
Dari mana kita menilai seseorang itu baik atau jahat?
Sejauh mana berbuat baik tetap dinilai sebagai kebaikan dan sejauh mana berbuat jahat dianggap sebagai kejahatan?
Tiyah dan Gama lebih dulu masuk ke rumah.
Lalu Hendrik dan Rendra menyusul di belakang mereka.
Tiyah mengetuk pintu, Jun membukanya.
Kaget melihat Gama dan Rendra datang.
Jun lalu menatap Tiyah, "Nona, apa yang sedang anda lakukan?" Karena tak muncul di tempat pertemuan, Anton sangat marah, di tambah ada Gama di depan pintu.
"Jangan tanya aku. Tanya Gama. Laporin aja ke Ayah Anton kalau aku di sini."
"Tuan, Nona Tiyah datang bersama Tuan Gama dan asistennya."
"Apa? Mana Hendrik? Hendriik!" Anton berteriak memanggil Hendrik, yang langsung masuk ke ruang dan berdiri di hadapan Anton.
Anton menamparnya sangat keras. "Bagaimana bisa aku mendapat telepon dari Tuan Boni yang marah-marah? Hah?"
Tiyah langsung berlari masuk berdiri di antara Anton dan Hendrik, menatap Anton dengan marah.
"Jangan macam-macam! Menyingkir!!" Teriak Anton.
Gama mendorong masuk, mendengar keributan.
"Apa ayah Anton akan memperlihatkan sikap kasar di hadapan tamu?" ucap Tiyah agak berbisik.
"Apa aku harus perduli?"
"Iya, karena dia membawakan tawaran dan alasan kenapa aku tidak menemui Tuan Boni."
Anton mundur dan melihat ke arah pintu.
"Selamat datang. Siapa sangka aku akan mendapat kunjungan dari keluarga Kencana? Masuk, masuklah" wajahnya langsung berubah 180 derajat.
"Apa di rumah ini selalu setegang ini?" Ucap Gama berusaha mencairkan suasana dengan nada bercanda.
"Hahahaha, tentu saja tidak. Aku dengar kalian membawa berita bahagia."
"Yah, aku akan menikah dengan Tiyah." ucap Gama tanpa basa-basi.
"Lanjutkan!" ucap Anton.
Dan Gama pun memberikan tawaran keuntungan bisnis yang sangat besar untuk Anton. Tanpa terikat dengan bisnis kotor mereka.
Karena dulu pernah bekerja sama dengan keluarga Kencana, jadi Gama sudah tahu alasan kenapa Kencana memutuskan hubungan kerja dengan Sugesti.
Anton menerima tawaran Gama dengan senang hati.
__ADS_1
Setelah selesei bicara, akhirnya Gama pamit pulang. Dan Tiyah mengantar Gama pulang.
"Kamu serius gak punya nomor ponsel?" tanya Gama.
"Yes, tapi kamu bisa hubungin nomor ini." Tiyah memberikan nomor Hendrik pada Gama.
"Terus ini?"
"Kak Hendrik. Sampai ketemu di hari pernikahan."
"Hah, kamu akan perlu mencoba gaun pernikahan. Kamu fikir aku yang akan mengurusnya? Meskipun cuma nikah pura-pura tapi kita perlu tampil mewah." Tiyah hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Dengan begitu Gama pun pergi.
"Nona, Tuan memanggil anda." Ucap Jun mendatangi Tiyah ke pintu.
"Waktunya berhadapan dengan sang raja iblis." batin Tiyah.
Dia tiba di ruang kerja Anton.
"Apa yang sedang kamu rencanakan?" tanya Anton.
"Apa yang aku rencanakan? maksud ayah Anton apa?"
"Apa kamu sedang menguji kesabaranku?"
Tiyah menghela nafasnya. Sementara Hendrik dan Jun hanya diam mendengarkan dengan tegang.
"Aku sama sekali tidak merencanakan apapun. Tanya saja Kak Hendrik. Dia tiba-tiba menarikku dan bilang mau nikah sama aku.
Lebih baik daripada harus menikah dengan orang asing yang sama sekali dia tidak kenal. End." Tiyah hanya menceritakan garis besarnya.
"Percaya? sama aku? hehehe" Tiyah menggeleng dengan tawa pelan.
"Jangan, bukannya ayah Anton pernah bilang. Tidak ada yang bisa kita percaya di atas dunia ini." Anton menyeringai.
Setelah pembicaraan antara dua orang yang akrab dan juga tidak akrab itu. Tiyah pun kembali ke kamarnya, Hendrik mengikutinya.
Mereka masuk ke kamar mandi dan menyalakan air. Lalu mulai bicara. Takut ada penyadap di mana-mana.
