
"Tuan Gama, apakah anda sangat mencintai istri anda? bagaimana anda bisa jatuh cinta pada Nona Datiyah?"
Mendengar pertanyaan itu, Gama terdiam dan ketika akan diambil alih oleh Rendra. Gama mengehentikannya.
Gama tersenyum, kemudian menjawab.
"Ketika fikiran mencari dan hati yang meyakinkan, di situlah pilihan yang tepat ditemukan."jawab Gama.
Semua orang saling menatap bingung dengan jawaban Gama.
" Tuan Gama, apa maksud ucapan anda. Apakah itu puisi yang menunjukkan bahwa anda sudah menemukan pilihan yang tepat?"
Gama hanya tersenyum ke arah Datiyah dan Datiyahpun membalasnya.
"Tolong berikan kami pose yang romantis."
Gama dengan spontan memeluk tubuh Datiyah yang membuatnya kaget melihat ke arah Gama kemudian mereka berdua tersenyum bersamaan.
Gambar yang di ambil terlihat sangat alami.
Setelah konferensi pers selesai, Gama, Datiyah, dan pegawainya menuju kamar hotel tempat mereka rapat tadi.
"Apa menurutmu ini sudah cukup, untuk membuat orang-orang diam?"
"saya rasa, belum cukup" ucap salah satu pegawai Gama.
"Iya, saya rasa kita masih perlu menambahkan hal lain. Setelah pernikahan, Tuan Gama dan Nyonya Datiyah tidak pernah terlihat bersama. Selain itu, Nona Datiyah yang mengunjungi Nona Aira juga akan membantu."
"Aku rasa itu ide yang bagus," ucap Gama senang, lalu dia melihat ke arah Datiyah.
"Bagaimana menurut mu?" tanya Gama agak ragu.
"Kalau menurutmu itu baik. Aku ikut saja," ucap Datiyah tersenyum getir.
"Kalau sekarang sudah selesei, aku dan Hendrik akan berkunjung ke panti."
"Iya, untuk hari ini cukup. Nanti, aku akan bicarakan lebih rincinya sama kamu, kelanjutan hal ini."
Datiyah hanya mengangguk. Dan berjalan keluar, tapi Gama tiba-tiba memanggilnya.
"Tiyah?" Datiyah lalu berbalik dengan cepat.
"Terima kasih" ucap Gama. Datiyah masih melihat Gama dan menunggu dia mengucapkan sesuatu.
"itu saja?"
"eemmm?" Gama kebingungan. Datiyah yang melihat reaksi Gama menghela nafas.
"iya sama-sama" Datiyah langsung berjalan keluar dengan cepat tanpa menoleh ke belakang.
Setibanya di mobil.
"Apa dia cuma berterima kasih dengan ucapan?"
"Apa nona mengharapkan yang lain?" tanya Hendrik.
"Gak, aku gak mengharapkan apa-apa. Cuma, maksudku.. Udahlah.... Apa baiknya sekarang aku jenguk Kak Aira aja?"
'Maksud Nona apa?"
"Yah, kan kakak dengar sendiri. Kalau menjenguk Aira juga akan memperbaiki pamornya."
"Tapi, tanpa publikasi itu adalah hal yang percuma jika nona pergi diam-diam."
__ADS_1
"Udahlah, hitung-hitung juga jenguk orang dari masa laluku. Kak Hendrik gak pernah ketemu secara langsung kan? Dari Kita masih kecil, dia itu udah cantik banget. Pastinya sekarang dia makin cantik. Aku lihat d TV dia itu cantik banget."
Hendrik agak ragu membawa Datiyah bertemu dengan Aira.
Tapi karena Datiyah yang terus-terusan meminta, dia pun akhirnya menyetujui permintaan Nona mudanya itu.
Tanpa disadari, sudah ada beberapa wartawan yang menyamar dan mengambil gambar Datiyah yang tiba di rumah sakit.
Datiyah pun mengetuk kamar Aira.
Asistennya membukakan pintu kamar dan terkejut melihat Datiyah.
"apa boleh saya masuk?" tanya Datiyah pada asisten Aira yang masih terkejut dan bengong melihat Datiyah.
"Y... y.... ya.. tentu saja. silahkan masuk. Apa boleh saya minta tanda tangan?"
Datiyah bingung. "Apa?"
"tanda tangan kakak. Dan foto juga. Waktu itu, aku gak sempat minta karena kakak terlalu sibuk di panti Batin Ibu?"
"aaaahhh, jadi kamu dari panti itu? Maaf kalau aku agak lupa wajah kamu."
"iya, kak. Gak apa-apa. Aku faham kok. Duduk kak, silahkan duduk."
Dengan kalang kabut ia mengambilkan kursi untuk Datiyah dan duduk dekat tempat tidur Aira.
"Tiyah?" Aira agak terkejut melihat Datiyah berkunjung.
"Kak Aira, udah lama gak ketemu. Ternyata memang kakak semakin cantik."
Aira hanya tersenyum canggung. Benar-benar merasa canggung.
"kamu bisa saja. Apa kamu datang dengan Gama?"
"Kamu bisa tolong panggilkan laki-laki yang datang bersamaku tadi?" ucap Datiyah pada asisten Aira.
