
"aku mencintaimu, Aira. Kamu adalah satu-satunya wanita dalam hatiku"
Sementara itu, kaki Datiyah terasa lemas dan hatinya terasa diremas. Dia berusaha menahan raut wajah sedihnya dengan senyumannya.
"Aku tidak mencintai Datiyah, Aku hanya mencintaimu," Gama mengucapkannya seperti mengucapkan mantra. Dan lalu mencium kening Aira.
Datiyah, tersenyum dan berbalik. "Ayo kita pergi" bisik Datiyah pada Hendrik dan Gina.
"Bodoh" ucap Gina pelan pada kakaknya dan berbalik mengikuti Datiyah.
Datiyah sudah tau sejak awal, bahwa perasaan Gama untuk Aira, meskipun sempat terbesit ada celah di hati Gama untuknya, hari ini ia menutup semua kemungkinan itu.
Hatinya terluka.
Kadang, walaupun kita menyiapkan hati kita untuk hal yang terburuk pun, tidak membuat rasa sakitnya berkurang ketika hal itu terjadi.
Datiyah berjalan ke taman sendirian, setelah pamit kepada Gina dan Hendrik.
Dia duduk di taman. Melihat pohon-pohon dan bunga-bunga tertiup angin, pemandangan yang indah, tapi ia hanya menatapnya dengan sendu.
Tak lama berselang, ponselnya berbunyi. Pesan dari Hendrik bahwa Anton menyuruhnya ikut kegiatan sosial besok.
Dia pun tersadar ketika melihat nama Anton muncul di layar ponselnya.
"Tujuanku ke sini bukan untuk cinta, bukan untuk Gama. Datiyah, fokuuss. Ini bukan waktunya memikirkan perasaan cintamu." Datiyah menepuk pipinya sendiri, seolah menyuruh dirinya sadar dari kelalaiannya atas tujuan utamanya.
"Ya, aku harus fokus mulai sekarang. Kalau Gama akan segera kembali pada kak Aira. Maka waktuku gak akan lama lagi." Datiyah pun beranjak dari tempat duduknya dan langsung ke perpustakaan dan meminta Hendrik menemuinya di sana.
"Pertama-tama aku harus tau, siapa laki-laki itu. Ia bilang akan menghubungiku." batin Datiyah.
Semalaman, Datiyah tidak kembali ke kamarnya hingga Subuh dan ia sudah bersiap-siap pergi.
Gama yang menunggunya, juga tak tidur semalaman, tapi Datiyah tak mengetahuinya.
"Kamu mau ke mana pagi-pagi begini." tanya Gama.
"Aku ada kegiatan sosial." jawab Datiyah singkat.
"Tapi gak biasanya kamu berangkat sepagi ini. Apa kamu?"
belum selesai Gama bicara.
__ADS_1
"Aku melihat kejadian semalam, dan aku sadar. Kalau gak ada tempat buatku. Karena itu, aku hanya akan fokus dengan tujuanku. Karena aku tau, waktuku tak banyak."
"Kamu gak usah khawatir, kamu bisa memanfaatkan waktumu dengan santai. Dan aku tau, mama pun belum bisa menerima Aira."
"Wahhh..waaahh.. kamu benar-benar gak punya perasaan Gama. Kamu tau aku suka sama kamu. Tapi kamu memperlihatkan semuanya ke aku. Dan sekarang kamu minta aku untuk memanfaatkan waktuku dengan santai?" Datiyah kemudian tertawa tak percaya.
"Kalau kamu sudah bisa meyakinkan tante, kasi tau aku. Aku akan segera pergi."
Datiyah langsung melangkah keluar dan pergi.
"Kita akan ke mana Nona? Karena masih terlalu pagi dan anda belum sarapan."
"Ke rumah saja, aku kangen sama Mama. Hari ini aku pengen lihat wajah mama lebih lama." ucap Datiyah melihat keluar jendela.
Hatinya masih sakit, ia sendiri tak tau bagaimana harus menyikapi hal ini. Sejak awal dia tau kalau Gama bukan untuknya, tapi kenapa rasanya bisa sesakit ini.
Setelah sarapan, Anton memanggil Datiyah dan Hendrik ke ruangannya.
"Bagaimana perkembangan kalian?" tanyanya mengejek.
"Apa sekarang saya harus melapor juga?" ucap Datiyah tersenyum.