Semenjak Tiyah menemui rekan kakeknya, Anton menjadi lebih waspada dengan keamanan.
"Nona, apa yang sebenarnya Nona lakukan?" Tanya Hendrik.
"Ini satu-satunya kesempatan aku bisa bergerak bebas. Kalau aku menikah dengan Gama, setidaknya waktuku akan lebih leluasa menghubungi sisa orang-orang yang setia pada Kakek."
"Tapi, anda tau kan apa yang anda lakukan sangat berbahaya?"
"Aku tidak perduli, selama aku bisa menghancurkan dan mengambil semua miliknya. Lagipula dia tidak akan berani macam-macam."
Hendrik hanya menghela nafasnya, lalu keluar dari kamar Tiyah. Setelah mandi, Tiyah pun meringkuk dan meremas liontinnya di atas tempat tidur.

__ADS_1
Tempat tidur yang terlalu luas untuk Tiyah. Sejak kedatangannya di rumah Anton tak pernah sekalipun ia tidur terlentang atau hanya sekedar berbaring.
Orang baik tidak akan mendendam,
orang baik tidak akan marah dalam waktu lama jika miliknya di ambil,
orang baik akan sabar dan tabah,
orang baik tidak akan mengutuk orang lain dalam tidurnya.
Orang baik tidak akan berusaha membuat orang lain merasakan penderitaan yang sama dengannya.
Selama hampir 14 tahun, Tiyah menyimpan perasaan itu dalam hatinya. Dan ia memutuskan tak akan menjadi orang baik lagi.
Hampir 14 tahun yang lalu ia mendengar hal yang merubah hatinya.
Seperti biasa, ketika Tiyah membaca buku dia selalu di temani pelayan untuk memantau apa yang di bacanya hingga ia hanya bisa membaca buku cerita dan masak-masak. Tapi hari itu dia meminta izin ke kamar mandi.
Tapi langkahnya terhenti.
"Membunuh Ayahnya dan Fuad? hahahhahaha" suara laki-laki asing yang baru didengar Tiyah. Kaki Tiyah membeku tak bergerak mendengar ucapan laki-laki itu.
"Aku tidak berfikiran kamu akan melakukannya hanya untuk mendapatkan Jihan kembali."
"Aku tahu kamu sudah lama di luar negeri. Rumor dan fakta bahwa aku yang melakukannya sudah menjadi rahasia umum."
"Maafkan kawanmu ini, lantas akan kau apakan putrinya? merawatnya? apa kamu sudah jadi ayah sekarang?"
"Hahaha, jangan gila kamu! Jika bisa aku akan musnahkan gadis itu juga. Tapi dia adalah rantai untuk Jihan dan penjamin harta Gunawan. Kalau sampai terjadi apa-apa padanya maka semua harta dan aset atas namanya akan di alihkan menjadi sumbangan untuk negara."
Sementara itu, Tiyah yang mendengar percakapan mereka sudah mengeluarkan air mata, entah karena takut atau karena fakta tentang ayah dan kakeknya membuat ia mengompol.
Jun yang melihat Tiyah, kaget lalu menutup mulut Tiyah dan menggendongnya ke dapur.
"Kak Narti, bantu dia bersihkan diri dan suruh orang yang kakak percaya membersihkan lantai depan ruang kerja Tuan Anton." bisik Jun pada Narti.
Air mata Tiyah terus mengalir, Narti yang khawatir Tiyah akan menangis kencang segera membawa Tiyah kembali ke kamarnya.
"Non, Non, Non Tiyah, lihat Bibi. Semuanya akan baik-baik saja Non. Spero Spera." Tiyah yang sejak tadi tak mampu mengatakan apa-apa akhirnya menatap ke arah Bi Narti.
"Emmmmm" Tiyah hanya mengangguk pelan dengan matanya yang masih basah.
Akhirnya bi Narti membantunya berganti pakaian, dia meringkuk di atas kasurnya menutup matanya dan mulai menggambar rencananya. Dan memutuskan untuk tidak menjadi orang baik seperti yang Papanya selalu ingatkan.
"Aku bukan orang baik." dia mengingatkan dirinya.
Sejak saat itu, ia tidak perduli lagi jika Anton memukulnya karena membaca buku yang di larang.
Berapa kalipun Anton menghukumnya, ia tak pernah jera. Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk semuanya.
Tapi kelahiran Raka, sedikit banyak menganggu rencananya. Karena ia tak ingin Raka ikut dalam pembalasan dendamnya.
__ADS_1
Dan sekarang kehadiran Gama, yang juga akan dia manfaatkan. Sedikit merasa bersalah pada sahabatnya itu karena menggunakan dan memanfaatkannya tanpa diketahui.
*bersambung......