"iya kak." dengan sigap ia pun memanggil Hendrik.
"Kamu dan Gama? apa kalian? " belum selesai pertanyaannya, Hendrik yang masuk membuat tubuh Aira bergetar takut.
Matanya terbelalak, ingin menanyakan apa alasannya dia bisa ada di sini.
"Kak Aira kenal Kak Hendrik?" pertanyaan Datiyah menyadarkannya.
"eemmm?? apa?? "
"apa kak Aira ken.... " belum selesai bertanya.
"Gak,nggak, aku sama sekali gak pernah ketemu. Dia sekilas cuma mirip saja sama orang yang ku kenal." jawab Aira melototi Hendrik.
"Aku ke kamar kecil dulu yah? boleh kan?" Datiyah langsung ke kamar mandi.
"beliin minum sana. Buat tamu."
Ketika asistennya akan membuka pintu kulkas.
"Beli di bawah, atau di mana saja." ucap Aira agak kesal.
Asistennya yang mengerti langsung pergi keluar ruangan.
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Aira pada Hendrik dengan suara pelan.
"Saya hanya menemani Nona Tiyah mengunjungi teman lamanya."
__ADS_1
"Apa kamu sekarang sedang bercanda?"
"Tidak, saya tidak bercanda. Jika anda khawatir tentang rahasia anda. Saya adalah seorang pengawal yang menjaga rahasia klien saya. Lagipula, jika keluarga Kencana saja tidak membeberkannya. Apa hak saya? Jika anda hanya ingin mengatakan hal itu. saya permisi. Beritahu Nona Tiyah saya akan menunggu di luar."
Dengan begitu Hendrik langsung keluar dari kamar.
Entah apa yang dilakukan Datiyah dalam kamar mandi.
Tak berselang lama, Gama masuk ke dalam Kamar.
"Gama?? Kamu datang? " ucap Aira dengan wajah senang kemudian minta dipeluk oleh Gama. Gama pun memeluknya.
Datiyah pun keluar dari kamar mandi, melihat adegan itu.
Mereka berdua mendengar suara pintu kamar mandi. dan melihat ke arahnya.
Datiyah tersenyum getir.
"Astaga, tas ku. Aku tadi sakit perut. Kak Aira gak keberatan kan?"
Aira hanya mengangguk dan Datiyah masuk kamar mandi.
"kenapa dengan kalian berdua? Kenapa terlihat canggung?" Bisik Aira tapi dapat di dengar oleh Datiyah yg berdiri di balik pintu.
"apa maksudmu?" tanya Gama dan Aira mengernyitkan matanya.
"Kamu, pasti sudah melakukan sesuatu dengan Tiyah kan? jawab dengan jujur."
"Kenapa kamu selalu menanyakan hal itu? aku sudah pernah bilang, Datiyah gak lebih dari temanku. Aku menikahi dia karena mama yang selalu paksa aku bertemu dengan wanita-wanita calon istriku. Hanya itu gak lebih, dan kebetulan dia juga membutuhkan bantuanku."
"kamu janji? kamu dan Tiyah gak ada apa-apa? Katakan sambil lihat mata aku, bahwa kamu sama sekali gak punya perasaan terhadap Tiyah."
Sambil memegang bahu Aira dan menatap matanya. Gama menarik nafas dalam-dalam.
"Aku janji, aku gak punya perasaan apapun untuk Tiyah."
Pintu kamar mandi kemudian terbuka, Datiyah sudah tahan mendengar pembicaraan kedua orang itu.
Entah kenapa, mendengar Gama mengucapkannya hatinya menjadi sakit.
"Aku balik duluan yah. Semoga Kak Aira lekas sembuh." Datiyah pun berjalan dengan cepat.
"Tunggu sebentar, ada yang ingin aku tanyakan pada Tiyah." Gama melepaskan tubuh Aira dan mengejar Datiyah.
"Tiyah, Tiyah, tunggu" teriak Gama memanggil Datiyah yang tak menengok ke belakang.
Dengan cepat ia menarik tangan Datiyah, dan membuat tubuh Datiyah berbalik dan air matanya sudah membasahi pipinya.
Melihat hal itu, Gama tak dapat berkata-kata.
"Kenapa?" tanya Tiyah agak keras.
"Kamu?"
"hah, jangan bilang kamu gak tau alasannya." ucap Tiyah sambil tertawa dan menghapus air matanya.
Gama menggeleng.
"Apa harus, kamu mengucapkan hal itu ketika kamu tau ada aku di sana? apa harus kamu memeluknya ketika ada aku di sana? Setelah menciumiku, kamu memeluk wanita lain. Apa kamu akan terus pura-pura bodoh dengan perasaanku?"
"Tiyah, dengarkan aku. Bukannya sejak awal aku.... "
"Stop!! aku tau aku tak boleh jatuh cinta sama kamu. Tapi kamu juga harusnya melakukan hal yang sama. Aku gak tau pasti. Bagaimana perasaanmu. Tapi yang aku tau pasti. Kamu juga mulai menyukaiku. Jika tidak, kamu tidak akan menciumku." Datiyah kemudian pergi meninggalkan Gama berdiri di koridor.
__ADS_1
*bersambung......