Bolehkah Aku Mencintaimu?

Bolehkah Aku Mencintaimu?
Kepergian Hendrik


__ADS_3

Mereka tengah asyik menonton TV, ketika melihat berita, seorang laki-laki di tangkap karena membunuh salah satu pasien di panti Jompo.


Meskipun wajah tersangka di blur, tapi Datiyah tau siapa itu..


"Kak Hendrik?? "


Dan maaih belum di ketahui siapa korbannya.


Hari di saat Hendrik tersadar, di hari yang sama dia tahu kalau ibunya meninggal dunia.


Dia memendam perasaannya sendiri. Ia tak tahu pada siapa dia akan menangis. Tak pantas rasanya kalai ia bersandar pada Datiyah.


Dia memang mencintai Datiyah, tapi Datiyah tidak mencintainya. Dan dia sadar, bahwa posisinya dalam hidup Datiyah hanyalah sebatas pengawal. Setidaknya, itulah yang dipikirkan Hendrik.


Setelah pemakaman ibunya, dia baru menyadari, bahwa itu semua bukan mimpi. Tapi, kenyataan yang harus dia hadapi bahwa ibunya memang, benar-benar sudah meninggal.


Saat dia mendengar hal itu, dia benar-benar berpikir akan membunuh Anton dengan tangannya sendiri. Tapi, memang takdir berkata lain.


Di merasa lega bisa melihat Datiyah bisa tersenyum dengan lepas dan bahagia. Tapi, dia juga merasa marah karena bukan dia yang membunuh Anton.


Hanya sisa satu tempat, dia melampiaskan amarahnya.


Awalnya, Hendrik ingin menemui Datiyah. Berharap Datiyah menenangkannya. Ketika dia akan mengetuk pintu kamar Datiyah, dia berhenti karena mendengar suara Gama di dalamnya.


"Benar, aku memang tak punya tempat dimanapun sekarang. Begitu Tiyah pergi dengan Gama, maka aku akan sendiri lagi, Aku tak akan bisa melihat Datiyah bermesraan dengan laki-laki lain meskipun suaminya sendiri. Selain itu, Ibu sudah tidak ada di sini lagi." Batin Hendrik.


"Kak Hendrik? " melihat Datiyah keluar kamar bersama Gama.


Entah karena melihat Gama atau memang niatnya untuk meninggalkan kediaman Sugesti, dia tanpa basa basi langsung berpamitan pada Datiyah.


Dia melihat ada kekecewaan di mata Datiyah. Tapi dia juga tidak bisa terus berada di sini, tanpa melakukan apapun tentang amarahnya.


Setelah keluar dari rumah Sugesti, Saat tubuhnya sudah mulai pulih. Dia dan temannya memutuskan untuk melakukan rehabilitasi di hutan. Dan temannya itu, kebetulan memiliki rumah di dalam hutan itu.


Setelah 2 bulan, tubuhnya akhirnya terasa pulih. Dia merasa pikirannya lebih bertekad.


Hari itu dia mengunjungi panti Jompo, dan dia dengan mudah mendapat akses ke ruangan Toto Sugesti. Ayah biologisnya, yang menciptakan monster bernama Anton, dan membuat ia terlahir ke dunianya yang menjijikkan.


Hendrik, langsung duduk di sebelah tempat tidur. Toto memang semakin tua, tapi tatapan jahat sari matanya tak berkurang.


Dia menatap Hendrik. "Kamu adalah putraku yang lain." ucapnya dengan nada renta tapi masih ada nada kesombongan.


Hendrik melihatnya dengan datar.

__ADS_1


"Aku dengar, bahkan di umur setua ini. Kamu masih bisa minum dan mengundang wanita." Hendrik membuka suaranya.


"Memang, kalian keluarga Sugesti harusnya tahu hal ini. Bahwa uang dan kekuasaan adalah segalanya." Toto meninggikan ranjangnya agak bisa duduk melihat Hendrik lebih jelas.


Hendrik hany menutup matanya, berusaha menahan amarahnya.


"Kamu bahkan tidak bersedih, setelah mendengar kematian putramu."


"Untuk apa? Sejak dulu, memang dia anak yang lemah sejak dulu, kalah dari seorang wanita. Sekarang tinggal kamu putraku, di dalam darahmu mengalir darah Sugesti."


"Tapi, apa kamu tau, Tuan Toto yang agung. Kamu juga akan kalah dari wanita lain."


Hendrik lalu meletakkan tali nylon di leher Toto.


Awalnya dia menariknya dengan, beberapa detik kemudian dia melepaskannya.


"Bukankah dulu, kau suka mencekik dan memperko*a wanita dengan paksa? Dan aku tak sudi hidup dengan darahmu mengalir di tubuhku."


