu.


"Sebenarnya aku pengen minta tolong sama kamu." ucap Gama tiba-tiba menghentikan langkah Datiyah, padahal ia sebenarnya ingin ke perpustakaan untuk menghindari Gama.


"Apa itu? kalau aku bisa bantu, pasti aku bantu. " ucap Datiyah tanpa berbalik.


"Aku pengen adain konferensi pers, dan ku harap kamu bisa bantu aku."


Datiyah berbalik terkejut.


"apa waktuku sudah habis? apa aku akan kembali lagi ke rumah Sugesti? Aku bahkan belum bisa melakukan apapun." Batin Datiyah.

__ADS_1


*bersambung.......


__ADS_2