"Hahahahah, tidak. Tidak harus. Aku hanya penasaran. Apa anak gadis yang ku besarkan ini. benar-benar bisa menjatuhkanku? Kamu tau, aku bukan orang yang sabar."
"Mau bagaimana lagi? Semuanya jadi terhalang karena seseorang begitu takut. Sehingga mengancam semua orang."
"Hahahahahha,,Kita akan lihat sampai mana keberanianmu ini akan berlanjut"
Anton hanya tertawa dan menyentuh bagian atas kepala Datiyah, Datiyah pun secara refleks menundukkan wajahnya.
"Kamu masih anak ingusan bagiku." Bisik Anton tersenyum dan meninggalkan Datiyah.
Sejak Datiyah menginjak usia dewasa, semua harta yang dimiliki Gunawan otomatis milik Datiyah. Tapi Anton dengan sengaja memblokirnya agar Datiyah tidak punya akses sepenuhnya atas harta tersebut.
Jika terjadi apa-apa pada Datiyah, maka semua hartanya secara otomatis akan diserahkan pada Panti asuhan. Dan tentu saja Anton tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Sebelum pergi, Datiyah menatap wajah mamanya dari dalam mobil, ketika mamanya mengantar kepergian Anton. Ingin rasanya ia memeluk mamanya.
Sekarang hatinya tengah terluka akibat patah hati. Dan ingin rasanya menceritakannya pada seseorang. Tapi ia sama sekali tak bisa mengungkapkan hal itu pada siapapun.
Berhari-hari, Datiyah selalu menghindar dari Gama, dan memfokuskan dirinya.
__ADS_1
Hingga Gama sendiri tak tahan dan tak suka di cuekin oleh Datiyah.
Dan dia harus melihat Datiyah dan Hendrik yang selalu tersenyum dan mengobrol satu sama lain.
Datiyah hanya masuk ke kamar, pagi dan sore hari untuk mandi dan ganti pakaian.
Di hari berikutnya, Datiyah pun melakukan hal yang sama, dan Gama mengunci pintu kamar ketika Datiyah mandi.
Ketika akan keluar kamar, ternyata pintu kamar sudah di kunci. Datiyah lalu berbalik melihat Gama.
Dia melihat Gama terlihat sedang tertidur pulas.
Lalu ia memanggil nama Gama dengan lembut.
"Gama?......Gama?.......Gam?" Sambil menggoyangkan lengan Gama dengan lembut.
"Kenapa?" tanya Gama dengan suara ngantuk.
"Pintu kamar terkunci, apa kuncinya rusak? Tapi tadi aku masuk, baik-baik aja kok."
"Mungkin rusak, masih subuh juga. Dan semua orang belum ada yang bangun."
Menghela nafasnya dengan kasar. Datiyah menjawab," Gama, aku sudah sering bangun jam segini dan semua orang sedang sibuk kerja. Udah, gak usah bercanda. Tadi juga aku lihat kuncinya di pintu, dan tersangkanya cuma kamu."
Gama pun bnagun dan duduk di tempat tidur.
"Kenapa kamu pengen banget menghindar dari aku?"
"hah..aku?" Datiyah menunjuk dirinya sendiri.
"Bukannya kamu juga ngelakuin hal yang sama, waktu kamu selsei nyi.....mmmm" Mata Datiyah terbelalak ketika Gama menarik lehernya dan membuat bibir mereka bersentuhan. Dia hanya bisa bergumam berusaha melepaskan tarikan Gama.
Tau ciumannya tak di balas, Gama pun melepaskan leher Datiyah. Datiyah yang marah lalu menampar Gama.
Plaakkkk
"Apa apaan Kamu? Apa aku terlihat begitu bodoh sampai kamu mempermainkan aku? Kadang kamu dekat, kadang jauh, sekali menciumku, sekali cuek padaku."
Datiyah lalu menunjuk dada Gama dengan sedikit mendorongnya.
"Jika kamu sama sekali tak mencintaiku, jangan pernah ulangi hal ini lagi. Jangan pernah menciumku ataupun menyentuhku lagi." Mata Datiyah berkaca-kaca.
__ADS_1
"Jika tidak, aku akan selalu berharap sama kamu. Berharap bahwa suatu hari kamu akan cinta padaku." Bathin Datiyah.
*bersambung......