Hendrik kembali menarik talinya, dan menahannya selama 20 detik kemudian melepaskannya.


"Aku adalah anak dari wanita yang kau ambil kehormatannya, kau renggut kehidupannya. Bahkan monster ciptaan mu, mengambil nyawanya."


Hendrik menarik tali itu lebih kuat. Melihat Toto akan kehabisan nafas, Hendrik kembali melepaskannya.


Hendrik melihat Toto menarik nafas dalam.


Hendrik menangis. Aku Tak menyukai perasaan ini. Tapi, jika mengingat apa yang sudah kalian lakukan aku tidak bisa memaafkan kalian."


Hendrik menarik tali itu sekencang-kencangnya, Datiyah sudah tak ada dalam pikirannya, semua tentang membunuh dan menyingkirkan Toto Sugesti.


Setelah Toto meninggal, Hendrik memanggil perawat.


"Suster, kakek tua ini sudah tidak bernafas."


Para perawat mengira Hendrik bercanda,karena mereka tahu bagaimana gilanya Toto di panti Jompo itu. Mereka saling melirik satu sama, lalu berlari melihat dan memeriksa keadaan Toto.


Mereka terkejut melihat tali yang melilit leher Toto, dan melihat ke arah Hendrik. Mereka dengan cepat menghubungi polisi. Hendrik sama sekali tak merasa lega, tapi dia takut dengan amarahnya sendiri. Dia takut, dia akan berubah menjadi sesuatu yang tidak dia inginkan.


Saat itu juga Hendrik di tangkap.


Setelah beberapa hari, Datiyah dan Gama mengunjungi Hendrik, tapi Hendrik tak ingin menemui siapapun.


Setiap malam, Hendrik selalu bermimpi buruk, dia mengingat kata-kata Toto, bahwa darah Sugesti mengalir di tubuhnya.

__ADS_1


Dia bermimpi membunuh orang-orang yang dia sayangi. Dan dia sangat takut, jika suatu saat rasa cintanya berubah menjadi obsesi seperti yang Anton lakukan pada Jihan.


Dia hanya menitipkan surat untuk Datiyah dan Gama.


Kepada Nona Tiyah.


Maafkan saya Nona, saya tidak bisa menahan amarah saya. Saya bahagia karena bisa mencintai Nona. Jika hal yang saya lakukan, saya kira cinta saya tak sehebat yang saya pikirkan.


Bagaimana bisa , tangan yang saya gunakan untuk melindungi Nona, malah saya gunakan untuk membunuh orang.


Dan yang paling saya takutkan adalah saya akan mengulanginya lagi. Maafkan saya yang tidak bisa menghapus jejak Sugesti dari jiwa saya.


Tapi, saya jujurnya sedikit lega, sebagai seorang Kakak, akhirnya Nona bisa memulai hidup baru dan terbebas dari Sugesti.


Nona, saya akan selalu mendoakan kebahagiaan Nona.


Salam , Hendrik.


Tuan Gama,


Saya sangat cemburu dengan anda, Nona Datiyah begitu menyukai anda. Jika saya bertemu dengan Nina Tiyah, dalam keadaan lebih baik, saya berharap bisa bersaing sehat dengan Tuan Gama.


Meski kelihatannya, saya melindungi Nona Tiyah, tapi sebenarnya dia yang sudah melindungi saya dari keadaan saya.


Saya kira Tuan tau, Meski terlihat rapuh, Nona Tiyah lebih kuat dari siapapun. Bahkan waktu dia tak diizinkan belajar, dia masih melakukannya meskipun dia tau akan di hukum. Saya Sangat salut padanya.


Tuan tidak akan menemukan seseorang dengan keinginan sekuat dirimya untuk melindumgi miliknya dan siapa yang di cintainya.


Karena itu, jaga dan cintai dia. Saya Yakin anda akan melakukannya tanpa saya minta.


Tolong hibur dia di saat dia sedih, saya tau keputusan saya akan membuatnya sedih, tapi bagi saya. Hanya sampai sini saja.


Setelah menerima surat itu, Datiyah dan Gama selalu meminta Pengawal agar selalu mengawasi Hendrik.


Datiyah dan Gama, merasa lega. Karena setelah beberapa lama, tidak ada kabar Buruk yang menghampiri mereka.


"Krrriiiinng.. Kringggg. " pagi-pagi sekali ponsel Datiyah berdering...


Dia lalu duduk dan mengangkat teleponnya.


Setelah menerima kabar dari seberang, Tubuh Datiyah terasa lemas, tangannya seperti tak ada tenaga, orang dari seberang sana berusaha terus bicara pada Datiyah, Gama yang melihat Datiyah tak bicara apa-apa, mendekati dan menerima telpon Datiyah. Gama yang juga terkejut.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2